NovelToon NovelToon
Reality Bender

Reality Bender

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Reinkarnasi
Popularitas:276
Nilai: 5
Nama Author: Rendy_Tbr

Reality Bender – Sang Penguasa Kehampaan

"Di dunia di mana cahaya matahari adalah hukum, mampukah ketiadaan menjadi penyelamat?"
Dikhianati oleh kekaisaran yang ia bela dan diburu oleh takdir yang haus darah, Fang Han terbangun dengan kutukan yang mustahil: Inti Kehampaan. Kekuatan ini tidak hanya menghapus musuhnya, tetapi perlahan mengikis ingatan, emosi, dan kemanusiaannya sendiri. Setiap langkah menuju puncak kekuasaan adalah langkah menuju kegelapan abadi di mana ia terancam melupakan wajah orang-orang yang ia cintai.
Dari pelarian maut di Puncak Kun-Lun hingga menjadi tawanan di Benteng Obsidian yang mengerikan, Fang Han harus memilih: menjadi senjata pemusnah massal bagi musuhnya, atau menguasai Pedang Shatter-Fate untuk memutus rantai takdir dunia.
Ikuti perjalanan epik penuh pengorbanan, pengkhianatan politik, dan cinta yang melampaui dimensi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rendy_Tbr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KEBANGKITAN SANG TULANG PURBA

Udara di Puncak Menangis mendadak menjadi sangat sunyi setelah pertarungan terakhir. Fang Han berdiri dengan napas yang masih berat, tangannya bergetar. Ia merasa seluruh energinya telah diperas habis, namun ada rasa lega yang luar biasa di dadanya.

"Kita harus segera bergerak turun, Mu Chen," ucap Fang Han, suaranya parau namun tegas.

"Jalur pendakian ini akan segera ditutup oleh badai salju yang lebih besar. Aku tidak ingin kita terjebak di sini setelah semua yang kita lalui."

Mu Chen mengangguk cepat, ia dengan sangat hati-hati menyimpan kotak kayu cendana berisi bunga hati langit yang telah dilapisi segel pengawet.

"Kau benar, Fang Han, Tubuhmu sudah mencapai batasnya. Jika kita tidak segera turun ke ketinggian yang lebih rendah, paru-parumu akan membeku karena tekanan udara ini. Ayo, sebelum langit benar-benar murka kembali."

Baru saja mereka berbalik untuk melangkah menuju jalur turun, sebuah getaran hebat mengguncang pelataran puncak. Tumpukan abu putih yang merupakan sisa-sisa tubuh raksasa Naga Tulang Langit yang tidak tertiup angin. Sebaliknya, abu itu mulai berputar, membentuk pusaran angin puyuh kecil yang bercahaya biru pucat.

Mu Chen terkejut, ia menarik Fang Han mundur beberapa langkah.

"Apa lagi ini?! Apakah naga itu bangkit kembali?! Harusnya itu tidak mungkin, kau sudah menghapus inti energinya!" teriak Mu Chen dengan nada panik.

Fang Han menyipitkan matanya, ia merasakan Segel Inti Sukma di dadanya berdenyut kencang, memberikan peringatan akan adanya energi yang sangat padat namun tidak bersifat menyerang.

"Tidak... ini bukan kebangkitan. Ini adalah sesuatu yang lain," bisik Fang Han.

Pusaran abu itu semakin mengecil dan memadat. Serpihan tulang naga yang tadinya berserakan mulai terbang masuk ke dalam pusat pusaran tersebut. Suara dentingan logam yang saling beradu terdengar nyaring di tengah badai, seolah-olah ada ribuan pandai besi gaib yang sedang menempa sesuatu di udara.

Cahaya biru itu meledak sesaat, membutakan pandangan mereka. Ketika cahaya itu memudar, di depan mereka melayang sebuah pedang yang bentuknya sangat aneh namun mempesona.

Pedang itu memiliki bilah yang berwarna putih tulang, permukaannya tidak rata melainkan memiliki pola guratan-guratan halus yang menyerupai saraf naga. Gagangnya terbuat dari kristal hitam pekat, dan di pertemuan antara gagang dan bilah, terdapat sebuah batu permata biru yang berdenyut pelan, persis seperti detak jantung api biru sang naga tadi.

Pedang itu tidak memiliki sarung. Ia melayang dengan tenang di udara, ujungnya mengarah ke bawah, seolah-olah sedang menunggu perintah.

"Mu Chen... apa kau pernah melihat senjata seperti ini dalam catatan alkemismu?" tanya Fang Han, matanya tidak bisa beralih dari keindahan mematikan pedang tersebut.

Mu Chen melangkah mendekat dengan sangat ragu, ia menyesuaikan kacamata kecilnya dan mengamati aura pedang itu dari jarak aman.

"Tidak... ini melampaui segala literatur yang aku pelajari di klan Mu. Biasanya, senjata pusaka dibuat oleh pandai besi hebat menggunakan bijih meteorit atau kristal energi. Tapi ini... ini adalah senjata yang lahir dari sisa-sisa makhluk suci yang telah mencapai tahap Reinkarnasi Tulang."

"Bahkan dalam legenda kuno sekalipun, belum pernah ada catatan tentang naga yang berubah menjadi senjata setelah dikalahkan. Ini aneh, Fang Han. Sangat aneh," lanjut Mu Chen dengan suara bergetar.

Fang Han mencoba melangkah maju, namun pedang itu tiba-tiba bergetar dan mengeluarkan suara berdenging rendah yang menggetarkan jiwa.

"Hati-hati, Han-er! Pedang itu mungkin masih membawa keinginan naga untuk memakan emosi manusia!" peringat Mu Chen.

Fang Han berhenti sejenak, ia menatap pedang itu dalam-dalam. Ia merasakan sebuah koneksi yang tidak bisa dijelaskan.

"Dia tidak membenciku, Mu Chen. Aku bisa merasakannya melalui Nirwana Sunya. Pedang ini... dia merasa hampa karena tuannya yang lama sudah tiada. Dia sedang mencari jangkar baru di dunia ini."

"Apa kau gila? Mengambil pedang yang lahir dari kebencian naga itu sama saja dengan mengundang iblis masuk ke dalam jiwamu!" teriak Mu Chen.

Fang Han menggelengkan kepalanya perlahan, ia kembali melangkah maju dengan tangan terbuka, tidak menunjukkan niat menyerang.

"Naga itu memang masih ingin tetap hidup di dunia ini tapi dia tidak membenciku saat aku menghapusnya. Disatu sisi dia merasa bebas. Dan pedang ini adalah manifestasi dari kebebasan itu. Jika aku ingin melindungi Paman Zhou dan menghadapi musuh di bawah sana, aku butuh lebih dari sekadar tangan kosong."

Pedang tulang itu mendadak melesat ke arah Fang Han secepat kilat. Mu Chen memekik ketakutan, namun Fang Han tetap berdiri tegak.

Pedang itu berhenti tepat di depan wajah Fang Han, hanya beberapa inci dari hidungnya. Bilahnya yang putih memantulkan cahaya abu-abu di mata Fang Han.

"Kau telah mengalahkan tuanku... kau telah menghapus kepedihannya..." sebuah bisikan tanpa suara merambat masuk ke dalam pikiran Fang Han.

"Aku adalah sisa dari langit yang jatuh... aku adalah taring yang tidak akan pernah tumpul... apakah kau sanggup memikul beratnya kehampaan yang kubawa?"

Fang Han tersenyum tipis, sebuah senyuman penuh tekad yang dingin.

"Aku sudah membawa beban dua kehidupan dan satu kutukan abadi di punggungku. Sedikit beban dari sisa langit tidak akan membuatku jatuh."

Fang Han menggenggam gagang kristal hitam pedang itu.

Seketika, sebuah ledakan energi biru dan abu-abu terjadi di tangan Fang Han. Seluruh Puncak Menangis seolah tunduk pada kekuatan tersebut. Api biru merambat dari pedang ke lengan Fang Han, namun tidak membakarnya. Sebaliknya, api itu justru menyatu dengan Segel Inti Sukma, menciptakan pola tato biru keabu-abuan yang melilit lengan kanannya hingga ke bahu.

"Luar biasa..." gumam Mu Chen yang kini terdengar takjub sekaligus takut.

"Pedang itu... dia benar-benar mengakuimu sebagai tuannya. Lihatlah, Han-er! Bilahnya menyerap sisa energi Nirwana di sekitarmu. Dia seolah menjadi organ tubuh barumu!"

Fang Han mengayunkan pedang itu ke udara kosong. Setiap ayunan meninggalkan jejak robekan ruang yang halus. Pedang ini tidak memotong daging; ia memotong eksistensi.

"Namamu sekarang adalah Sunya Long (Naga Kehampaan)," bisik Fang Han.

Pedang itu berdenting riang, seolah menyetujui nama pemberian tuannya.

"Cukup tentang pedang itu, Han-er. Kita harus segera turun!" Mu Chen menarik lengan Fang Han.

"Aku bisa merasakan ribuan aura energi yang berkumpul di kaki gunung. Jika naga ini bisa merasakannya, aku yakin orang-orang di bawah sana juga merasakan kematian naga dan lahirnya pedang ini. Mereka akan datang mencari 'harta karun' ini seperti anjing lapar!"

Pedang itu menarik tangan Fang Han ke arah pundak lalu menempel di punggungnya seolah pedang itu lengket dengan tulang punggung Fang Han seperti pedang yang terpasang pada sarungnya dan menempel secara gaib pada jubahnya.

"Kau benar. Perjalanan pulang ini akan menjadi sungai darah. Mu Chen, tetaplah di dekatku. Jika pertarungan pecah, jangan pernah lepaskan kotak bunga itu."

1
BlueHeaven
Cover novelnya mirip putra pria solo😭
Rendy Tbr: Hihihi.. 😄 Waahhh.. Mantap donk.. 👌
total 1 replies
anggita
visual gambarnya oke👌
Rendy Tbr: Terima kasih ka 👌😊
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!