Seri Cinta Tak Perna Salah dengan menceritakan dilema dari kisah cinta seorang dokter Riana Yang terhalang oleh perbedaan. kisah ini mengisahkan tentang perjodohan, perselingkuhan dan cinta beda usia yang menjadi permasalahan orangtua. Dan juga rahasia lama yang tersimpan. yang menjadi pengahalang Riana untuk bahagia bersama pilihannya.
Apakah dokter Riana akan bisa bertahan dalam masalah yang dia hadapi untuk mempertahankan cinta sejatinya???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wisye Titiheru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CLBK
Hari ini, papa Stella dan Davin sudah di ijinkan pulang, setelah dokter Riana sendiri yang menganti perban pada luka operasi, setelah memeriksa kesehatan papanya Stella dan Davin.
"Papa harus bangga, diperiksa langsung dan terlebih lagi diganti perban luka yang tugas seorang ners."
"Apalagi Dokternya cantik."
"Jelaslah diakan sahabat kakak. Udah cantik, baik hati lagi. Benarkan dek."
"Benar sekali kak."
Riana yang mendengar pujian dari kedua kakak beradik ini, langsung memohon ijin menggunakan kamar mandi di ruangan ini. Raut wajahnya sudah merah karena menerima pujian itu dan tentu dia malu. Davin mengikuti Riana dengan alasan mau minum di dapur yang dekat dengan kamar mandi.
"Mana handphonemu??"
"Buat apa???"
Riana langsung menyerahkan handphonenya kepada Davin. Sebagai seorang ahli dalam bidang komunikasi tidak mudah baginya membuka kunci handphone tersebut. Riana begitu kaget ternyata di handphonenya ada orang yang dengan sengaja memasukan nomor dan mengetik nama nomornya dengan nama Davin sayang dan ada emoji merah berbentuk hati. Dan dia merasa bego saja, kenapa dengan muda menyerahkan handphonenya kepada Davin adik dari sahabatnya.
"Terima kasih ya, kamu sudah menolong papa."
"Bukan aku yang menolong. Tuhan yang menolong, aku hanya membantu."
Itulah dokter Riana Timothy, seorang dokter yang rendah hati dan cantik. Hanya satu kelemahannya yaitu selaku gagal dalam percintaan. Kalau tidak di tipu ya diselingkuhi. itulah nasip percintaan dokter Riana.
Hari ini Riana di undang Stella sahabatnya makan malam bersama di rumah mereka yang sederhana ini. Stella bukan anak orang kaya, papanya adalah pensiunan guru sedangkan mamanya hanya ibu rumah tangga yang mempunyai warung kecil. Namun lewat pekerjaan mereka ini, bisa membiayai kuliah anak- anak mereka yang memang pintar - pintar. Berbeda dengan seratus delapan puluh derajat dengan Riana dan keluarganya. Namun berada di tengah kehidupan keluarga ini terasa damai.
"Selamat malam semua."
"Kok, telat dek? Kasihan tamu kita menunggu."
"Macet kak."
Davin langsung mencium papa, mama dan kakaknya. Dia berhenti di kursi Riana.
"Apakah aku harus mencium kak Riana juga."
"Iya dong. Dia itu kakak juga kan??!!
Davin pun mencium kening Riana, namun rasanya berbeda seperti yang dirasakan orangtua dan kakaknya. Karena ada perasaan tersembunyi yang dia simpan, setelah penolakan pertama. Stella tidak tahu kakaknya tidak tahu tentang perasaannya kepada Riana, sahabat kakaknya ini.
Davin duduk disebelah Riana, meja makan berbentuk bulat ini tidak terlalu besar, hanya bisa memuat lima sampai enam orang. Mamanya Stella pintar memasak, sama seperti mamanya Riana, setiap masakannya enak. Ini bukan kali pertama Riana di undang makan disini, sudah berkali - kali. Karena kamarnya Stella adalah tempat curhat mereka.
Sementara makan, Davin membuat aksi konyolnya dia menarik tangan Ria yang menggenggamnya erat, dengan menautkan jari - jari mereka. Tentu aksi ini membuat Riana, salah tingkah. Makan malam kali ini, karena ulang tahun Davin yang ke dua puluh delapan tahun. Riana tidak tahu kalau hari ini ulang tahun Davin.
Mama dan kakaknya sudah menyiapkan semuanya ini sampai kue ulang tahun. Tiba saatnya David diberi kesempatan membuat permohonan dalam doanya.
"Ayo dek make your wish."
"Pertama semua yang ada disini sehat selalu."
"Amin." kami semua mengaminkan permohonan Davin secara bersamaan.
"Kedua, semua sukses dalam pekerjaan."
"Amin."
"Ketiga, agar cewek yang aku naksir bisa membuka hati."
Permohonan ketiga ini di aminkan oleh Stella, mama dan papa, Riana juga namun suaranya kecil.
"Emang siapa cewek yang kamu naksir dek??"
"Ada deh, pokoknya cantik orangnya. Aku sudah naksir dia dari sekolah dulu."
Bagai disambar petir waktu mendengar jawaban Davin. Namun Riana berusaha mengontrol emosinya. Davin tersenyum diam - diam melihat kearah Riana yang sudah memerah wajahnya.
"Kamu kenapa Ria, mukamu merah. Panas ya???"
"Iya, kali."
"Aku hidupi kipas dulu ya. Mohon maaf rumah kami tidak seperti rumahmu."
"Stella......"
Stella langsung tersenyum kearah sahabatnya ini. Dia tahu, bahwa sahabatnya ini, bukan orang yang berteman pilih - pilih orang . Dia tulus berteman. Berbeda dengan mamanya yang harus melihat teman anak - anaknya dari status sosial. Untungnya Stella pintar sama seperti Riana anaknya. Stella sudah memberikan hadiah buat adeknya begitu juga dengan mama dan papanya.
Semenjak Davin balik dari Amerika, dia sudah tidak menempati kamar bujangnya di rumah ini. Dia memilih membeli satu buah apartemen untuk dirinya. Terbiasa hidup mandiri, Davin yang adalah seorang dosen pintar mengatur keuangannya. Stella kakaknya bukan tidak mampu membeli rumah sendiri, namun dia memilih untuk berada di dekat orangtuanya. Dan tempat kerjanya dekat dengan rumah orangtuanya, rumah masa kecilnya ini.
"Malu aku, Sori ya dek. Stella akan ngomong kalau makan malam ini karena kamu ulang tahun. Kadonya menyusul."
"Janji ya kak."
"Susah pulang rumah orangnya, dia betah di apartemennya."
Pagi - pagi sekali dokter Riana Timothy sudah berada di rumah sakit. Hari ini ada poliklinik yang di layani olehnya. Sebagai kepala bagian bedah jantung dan pembulu, dia bertanggung jawab akan pemeriksaan pasien hari ini. Namun sebelumnya dia melakukan visit pasien kepada beberapa pasiennya.
Jam istirahat makan siang, di manfaatkan Riana untuk mencari hadiah buat Davin. Sampai di sebuah mall kembali lagi Riana dibuat dilema, harus memilih yang mana jam tangan kah atau tas. Akhirnya pilihan Riana jatuh pada jam tangan bermerek yang harganya sangat mahal. Namun Riana tidak menyesal mengeluarkan uang begitu banyak buat hadiah. Hatinya merasakan ini buat orang yang spesial.
"Sore kamu ada waktu??"
"Aku selesai mengajar jam dua siang."
"Kita ketamu di cafe ya??
"Ngak, di apartemen aku saja."
"Aku ngak tahu dimana?? Apa aku ajak Stella aja."
"Ngak usah ajak Stella. Aku mau sama kamu saja."
Membaca pesan dari Davin membuat semua bulu yang ada ditubuhnya merinding. Jantungnya berdetak tak karuan. Seperti ada perasaan aneh yang dirasakan.
Sore hari, bagaikan terhipnotis dirinya, Riana dengan dipandu google map, dia sampai didepan apartemen dimana salah satu biliknya punya Davin Andreas. Riana langsung menuju kamar nomor lima ratus lima. Dia disambut oleh Davin.
"Aku hanya mau memenuhi janjiku."
Riana menyerahkan paper bag dari mereknya saja Davin tahu, bahwa ini barang mahal yang diberikan.
"Terima kasih. Kita minum teh dulu. Atau kamu mau minum yang lain. Alkohol ada??"
"Kamu minum Alkohol juga???"
"Sesekali, biar tidur nyenyak aja. Kalau badan letih."
"Alkohol berdua??"
Riana yang hobinya minum Alkohol ini pun menikmati minuman itu, rasanya enak sekali. Karena ini dibawah Davin langsung dari Amerika hadiah perpisahan dari teman - temannya disana. Barang ini, yang membuat Davin membayar lagi di bea dan cukai bandara.
"Bagaimana tunangan kamu??"
"Ah ..... Matias, sudah putus."
"Bagus !!! Dia tidak pantas buat kamu."
"Itu pilihan orangtua."
"Jaman sekarang, jaman moderen ini, masih aja cara Sitti Nurbaya diterapkan. Kasihan."
" Kasihan??? Iya kenapa kalau seperti itu."
"Sori,mohon maaf."
"Aku pamit ya. Terima kasih buat winenya enak." Riana berdiri hendak pulang.
"Sekarang??? Aku masih kangen."
Davin mendekat kearah Riana memojokan tubuhnya tepat ditembok dan mengurung tubuh seksi seorang dokter yang masih terlihat muda walau umur sudah tiga puluh tahun.
"Davin.... Kenapa begini??"
"Perasaan aku tidak perna berubah Ria, aku jatuh cinta padamu."
"Tetapi .... Kita tidak bisa."
"Aku tidak mau dengar kata - katamu. Aku jatuh cinta."
Satu tangan Davin sudah memeluk tubuh Riana dan tangan satunya membelai wajah Riana. Orang yang dia cintai. Davin mencium bibir Riana sangat mesra. Bahkan bukan hanya bibir namun ciuman itu sudah berpindah kelehernya.
"Davin.... No. Aku....."
"Aku tidak peduli keadaanmu. Aku jatuh cinta kepadamu."