Mati di puncak gunung Goma justru terbangun di dasar neraka sebagai tengkorak rapuh tanpa daging. Demi kembali ke panti asuhan tempat ia dibesarkan Goma mulai membantai iblis dan memangsa tubuh mereka. Setiap nyawa yang ia telan menumbuhkan otot serta kulit baru di atas tulangnya. Ini bukan hanya tentang bertahan hidup namun tentang pendakian berdarah dari dasar jurang menuju singgasana para dewa yang telah menghina takdirnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By Magus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berat Yang Tidak Seimbang
Episode 2
Langkah kakiku terasa sangat aneh saat aku mulai meninggalkan tumpukan tulang tempatku terbangun tadi. Setiap kali aku mengayunkan lengan kananku yang kini sudah memiliki jaringan otot aku merasakan beban yang nyata. Lengan kanan itu sekarang jauh lebih berat daripada lengan kiriku yang masih berupa tulang putih murni. Ketidakseimbangan ini membuat tubuhku sering miring ke arah kanan saat aku mencoba berjalan dengan cepat.
Ini sangat mengganggu. Di tebing gunung keseimbangan adalah segalanya. Jika satu sisi tubuhmu lebih berat maka kau akan mudah terjatuh ke dalam jurang.
Aku berhenti sejenak kemudian mencoba melakukan gerakan pemanasan yang biasa kulakukan di Bumi. Aku mengangkat lengan kananku ke atas kemudian memutarnya secara perlahan. Aku bisa merasakan bagaimana serat otot merah yang baru saja tumbuh itu bergeser di atas permukaan tulang humerusku yang keras. Rasanya sedikit perih namun juga memberikan sensasi kekuatan yang sangat memuaskan.
"Kenapa kau berhenti pendaki tulang. Apakah otot barumu itu terasa terlalu berat untuk kau bawa."
Kharis terbang berputar putar di sekitarku sambil mengeluarkan asap hitam dari tubuhnya yang mungil. Ia tampak sangat menikmati melihatku yang masih kesulitan mengendalikan tubuh baru ini.
"Tubuhku tidak seimbang Kharis. Lengan kanan ini terasa seperti aku sedang memegang beban sepuluh kilogram sementara lengan kiriku terasa ringan seperti kapas. Aku harus membiasakan diri terlebih dahulu sebelum kita masuk ke wilayah yang lebih berbahaya."
Kharis mendarat di atas sebuah tengkorak mahluk raksasa yang sudah terkubur setengah bagian di dalam pasir abu abu.
"Itu adalah masalah klasik bagi para Meat Stitcher pemula. Kau terlalu fokus menumbuhkan satu bagian saja karena rasa laparmu yang tidak terkontrol. Di Gehenna ini keseimbangan bukan hanya tentang posisi berdiri namun tentang bagaimana jiwamu membagi energi esensi ke seluruh ruas tulangmu yang kering itu."
Aku mencoba memfokuskan pikiranku. Aku menutup mata kemudian mencoba merasakan aliran energi yang tadi kuserap dari anjing daging. Aku melihat di dalam kegelapan batin sebuah layar sistem muncul kembali di depan pandanganku.
[ SISTEM: MENGANALISIS STRUKTUR TUBUH ]
[ SISTEM: KETIDAKSEIMBANGAN BEBAN TERDETEKSI PADA AREA TORAKS DAN LENGAN KANAN ]
[ SISTEM: DISARANKAN UNTUK MENDISTRIBUSIKAN ESENSI JIWA KE AREA TULANG BELAKANG ]
Distribusi esensi jiwa. Jadi aku bisa mengaturnya secara manual.
Aku mencoba mengikuti saran dari sistem tersebut. Aku membayangkan kabut merah yang terkumpul di dadaku mengalir menuju ke arah tulang belakang serta pinggulku. Perlahan lahan rasa kaku di punggungku mulai berkurang. Meskipun otot belum tumbuh di sana namun tulang belakangku terasa lebih kokoh untuk menopang beban lengan kananku yang berat.
"Lebih baik. Mari kita lanjutkan perjalanan."
Kami berjalan menembus kabut ungu yang semakin tebal. Di depan kami pemandangan mulai berubah. Pasir abu abu yang tadi rata kini dipenuhi oleh bongkahan bongkahan besar yang menyerupai akar pohon namun setelah kulihat lebih dekat itu adalah urat nadi mahluk purba yang telah membatu menjadi struktur seperti kayu.
"Kita sudah sampai di pinggiran Hutan Sumsum. Berhati hatilah Goma. Mahluk mahluk di sini jauh lebih cerdik daripada anjing daging yang kau lawan tadi. Mereka suka menjebak mangsanya di balik struktur tulang yang rapuh ini."
Aku menajamkan indera pendengaranku. Meskipun aku tidak memiliki telinga fisik namun sensor jiwaku bisa menangkap getaran getaran kecil yang merambat di udara. Tiba tiba aku mendengar suara sret sret sret yang sangat halus dari balik sebuah akar tulang yang melengkung.
Ada sesuatu di depan sana. Gerakannya sangat cepat dan berirama.
Aku segera merendahkan tubuhku kemudian memberi isyarat kepada Kharis untuk diam. Aku merangkak dengan sangat pelan menggunakan teknik silent move yang biasa kugunakan saat mengintai jalur pendakian di malam hari agar tidak memancing longsoran salju.
"Apa yang kau lihat Goma."
"Diamlah Kharis atau kau akan menjadi umpannya."
Aku mengintip dari balik celah akar tulang yang besar. Di sana aku melihat sesosok mahluk yang bentuknya sangat aneh. Ia memiliki tubuh seperti belalang sembah namun ukurannya sebesar manusia. Yang mengerikan adalah seluruh bagian tubuhnya terbuat dari kalsium yang tajam serta berkilau layaknya kristal. Mahluk itu disebut Marrow Scavenger penjaga pintu masuk Hutan Sumsum.
Mahluk itu sedang sibuk menusuk nusuk sebuah kerangka mahluk lain yang sudah mati kemudian menghisap cairan kuning dari dalam tulang tersebut. Itu adalah sumsum murni yang sangat berharga bagi pertumbuhan tulang.
[ SISTEM: TARGET TERDETEKSI ]
[ SISTEM: NAMA MAHLUK: MARROW SCAVENGER ]
[ SISTEM: TINGKAT BAHAYA: MENENGAH BAWAH ]
[ SISTEM: ANALISIS KELEMAHAN: PERSENDIAN PADA BAGIAN LEHER DAN PANGKAL SAYAP ]
Persendian leher. Itu adalah titik yang sulit dijangkau untuk mahluk setinggi itu.
Aku melihat ke arah tangan kananku yang sudah berotot. Aku membutuhkan senjata yang lebih baik daripada sekadar potongan tulang paha yang tadi kubawa. Aku melihat ke arah tanah dan menemukan sebuah pecahan kristal tulang yang sangat tajam menyerupai belati alami. Aku mengambilnya kemudian menggenggamnya dengan erat.
"Kharis aku butuh bantuanmu. Bisakah kau terbang ke sisi kiri mahluk itu dan buat sedikit gangguan. Aku akan menyerangnya dari sisi buta di sebelah kanan."
Kharis tampak ragu sejenak namun kemudian ia mengangguk dengan semangat. "Baiklah pendaki tulang. Tapi jika aku tertangkap kau harus bertanggung jawab ya."
Kharis terbang dengan sangat cepat ke arah kiri mahluk belalang kristal itu. Ia mulai mengeluarkan suara suara melengking serta mengeluarkan asap hitam yang pekat untuk menutupi pandangan mahluk tersebut. Marrow Scavenger itu terkejut kemudian memutar tubuhnya ke arah Kharis sambil mengacungkan kedua tangan sabitnya yang sangat tajam.
"Sssshhhhrrrkkkk!"
Mahluk itu mengeluarkan suara desisan yang sangat nyaring. Saat itulah aku bergerak. Aku melesat dari balik akar tulang menggunakan kekuatan otot kaki dan tangan kananku secara maksimal. Aku tidak berlari dengan tegak namun aku merayap dengan sangat rendah seperti seekor kadal gurun.
Sekarang.
Aku melompat ke arah punggung mahluk itu. Aku menggunakan tangan kiriku yang berupa tulang murni untuk mencengkeram erat bagian pangkal sayapnya yang kasar. Mahluk itu tersentak kaget kemudian mencoba mengibaskan tubuhnya dengan sangat liar.
"Kau tidak akan bisa melepaskanku."
Aku menstabilkan posisiku menggunakan teknik mendaki di dinding yang berguncang. Aku menusukkan belati kristal di tangan kananku tepat ke arah celah persendian lehernya yang tidak terlindungi oleh cangkang keras.
Jleb.
Cairan kuning kental yang panas menyemprot keluar mengenai wajah tengkorakku. Mahluk itu menjerit kesakitan kemudian mencoba menusuk tubuhku menggunakan kaki belakangnya yang penuh duri. Salah satu duri itu mengenai tulang rusukku yang baru saja tertutup otot tipis.
"Aaakh."
Rasanya sangat perih seolah olah otot barunya sedang disobek paksa. Namun aku tidak melepaskan cengkeramanku. Aku justru memutar belati kristal itu di dalam lehernya agar kerusakannya semakin parah. Aku bisa merasakan bagaimana mahluk itu mulai kehilangan kekuatannya.
"Goma cepat selesaikan dia. Dia mencoba mengeluarkan gas asam dari perutnya."
Mendengar peringatan Kharis aku langsung mengerahkan seluruh kekuatanku ke tangan kanan. Aku menarik belati itu ke arah samping hingga kepala mahluk itu hampir terputus sepenuhnya dari badannya yang kristal. Mahluk itu akhirnya ambruk ke tanah pasir abu abu dengan suara dentuman yang cukup keras.
[ SISTEM: TARGET DIELIMINASI ]
[ SISTEM: MENGEKSTRAKSI SUMSUM KRISTAL DAN JARINGAN SYARAF ]
[ SISTEM: EVOLUSI TAHAP 2 DAPAT DIMULAI ]
Aku jatuh terduduk di samping bangkai mahluk itu sambil memegang dadaku yang sedikit robek akibat duri tadi. Luka itu mengeluarkan sedikit darah hitam namun sistem regenerasiku mulai bekerja secara perlahan untuk menutupinya kembali.
"Kau gila Goma. Kau hampir saja hancur jika dia sempat mengeluarkan asamnya tadi."
Kharis terbang mendekat dengan wajah yang tampak lega. Aku hanya bisa bernapas dengan berat meskipun paru paruku tidak ada. Rasa lapar yang sangat hebat kembali melanda jiwaku. Kali ini rasanya lebih spesifik. Aku merasa sumsum di dalam tulang tulangku terasa sangat kering serta membutuhkan cairan kuning dari mahluk ini.
"Aku butuh... sumsum itu."
Aku mulai membelah bagian tulang punggung mahluk belalang kristal tersebut. Di dalamnya terdapat cairan kuning yang berkilau jernih. Begitu aku menyentuhnya cairan itu seolah olah memiliki kesadaran sendiri kemudian meresap masuk melalui ujung ujung jariku menuju ke seluruh sistem rangka tubuhku.
[ SISTEM: MENGONSUMSI SUMSUM KRISTAL ]
[ SISTEM: MEMPERKUAT STRUKTUR TULANG DAN MEMBENTUK JARINGAN SYARAF MOTORIK ]
[ SISTEM: PROSES EVOLUSI SEDANG BERJALAN ]
Rasanya berbeda dengan pertumbuhan otot sebelumnya. Kali ini rasanya seperti ada ribuan semut yang sedang menggigit bagian dalam tulang tulangku. Aku merasakan tulang tulanku yang tadinya rapuh dan kusam kini menjadi lebih padat serta memiliki kilauan sedikit putih perak. Di bawah lapisan otot dadaku aku merasakan adanya denyutan baru. Jaringan syaraf mulai terbentuk menghubungkan otot ototku dengan pusat jiwaku.
"Argh... hrrngh..."
Aku mengerang menahan sensasi aneh yang menjalar dari kaki hingga kepala. Setelah beberapa menit layar sistem memberikan informasi terbaru.
[ SISTEM: EVOLUSI TAHAP 2 SELESAI ]
[ SISTEM: INTEGRITAS TULANG MENINGKAT 50 % ]
[ SISTEM: ANDA TELAH MEMPEROLEH JARINGAN SYARAF PERASA ]
[ SISTEM: KESEIMBANGAN TUBUH TELAH DISESUAIKAN SECARA OTOMATIS ]
Aku berdiri perlahan lahan. Sekarang aku merasa jauh lebih stabil. Meskipun lengan kananku tetap berotot namun kaki kaki tulanku terasa lebih kokoh untuk menopang beratnya. Aku mencoba menggerakkan jari jemari tanganku dan sekarang aku bisa merasakannya dengan lebih nyata. Aku bisa merasakan tekstur udara yang panas serta dinginnya pasir abu abu di bawah kakiku.
"Sekarang aku bisa merasakan dunia ini Kharis. Ini bukan lagi sekadar penglihatan tapi aku bisa merasakan getarannya."
Kharis menatapku dengan penuh kekaguman. "Kau tumbuh dengan sangat cepat Goma. Dalam waktu sesingkat ini kau sudah memiliki sistem syaraf sendiri. Jika kau terus seperti ini mungkin dalam seratus bab lagi kau sudah bisa memiliki wajah yang tampan seperti manusia kembali."
Aku hanya tersenyum tipis mendengarnya. Perjalanan ini masih sangat panjang. Aku baru saja berada di pinggiran Hutan Sumsum. Masih banyak mahluk mahluk mengerikan yang menunggu di dalam kegelapan sana. Namun setiap kali aku memangsa satu mahluk aku merasa semakin dekat dengan tujuanku.
Ibu Widya panti asuhan kita tidak akan hilang. Aku akan kembali dengan membawa semua yang telah dicuri dari kita.
"Ayo Kharis. Jangan biarkan sisa sumsum ini terbuang percuma. Kita harus segera bergerak sebelum pemangsa yang lebih besar mencium aroma darah mahluk ini."
Aku mengambil kembali belati kristalku kemudian melilitkan beberapa urat nadi mahluk belalang tadi di pinggangku sebagai tali darurat. Goma sang pendaki kini sudah memiliki pondasi yang lebih kuat untuk memulai pendakian berdarahnya di dunia Gehenna yang penuh dengan kekejaman ini.
Langkahku kini terdengar lebih mantap di atas pasir. Setiap inci otot yang tumbuh di tubuhku adalah janji kematian bagi para Dewa yang telah mengkhianati hidupku. Aku akan memakan seluruh neraka ini jika itu memang diperlukan untuk membuatku berdiri kembali di depan pintu panti asuhan itu sebagai manusia yang utuh.