NovelToon NovelToon
THE SILENCE OF ADORING YOU

THE SILENCE OF ADORING YOU

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Idola sekolah / Cintapertama
Popularitas:666
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

Di bawah rindangnya pohon sakura yang menghiasi jalan setapak kampus, Alana menyimpan sebuah rahasia besar. Dari kejauhan, ia menyaksikan Raka, sosok pria yang selalu sibuk dengan sketsa-sketsa arsitekturnya. Kekaguman Alana tumbuh dalam diam, seperti bunga yang mekar di sudut perpustakaan yang paling sunyi. Setiap langkah Raka adalah sebuah melodi bagi hati Alana yang pemalu, sebuah lagu yang tak pernah ia berani nyanyikan dengan suara keras.
Namun, segalanya berubah saat Alana dan Raka terpaksa berada dalam satu kelompok Kuliah Kerja Nyata (KKN). Jarak yang selama ini memisahkan mereka tiba-tiba menghilang. Kini, Alana tidak hanya mengamati dari jauh, tapi harus bekerja bahu-membahu dengan pria yang ia kagumi. Setiap interaksi minimal-seperti sentuhan jari saat bertukar nomor telepon atau nama Alana yang terucap dari bibir Raka-menjadi ledakan listrik yang menyesakkan dada Alana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KILOMETER YANG MENDEKAT

Suara mesin bus kampus yang menderu rendah menjadi latar musik bagi kegelisahan Alana pagi itu. Lapangan parkir universitas penuh sesak dengan jaket almamater berwarna biru tua. Ratusan mahasiswa, termasuk Kelompok 14, sedang sibuk menaikkan tas gunung, kardus logistik, dan peralatan teknis ke dalam bagasi bus.

Alana berdiri di dekat pintu bus, memeluk tas ranselnya erat-erat. Ia merasa seperti seorang prajurit yang hendak maju ke medan perang, namun senjatanya hanyalah sebuah buku catatan kecil dan perasaan yang terlalu berat untuk dibawa.

"Lan, sini! Kita duduk di tengah saja supaya nggak terlalu mual," teriak Dinda dari dalam bus, melambaikan tangan dengan semangat.

Alana naik ke bus, mencari kursi di sebelah Dinda. Namun, saat ia melangkah menyusuri lorong yang sempit, ia melihat sosok itu. Raka sudah duduk di kursi nomor 4B, tepat di sebelah jendela. Ia mengenakan hoodie abu-abu, headphone melingkar di lehernya, dan matanya terpejam seolah sedang berusaha mencuri waktu tidur sebelum perjalanan panjang dimulai.

Keberuntungan atau mungkin takdir yang sedang usil membuat Dinda memilih kursi tepat di belakang Raka.

"Aman, Lan. Di sini strategis," bisik Dinda sambil nyengir.

Alana duduk dengan kaku. Jarak antara punggung kursi Raka dan lutut Alana hanya beberapa sentimeter. Ia bisa melihat helai rambut belakang Raka yang sedikit berantakan, menyentuh kerah hoodie-nya. Harum kayu cendana yang familiar itu perlahan memenuhi ruang napas Alana, membuatnya merasa seolah sedang menghirup udara yang sama dengan dunianya.

Bus mulai bergerak, meninggalkan gerbang kampus yang perlahan mengecil di spion. Perjalanan menuju Desa Sukamaju memakan waktu enam jam, melewati jalur pegunungan yang berkelok.

Satu jam pertama diisi dengan keriuhan. Bram, sang ketua kelompok, mulai memimpin nyanyian-nyanyian konyol untuk mencairkan suasana. Namun, di baris kursi nomor 4, keheningan tetap terjaga. Raka tampaknya benar-benar tertidur, kepalanya sesekali terbentur kaca jendela saat bus melewati jalan berlubang.

Alana tidak bisa membaca bukunya. Matanya terus terpaku pada celah di antara kursi, memerhatikan gerakan bahu Raka yang naik turun dengan teratur.

Tiba-tiba, bus mengerem mendadak untuk menghindari lubang besar. Tubuh Alana terdorong ke depan, dan kepala Raka terantuk cukup keras ke jendela hingga ia terbangun dengan kaget.

"Aduh..." gumam Raka pelan, memijat pelipisnya.

Tanpa sadar, Alana mencondongkan tubuhnya ke depan. "Kamu nggak apa-apa, Raka?"

Raka menoleh ke belakang. Matanya yang masih sedikit mengantuk bertemu langsung dengan mata Alana yang penuh kekhawatiran. Untuk sekejap, dunia seolah berhenti berputar. Alana lupa bagaimana cara menarik napas.

"Eh, Alana ya?" Raka mengucek matanya, mencoba mengumpulkan kesadaran. "Iya, nggak apa-apa. Cuma kaget sedikit."

"Itu... ada tanda merah di dahi kamu," kata Alana pelan, tangannya hampir saja terangkat untuk menyentuh dahi Raka sebelum ia sadar dan menariknya kembali dengan cepat. "Mau pakai minyak kayu putih? Aku bawa di tas."

Raka terdiam sejenak, menatap Alana dengan ekspresi yang sulit dibaca. "Boleh deh, kalau nggak merepotkan."

Alana merogoh tasnya dengan tangan gemetar, mengeluarkan botol kecil dan menyerahkannya pada Raka. Saat Raka menerima botol itu, ujung jari mereka kembali bersentuhan. Kali ini bukan hanya sekilas seperti di gazebo; Raka sempat menahan botol itu sebentar, membuat kontak fisik itu terasa jauh lebih lama bagi Alana.

"Makasih ya, Alana. Kamu perhatian juga ternyata," ucap Raka dengan senyum tipis jenis senyum yang tidak hanya sampai di bibir, tapi juga di matanya.

Alana hanya bisa mengangguk kaku dan segera kembali bersandar di kursinya. Jantungnya berpacu seperti sedang lari maraton. Perhatian juga ternyata? Kalimat itu berputar-putar di kepalanya seperti kaset rusak. Apakah Raka mulai menyadari keberadaannya? Ataukah itu hanya sekadar basa-basi sopan kepada teman sekelompok?

Persinggahan di Rest Area

Tiga jam berlalu, bus berhenti di sebuah rest area di lereng bukit. Udara dingin pegunungan mulai terasa menusuk tulang saat para mahasiswa turun untuk meregangkan otot atau sekadar mencari kopi.

Alana berdiri di dekat pagar pembatas, menatap hamparan lembah di bawahnya. Kabut tipis mulai turun, memberikan suasana magis pada sore itu.

"Pemandangannya bagus ya?"

Alana tersentak. Raka sudah berdiri di sampingnya, kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku hoodie. Ia menatap lurus ke arah lembah, membiarkan angin mempermainkan rambutnya.

"Iya, tenang banget di sini," jawab Alana, mencoba menenangkan suaranya.

"Kamu anak Sastra, pasti lagi mikirin kata-kata puitis buat gambarin tempat ini, ya?" Raka menoleh, kali ini dengan raut wajah yang lebih santai.

Alana tersenyum kecil, merasa sedikit tertantang. "Nggak selalu. Kadang keindahan itu justru paling pas dinikmati dalam diam, tanpa perlu satu kata pun. Kamu sendiri? Sedang mikirin struktur bangunan di bawah sana?"

Raka tertawa rendah suara tawa yang membuat perut Alana terasa seperti dipenuhi ribuan kupu-kupu. "Mungkin. Aku sedang membayangkan bagaimana kalau di puncak bukit itu dibangun sebuah observatorium kecil dengan atap kaca. Pasti keren buat melihat bintang."

"Aku suka ide itu," bisik Alana.

"Nanti di Sukamaju, kabarnya langitnya bersih banget kalau malam. Mungkin kita bisa lihat bintang beneran di sana," kata Raka, kini menatap Alana dengan intensitas yang lebih dalam. "Bantu aku tulis deskripsinya di proposal nanti, ya? Aku jago gambar, tapi aku payah soal rasa."

Alana tertegun. Payah soal rasa? Jika saja Raka tahu bahwa di depannya ada seseorang yang memiliki cadangan rasa yang cukup untuk memenuhi seluruh perpustakaan pusat, mungkin ia tidak akan berkata seperti itu.

"Aku akan bantu," janji Alana.

Kilometer Terakhir

Saat bus kembali melaju, suasana di dalam bus menjadi lebih tenang. Lampu-lampu kabin dimatikan, menyisakan cahaya remang-remang dari luar.

Alana melihat Raka kembali menyandarkan kepalanya, namun kali ini ia tidak menghadap ke jendela. Ia memiringkan kepalanya ke arah lorong, sangat dekat dengan posisi duduk Alana.

Dalam kegelapan itu, Alana memberanikan diri. Ia tidak memejamkan mata. Ia menggunakan setiap kilometer sisa perjalanan untuk menatap profil samping wajah Raka yang tersorot lampu jalan sesekali.

Ia mengambil ponselnya, membuka aplikasi catatan, dan mengetik dengan jemari yang masih terasa hangat karena pertemuan tadi:

> "Kilometer demi kilometer membawa kita semakin dekat ke tujuan, namun bagiku, setiap meternya adalah tentang bagaimana aku belajar menata detak jantungku sendiri di dekatmu. Kau bilang kau payah soal rasa, Raka. Maka izinkan aku menjadi penulis bagi setiap rasa yang tak sanggup kau katakan."

> Bus mulai melambat saat memasuki gapura bambu bertuliskan "Selamat Datang di Desa Sukamaju". Perjalanan fisik mereka mungkin hampir usai, namun bagi Alana, perjalanan hatinya yang paling berbahaya baru saja dimulai. Di desa kecil yang sunyi ini, ia tidak akan punya rak buku untuk bersembunyi. Hanya ada dia, Raka, dan sebuah rahasia yang semakin sulit untuk diredam.

1
Bunga
penggambaran keadaan n hati Alana seperti aku di masa kuliah
jadi nostalgia😍
Bunga
lanjut Thor
cerita yang bagus
🌷tinull💞
semangat terus Thor, terus berkarya 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!