NovelToon NovelToon
THE SILENCE OF ADORING YOU

THE SILENCE OF ADORING YOU

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Idola sekolah / Cintapertama
Popularitas:666
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

Di bawah rindangnya pohon sakura yang menghiasi jalan setapak kampus, Alana menyimpan sebuah rahasia besar. Dari kejauhan, ia menyaksikan Raka, sosok pria yang selalu sibuk dengan sketsa-sketsa arsitekturnya. Kekaguman Alana tumbuh dalam diam, seperti bunga yang mekar di sudut perpustakaan yang paling sunyi. Setiap langkah Raka adalah sebuah melodi bagi hati Alana yang pemalu, sebuah lagu yang tak pernah ia berani nyanyikan dengan suara keras.
Namun, segalanya berubah saat Alana dan Raka terpaksa berada dalam satu kelompok Kuliah Kerja Nyata (KKN). Jarak yang selama ini memisahkan mereka tiba-tiba menghilang. Kini, Alana tidak hanya mengamati dari jauh, tapi harus bekerja bahu-membahu dengan pria yang ia kagumi. Setiap interaksi minimal-seperti sentuhan jari saat bertukar nomor telepon atau nama Alana yang terucap dari bibir Raka-menjadi ledakan listrik yang menyesakkan dada Alana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

GEMA YANG MENJADI AKSARA

Tiga Tahun Kemudian

Gedung megah di pusat kota Jakarta malam itu dipenuhi wangi kopi mewah dan harum lembut bunga lili yang tersebar di setiap sudutnya. Cahaya lampu gantung kristal menerangi ruangan dengan elegan, memantulkan kilau pada sampul buku yang tersusun rapi di atas meja berjajar panjang. Di dinding utama, sebuah spanduk berukuran besar terpampang jelas: Peluncuran Novel Perdana Jeonndhhh — *The Silence of Adoring You*.

Alana duduk di meja penandatanganan, mengenakan blazer krem yang mempertegas aura profesionalnya. Tidak lagi terlihat seperti gadis masa kuliah dengan rambut dikuncir sembarangan; kini rambutnya terurai lembut, menambahkan kesan matang pada wajahnya yang terlihat lebih tenang dan percaya diri.

“Terima kasih sudah hadir,” ucapnya hangat kepada seorang pembaca muda, seraya menyelesaikan tanda tangan pada halaman pertama buku si penggemar.

Senyum tulus tersungging di wajahnya.

“Kak, apa semua kisah di buku ini nyata?” tanya gadis itu dengan matanya berbinar penuh rasa ingin tahu.

Alana menarik napas sejenak, membiarkan jemarinya menyentuh sampul buku yang menampilkan ilustrasi perpustakaan dengan cahaya sore yang masuk dari jendela. Ia menatap gadis tersebut dengan pandangan dalam dan berkata, “Sebagian besar adalah tentang belajar melepaskan, adik. Kadang cinta sejati tidak membutuhkan kata ‘memiliki’ untuk bertahan selamanya.”

Antrean mulai berkurang ketika jam menunjukkan pukul delapan malam. Seisi aula perlahan menjadi hening, menyisakan pecahan dialog para pengunjung terakhir yang terdengar samar di kejauhan. Alana tengah membereskan alat tulis dan buku catatannya saat sebuah bayangan besar menghalangi pencahayaan meja tempat ia duduk.

Tanpa mendongak, ia mengira itu adalah salah satu panitia acara yang datang untuk memastikan semuanya selesai. Namun suara berat dan sarat keakraban menghentikan gerakan tangannya.

“Bisakah aku minta tanda tangan di halaman terakhir?”

Seketika napas Alana terasa tak berjalan seperti biasa. Ia mendongak perlahan dengan jantung yang berdebar tak keruan lebih karena rasa tak percaya daripada keterkejutan.

Di hadapannya, berdiri seorang pria berjas abu-abu gelap tanpa dasi. Raut wajahnya tampak berbeda dari yang dikenalnya dulu lebih tegas, dengan guratan kelelahan sekaligus kedewasaan yang sulit diabaikan. Rasanya seperti waktu berhenti di sekitar mereka.

Raka..

"Raka..." bisik Alana. Namanya terasa aneh namun manis saat diucapkan kembali setelah bertahun-tahun.

Raka tersenyum tipis, jenis senyum yang dulu selalu Alana amati lewat pantulan kaca perpustakaan. Ia meletakkan sebuah buku The Silence of Adoring You di atas meja. Buku itu tampak sudah sering dibaca, sudut-sudutnya sedikit melengkung.

"Aku membacanya, Lan. Setiap babnya," ucap Raka pelan. "Termasuk bagian tentang gubuk di Sukamaju. Terima kasih sudah mengabadikannya dengan begitu indah."

Langkah kaki mereka terdengar lirih saat menapaki lantai aula yang dingin, sebelum akhirnya keduanya tiba di balkon yang menjorok ke arah lautan lampu Jakarta. Pemandangan kota yang berkelap-kelip di bawah sana seolah-olah mengisyaratkan bahwa dunia terus berputar, meski hati mereka tengah dihadapkan pada realitas yang berbeda. Angin malam datang tanpa malu, menyapu lembut wajah mereka, membawa hawa yang tajam dan dingin, mengingatkan kembali pada malam-malam panjang di posko KKN malam-malam yang sunyi, penuh percakapan lirih dan kesunyian mendalam.

Dalam jeda hening itu, Alana menarik napas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan kekuatan untuk memulai pembicaraan. "Bagaimana kabarmu?" tanyanya akhirnya, suaranya terdengar pelan namun disertai usaha keras untuk tetap terdengar tenang dan tidak tergesa.

Raka menoleh ke arahnya sesaat sebelum kembali mengalihkan pandangan ke cakrawala yang tertutup kabut polusi dari lampu kota. "Perusahaan Ayah sudah berada di posisi stabil sejak setahun lalu," ia memulai dengan nada datar yang menyembunyikan emosi rumit di baliknya. "Aku masih bekerja di sana hingga sekarang. Tapi, ya, setidaknya aku bisa mengatakan aku punya sesuatu yang kubangun sendiri. Aku sekarang memimpin tim arsitekku," lanjutnya sambil mendekap angin malam yang mengguyur wajahnya dengan intens.

Raka terdiam sejenak, seakan berpikir apakah ia harus melanjutkan atau berhenti sampai di situ. Namun, akhirnya ia kembali berbicara, kali ini dengan suara yang lebih berat, seperti beban dari ucapan itu telah lama ia simpan tanpa tempat mengalirkannya. "Maudy...," gumamnya pelan, nyaris seperti berbisik pada dirinya sendiri. "Kami berpisah enam bulan yang lalu. Kami pikir bisa membangun sesuatu bersama dari dasar yang goyah, tapi ternyata fondasi itu terlalu rapuh untuk menopang beban kenyataan. Pada akhirnya, dengan segala upaya yang ada, kami memutuskan untuk menyudahi semuanya... dengan cara yang baik."

Kata-kata itu menggema di telinga Alana, memenuhi kesunyian di antara deru kendaraan jauh di bawah mereka. Ia tak segera merespons, terlalu terkejut untuk mengeluarkan sepatah kata sekalipun. Kabar yang baru saja ia dengar begitu tak terduga sehingga butuh waktu baginya untuk mencernanya sepenuhnya. Perasaan campur aduk mencengkeram hatinya; ada bagian dari dirinya yang diliputi kelegaan aneh, namun rasa bersalah merayap masuk, seperti angin malam yang menusuk kulit tanpa permisi.

Namun begitu, Alana hanya berdiri di sana dalam diam, menatap ke depan seperti mencoba mengurai emosi yang bertabrakan di dalam dirinya. Sesak yang sedari tadi bersarang di dadanya perlahan mencair, memberi ruang bagi helaan napas panjang yang tak disadarinya ia tahan sejak tadi. Dalam keheningan itu, angin terus berhembus, membawa percakapan mereka menuju malam panjang berikutnya.

"Dan rumah itu, Lan..." Raka menoleh ke arah Alana, "Rumah yang digambar di kalkir yang ditinggalkan Ayahku di meja nomor 15... aku benar-benar membangunnya. Di sebuah lahan di pinggir kota yang tenang. Persis seperti rancangan itu, lengkap dengan perpustakaan kecil di sudut jendela timur."

"Raka, kenapa kamu memberitahuku ini sekarang?" tanya Alana, suaranya mulai bergetar.

"Karena aku ingin kamu tahu bahwa aku tidak pernah berhenti mengagumimu, Alana. Bahkan saat aku harus mengenakan cincin orang lain, hatiku selalu tertinggal di meja nomor 15," Raka melangkah mendekat, jarak mereka kini sedekat saat di dapur tua Sukamaju. "Buku ini... kamu menuliskan perpisahan di sini. Tapi apakah ada ruang untuk sebuah sekuel?"

Alana menatap buku di tangannya. Ia ingat betapa hancurnya ia saat merobek halaman-halaman itu dulu. Namun sekarang, ia menyadari bahwa setiap robekan itu adalah bagian dari proses pembentukan dirinya yang sekarang.

"Dunia nyata bukan novel, Raka. Kita tidak bisa menghapus bab yang sudah tertulis," kata Alana lembut.

"Aku tahu. Tapi kita bisa memulai jilid kedua," balas Raka dengan penuh harap. Ia mengulurkan tangannya, telapak tangannya terbuka, menunggu. "Kali ini, tanpa sembunyi di balik rak buku. Tanpa pantulan kaca. Hanya aku dan kamu."

Alana menatap tangan itu cukup lama. Ia teringat pada semua kesunyian yang pernah ia lalui, semua air mata yang ia tumpahkan di atas kertas, dan gema kekaguman yang tak pernah benar-benar mati.

Perlahan, Alana meletakkan tangannya di atas telapak tangan Raka. Sentuhan itu masih sama—hangat dan menenangkan.

"The Silence of Adoring You... mungkin sudah saatnya judul itu berganti," bisik Alana.

Raka menggenggam tangan Alana erat. "Jadi, apa judul barunya?"

Alana tersenyum, menatap mata Raka yang kini penuh dengan cahaya yang nyata. "Mungkin... The Sound of Loving You."

Beberapa bulan kemudian, di perpustakaan pusat kampus yang legendaris itu, seorang mahasiswi baru duduk di meja nomor 12. Ia secara tidak sengaja melihat ke arah meja nomor 15. Di sana, tertinggal sebuah buku catatan tua yang sampulnya sudah usang, namun di halaman depannya tertulis kutipan yang indah:

> "Untuk setiap pengagum rahasia yang masih bersembunyi di balik rak buku: Jangan takut pada kesunyian, karena kadang di sanalah cinta yang paling jujur bertumbuh. Tapi ingatlah, suatu saat nanti, suaramu layak untuk didengar."

> Di kejauhan, di pintu keluar perpustakaan, seorang wanita dan seorang pria berjalan berdampingan sambil tertawa kecil. Mereka tidak lagi saling mengamati dari kejauhan. Mereka berjalan menuju arah yang sama, meninggalkan gema di lorong senyap itu untuk menjadi bagian dari sejarah yang indah.

1
Bunga
penggambaran keadaan n hati Alana seperti aku di masa kuliah
jadi nostalgia😍
Bunga
lanjut Thor
cerita yang bagus
🌷tinull💞
semangat terus Thor, terus berkarya 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!