NovelToon NovelToon
Perlindungan Terakhir (Zaman Es)

Perlindungan Terakhir (Zaman Es)

Status: sedang berlangsung
Genre:Hari Kiamat / Horror Thriller-Horror / Epik Petualangan
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Thinkziam

Juni 2026
----
Aktivitas matahari menurun drastis. Zona es meluas dari kutub hingga mencapai Indonesia. Jakarta membeku dalam suhu minus belasan derajat, hukum dan negara runtuh, dan manusia saling berburu untuk bertahan hidup. Di tengah kiamat Es itulah Arka, seorang pemuda jenius tapi pemalas , mati dikhianati tunangannya sendiri. Namun takdir memberinya kesempatan kedua. Ia terbangun satu tahun sebelum bencana, dengan ingatan penuh akan enam bulan neraka yang telah ia lalui. Kini, dengan memanfaatkan pengetahuannya tentang masa depan, bisakah arka bertahan hidup di dunia tanpa hukum, di mana siapa kuat dia berkuasa saat ini ? ...

----

~ Jika waktu bisa mundur 1 tahun dari saat ini, Apa yg akan kamu lakukan? ~
----
@ThinkzIam

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Thinkziam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8

Pagi itu, Jakarta masih gelap ketika Arka tiba di lahan. Ekskavator sudah mulai bergerak, menggali tanah di bagian tengah. Suara mesinnya menggelegar di antara gedung-gedung tinggi yang masih remang-remang.

Hadi berdiri di tepi lubang, meneriakkan instruksi kepada operator. Melihat Arka, dia mengangguk cepat.

“Mas Arka, pagi. Target hari ini sedalam lima meter. Tanahnya cukup padat, tidak banyak batu.”

Arka mendekati tepi lubang. Tanah merah tergali, ditumpuk di sisi timur lahan. Besok akan mulai pemasangan bekisting untuk dinding basement.

“Ada kendala?” tanya Arka.

“Belum. Tapi sebentar lagi pasti ada yang datang.”

Hadi tidak salah. Jam menunjukkan pukul setengah delapan ketika seorang ibu-ibu keluar dari rumah petak di gang belakang lahan. Wajahnya masih mengantuk, rambut diikat asal, tangan memegang sapu.

“Pak! Pak!” teriaknya sambil melambai ke arah Hadi.

Hadi menoleh ke Arka. Arka menghela napas, lalu berjalan mendekati pagar seng yang membatasi lahan dengan gang sempit itu.

“Ibu ada yang bisa dibantu?”

Ibu itu menunjuk ke arah ekskavator. “Itu dari tadi pagi sudah bunyi. Rumah saya di belakang, kaca jendela sampai bergetar. Suami saya mau berangkat kerja jadi nggak bisa tidur.”

Arka mengangguk. “Maaf, Bu. Ini pekerjaan konstruksi. Paling lama dua bulan. Setelah itu sudah tidak bising lagi.”

“Dua bulan? Masak saya harus terima dua bulan? Saya ini jualan gorengan, Pak. Pembeli pada pergi kalau bising begini.”

Arka mengeluarkan dompet dari saku celana. Dia mengambil beberapa lembar uang, lalu menyerahkannya melalui celah pagar.

“Ini untuk Ibu. Untuk ganti rugi sementara. Kalau ada tetangga lain yang merasa terganggu, tolong Ibu sampaikan. Saya akan urus satu per satu.”

Ibu itu menerima uang, matanya membulat. “Ini... berapa?”

“Dua juta. Cukup untuk dua bulan, Bu.”

Wajah ibu itu langsung berubah. Dari kesal menjadi tersenyum. “Baik, Pak. Saya akan bilang ke tetangga. Tapi jangan lama-lama ya, Pak.”

“Tidak akan, Bu.”

Ibu itu berbalik, langkahnya ringan. Arka kembali ke dalam lahan.

Hadi yang melihat dari kejauhan menggeleng-geleng. “Cepat, Mas. Tapi kalau banyak yang komplain, boros juga.”

“Waktu lebih mahal dari uang,” jawab Arka.

Pukul sembilan, komplain kedua datang. Seorang bapak-bapak dengan kaus oblong dan sandal jepit berdiri di depan pagar. Kali ini tidak sendirian. Ada tiga orang lain di belakangnya.

Arka mendekat. Sebelum mereka bicara, dia sudah menyodorkan amplop.

“Untuk Bapak-bapak. Maaf atas gangguannya.”

Bapak dengan kaus oblong itu membuka amplop. Matanya mengerjap. “Ini... berapa?”

“Masing-masing satu juta. Untuk satu bulan ke depan. Kalau masih bising setelah itu, saya tambah.”

Mereka saling berpandangan. Seorang yang paling muda, mungkin sekitar tiga puluhan, menyelipkan amplop ke saku celana.

“Baiklah, Mas. Tapi tolong jangan terlalu pagi begini. Istri saya masih punya bayi, susah tidur.”

“Saya akan minta pekerja mulai sedikit lebih siang. Jam tujuh, bukan jam enam.”

“Setuju.”

Mereka pergi satu per satu. Hadi yang berdiri di dekat ekskavator menatap Arka dengan ekspresi setengah kagum setengah heran.

“Mas Arka ini sudah siapkan semua ya.”

“Saya sudah perkirakan,” kata Arka. “Orang akan komplain kalau merasa dirugikan. Selama mereka merasa mendapat lebih dari yang mereka rugikan, mereka akan diam.”

Hadi tersenyum kecil. “Cerdas.”

Arka tidak membalas senyum itu. Matanya kembali ke lubang yang terus melebar. Di kepalanya, dia sudah menghitung berapa banyak uang yang keluar hari ini. Dua juta untuk ibu gorengan. Empat juta untuk empat orang. Total enam juta. Masih dalam anggaran.

Siang harinya, Arka duduk di emperan toko kosong di seberang lahan. Ponsel di tangan, dia membuka aplikasi saham. Grafik saham energi terus merangkak naik. Keuntungannya sudah menyentuh lima belas persen dalam tiga minggu.

Dia mengirim pesan ke sekuritas.

“Jual 30 persen posisi energi. Masuk ke emas.”

Balasan datang cepat.

“Baik, Mas. Eksekusi sekarang?”

“Ya.”

Dia mematikan layar. Di lahan, ekskavator masih bekerja. Hadi kini didampingi dua pekerja tambahan yang mulai memasang papan bekisting di sisi lubang.

Tiba-tiba suara ekskavator berhenti.

Arka mengangkat kepala. Hadi sedang berbicara dengan operator, lalu berjalan cepat ke arah Arka.

“Mas, ada masalah.”

“Apa?”

“Tanah di pojok timur. Ada saluran air PDAM yang tidak terdeteksi di peta. Pipa besar. Kalau kita gali lebih dalam, bisa pecah.”

Arka berdiri. “Bisa dipindah?”

“Bisa. Tapi butuh waktu. Dan izin dari PDAM.”

“Berapa lama?”

“Minggu. Dua minggu mungkin.”

Arka menatap lubang di tengah lahan. Tidak bisa menunggu dua minggu.

“Kalau kita bangun di sekeliling pipa? Tidak menggali di titik itu?”

Hadi mengerutkan dahi. “Bisa. Tapi struktur basement jadi tidak simetris. Dinding baja harus dimodifikasi.”

“Lakukan.”

“Itu biaya tambahan, Mas.”

“Berapa?”

Hadi menghitung sebentar. “Tiga ratus juta.”

Arka tidak mengernyit. “Lakukan. Tapi saya mau lihat desain barunya hari ini.”

Hadi mengangguk. “Baik, Mas. Saya akan gambar ulang.”

Sore itu, Arka masih di lahan. Para pekerja mulai membereskan peralatan. Ekskavator dimatikan. Sunyi tiba-tiba terasa aneh setelah seharian diisi suara mesin.

Hadi keluar dari mobilnya dengan laptop. Dia membuka denah baru di layar.

“Ini, Mas. Kami geser struktur basement ke barat sekitar tiga meter. Pipa PDAM tetap di tempat, tapi kami bangun dinding penyekat di sekelilingnya. Tidak ideal, tapi aman.”

Arka mempelajari denah itu. “Dinding baja tetap setebal empat meter?”

“Di bagian yang terkena pipa, kami pakai komposit. Baja tiga meter ditambah beton bertulang satu meter. Sama kuatnya.”

“Ok. Mulai besok.”

Hadi mengangguk. “Saya urus. Mas pulang dulu, sudah sore.”

Arka melirik jam di ponsel. Pukul setengah lima. Dia mengangguk, lalu berjalan ke tempat motornya terparkir.

Di perjalanan pulang, ponselnya bergetar. Sekuritas.

“Mas Arka, eksekusi jual saham energi sudah selesai. Keuntungan bersih setelah pajak sekitar dua puluh persen. Kami sudah belikan emas sesuai instruksi.”

“Bagus.”

“Ada instruksi lain, Mas?”

“Hold. Saya akan kabari lagi.”

Panggilan berakhir. Arka memasukkan ponsel ke saku. Di depannya, lampu merah menyala. Motor dan mobil berhenti berjajar. Seorang pengamen mendekat, memainkan gitar butut dengan suara serak.

Biasanya Arka mengabaikan. Tapi kali ini dia mengeluarkan uang receh, melemparkannya ke topi pengamen itu.

Pengamen itu tersenyum, mengangguk, lalu pindah ke mobil sebelah.

Arka memandang ke langit. Senja mulai turun. Warna jingga bercampur abu-abu tipis.

Abu-abu. Seperti yang akan datang.

Lampu hijau menyala. Arka menarik gas, meninggalkan keramaian di belakangnya.

Malam itu, Arka duduk di kamar kos-kosan. Laptop terbuka dengan grafik harga emas. Buku catatan di sampingnya berisi coretan angka dan tanggal.

Dia menghitung. Pinjaman bank, keuntungan saham, modal awal. Total yang bisa dia gunakan untuk konstruksi, stok logistik, dan rekrutmen.

Cukup. Tapi tidak lebih.

Dia menutup laptop. Berjalan ke jendela, membukanya. Udara malam Jakarta masih hangat, tapi ada sedikit perubahan yang hanya dia rasakan. Angin yang sedikit lebih kencang. Langit yang sedikit lebih cepat gelap.

Ponsel di meja bergetar. Pesan dari Hadi.

“Mas, besok pagi tim tambahan datang. Kita mulai modifikasi denah. Saya akan ada di lahan jam 6.”

Arka membalas singkat.

“Ok. Saya datang jam 7.”

Dia mematikan ponsel. Menatap langit sekali lagi.

Tiga minggu sudah berlalu sejak dia kembali ke masa lalu. Satu bulan dari dua belas bulan yang dia miliki. Bunker sudah mulai digali. Saham sudah menghasilkan. Masalah dengan tetangga sudah teratasi. Masalah teknis dengan pipa PDAM sudah ada jalan keluar.

Semua berjalan sesuai rencana. Perlahan, tapi pasti.

Arka menutup jendela. Mematikan lampu. Berbaring di tempat tidur.

1
Nadja 🎀
hm... seru jg tp ulang² ttg bunker ? tp gpp semangat ya nulisnya!
Jack Strom
Mantap... 😁
Jack Strom
Gak bisa tidur... 😁
Jack Strom
Hmmm 🤔
Jack Strom
Tikus² got... 😁
Jack Strom
Ih... Ngeri aku!!! 😁
Jack Strom
Wow... 😁
Jack Strom
Waduh... Mengerikan!!! 😁
Jack Strom
Wow... Mulai merinding nih... 😁
Jack Strom
Mantap... 😁
Jack Strom
Seru cok!!! 😁
Jack Strom
Semangat... Cemangat!!! 😁
Jack Strom
Oh... Gitu!!! 😁
Jack Strom
🤔 Jika fisik Arka lebih kuat, Jika Arka punya skill bertahan hidup, jika Arka secepatnya menikahi Sari, jika Sari tidak kelaparan, jika Andre dan Toni tidak jumpa dengan Sari... Mungkin ceritanya beda, mungkin Sari tidak mengkhianati Arka... Mungkin!!? 🤔
Sudahlah... Siapa yang tau jalan pemikiran sang Author??? 😁
Jack Strom
Jika statnya beda, mungkin kejadiannya berbeda juga... 😁
Jack Strom
💪💪💪 SEMANGAT!!! 😁
Jack Strom
Jejak di atas salju tertinggal... 😁
erlang2402
macam kenal alur nya
Thinkziam: Hmm.. novel/manga sejenis emng banyak.. kk.
total 1 replies
Mauizatul Hasanah
coba dulu
alan32439
manarik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!