Aku memang memimpikan menjadi seorang IBU, tapi aku tidak pernah memimpikan menjadi seorang ISTRI.
Nayla Annaya, 24 tahun, memilih hidup sendiri tanpa hubungan asmara. Namun, tekanan keluarga untuk segera menikah membuat hidupnya mulai terasa tidak terkendali.
Di tengah usahanya melarikan diri sejenak bersama sahabat-sahabatnya, sebuah kejadian tak terduga di pusat perbelanjaan justru menjadi awal dari sesuatu yang tak terduga.
Karena terkadang, satu hari yang terlihat biasa saja bisa mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Navy Ane, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
“Kepulangan Darvian”
“Zain menatap Nayla lekat, ada rasa gelisah yang perlahan mengusik hatinya.”
Mereka pun saling berpamitan, berhubung langit mulai menggelap.
Di dalam mobil, Arkan kembali berceloteh riang. Berbeda dengan Zain yang lebih banyak diam. Pikirannya masih tertuju pada jawaban spontan Nayla tadi. Sesekali, ia melirik ke kursi belakang, melihat keduanya yang sedang bercengkerama.
“Kak Zain, makasih ya… untuk hari ini,” ucap Nayla tulus.
Zain yang sedang melamun sedikit tersentak, lalu membalas dengan senyum hangat.
Di kursi belakang, Nayla memberi semangat pada Arkan.
“Ayo…” ujarnya lembut.
Arkan tersenyum malu-malu. Zain yang melihat itu hanya tersenyum simpul.
“Kak Zain…” panggil Arkan pelan.
Ia kembali melirik Nayla, seolah meminta keberanian. Nayla pun mengangguk pelan, meyakinkannya.
“Kak Zain, makasih,” ucap Arkan lirih, sambil menyembunyikan wajahnya di pelukan Nayla.
Zain hanya tertawa kecil, lalu membalas seadanya.
“Iya… sama-sama,” jawabnya singkat.
Pikirannya masih dipenuhi oleh ucapan Nayla tadi.
Nayla yang melihat itu merasa ada yang berbeda. Namun, ia tidak menyadari bahwa dirinya menjadi alasan Zain lebih banyak diam. Ia justru mengira Zain tersinggung oleh ucapan para ibu-ibu sebelumnya.
Setibanya di rumah Arkan, waktu sudah menginjak magrib. Nayla sempat menawari Zain untuk singgah sebentar, namun pria itu menolaknya dengan alasan ada pekerjaan.
Nayla berdiri menatap mobil yang menjauh, tapi ia tidak mau pusing akan hal itu.
**
Waktu terasa begitu cepat. Tanpa disadari, seminggu pun berlalu.
Selama itu, Zain tidak pernah menghubunginya. Nayla berpikir mungkin ia benar-benar sibuk. Ia sempat mengirim pesan, namun balasan Zain singkat—seolah memberi jarak.
Padahal, Arkan sering menanyakan tentangnya, menunggu kapan mereka bisa pergi bermain lagi.
Melihat itu, Nayla memilih untuk tidak memaksa. Ia mencoba memberi pengertian pada Arkan.
Arkan pun hanya bisa tertunduk, menyembunyikan kesedihannya.
Nayla yang melihat itu hanya bisa menghela napas panjang.
Di saat ia dan Arkan mulai terbiasa, bahkan perlahan menerima kehadiran Zain… justru Zain yang tampaknya mulai menjauh.
Nayla tidak pernah berniat menjadi orang lain. Ia akan tetap menjadi dirinya sendiri.
Mungkin, itulah yang membuat orang-orang yang mendekat akhirnya merasa lelah.
Ia sadar, dirinya terlalu cuek… terlalu dingin.
Namun, itu memang dirinya. Dan ia tidak ingin menutupinya hanya demi siapa pun.
Sejak awal, Nayla sudah memikirkan kemungkinan ini—
kemungkinan bahwa suatu hari, Zain akan lelah menghadapinya.
Dan anehnya… ia sudah siap sejak awal. Tapi tetap saja, rasanya tidak semudah itu
**
Saat Nayla keluar dari dapur, langkahnya seketika terhenti.
Ia terkejut melihat seseorang, yang selama ini membuatnya tidak nyaman dan berusaha ia hindari, sedang berdiri di hadapannya.
Orang itu tampak berbeda. Wajahnya berseri-seri… namun entah mengapa, ada sesuatu yang terasa asing—bahkan sedikit misterius.
Nayla menyadarinya saat tatapan matanya jauh lebih intens—seolah ada keputusan besar yang telah ia ambil.
Senyumannya justru membuat tubuhnya menegang, seperti ada peringatan yang diam-diam dikirimkan oleh nalurinya sendiri.”
Ia melenggang pergi begitu saja, tanpa menoleh sedikit pun.
Namun, hati Nayla justru semakin cemas—dipenuhi berbagai kemungkinan yang belum tentu terjadi, tapi terasa begitu nyata di kepalanya.
Nayla,” panggilnya pelan tanpa menoleh.
“Kemari.”
Ia melangkah lebih dulu menuju ruang tamu, seolah yakin Nayla akan mengikutinya.
Nayla mencoba berpikir positif, mengabaikan peringatan yang terus mengusik pikirannya.
Ia melangkah ragu, namun tak benar-benar punya pilihan untuk mengelak.
“Ini oleh-oleh untukmu.” Ia menunjuk beberapa paperbag di atas meja.
Nayla bengong, tak benar-benar mengerti.
“Pakai yang ini.” Ia mengisyaratkan paperbag paling besar berwarna biru.
“Sebentar, kita keluar makan malam. Bersama Arkan.”
Kening Nayla mengerut. Kebingungannya justru semakin dalam. Ia hendak bertanya, namun Darvian sudah berbalik pergi.
“Aku tidak menerima penolakan.” ucapnya tegas, tanpa menoleh.
“Apa sih… tidak jelas sekali,” gumam Nayla pelan.
Meski begitu, ia tetap melangkah mendekat dan membuka paperbag biru itu.
“Hah… apa ini?”
Matanya membelalak tak percaya. Mulutnya sedikit terbuka, benar-benar terkejut dengan apa yang dilihatnya.
Ia sama sekali tidak mengerti.
Ia menjambak rambutnya frustrasi, lalu menghela napas panjang. Dadanya terasa sesak oleh rasa dongkol yang tak tertahan.
“Ini apa sih… baju model apa begini?” gerutunya kesal.
Nayla ingin protes, tapi ia tidak cukup berani.
Akhirnya, ia melangkah menuju kamar sambil membawa semua paperbag itu.
Di sisi lain, Darvian memperhatikan setiap reaksi itu melalui CCTV di ruang tamu.
Senyum tipis tersungging di bibirnya—dingin, penuh arti yang tak mudah ditebak.
Di dalam kamar, suasana terasa lebih sunyi.
Sementara itu, Nayla menjatuhkan paperbag di atas tempat tidur dengan kesal.
“Aku tidak akan memakainya!” teriaknya lantang.
“Ngapain coba aku pakai baju begituan… kayak artis saja dan—”
Ia mengeraskan rahangnya. Giginya bergeletuk, menahan emosi yang semakin memuncak.
“Itu orang gila, apa?” gumam Nayla kesal.
Tangannya mencengkeram kain gaun itu—belahannya terlalu tinggi, membuatnya ingin mengoyaknya saat itu juga.
“Dasar gila…”
Nayla menganga seketika.
Di ambang pintu, Arkan berdiri kaku. Tatapannya penuh ketakutan, seolah tak mengerti apa yang sedang terjadi.
Nayla membuang napas panjang, membiarkan semuanya begitu saja.
Dalam hati, ia sempat berpikir—jika Arkan tidak menyukainya, mungkin semuanya akan terasa lebih mudah.
Perlahan, Arkan melangkah mendekat, masih dengan rasa takut yang tersisa. Tatapannya sendu, seolah merasa diabaikan.
“Kakak…” panggilnya pelan, suaranya bergetar.
“Apa?” jawab Nayla datar.
Sudut bibir Arkan semakin turun. Air matanya jatuh satu per satu, tanpa suara.
Nayla tetap diam.
Sejujurnya, ia tidak pernah benar-benar mengerti—mengapa Arkan bisa menyukainya sebesar itu.
Ia bukan orang yang penuh kasih, bukan pula sosok yang lembut.
“Arkan, Kakak lagi capek,” ucapnya tegas, lalu berbaring membelakanginya.
Tangis Arkan semakin terdengar, pelan… tertahan.
“Hiks… hiks…”
"Arkan.”
Suasana sempat terjeda.
“Jangan nangis,” ucap Nayla tegas.
Arkan seketika menahan napas. Matanya menatap Nayla dengan kecewa, lalu ia menunduk dan melangkah mundur perlahan.
Di ambang pintu, ia berhenti. Tatapannya tertahan cukup lama—seolah menunggu Nayla akan memanggilnya kembali, seperti biasanya… memberi pelukan hangat yang selalu ia dapatkan.
Namun, harapan itu tidak pernah datang.