Nyx Morrigan, gadis yang terbuang dari keluarga konglomerat Beckham, Di usia ke-19 tahun Pelariannya membawanya bertemu Knox Lambert Riccardo, mahasiswa teknik sekaligus petarung jalanan.
Di bawah atap apartemen mewah Knox, rahasia Nyx perlahan terkuak, mengubah hubungan menjadi ikatan emosional yang intens.
Saat identitas asli Nyx terungkap, Knox justru menjadi pelindung utama dari kekejaman Dari keluarga nya.
Ketegangan memuncak ketika nama "Morrigan" ternyata menyimpan rahasia darah yang lebih besar dari sekadar skandal keluarga Beckham.
Di tengah konflik identitas, pengkhianatan keluarga, dan dunia yang berbahaya, Nyx harus memilih antara terus bersembunyi atau menyerahkan hatinya sepenuhnya kepada Knox.
Sebuah kisah tentang pencarian rumah, Untuk Rasa Sakit, dan penyembuhan luka.
.
Happy reading dear 🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#8
Apartemen mewah di Wilshire Boulevard itu terasa begitu sunyi setelah keberangkatan Knox satu jam yang lalu. Nyx masih berbaring di atas ranjang king size yang aromanya kini didominasi oleh perpaduan parfum maskulin Knox dan sisa-sisa aroma tubuhnya sendiri. Ia menatap langit-langit kamar yang tinggi, mencoba mencerna transisi hidupnya yang begitu ekstrem; dari paviliun belakang yang dingin, ke asrama yang menyesakkan, hingga berakhir di pelukan—atau setidaknya di bawah atap—seorang pria asing.
Baru saja ia memejamkan mata untuk mencari ketenangan, ponselnya yang tergeletak di nakas bergetar hebat. Sebuah nama muncul di layar: Laura.
Nyx ragu sejenak sebelum menggeser ikon hijau.
"Halo?" suara Nyx terdengar parau.
"Nyx! Kau di mana? Kenapa kau tidak pulang ke asrama semalam?" Suara Laura Beckham terdengar cemas di seberang sana. Meskipun mereka berbeda ibu, Laura adalah satu-satunya orang di mansion itu yang memperlakukan Nyx sedikit manusia. "Daddy mencari mu pagi ini. Dia tampak sangat marah."
Nyx mendengus sinis, ia bangkit duduk sambil menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. "Mencari untuk apa, Laura? Bukankah baginya aku hanya pajangan yang memalukan? Kenapa dia tiba-tiba peduli?"
Ada jeda panjang di seberang sana sebelum Laura menjawab dengan nada lebih rendah. "Ibumu... Agnesia. Dia sudah dipindahkan ke rumah sakit rehabilitasi mental pagi tadi. Daddy bilang kondisinya memburuk setelah insiden kemarin. Dia terus berteriak tentang rambutmu dan tentang 'pangeran' yang gagal."
Nyx memejamkan mata, merasakan denyut perih di dadanya. Ia tidak terkejut. "Aku tahu, Laura. Agnesia memang sudah sakit sejak aku kecil. Obsesinya pada Daddy telah membunuh kewarasannya sejak lama. Dia tidak pernah melihatku sebagai anak, hanya sebagai alat politik yang gagal."
"Lalu kau di mana sekarang?" tanya Laura lagi.
Nyx menatap sekeliling apartemen Knox yang elegan. "Katakan pada Daddy, jangan lagi mencariku. Aku sudah keluar dari asrama itu. Aku... aku sudah tinggal dengan kekasihku sekarang. Aku tidak butuh bantuan atau pengawasan dari keluarga Beckham lagi."
Laura terdengar terkesiap. "Kekasih? Sejak kapan kau punya Kekasih, Nyx? Kau baru beberapa hari di sini! Hati-hati, kau tidak tahu pria macam apa yang ada di kota ini."
"Aku tahu apa yang kulakukan," jawab Nyx tegas, meski hatinya sedikit mencelos karena menyebut Knox sebagai 'kekasih'. "Ini lebih baik daripada tinggal di bawah bayang-bayang pria yang menolak memberikan marganya padaku."
"Baiklah jika itu keputusanmu," desah Laura menyerah. "Tapi ada satu hal lagi. Jangan lupa, di kampus nanti, jauhi Brilian. Dia sudah mulai membangun gengnya sendiri dan dia sangat membencimu karena kau satu-satunya orang yang tahu betapa busuknya dia di rumah. Jangan biarkan dia mengusikmu."
"Terima kasih, Laura. Jaga dirimu," ucap Nyx sebelum memutuskan sambungan telepon.
Nyx melempar ponselnya kembali ke nakas. Kabar tentang ibunya seharusnya membuatnya sedih, namun ia hanya merasa hampa. Agnesia sudah lama 'mati' baginya, digantikan oleh sosok wanita histeris yang memegang gunting setiap pagi.
Rasa lelah yang luar biasa menyergapnya kembali. Efek obat bius semalam dan tekanan emosional pagi ini membuatnya merasa sangat berat. Nyx menarik selimut hingga menutupi kepala, meringkuk seperti janin, dan dalam hitungan menit, ia kembali terlelap ke dalam tidur yang dalam dan tanpa mimpi.
Waktu berlalu tanpa terasa. Sinar matahari yang tadinya terik perlahan berubah menjadi warna jingga keemasan yang hangat, menandakan sore telah tiba di Los Angeles.
Ceklek.
Pintu depan apartemen terbuka. Knox masuk dengan langkah yang sedikit gontai. Rambutnya berantakan, dan wajahnya menunjukkan sisa-sisa kelelahan setelah seharian berada di kampus. Seharian ini, telinganya panas mendengar ocehan Zack , Liam dan teman-teman satu gengnya.
"Wah, lihat si Riccardo! Jalannya agak pincang, sepertinya ronde semalam sangat panas!" ejek Zack di depan kantin tadi siang.
"Kau benar-benar membiusnya lalu 'mengeksekusinya', kan? Berapa lama dia bertahan?" timpal Liam sambil tertawa terbahak-bahak.
Knox hanya menanggapi mereka dengan jari tengah dan umpatan kasar, namun di dalam kepalanya, bayangan Nyx di bawah guyuran shower terus berputar seperti kaset rusak. Ia tidak bisa fokus pada kuliah-nya sama sekali. Pikirannya hanya tertuju pada satu hal: Apakah gadis itu masih ada di rumah saat aku pulang?
Knox melemparkan tas ranselnya ke atas sofa di ruang tamu. Ia berjalan menuju dapur, meneguk air mineral langsung dari botolnya. Keadaan apartemen sangat rapi—Nyx benar-benar memenuhi janjinya untuk membereskan tempat itu. Aroma masakan pagi tadi masih tersisa tipis, memberikan kesan 'rumah' yang selama ini tidak pernah Knox rasakan di apartemen mewahnya yang dingin.
Langkah kaki Knox membawanya menuju kamar tidur utama. Ia melihat gundukan di bawah selimut besar. Nyx masih tertidur pulas.
Knox menghela napas, rasa lelahnya mendadak memuncak. Entah karena dorongan apa, atau mungkin karena ia merasa sudah berbagi momen paling intim dan jujur dengan gadis ini semalam, Knox tidak pergi ke kamar tamu.
Dengan gerakan gila yang bahkan ia sendiri tidak mengerti, Knox melepas kaos polo-nya, menyisakan tubuh bertelanjang dada yang dipenuhi memar. Ia merangkak naik ke sisi ranjang yang kosong, bergerak sepelan mungkin agar tidak membangunkan Nyx.
Ia berbaring di samping gadis itu, menghadap punggung Nyx. Aroma sabun mandi miliknya yang dipakai Nyx tercium begitu menenangkan. Knox memejamkan mata, mengabaikan fakta bahwa ia baru saja membawa 'orang asing' ke tempat tidurnya yang paling sakral.
"Kau aman di sini, Gadis Kecil," gumam Knox pelan, hampir tidak terdengar.
Di tengah kesunyian sore itu, dua orang asing yang sama-sama terluka oleh dunia luar akhirnya berbagi keheningan yang sama. Knox tidak peduli lagi dengan ejekan teman-temannya yang mengira ia sudah kehilangan keperjakaannya.
Baginya, kenyataan bahwa ia bisa tidur dengan tenang di samping Nyx tanpa perlu merasa waspada adalah kemenangan yang jauh lebih besar daripada taruhan boxing manapun.
Perlahan, Knox pun menyusul Nyx menuju alam mimpi, membiarkan Los Angeles tetap berisik di luar sana, sementara di dalam kamar itu, waktu seolah berhenti berputar.
gasss baca sampai habis.... 🤭😁😂