NovelToon NovelToon
KAF FA RO

KAF FA RO

Status: sedang berlangsung
Genre:Iblis / Kutukan / Balas Dendam
Popularitas:539
Nilai: 5
Nama Author: Bp. Juenk

Rafiq Al-Farizi adalah pria agamis yang kehilangan segalanya dalam waktu singkat. Ujian itu membuat imannya runtuh.

Ia bertemu dengan Mbah Jaya, seorang dukun yang menawarkan "keadilan" melalui ilmu hitam. Langkah demi langkah, hingga akhirnya Ia mengucapkan sumpah setia kepada makhluk gaib.

Sebagai tanda perjanjian, muncul tulisan KAF FA RO di jidatnya—stempel bahwa jiwanya telah menjadi milik kegelapan. Dengan kekuatan barunya, ia memburu balas dendam kepada semua yang menghancurkannya.

Namun semakin dalam ia melangkah, semakin ia sadar: bukan ia yang mengendalikan kegelapan, tapi kegelapan yang mengendalikannya. Dan harga dari perjanjian ini lebih mahal dari nyawanya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bayangan di Persimpangan

Fortuner hitam melaju pelan di jalanan komplek perumahan yang dulu ia kenal sebagai rumah. Rafiq tidak bermaksud ke sini.

Tangannya sendiri yang membawa kemudi berbelok ke arah ini, seperti ada sesuatu yang menariknya, seperti ada benang tak kasat mata yang menghubungkannya dengan tempat ini.

Tempat di mana ia dulu dikenal sebagai pria agamis. Tempat di mana ia dulu menjadi imam, menjadi ketua pengurus masjid, menjadi tempat bertanya warga ketika ada masalah.

Tempat di mana ia sekarang dikenal sebagai koruptor uang masjid. Rafiq tersenyum pahit. Ironi. Selalu ada ironi dalam hidupnya akhir-akhir ini. Semakin ia berusaha menjadi baik, semakin dalam ia jatuh.

Semakin ia berusaha memegang amanah, semakin besar fitnah yang menimpanya. Dan sekarang, ketika ia telah memilih jalan lain, ketika ia telah meninggalkan semua yang dulu ia pegang teguh, ia kembali ke sini.

Bukan untuk membuktikan apa-apa. Bukan untuk membersihkan nama. Hanya karena... karena ia ingin melihat. Ingin mengingat. Ingin tahu seperti apa rasanya berdiri di persimpangan antara masa lalu dan masa kini.

Komplek perumahan itu tidak banyak berubah. Rumah-rumah dengan halaman depan yang tertata rapi, pagar-pagar besi dengan cat hijau atau biru, pohon-pohon kecil di pinggir jalan. Beberapa anak bermain di halaman rumah, berlarian dengan sepeda mini.

Seorang ibu-ibu sedang menjemur pakaian di teras, sesekali menoleh ke arah Fortuner hitam yang melaju pelan dengan tatapan curiga. Mobil asing. Atau mungkin bukan asing.

Mungkin mereka mengenali plat nomornya. Mungkin mereka mengenali mobil ini sebagai milik Rafiq Al Farisi, pria yang dulu mereka hormati, yang kini mereka cap sebagai koruptor.

Rafiq tidak peduli. Biarlah mereka menatap. Biarlah mereka berbisik. Biarlah mereka melemparkan kebencian. Itu semua tidak ada artinya lagi baginya.

Dan kemudian ia melihat masjid.

Masjid An-Nur. Bangunan dengan kubah biru muda dan menara setinggi dua lantai. Masjid yang ia bangun dari nol bersama warga komplek.

Masjid yang ia rawat selama bertahun-tahun. Masjid yang menjadi saksi bisu setiap sujudnya, setiap doanya, setiap air mata yang ia tumpahkan dalam munajat di sepertiga malam.

Masjid yang kini mengusir namanya dari daftar pengurus. Rafiq menginjak rem. Fortuner berhenti tepat di depan gerbang masjid. Melalui kaca mobil, ia bisa melihat ke dalam halaman masjid. Jemaah baru saja selesai sholat Dzuhur.

Mereka berhamburan keluar ruang utama, beberapa berdiri di teras berbincang, beberapa mengambil wudhu di tempat wudhu di samping masjid. Suasana yang familiar. Suasana yang dulu membuatnya merasa damai.

Kini, suasana itu hanya terasa asing.

Di antara jemaah yang keluar, Rafiq melihat sosok yang ia kenal. Pak RT Bambang. Pria tambun dengan kemeja batik lengan pendek yang khas, celana bahan hitam, dan peci hitam di kepalanya. Ia berdiri di teras masjid, berbincang dengan beberapa warga lainnya.

Wajahnya yang bulat terlihat puas, seperti biasa. Seperti orang yang tidak pernah punya masalah dalam hidupnya. Seperti orang yang tidak pernah merasa bersalah telah memfitnah tetangganya sendiri.

Rafiq menatapnya. Dan Pak Bambang menoleh. Mata mereka bertemu.

Rafiq tidak melakukan apa-apa. Ia hanya duduk di kursi kemudi, kedua tangannya di setir, matanya menatap lurus ke arah Pak RT. Tidak ada mantra yang ia bacakan.

Tidak ada asap hitam yang ia lepaskan. Tidak ada kekuatan yang ia kerahkan. Ia hanya menatap.

Tapi di matanya yang kosong itu, ada sesuatu. Sesuatu yang tidak bisa ia kendalikan lagi. Sesuatu yang telah menjadi bagian dari dirinya sejak stempel hitam itu melekat di dahinya.

Sesuatu yang muncul begitu saja ketika ia menatap seseorang yang pernah menyakitinya, yang pernah memfitnahnya, yang pernah mengambil sesuatu darinya.

Tiga huruf di dahinya, di balik kupluk hitam yang ia kenakan, terasa hangat. Tidak membara seperti semalam. Hangat. Hangat yang menyebar dari dahinya ke matanya, ke tatapannya, ke udara di antara ia dan Pak RT.

Dan Pak Bambang tersentak.

Rafiq melihatnya dari balik kaca mobil. Wajah Pak Bambang yang tadinya penuh kepuasan itu berubah dalam sekejap. Pipinya yang merah karena terkena sinar matahari berubah pucat. Matanya yang tadinya menyipit karena sinar matahari kini membelalak lebar.

Mulutnya yang sedang berbicara dengan warga di sampingnya ternganga, kata-kata yang hendak diucapkan terhenti di tengah jalan.

Sesaat, Pak Bambang hanya berdiri diam. Tubuhnya yang tambun itu terlihat membeku, seperti patung yang tiba-tiba kehilangan nyawa. Dan kemudian, tanpa suara, tanpa teriakan, tanpa apa-apa, ia jatuh.

Jatuh ke depan, tubuhnya yang berat menghantam lantai teras masjid dengan bunyi yang membuat semua warga di sekitarnya berteriak.

"PAK RT! PAK RT!"

Warga berhamburan. Ada yang berlari mendekat, ada yang berteriak memanggil ustad, ada yang langsung mengambil ponsel untuk menelepon ambulans. Kerumunan mulai terbentuk di teras masjid.

Beberapa ibu-ibu yang baru keluar dari ruang sholat berteriak histeris. Anak-anak kecil yang sedang bermain di halaman berhenti, menatap dengan mata penuh ketakutan.

Rafiq menatap semua itu dari balik kaca mobil. Ia melihat Pak Bambang terbaring di lantai teras, tubuhnya tidak bergerak. Ia melihat warga mengerubungi, ada yang mencoba menolong, ada yang hanya berdiri bingung.

Ia melihat kekacauan yang ia ciptakan tanpa sengaja. Atau mungkin sengaja. Ia sendiri tidak tahu lagi. Ia tidak merasa puas. Tidak merasa senang. Tidak merasa menyesal. Ia hanya merasa... kosong. Kosong seperti biasanya.

Ia hanya menyalakan mesin Fortuner, memutar kemudi, dan perlahan meninggalkan masjid itu. Meninggalkan kekacauan yang ia ciptakan. Meninggalkan masa lalunya yang hancur berantakan.

Ia tidak melihat ke belakang.

Di teras Masjid An-Nur, kekacauan mulai mereda ketika seorang pria paruh baya berjenggot putih keluar dari ruang utama.

Ustad Salim. Imam masjid yang menggantikan Rafiq setelah ia dipecat dari kepengurusan. Pria itu dikenal sebagai sosok yang tenang, sabar, dan dihormati oleh warga komplek.

"Apa yang terjadi?" tanyanya dengan suara tenang, meskipun matanya menunjukkan kekhawatiran ketika melihat Pak Bambang terbaring di lantai.

"Pak RT pingsan tiba-tiba, Ustad," jawab seorang pemuda yang pertama kali mendekati Pak Bambang. "Kami baru selesai sholat, beliau lagi ngobrol di sini, tiba-tiba jatuh."

Ustad Salim berlutut di samping Pak Bambang. Ia memeriksa nadi di leher pria itu. Masih ada. Detaknya cepat, tapi teratur. Ia memeriksa pernapasan. Masih normal. Ia membuka kelopak mata Pak Bambang, memeriksa pupil. Pupilnya normal, tidak ada tanda-tanda stroke atau serangan jantung yang serius.

"Bantu saya angkat," kata Ustad Salim.

Beberapa warga membantu mengangkat tubuh Pak Bambang yang berat, membawanya ke teras masjid yang lebih teduh. Mereka membaringkannya di atas tikar yang cepat-cepat dibentangkan oleh seorang ibu-ibu.

Ustad Salim duduk di samping Pak Bambang. Ia mengusap wajah pria itu dengan kain basah yang dibawa oleh salah seorang jemaah. Perlahan, Pak Bambang mulai menunjukkan tanda-tanda kesadaran. Alisnya berkerut. Matanya bergerak di balik kelopak. Bibirnya bergerak-gerak seperti sedang meracau.

"Pak RT... Pak RT, bisa dengar saya?" Ustad Salim menepuk pipi Pak Bambang pelan.

Pak Bambang membuka matanya. Matanya liar, seperti orang yang baru terbangun dari mimpi buruk.

Ia menatap sekeliling, menatap wajah-wajah yang mengerubunginya, menatap Ustad Salim yang berada paling dekat. Dan kemudian ia berteriak.

"MATA ITU! MATA ITU!"

Ustad Salim menenangkannya dengan tangan di pundak. "Tenang, Pak RT. Tenang. Tidak ada apa-apa. Bapak pingsan sebentar. Kami sudah di sini."

Pak Bambang menoleh ke arah Ustad Salim, tangannya mencengkeram lengan pria tua itu dengan kuat.

"Saya lihat... saya lihat matanya, Ustad. Matanya kosong. Kosong tapi menyala. Seperti... seperti api. Seperti api yang dingin. Dia menatap saya. Dia menatap saya dan saya tidak bisa bergerak. Saya tidak bisa bernapas. Rasanya seperti... seperti ada tangan yang mencekik leher saya."

Ustad Salim mengernyit. "Siapa, Pak RT? Siapa yang Bapak lihat?"

Pak Bambang menelan ludah. Air matanya mulai mengalir. Bukan air mata kesedihan. Air mata ketakutan.

"Rafiq," bisiknya. "Rafiq Al Farisi. Di mobil hitam itu. Dia menatap saya. Matanya... matanya tidak seperti manusia, Ustad. Matanya kosong. Kosong sekali. Tapi di dalam kekosongan itu... ada sesuatu. Sesuatu yang hitam. Sesuatu yang gelap. Dan saya merasakannya. Saya merasakannya masuk ke dalam tubuh saya. Menekan dada saya. Membuat saya tidak bisa bernapas."

Ustad Salim terdiam. Wajahnya yang tenang berubah serius. Ia menoleh ke arah gerbang masjid, ke tempat di mana Pak Bambang mengatakan mobil hitam itu berada. Tapi tidak ada mobil. Jalanan kosong. Hanya sinar matahari sore yang mulai berwarna jingga.

"Bapak yakin itu Rafiq?" tanyanya pelan.

Pak Bambang mengangguk cepat. "Saya yakin, Ustad. Saya tidak mungkin salah. Saya tahu wajahnya. Saya yang... saya yang..."

Ia tidak melanjutkan. Ustad Salim tahu. Ia tahu tentang laporan keuangan masjid yang tidak sinkron. Ia tahu tentang tuduhan korupsi yang dilayangkan pada Rafiq.

Ia tahu tentang peran Pak RT dan Tono dalam membongkar kasus itu. Dan ia juga tahu—sesuatu yang tidak diketahui warga lain—bahwa laporan keuangan itu mungkin tidak sepenuhnya akurat. Bahwa ada kejanggalan dalam proses pelaporannya. Bahwa Rafiq tidak pernah diberi kesempatan untuk membela diri.

Tapi itu semua sudah berlalu. Rumah Rafiq sudah dijual. Rafiq sudah pergi dari komplek ini. Dan sekarang, pria itu kembali. Dengan mobil hitam. Dengan mata kosong yang membuat Pak RT pingsan hanya dengan satu tatapan.

Ustad Salim mendesah panjang. "Pak RT, Bapak istirahat dulu. Mungkin Bapak kelelahan. Sebentar lagi Maghrib, Bapak sholat dulu di sini. Saya akan antar Bapak pulang nanti."

Pak Bambang menggeleng. "Saya tidak mau pulang, Ustad. Saya takut. Takut dia menunggu di rumah. Takut dia... takut dia melakukan sesuatu pada saya."

Ustad Salim menepuk pundak pria itu dengan lembut. "Tidak ada yang akan terjadi, Pak RT. Bapak di sini aman. Ini masjid. Ini rumah Allah. Tidak ada yang bisa masuk ke sini dengan niat jahat."

Pak Bambang menatap Ustad Salim dengan mata penuh harap. "Bapak yakin, Ustad?"

Ustad Salim tersenyum. Senyum yang menenangkan. Senyum yang membuat Pak Bambang perlahan mulai rileks.

"Saya yakin, Pak RT. Sekarang Bapak duduk dulu. Ambil air wudhu. Sholat. Dekatkan diri pada Allah. Tidak ada yang perlu ditakuti selain Allah."

Pak Bambang mengangguk pelan. Dengan bantuan dua orang warga, ia bangkit dari tikar. Tubuhnya masih sedikit gemetar, langkahnya masih belum stabil. Tapi ia berjalan menuju tempat wudhu, diikuti oleh Ustad Salim yang berjalan di belakangnya.

Di tengah perjalanan, Pak Bambang berhenti. Ia menoleh ke Ustad Salim.

"Ustad... apa yang terjadi pada Rafiq? Saya lihat matanya tadi... matanya tidak seperti manusia. Matanya seperti... seperti orang yang sudah mati tapi masih hidup. Dan di dahinya... di bawah peci hitam itu... ada sesuatu. Hitam. Saya tidak melihat jelas, tapi saya merasakannya. Ada sesuatu yang hitam di dahinya."

Ustad Salim tidak menjawab. Ia hanya menatap ke arah gerbang masjid, ke jalanan yang mulai gelap karena senja. Angin sore bertiup pelan, membawa suara azan Maghrib yang mulai berkumandang dari pengeras suara masjid.

Allahu Akbar, Allahu Akbar...

"Kita tidak tahu apa yang terjadi pada Rafiq, Pak RT," kata Ustad Salim akhirnya. "Tapi satu yang saya tahu: orang yang pernah menjadi imam di masjid ini, yang pernah memegang amanah dengan baik, tidak akan berubah menjadi seperti itu tanpa alasan. Mungkin kita semua... mungkin kita semua punya andil dalam apa yang terjadi padanya."

Pak Bambang menunduk. Ia tidak menjawab. Ia hanya berjalan menuju tempat wudhu dengan langkah tertatih, meninggalkan Ustad Salim yang berdiri di teras masjid dengan pandangan kosong ke arah jalanan yang mulai gelap.

Di rumah kecil di pinggir desa, Rafiq duduk di teras rumahnya. Fortuner hitam terparkir di halaman depan, kusut oleh debu perjalanan. Ia melepas kupluk hitamnya, membiarkan tiga huruf di dahinya terlihat di bawah sinar bulan yang mulai muncul.

Ia menatap tangannya. Tangannya yang dulu sering terangkat dalam doa. Tangannya yang dulu memegang Al-Qur'an setiap malam. Tangannya yang kini kosong. Tidak ada doa. Tidak ada Al-Qur'an. Hanya ada kekosongan.

Dan di dalam kekosongan itu, ada kenikmatan yang gelap. Kenikmatan yang membuatnya ingin lebih. Lebih banyak. Lebih dalam. Lebih menyakitkan.

"Pak RT," bisiknya. "Kau juga bagian dari mereka. Kau juga ikut mengambil sesuatu dariku. Reputasiku. Kehormatanku. Tempatku di masjid itu."

Ia tersenyum.

"Tapi itu belum cukup. Masih panjang jalannya. Masih banyak yang harus kau rasakan."

1
La Rue
Sensasi horornya benar² terasa. Tapi aku suka,karena gaya penulisan yang khas dari Sang Penulis. Semoga banyak yang mampir karena ceritanya bagus dan jarang typo 👍
La Rue: sama-sama
total 2 replies
La Rue
Waduh makin seram tapi semakin penasaran 😱🤭
La Rue
seram tapi penasaran 😱🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!