"Aku Jadi Ibu?" Melisa Wulandari, seorang gadis desa yang bercita-cita menjadi pengacara, berjuang menempuh pendidikan hukum di kota demi melindungi tanah kelahirannya dari mafia tanah. Hidupnya sederhana, hanya ditemani dua sahabat setianya, Diana dan Riki. Namun, suatu malam yang seharusnya biasa berubah menjadi titik balik hidupnya. Di sebuah gang sepi, tangisan bayi menggema, menggiring Melisa pada pemandangan mengejutkan—dua bayi mungil tergeletak dalam sebuah kotak. Nalurinya mengatakan untuk menyerahkan mereka kepada pihak berwajib, tetapi dunia tidak seadil yang ia kira. Alih-alih mendapatkan keadilan, Melisa justru dituduh sebagai ibu bayi-bayi itu dan dianggap berniat membuang mereka. Tak ada jalan keluar. Nama baiknya tercoreng, keluarganya di desa tak boleh tahu, dan tak ada yang percaya bahwa dia hanyalah seorang mahasiswa yang kebetulan menemukan bayi-bayi malang itu. Dengan segala keterbatasan, Melisa mengambil keputusan gila—merawat bayi-bayi itu diam-diam bersama Diana
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Susiajaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 8
Sore harinya, selepas kelas terakhir, ketiganya berjalan santai menyusuri koridor kampus. Matahari mulai tenggelam, langit sudah mulai bergradasi jingga keemasan. Langkah mereka ringan, diselingi tawa dan obrolan ringan khas mahasiswa yang sudah penat seharian.
"Lo gak mau kita anter aja, Mel?" tanya Diana sambil merapikan tali tas ranselnya.
"Gak usah, serius. Kosanku juga deket kok," jawab Meli santai, menepis tawaran itu dengan senyum ringan.
"Deket apaan, Mel. Jauh itu, jalan kaki 20 menit minimal," timpal Riki.
"Gapapa sekalian olahraga, biar makin langsing, hehehe" kata Melitersenyum, lalu tertawa.
Mereka pun berpisah di gerbang kampus. Meli melambaikan tangan sambil berjalan lurus keluar gerbang, sedangkan Riki dan Diana berbelok ke arah parkiran.
Setibanya di parkiran, langkah Riki tiba-tiba terhenti. Matanya menatap lurus ke arah seseorang yang berdiri tak jauh dari mobilnya. Seorang gadis berambut panjang, mengenakan blouse putih dan celana jeans biru muda—HTS-an-nya yang akhir-akhir ini mulai menuntut kejelasan status.
Panik mulai merayap di wajah Riki. Ia menoleh cepat ke arah Diana yang sedang membuka jok motor.
"Na, tolongin gue dong," ucapnya pelan namun mendesak.
"Apaan?" Diana menatap Riki dengan dahi berkerut.
"Lo... lo pura-pura jadi pacar gue ya, sekarang."
"APA?!" Diana nyaris menjatuhkan helmnya. "Lo sakit jiwa kali ya. Enggak mau gue!"
Riki melirik panik ke arah gadis itu, lalu kembali memohon. "Please banget, gue lagi di ujung tanduk nih. Dia tuh nanya terus tentang ‘kita’. Gue belum siap, sumpah."
Diana menghela napas panjang, lalu mengikuti arah pandang Riki. Begitu matanya menemukan sosok cewek itu, dia langsung paham situasinya.
"Ya ampun... ini akibat lo buaya, Rik. Urusin sendiri deh. Biasanya juga jago ngeles," balas Diana cuek, hendak men-starter motornya.
Namun belum sempat mesinnya menyala, Riki dengan refleks menggenggam tangan Diana dan menariknya mendekat. "Plis banget, kali ini aja, sumpah gue traktir boba seminggu!"
"Gak mau, Rik! Gue nggak mau ikut-ikut urusan cinta segitiga lo!"
"Tolong, Na. Sekali ini aja. Demi harga diri gue!"
Sebelum Diana bisa kabur, Riki sudah menggandengnya dan mulai melangkah ke arah cewek yang masih berdiri sambil memainkan ponselnya. Wajah Diana merah padam antara malu dan jengkel.
"Rikiiiiii... lo bakal gue habisin abis ini," geramnya pelan sambil tetap pasrah digandeng seolah mereka benar-benar sepasang kekasih.
Meli akhirnya tiba di kosan sederhananya yang terletak di gang tak jauh dari kampus. Bangunannya tua, dindingnya sedikit lembab, dan kamar kecil itu hanya cukup untuk satu kasur lantai, meja belajar kecil, dan rak buku bekas yang mulai keropos. Tapi di sanalah, segala tawa, lelah, dan air mata ditumpahkan—satu-satunya tempat ia bisa benar-benar menjadi dirinya sendiri.
Malam itu setelah mengerjakan seluruh tugas yang di berikan dosen, Meli menjatuhkan tubuhnya di kasur tipisnya dengan napas panjang.
"Huhhh..." keluhnya lirih. Tugas-tugas kuliah malam itu benar-benar menguras tenaga, membuat punggungnya pegal dan matanya berat. Ia menatap langit-langit kamar yang dipenuhi coretan kecil bekas tambalan bocor, membiarkan pikirannya melayang jauh ke rumah.
"Kira-kira Ibu sama Bapak lagi ngapain ya sekarang..." gumamnya, matanya mulai terasa hangat. Tak ada video call, tak ada pesan suara, bahkan sekadar SMS pun tak mungkin. Orang tuanya di kampung belum punya ponsel—satu-satunya cara melepas rindu hanyalah dengan menelpon ke rumah tetangga yang baik hati memanggilkan ibunya.
Ia meraih dompet kecil di atas meja belajar dan mengeluarkan selembar foto lusuh—foto keluarganya. Ia tersenyum kecil melihat wajah Ibu yang selalu sabar, Bapak yang pendiam namun hangat.
"Mereka kangen gak ya sama aku..." ucapnya pelan, lalu menatap langit-langit kosong itu lagi.
Air mata menggenang di pelupuk, tapi cepat-cepat ia seka dengan punggung tangan. "Aduh Mel, jangan cengeng. Ini semua demi masa depan. Ibu sama Bapak pasti bangga kalau kamu berhasil nanti..."
Ia menggulung tubuhnya di bawah selimut tipis, memeluk guling kecil pemberian Ibunya. Tangannya meraih earphone dan memutar playlist yang biasa menemaninya tidur—lagu-lagu daerah yang mengingatkannya pada suasana rumah.
Dan malam pun menelannya dalam keheningan yang sunyi.