Di balik toga wisuda yang megah dan senyum yang terukir di wajah, tersimpan ribuan air mata, keringat, dan luka yang tak terlihat. Ini adalah kisah tentang sebuah janji dan janji seorang anak perempuan yang bertekad mengubah nasib demi melihat kedua orang tuanya bahagia.
Dari sebuah rumah sederhana, ia berjuang menembus kerasnya dunia pendidikan, Perjalanan itu tidak mudah, karena di setiap langkahnya selalu ada suara-suara sumbang. Keluarga sendiri yang seharusnya mendukung, justru sering meremehkan dan menghina. Tetangga pun tak kalah jahat, memandang mereka sebelah mata dan menyebarkan gunjingan bahwa ia tak akan pernah berhasil mengubah nasib keluarganya.
Rasa lelah, rasa ingin menyerah, dan pedihnya dihina seolah menjadi teman setia. Namun, setiap kali ia ingin berhenti, bayangan wajah ibunya yang selalu bekerja keras dan meneteskan air mata menjadi bahan bakar semangatnya.
"Tunggu aku sukses, Bu..." bisiknya dalam hati setiap malam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dell_dell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Beban berat di bahu kecil
Hujan deras mengguyur kota sore itu, seolah mencerminkan perasaan Adelia saat ini. Di dalam kelas, suasana terasa riuh rendah setelah Bu Guru selesai memberikan tugas besar yang harus dikerjakan secara berkelompok. Tugas ini sangat penting karena nilainya akan masuk ke dalam rapor semester akhir.
"Oke anak-anak, jadi kelompoknya sudah saya tentukan. Dan ingat, untuk proyek ini membutuhkan bahan dan alat yang cukup lengkap, jadi iuran per orangnya sekitar seratus lima puluh ribu rupiah. Dikumpulkan paling lambat lusa ya," ujar Bu Guru sebelum akhirnya meninggalkan kelas.
Seratus lima puluh ribu rupiah.
Angka itu terasa begitu ringan bagi teman-temannya yang lain, mungkin hanya cukup untuk sekali jajan atau beli pulsa. Namun bagi Adel, jumlah itu sama besarnya dengan gunung yang harus didaki. Uang sebanyak itu bisa untuk membeli beras selama seminggu bagi keluarganya.
Adel terdiam mematung di tempat duduknya. Tangannya meremas ujung rok seragamnya dengan gugup. Salah satu anggota kelompoknya, Siska, datang menghampiri meja Adel dengan buku catatan di tangannya.
"Del, kelompok kita kan sudah lengkap. Nah, untuk iuran tadi, kamu bayarnya tunai atau transfer? Aku catat dulu ya biar nanti gak ketukar," tanya Siska dengan santai.
Adel menelan ludah dengan susah payah. Wajahnya memerah menahan malu. "Sis... boleh nggak bayarnya agak telat dikit? Aku lagi nggak ada uang pas," jawabnya pelan, hampir tak terdengar.
Siska mengerutkan kening, lalu menatap Adel dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara kesal dan rasa kasihan. "Yah, Del kan tahu sendiri Bu Guru galak kalau proyeknya gak maksimal. Kita kan harus beli kertas karton, warna, print warna, sama bahan prakteknya. Kalau kamu gak bayar, nanti kita yang kekurangan modal dong. Lagian seratus lima puluh ribu kan gak banyak."
"Aku tahu, Sis. Tapi aku beneran lagi gak ada uang. Kasihan aku dong, kasih waktu seminggu boleh?" pinta Adel memohon.
Tiba-tiba Rina yang dari tadi mendengar percakapan itu menyela dengan nada sinisnya. "Halah, alasan mulu. Dasar anak miskin. Udah tahu gak punya uang, ngotot sekolah di sini buat apa sih? Ribet banget sih hidup lo. Kasihan kita satu kelompok, nanti nilai kita jelek gara-gara lo gak bisa bayar iuran."
Kata-kata Rina bagaikan pisau yang menancap tajam di hati Adel. Teman-teman lain yang mendengar pun mulai berbisik-bisik dan tertawa kecil. Adel hanya bisa menunduk, membiarkan air matanya tertahan di pelupuk mata. Ia tidak bisa membalas, karena apa yang dikatakan Rina memang kenyataan pahit yang harus ia telan.
"Gue kasih waktu sampai besok sore, Del. Kalau gak ada, gue minta Bu Guru ganti anggota kelompok gue," ketus Rina lalu berjalan pergi diikuti teman-temannya.
Adel menghela napas panjang, berusaha menguatkan diri. Ia mengambil tasnya dan berjalan keluar kelas menembus rintik hujan yang mulai reda. Perjalanan pulang kali ini terasa jauh lebih berat dari biasanya. Pikirannya kacau balau memikirkan dari mana ia harus mendapatkan uang sebesar itu.
Sesampainya di rumah, suasana tampak sepi. Ibunya sedang duduk di depan rumah sambil menjemur pakaian, wajahnya terlihat sangat lelah setelah seharian bekerja mencuci baju orang lain. Ayahnya belum pulang dari bekerja serabutan.
Adel meletakkan tasnya dengan pelan, tidak berani membuat suara berisik. Ia ingin sekali mengatakan masalahnya, tapi melihat kondisi ibunya yang sudah tua dan bekerja begitu keras, rasanya hati kecilnya menolak untuk menambah beban.
"Pulang, Nak?" sapa Bu Sari lembut sambil menyeka keringat di dahinya.
"Iya, Bu," jawab Adel singkat, lalu duduk di samping ibunya, membantu melipat pakaian yang sudah kering.
Ada keheningan panjang di antara mereka. Adel terus memainkan jarinya, bingung bagaimana cara memulainya.
"Kenapa, Del? Kayaknya kamu ada masalah ya? Wajahmu murung sekali," tanya Bu Sari lagi, ia bisa merasakan ada yang mengganjal di hati putrinya.
Adel menghentikan gerakannya. Ia menatap wajah ibunya yang penuh keriput dan tangan yang kasar karena sering mencuci. Air matanya akhirnya tak bisa dibendung lagi, jatuh membasahi pipinya.
"Bu... maafin Adel..." isak tangisnya pecah.
Bu Sari kaget, segera memeluk bahu putrinya. "Lho, kenapa nangis? Ada apa ini? Cerita sama Ibu, Nak."
"Di sekolah... ada tugas kelompok, Bu. Harus bayar iuran seratus lima puluh ribu buat beli bahan. Kalau Adel nggak bayar, Adel dikeluarin dari kelompok dan nilai Adel jelek, Bu..." cerita Adel terbata-bata. "Adel tahu kita susah, Adel tahu Ibu dan Bapak juga lagi gak ada uang. Tapi Adel takut nggak lulus, Bu..."
Bu Sari menghela napas panjang, wajahnya tampak sedih mendengar itu. Ia mengelus rambut putrinya pelan.
"Ibu tahu, Nak. Ibu ngerti. Kamu harus sekolah yang bener, kamu harus dapat nilai bagus. Tunggu ya, Ibu coba cari dulu," kata Bu Sari dengan suara bergetar.
Wanita itu lalu masuk ke dalam rumah, membuka laci kayu tua yang sudah reyot. Ia mengambil sebuah kotak besi kecil, celengan tempat mereka menyimpan uang receh dan uang kertas secukupnya untuk cadangan darurat.
Dengan tangan gemetar, Bu Sari membuka kotak itu dan menghitung isinya. Lima puluh ribu... tujuh puluh ribu... sembilan puluh ribu... Itu saja. Itu adalah semua tabungan yang mereka miliki, uang yang sebenarnya disiapkan untuk membeli beras dan membayar listrik bulan ini.
"Cuma ada sembilan puluh ribu, Del. Kurang enam puluh ribu lagi," kata Bu Sari dengan mata berkaca-kaca. "Maafin Ibu ya, Nak. Ibu dan Bapak gak bisa kasih yang lebih. Ibu malu sama kamu..."
"Nggak, Bu! Jangan bilang gitu! Adel yang minta maaf, Adel yang jadi beban buat Ibu dan Bapak!" teriak Adel sambil memeluk ibunya erat-erat. Mereka menangis bersama di ruangan sempit itu.
Adel sadar, ia tidak bisa mengambil uang itu. Jika uang itu diambil untuk iuran sekolah, besok mereka tidak akan punya makan. Ia harus mencari cara lain. Ia harus mencari uang sendiri.
"Malamnya, setelah makan malam dan Bapak sudah tidur, Adel tidak bisa memejamkan matanya. Pikirannya terus bekerja. Apa yang bisa aku lakukan? Aku masih sekolah, siapa yang mau mempekerjakan anak di bawah umur?
Tiba-tiba teringat olehnya sebuah warung makan kecil tapi cukup ramai yang berada tidak jauh dari persimpangan jalan menuju ke sekolahnya. Beberapa kali ia melihat ada tulisan 'Dicari Pembantu Cuci Piring' tapi sering dilepas karena dianggap berat.
Tanpa pikir panjang, besok paginya Adel berangkat lebih awal. Ia tidak langsung ke sekolah, melainkan menyempatkan diri mampir ke warung makan itu.
Warung bernama "Warung Bu Min" itu sudah mulai ramai oleh pembeli sarapan. Bau masakan yang harum tercium keluar. Adel memberanikan diri masuk.
"Permisi, Bu..." panggil Adel pelan.
Seorang wanita gemuk dengan wajah tegas keluar dari dapur. "Iya, mau pesan apa Nak?"
"Bukan, Bu. Saya... saya mau melamar kerja. Tadi saya lihat ada tulisan cari orang kan? Saya mau cuci piring, Bu. Berapa pun bayarannya saya terima," kata Adel dengan nada memohon.
Bu Min menatap Adel dari atas ke bawah, melihat seragam sekolah yang dikenakan gadis itu. "Kamu masih sekolah kan? Mau kerja gimana? Kerjaan ini berat lho, piringnya numpuk banget setiap hari."
"Saya kuat, Bu! Saya biasa kerja berat. Saya bisa kerja sepulang sekolah, mulai jam dua siang sampai jam lima sore. Saya butuh uang cepat, Bu. Tolong kasih saya kesempatan," pinta Adel sungguh-sungguh.
Melihat ketulusan dan kepanikan di mata gadis itu, Bu Min sepertinya merasa kasihan.
"Ya sudah deh. Ibu lihat kamu anak baik. Kamu boleh kerja di sini. Tapi kerjanya harus rajin ya, jangan main-main. Gajinya harian, dua puluh ribu per hari. Gimana?" tawar Bu Min.
Hati Adel melonjak bahagia. Dua puluh ribu per hari! Jika ia bekerja selama tiga hari, uang kurang enam puluh ribu itu akan terkumpul!
"Makasih banyak, Bu! Makasih! Ibu baik banget! Iya, saya janji bakal kerja rajin!" seru Adel bersemangat.
"Ya sudah, nanti sepulang sekolah kamu langsung ke sini ya. Sekarang berangkat sekolah sana," kata Bu Min tersenyum.
Adel pun bergegas pergi menuju sekolah dengan hati yang sedikit lebih ringan. Meski ia tahu, mulai hari ini hidupnya akan jauh lebih berat. Bangun pagi, sekolah sampai siang, lalu bekerja mencuci piring yang banyak dan berminyak sampai sore, baru pulang malam dan belajar. Tubuhnya mungkin akan lelah, tapi setidaknya ia tidak perlu meminta uang pada orang tuanya dan tidak menjadi beban.
Sorenya, bel sekolah berbunyi. Teman-teman lain bergegas pulang atau jalan-jalan, sementara Adel langsung berlari menuju Warung Bu Min.
"Selamat siang, Bu Min!" sapanya.
"Oh, sudah datang ya. Yuk, kerjaan sudah menunggu di belakang," kata Bu Min menunjuk ke arah belakang warung yang gelap dan berbau amis.
Di sana, tumpukan piring, mangkuk, dan panci benar-benar tinggi seperti gunung. Airnya kotor, minyak menempel lengket di tangan. Bau anyir menyengat hidung.
Adel menarik napas panjang. Ini demi Ibu, demi Bapak, demi sekolahku... batinnya menyemangati diri sendiri.
Ia segera mencuci tangannya, mengambil sikat dan sabun. Crek... crek... Suara sikat berbenturan dengan piring terdengar terus menerus. Air dingin dan sabun membuat tangan Adel keriput dan merah. Punggungnya terasa pegal karena harus membungkuk terus menerus.
Keringat bercucuran membasahi seragam putih abu-abunya yang masih ia pakai. Rasanya ingin sekali berhenti dan duduk istirahat, tapi ia ingat ancaman Rina dan wajah ibunya yang sedih tadi. Ia harus kuat.
"Kerja yang cepat ya, Del! Pembelinya banyak terus, piringnya gak habis-habis!" teriak Bu Min dari depan.
"Iya, Bu! Sedang dikerjakan!" jawab Adel lantang meski tubuhnya sudah remuk redam.
Satu jam... dua jam... tiga jam berlalu. Akhirnya tumpukan piring itu habis juga. Lantai pun sudah ia sapu dan pel.
"Hufftt..." Adel menghela napas panjang, mengusap keringat di dahinya dengan punggung tangannya yang basah.
Bu Min datang membawa uang dua puluh ribu rupiah. "Nah, ini gajimu hari ini. Bagus kerjanya. Besok datang lagi ya."
"Makasih, Bu!" Adel menerima uang itu dengan tangan gemetar. Uang kertas yang lecek itu terasa begitu berharga baginya, jauh lebih berharga daripada emas. Rasanya lelahnya hari ini terbayar lunas.
Adel pun berjalan pulang dalam keadaan sangat lelah. Langkahnya berat, badannya pegal semua, dan perutnya keroncongan karena belum makan malam. Namun, di tangannya kini ada uang yang ia cari sendiri dengan keringatnya.
Sesampainya di rumah, ibunya kaget melihat putrinya pulang sore dan terlihat sangat kelelahan.
"Kamu dari mana aja, Del? Kenapa pulangnya jam segini? Kenapa baju kamu kotor dan bau?" tanya Bu Sari cemas.
Adel tersenyum lelah namun bahagia. Ia mengeluarkan uang dua puluh ribu itu, lalu besok dan lusa akan ada lagi.
"Adel kerja cuci piring di warung, Bu. Biar bisa bayar iuran sekolah. Adel nggak mau ambil tabungan Ibu. Adel bisa cari sendiri, Bu..."
Mendengar itu, Bu Sari langsung menangis dan memeluk putrinya erat-erat. Hati seorang ibu hancur melihat anaknya harus bekerja keras seperti itu di usia remaja.
"Ya Allah... maafkan Ibu ya Nak... sudah bikin kamu susah..." isak Bu Sari.
"Nggak apa-apa, Bu. Adel kuat. Asal Adel bisa sekolah dan bikin Ibu bangga, Adel rela kerja apa saja," ucap Adel sambil tersenyum menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya.
Malam itu, Adel belajar dengan mata yang sangat berat. Tubuhnya sakit, tapi semangatnya membara. Ia tahu perjuangannya baru saja dimulai. Hinaan, kemiskinan, dan rasa lelah tidak akan bisa mengalahkannya.