Naufal hanyalah seorang sales smartphone miskin yang sering diremehkan karena tidak pernah mencapai target. Ditekan oleh target yang mustahil, dikhianati oleh rekan kerja, dan dianggap remeh oleh pelanggan sombong adalah makanan sehari-harinya.
Namun, segalanya berubah saat sebuah suara mekanis bergema di kepalanya:
[Ding! Sistem Analisis Nilai Aktif!]
[Menganalisis Target...]
[Budget: Rp150.000.000 ]
[ Keinginan: memboron 50 unit untuk yayasan pendidikan |
[Tingkat Kepercayaan: 15%]
[Misi Terbuka! Closing produk!]
[Hadiah misi pembukaan RP 10.000.000!]
Dengan bantuan Sistem Analisis Nilai, Naufal tidak hanya bisa melihat isi dompet pelanggan, tapi juga titik lemah kompetitor dan tren pasar masa depan. Dari seorang sales yang hampir dipecat, ia merangkak naik menjadi raja industri teknologi.
Satu per satu wanita hebat mulai masuk ke dalam hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.A Wibowo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10--Melayani Pelanggan
[Ding!]
[Misi Sampingan Terdeteksi: 'The Dream Phone'.]
[Target: Bapak Supri (Driver Ojol).]
[Analisis: Target ingin membelikan hadiah untuk anaknya yang baru lulus, namun ragu dengan budget.]
[Hadiah: Rp 20.000.000 ,
Motor Ducati panglima v2 warna hitam]
Mendengar hadiah motor spek tingkat dewa itu semangat naufal jadi meningkat terutama dia gak punya motor.
"Selamat pagi, Pak. Ada yang bisa saya bantu? Mau cari tipe yang buat kerja atau buat kado?" sapa Naufal dengan senyum ramah, tipe senyum yang semalam berhasil meluluhkan Pak Budi.
Pak Supri tampak sedikit ragu, ia memegang saku celananya yang menonjol—sepertinya tumpukan uang cash hasil menabung lama. "Itu... Mas, HP yang iklannya ada di TV itu, yang kameranya bisa buat motret bulan, harganya berapa ya? Anak saya pengen banget itu buat kuliah desain katanya."
Siska yang sedang memasang kabel keamanan pada HP display di dekat sana sempat melirik melirik, perhatian ke Naufal. Ia sengaja membiarkan naufal untuk melayani pelanggan biar dia bisa jualan dan tidak tertindas kak Andre lagi.
Da ia ingin melihat kemampuan bicara milik naufal kayak semalem lagi. 'Semangat pal.gue dukung .. ayo gass!’ batinnya. ‘ayo, semangat-semangat.’
Naufal ganti melirik siska, gadis itu memalingkan wajah, dia kembali melirik siska lagi dan gadis itu memalingkan wajah. 'Ini anak ngapain sih?’ batinya, lalu dia memutuskan untuk tidak mempedulikannya.
Ia justru mengambil unit R-13F berwarna ungu yang paling mewah, anaknya cewek kan. Ini desain paling cocok terutama dengan desain kupu-kupu ungu yang cantik.
"Pak, kalau buat kuliah desain, seri ini memang paling pas karena akurasi warnanya tinggi," ucap Naufal lembut. "Bapak mau coba pegang dulu? Tenang Pak, pegang saja, nggak bayar kok. Ini cuma hp display kok.”
Naufal melihat tangan Pak Supri yang sedikit gemetar saat menyentuh body HP tersebut. “Ini hp-nya kelebihan e apa mas?”
Naufal tersenyum simpul, ia memberikan ruang bagi Pak Supri untuk merasakan tekstur finishing kaca di bagian belakang unit tersebut.
"Pertama, Pak, layarnya ini sudah pakai teknologi pelindung mata paling canggih. Karena anak Bapak kuliah desain, dia pasti bakal menatap layar berjam-jam. Dengan HP ini, matanya nggak akan cepat lelah,"
Naufal memulai penjelasannya dengan nada yang sangat membumi, tidak menggunakan istilah teknis yang memusingkan.
"Kedua, kameranya Pak. Ini bukan cuma soal potret bulan. Sensornya besar, jadi kalau anak Bapak harus ambil referensi tugas di malam hari atau ruangan gelap, hasilnya tetap jernih seperti kamera profesional. Dan yang paling penting..."
Naufal menjeda kalimatnya, menatap tulus ke arah Pak Supri. "...baterainya awet dan pengisiannya sangat cepat. Cukup 30 menit cas, sudah penuh. Jadi dia nggak akan telat ngerjain tugas cuma gara-gara nungguin baterai."
“Terus ini ya pak, dia IP 69 yang artinya tahan air bahkan dalam 2 meter an.”
“TAHAN AIR!??”
Di belakang siska yang melihat teknik bicara Naufal makin menggila bagaikan fanbase besar miliknya. 'Kya! Itu baru naufal yang kukenal! Kok dari kemarin gak gini sih! Ih sebel! Ayo fal terus!’
genjutsu ala sales miliknya berhasil. Namun Pak Supri mengelus layar tersebut dengan ibu jarinya yang kasar. "Tapi Mas... harganya pasti mahal ya? Saya cuma bawa segini..."
Pria itu mengeluarkan buntalan plastik dari saku jaketnya. Di dalamnya ada tumpukan uang sepuluh ribu, dua puluh ribu, dan beberapa lembar seratus ribu yang sudah lusuh totalnya sekitar 2 jutaan. Siska yang melihat dari kejauhan sempat terenyuh, namun ia juga was-was.
Siska melirik ke pintu toko, si senior andre gak datang dan bawa masalah.
‘Ayo, Fal! Mumpung kak andre belum datang! Jangan biarin Bapak ini pulang dengan tangan kosong, tapi jangan sampai rugi juga!' batin Siska gemas. Ia berpura-pura sibuk menata dus HP di belakang kasir agar bisa tetap menguping. 'Putar otakmu naufal!’
Naufal menatap isi lembar itu … bukan bermaksud menghina, namun segini belum bisa. Harga ponsel ini 5 jutaan dengan kualitas yang terjamin.
[Ding!]
[Budget pelanggan ; 2 jutaan]
[Berikan harga yang sesuai dengan budget]
Namun Naufal masih memikirkan strategi. Up selling adalah segalanya dalam dunia sales. Sekali jualan r-13 untung tinggi.
“Saya cuma ada budget 2 jutaan sih kak, gimana kalau seri di bawahnya coba…”
" gini , Pak, HP ini investasi buat masa depan anak Bapak. Daripada beli yang murah tapi tiap tahun rusak, mending satu kali beli tapi awet sampai dia lulus. Benar kan, Pak?"
Bapak itu terlihat berpikir, “benar juga … tapi—”
“Halo semuanya pagi!!” Dan saat semua sedang genting datanglah sang pahlawan, seorang pria dengan rambut belah tengah, seragam polo warna merah yang merupakan ciri khasnya.
Namanya Rengga sohib naufal, Sales kredit HCI telah datang.
'Ini dia! Ketemu strateginya!’’
DAYA KHALYAL MEMBAGINGKAN