NovelToon NovelToon
MEMBELENGGU LIARMU DENGAN MAHAR

MEMBELENGGU LIARMU DENGAN MAHAR

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Saniaa96

Membelenggu Liarmu dengan Mahar

​Shania Ayunda Salsabilla, gadis remaja berusia 18 tahun yang hidup liar dan pemberontak, dipaksa menikah oleh ayahnya dengan seorang pria religius bernama Zain Malik Muammar. Bagi Shania, pernikahan ini adalah penjara, sementara bagi Zain, ini adalah amanah untuk membimbing jiwa yang tersesat.

​Di malam pertama yang dingin, ketegangan memuncak saat Shania menabuh genderang perang dan menolak tunduk pada aturan agama.

Namun, ia justru dihadapkan pada ketegasan Zain yang tak tergoyahkan oleh provokasinya. Dimulai dari paksaan bangun Subuh hingga aturan berpakaian, Shania bertekad membuat Zain menyerah dan menceraikannya dalam sebulan.

Di sisi lain, Zain memulai misi besarnya: menundukkan keliaran hati Shania bukan dengan kekerasan, melainkan dengan kekuatan prinsip dan keteguhan iman.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saniaa96, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MEMBELENGGU LIARMU DENGAN MAHAR

BAB 3: "Sumpah di Balik Cadar dan Kitab Kuning"

​Suara kicauan burung pipit yang hinggap di dahan pohon mangga di depan rumah mungil mereka menjadi alarm alami yang jauh lebih menyebalkan bagi Shania daripada jam weker mana pun.

Namun, yang lebih menyebalkan adalah sosok pria yang kini berdiri di ujung tempat tidur, sudah rapi dengan sarung samarinda hitam dan koko sewarna batu alam.

​Zain Malik Muammar tidak bersuara. Ia hanya mengetukkan jari telunjuknya ke permukaan jam tangannya yang melingkar kokoh.

​"Iya, iya! Bangun! Nggak usah kayak malaikat maut nungguin nyawa deh!" semprot Shania dengan suara serak khas bangun tidur.

Ia menyibak selimutnya dengan kasar, memperlihatkan piyama satin tipis yang sebenarnya sengaja ia pakai untuk mengetes "iman" sang ustadz.

​Namun, harapan Shania pupus. Zain bahkan tidak melirik lekuk tubuhnya. Pria itu justru melemparkan sebuah kain lebar berwarna hitam ke arahnya.

​"Pakai ini. Kita akan ke masjid utama untuk subuh berjamaah, lalu langsung ke kelas pagi," ujar Zain datar.

​Shania menangkap kain itu. Dahinya berkerut.

"Ini apa? Gorden?"

​"Itu abaya. Dan ini..."

Zain menyodorkan selembar kain kecil persegi.

"Cadar. Pakai jika kamu keluar rumah."

​Mata Shania membulat sempurna.

"Cadar?! Kamu gila, Mas? Aku bukan ninja! Aku nggak mau!"

​Zain melangkah mendekat, membuat Shania otomatis mundur hingga mentok ke sandaran ranjang. Aroma sandalwood yang tenang mulai mengepung indra penciumannya lagi.

"Di pesantren ini, semua guru wanita dan istri pengasuh menjaga wajah mereka dari pandangan santri putra yang ribuan jumlahnya. Kamu adalah istriku. Keindahanmu hanya milikku, bukan konsumsi publik para santri yang sedang berjuang menundukkan pandangan."

​"Tapi aku sesak napas pakai ginian!" keluh Shania, melempar cadar itu ke lantai.

​Zain memungutnya dengan tenang. Tanpa diduga, ia duduk di tepi ranjang, sangat dekat dengan Shania. Tangannya terulur, jemarinya yang hangat menyentuh dagu Shania, memaksanya menatap mata tajam yang kini tampak lebih lembut namun tak tergoyahkan.

​"Belajarlah menghargai dirimu sendiri sebelum meminta orang lain menghargaimu, Shania. Jika kamu tidak mau memakainya karena Allah, pakailah karena kamu menghormatiku sebagai suamimu. Sepuluh menit. Jika belum siap, saya akan memakaikannya sendiri untukmu. Dan percayalah, cara saya memakaikannya mungkin tidak akan senyaman yang kamu bayangkan."

​Shania menelan ludah. Ancaman "mendisiplinkan" dari Zain selalu terdengar lebih nyata daripada gertakan papanya. Dengan gerutuan yang menyerupai mantera kutukan, ia menyambar abaya itu dan masuk ke kamar mandi.

______________

​Sepanjang jalan menuju masjid, Shania merasa seperti tawanan perang. Ia berjalan dua langkah di belakang Zain, dibalut abaya hitam longgar dan cadar yang menutupi setengah wajahnya. Hanya matanya yang indah—yang kini dipenuhi kilat kemarahan—yang terlihat.

​Para santri yang berpapasan dengan mereka menunduk dalam, mengucapkan salam dengan nada hormat yang kental.

​"Assalamualaikum, Ustadz," sapa mereka serempak.

​Zain menjawab dengan anggukan kecil dan suara "Waalaikumussalam" yang tenang. Shania mencibir di balik cadarnya. Ustadz? Oh, jadi dia anak raja di sini? Pantas saja sombongnya minta ampun, batinnya.

​Selesai shalat subuh yang bagi Shania terasa seperti meditasi paksaan, Zain tidak membawanya pulang. Ia justru menggandeng pergelangan tangan Shania—yang terhalang kain abaya—menuju sebuah bangunan kayu tua yang harum aroma buku lama dan kayu jati.

​"Selamat datang di perpustakaan pribadi Abah. Tempat kamu akan menghabiskan waktu dua jam setiap pagi sebelum sarapan," kata Zain sembari menyalakan lampu kuning yang temaram.

​Di tengah ruangan, sudah tersedia dua meja kayu kecil (rehal) yang berhadapan. Di atas salah satunya, terletak sebuah kitab tebal dengan kertas berwarna kuning kecokelatan yang dipenuhi tulisan gundul tanpa harakat.

​"Baca," perintah Zain singkat sembari duduk bersila di hadapannya.

​Shania melongo.

"Baca? Mas bercanda? Ini tulisan cacing semua! Mana ada titik komanya!"

​"Ini Kitab Adabul ‘Alim wal Muta’allim. Karya KH Hasyim Asy'ari. Tentang bagaimana seharusnya seorang penuntut ilmu bersikap. Karena masalah utamamu bukan kurang pintar, Shania, tapi kurang adab."

​Shania menggebrak meja kecil itu.

"Kurang adab? Kamu yang nggak punya perasaan! Maksa aku nikah, maksa aku ke sini, sekarang maksa aku baca tulisan yang aku nggak ngerti!"

​Zain membuka kitabnya dengan tenang.

"Karena itu saya di sini. Saya yang akan membacakan, kamu menyimak. Setelah itu, kamu ringkas isinya dalam bahasa Indonesia. Jika ringkasannya salah, satu jam tambahan di sini."

​Suara Zain mulai mengalun, membaca bait-bait Arab dengan kefasihan yang luar biasa. Shania awalnya berniat menutup telinga, namun entah mengapa, ritme suara Zain yang berat dan tenang itu memiliki efek hipnotis. Ia mulai memperhatikan bagaimana bibir pria itu bergerak, bagaimana jakunnya naik turun saat menelan ludah, dan bagaimana jemari panjangnya menunjuk setiap baris kalimat.

'​Dia lumayan... kalau lagi nggak ceramah,' pikir Shania tanpa sadar.

​"Fokus, Shania. Jangan melihat saya, lihat kitabnya," tegur Zain tanpa menoleh, seolah ia bisa membaca pikiran istrinya.

​Wajah Shania memanas di balik cadar.

"Siapa juga yang liatin situ! Pede banget!"

​Dua jam berlalu seperti siksaan yang merambat pelan. Saat mereka keluar dari perpustakaan, matahari sudah mulai meninggi, menghangatkan kompleks pesantren. Saat itulah, Shania melihat sebuah celah. Gerbang samping dekat dapur umum tampak terbuka sedikit karena ada truk pengangkut beras yang masuk.

'​Ini kesempatanku,' batin Shania.

​"Mas, aku mau ke toilet sebentar. Perutku sakit gara-gara tadi subuh minum air wudhu," bohong Shania sambil memegang perutnya akting kesakitan.

​Zain menatapnya selidik.

"Toilet ada di dalam ndalem. Masuklah, saya tunggu di sini."

​"Nggak usah ditungguin! Aku lama kalau di toilet, mau sekalian dandan!"

​Zain menghela napas.

"Lima belas menit. Jika lebih, saya jemput ke dalam."

​Shania segera berlari masuk ke area ndalem, namun alih-alih ke toilet, ia memutar lewat lorong belakang asrama putri. Dengan cekatan, ia melepas abaya hitamnya, menyisakan hoodie abu-abu dan kulot yang ia kenakan di dalamnya. Cadarnya ia selipkan ke dalam saku.

​Ia berlari mengendap-endap menuju gerbang samping. Jantungnya berdegup kencang. Ia hanya butuh sampai ke jalan raya, mencegat angkot, dan pergi ke terminal. Ia punya kartu kredit darurat yang ia sembunyikan di balik casing ponselnya.

​"Sikit lagi... sikit lagi..." gumamnya saat jaraknya hanya tinggal lima meter dari pintu gerbang yang terbuka.

​Tepat saat ia hendak melompat keluar, sebuah bayangan tinggi menutupi jalannya.

​"Mau ke mana, Shania?"

​Shania tersentak dan nyaris terjungkal ke belakang. Di depannya berdiri dua orang santri bertubuh tegap dengan seragam keamanan pesantren, dan di tengah-tengah mereka, Zain berdiri dengan tangan bersedekap di dada. Wajahnya tidak menunjukkan kemarahan, hanya kekecewaan yang dingin.

​"Aku... aku cuma mau cari angin! Di dalam sumpek!" kilah Shania, meski suaranya bergetar.

​Zain melangkah maju.

"Cari angin sampai ke gerbang belakang dengan melepas pakaian yang saya berikan?"

​Zain memberi isyarat pada para penjaga untuk pergi. Kini tinggal mereka berdua di lorong yang sepi. Zain mendekat, jaraknya begitu intim hingga Shania bisa merasakan hembusan napas pria itu di keningnya.

​"Kamu, tahu apa hukuman bagi santri yang mencoba kabur?" tanya Zain lembut, namun sangat mengintimidasi.

​"Aku, bukan santri! Aku istri kamu!"

​"Justru karena kamu istri saya, hukumannya dua kali lipat."

Zain meraih tangan Shania, menariknya lembut namun kuat menuju rumah mereka.

"Kamu, ingin bebas, Shania? Kamu ingin kembali ke duniamu yang penuh hura-hura?"

​"Iya! Lepasin, aku!"

​Zain berhenti tepat di depan pintu rumah mereka. Ia menatap Shania dengan tatapan yang sulit diartikan—ada perpaduan antara ketegasan dan sesuatu yang menyerupai rasa sakit.

​"Maka buatlah saya jatuh cinta padamu."

​Shania tertegun.

"Apa?"

​"Tadi malam kamu bilang akan membuat saya jatuh cinta lalu meninggalkan saya, kan?"

Zain membuka pintu dan mempersilakan Shania masuk.

"Saya, terima tantanganmu. Jika dalam waktu satu bulan ini kamu bisa membuat saya benar-benar mencintaimu hingga saya tidak sanggup melepaskanmu, maka saya sendiri yang akan mengantarmu ke Jakarta dan menceraikanmu secara baik-baik. Kamu, akan bebas sesuka hatimu."

​Shania mengerjapkan mata, mencoba mencerna tawaran gila itu.

"Serius? Kamu bakal ceraiin aku kalau kamu jatuh cinta?"

​"Ya. Tapi selama proses itu, kamu harus mengikuti semua aturan saya. Pakai hijab, belajar agama, dan tidak boleh kabur. Kita mainkan permainan ini dengan adil. Jika kamu gagal membuat saya jatuh cinta, maka kamu harus menetap di sini selamanya dan menjadi istri yang sesungguhnya."

​Shania terdiam sejenak. Otaknya yang licik mulai berputar. Baginya, menggoda pria kaku seperti Zain adalah hal mudah. Ia sudah biasa dikejar-kejar pria di kelab malam. Pria sejenis Zain pasti akan langsung bertekuk lutut jika ia memberikan sedikit perhatian dan kelembutan "palsu".

​"Oke! Deal!"

Shania mengulurkan tangannya.

"Satu bulan. Jangan nyesel ya kalau nanti kamu nangis-nangis di kaki aku minta jangan pergi."

​Zain menatap tangan Shania, lalu menyambutnya dengan jabat tangan yang mantap.

"Kita lihat saja, Shania. Apakah kamu yang akan merusak kompas saya, atau doa saya yang akan mengubah arah hidupmu."

​Zain melepaskan tangannya.

"Sekarang, masuk. Pakai kembali abayamu. Kita akan makan siang bersama Umi. Dan ingat... jangan mencoba kabur lagi, karena CCTV di pesantren ini bukan hanya kamera, tapi doa-doa dari ribuan santri yang menjagamu."

​Shania masuk ke kamar dengan senyum kemenangan. Ia merasa sudah memegang kunci kebebasannya. Namun, ia tidak menyadari satu hal: Zain adalah seorang ahli strategi yang biasa mempelajari kitab-kitab sulit. Baginya, Shania bukanlah lawan yang harus dikalahkan, melainkan jiwa yang harus diselamatkan dengan cara apa pun—termasuk dengan mempertaruhkan hatinya sendiri.

​Di luar, Zain menatap langit siang yang cerah. Ia berbisik pelan,

"Ya Allah, jika jalanku untuk membimbingnya adalah melalui rasa cinta yang tumbuh, maka jagalah hati ini agar tetap berpijak pada-Mu. Jangan biarkan hamba tersesat dalam pesonanya yang fana."

​Pertempuran sesungguhnya baru saja dimulai. Bukan dengan amarah, melainkan dengan siasat hati yang paling dalam.

​Bersambung ....

1
Indah Agustini 383
terimakasih udah nulis cerita yg sangat baguss dan banyak ilmu yg bisa didapat 😍
sehat-sehat kakak penulis cerita inii❤️❤️
Dian Fitriana
up lg thor
falea sezi
katanya ustadz istrinya di gantung klo mau cerai ya cerai malah kabur g bgt sifat ne laki
falea sezi
ustadz kok didikan nya pake kekerasan alon2 talah ustadz hadeh
partini
saling cinta tapi Ego setinggi langit
pak ustadz kamu agak salah caranya secara wanita tuh gampang banget nething
Saniaa96: benar. makasih udah luangkan waktu untuk baca 🙏🙏🙏 semoga sehat selalu. aamiin🤲
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!