Seorang CEO muda yang ambisius seperti Kenzo Praditya tidak pernah punya rencana untuk menikah dalam waktu dekat, apalagi dengan Anindya, janda dari kakaknya sendiri.
"Jangan pernah berharap aku akan menyentuhmu. Aku melakukan ini hanya demi wasiat Kakak," ucap Kenzo dingin di malam pertama mereka.
Anindya hanya bisa menelan kepahitan. Ia bertahan demi satu alasan, buah hatinya yang membutuhkan perlindungan keluarga Praditya.
Namun, tembok es yang dibangun Kenzo perlahan runtuh saat ia melihat ketegaran Anindya menghadapi badai fitnah dari luar.
Saat rasa peduli mulai berubah menjadi obsesi, Kenzo dihadapkan pada satu kenyataan pahit. Ia mulai mencintai wanita yang seharusnya tidak boleh ia miliki.
Simak Kisah Selanjutnya di Cerita Novel => Turun Ranjang.
By: Miss Ra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Malam di Dubai masih menyisakan kehangatan yang membuai. Setelah pertemuan di pantai dengan Zayed, Anindya tidak bisa memejamkan mata.
Di dalam kamar penthouse yang mewah, ia duduk di depan laptopnya, menatap sebuah folder terenkripsi yang ditinggalkan Arlan. Folder itu berjudul 'Asuransi Masa Depan'.
Anindya tahu, Arlan tidak hanya memberinya uang dan perusahaan. Arlan memberinya senjata untuk menghancurkan keluarga Praditya jika suatu saat mereka melampaui batas.
Pagi harinya, Dubai disambut dengan angin sepoi-sepoi yang membawa aroma laut. Di ruang tamu, Elang sedang asyik bermain dengan unta robot yang benar-benar dikirimkan oleh Zayed.
Robot itu bisa berjalan, mengeluarkan suara musik, dan memiliki proyektor kecil yang menampilkan peta rasi bintang di langit-langit.
"Ibu, lihat! Untanya bisa nari!" Elang tertawa kegirangan, melompat-lompat di atas karpet Persia.
Anindya tersenyum, namun matanya tetap fokus pada Sarah yang berdiri di sampingnya dengan wajah serius.
"Nyonya, tim IT kita berhasil mendeteksi aktivitas mencurigakan," bisik Sarah. "Seseorang mencoba meretas basis data penerbangan jet pribadi yang kita gunakan saat meninggalkan Jakarta. Mereka menggunakan proxy dari Singapura, tapi jejak digitalnya mengarah pada firma keamanan siber di Jakarta."
Anindya menyesap jus jeruknya, matanya berkilat tajam. "Kenzo. Dia sudah mendapatkan 'nafas buatan'. Bimo bilang rekeningnya diblokir, tapi sepertinya dia menemukan dompet baru."
"Apa kita harus memindahkan lokasi?" tanya Sarah cemas.
"Tidak," jawab Anindya tegas. "Jika kita lari lagi, dia akan terus mengejar. Kita harus memancingnya masuk ke wilayah yang tidak bisa dia kuasai. Dubai adalah rumah kita sekarang, dan di sini... Kenzo Praditya hanyalah debu di tengah badai gurun."
Tiba-tiba, bel pintu berbunyi. Sarah memeriksa interkom dan matanya membelalak. "Nyonya... Mr. Zayed. Dia datang membawa... koki?"
Pintu terbuka, dan Zayed masuk dengan kemeja putih yang lengannya digulung hingga siku, terlihat santai namun sangat berkelas. Di belakangnya, seorang pria paruh baya dengan pakaian koki lengkap membawa tas pendingin besar.
"Aku dengar Elang bosan dengan makanan restoran," Zayed menyapa dengan kedipan mata pada Elang. "Jadi, aku membawa koki pribadi istana untuk memasakkan Manousheh dan 'Umm Ali' paling enak di seluruh Uni Emirat Arab. Dan untuk ibunya..." Zayed mengeluarkan sebuah kotak kecil berisi cokelat artisan bertabur emas 24 karat. "Sesuatu untuk menenangkan saraf yang tegang."
Anindya tertegun. Humor dan perhatian Zayed selalu datang di saat yang tepat. "Kau tidak perlu melakukan semua ini, Zayed."
"Aku melakukan ini karena aku ingin melihatmu makan dengan tenang, Dian," Zayed mendekat, suaranya merendah hingga hanya Anindya yang bisa mendengar. "Aku tahu kau sedang cemas. Jangan khawatir, tak seorang pun bisa menyentuhmu di sini."
Anindya menatap Zayed. Pria ini tidak hanya merayunya dengan harta, tapi juga melindunginya dengan teknologi dan kekuasaan yang bahkan tidak bisa dibayangkan oleh Kenzo.
~~
Di Jakarta, apartemen Valerie berubah menjadi markas operasi gelap. Kenzo duduk di depan tiga layar monitor besar, dikelilingi oleh dua pria berpakaian serba hitam yang ia sewa menggunakan uang Valerie.
Valerie masuk membawa nampan berisi kopi dan roti lapis. Wajahnya terlihat lelah namun ada gurat kebahagiaan karena merasa dibutuhkan oleh Kenzo.
"Ken, istirahatlah sebentar. Kau sudah bangun selama dua puluh jam," ucap Valerie lembut, memijat bahu Kenzo.
Kenzo menarik tangan Valerie, mengecup telapak tangannya dengan lembut, sebuah sandiwara yang sudah ia latih.
"Aku harus menyelesaikan proyek ini, Lerie. Ini satu-satunya cara agar aku bisa membuktikan pada ayahku bahwa aku layak. Maafkan aku jika aku terlalu sibuk."
Valerie tersenyum haru. "Aku percaya padamu. Oh ya, aku sudah mentransfer sisa dana dari penjualan sahamku ke rekening yang kau minta. Itu sekitar lima milyar rupiah. Apa itu cukup?"
Kenzo menahan senyum kemenangannya. "Lebih dari cukup, Sayang. Kau adalah penyelamatku."
Begitu Valerie keluar dari ruangan, ekspresi Kenzo berubah drastis. Matanya kembali menatap layar dengan penuh kebencian.
"Bagaimana?" tanya Kenzo pada peretas di sampingnya.
"Tuan, jet pribadi itu mendarat di Bandara Al Maktoum, Dubai. Kami berhasil melacak nomor seri landing gear yang terdaftar atas nama perusahaan Arlan. Nyonya Anindya pasti ada di sana. Kemungkinan besar di kawasan Palm Jumeirah atau Marina."
Kenzo memukul meja dengan tinjunya, tawanya meledak, tawa yang terdengar seperti gila. "Dubai! Tentu saja! Kota para pelarian kaya. Dia pikir dia bisa bersembunyi di balik kemilau emas?"
"Tuan, biaya untuk menyewa orang di Dubai sangat mahal. Kita butuh koneksi lokal jika ingin melakukan... penjemputan paksa," ucap salah satu orang bayaran itu.
"Siapkan pasporku," perintah Kenzo. "Valerie akan ikut denganku. Kita akan berpura-pura liburan. Ayahku tidak akan curiga jika aku pergi bersama Valerie menggunakan uang pribadinya. Begitu sampai di sana, aku akan menyeret Anindya kembali, meski harus dalam keadaan terikat!"
~~
Malam harinya, di penthouse Anindya, suasana terasa sangat hangat. Koki bawaan Zayed telah menyajikan hidangan luar biasa. Elang sudah kekenyangan dan tertidur di sofa sambil memeluk robot untanya.
Zayed dan Anindya duduk di balkon, menyesap teh mint hangat.
"Dian," panggil Zayed lembut. "Kenapa kau tidak pernah menceritakan siapa sebenarnya yang kau tangisi setiap malam?"
Anindya terdiam, menatap kerlap-kerlip lampu kota. "Namanya Kenzo. Ayah sambung Elang, tapi monster dalam hidupku. Dia tidak menginginkan cinta, dia hanya ingin dominasi. Dia menghancurkan Arlan, pria yang benar-benar mencintaiku, agar dia bisa memilikiku sebagai piala."
Zayed meletakkan cangkirnya, tangannya terulur mengusap jemari Anindya yang bergetar. "Di negaraku, pria seperti itu disebut Shaitan. Dia tidak pantas mendapatkan air matamu, apalagi ketakutanmu."
"Dia gila, Zayed. Dia tidak akan berhenti sebelum dia melihatku hancur," bisik Anindya.
Zayed berdiri, menarik Anindya untuk ikut berdiri bersamanya. Ia menatap mata Anindya dengan intensitas yang membuat napas Anindya tertahan.
"Dengar," ucap Zayed tegas. "Aku adalah Zayed Al-Maktoum. Di tanah ini, kata-kataku adalah hukum. Jika dia berani menginjakkan kaki di Dubai dengan niat jahat, dia tidak akan hanya menghadapi seorang wanita pelarian. Dia akan menghadapi seluruh kekuasaan yang aku miliki. Aku tidak akan membiarkan sehelai rambutmu pun jatuh karena dia."
Anindya merasakan air mata jatuh di pipinya. Bukan karena sedih, tapi karena rasa lega yang luar biasa. Selama bertahun-tahun ia berjuang sendirian di Jakarta, dan kini, di negeri asing, seorang pria yang baru ia kenal menawarkan perlindungan yang begitu kokoh.
"Kenapa kau melakukan ini, Zayed? Kita baru bertemu beberapa minggu," tanya Anindya haru.
Zayed tersenyum, mengusap air mata di pipi Anindya dengan ibu jarinya. "Karena sejak pertama kali kau melangkah masuk ke ruang rapat itu dengan mata yang penuh luka tapi kepala yang tegak, aku tahu... kau adalah rumah yang selama ini kucari di tengah padang pasir yang luas ini."
Zayed perlahan mendekatkan wajahnya. Anindya bisa merasakan deru napas Zayed yang hangat. Untuk sesaat, memori tentang Arlan muncul, namun kali ini Arlan seolah tersenyum, merelakan Anindya untuk dilindungi oleh pria yang lebih kuat.
Zayed mengecup dahi Anindya dengan sangat lama dan penuh hormat. "Beristirahatlah.."
~~
Di dalam pesawat first class menuju Dubai, Kenzo duduk di samping Valerie yang sedang tertidur lelap. Kenzo memegang segelas champagne, menatap keluar jendela ke arah kegelapan awan.
Ia membuka ponselnya, menatap foto Anindya yang ia ambil secara diam-diam dulu.
"Sebentar lagi, Anin," gumam Kenzo, suaranya terdengar seperti desisan ular. "Kau boleh bermain-main dengan Dubai. Tapi ingat, aku... aku adalah kenyataan pahit yang tidak akan pernah bisa kau lepaskan."
Kenzo tidak tahu bahwa begitu ia mendarat di Dubai, namanya sudah masuk dalam daftar pengawasan khusus atas perintah Zayed. Ia mengira dirinya adalah pemburu, padahal ia sedang berjalan masuk ke dalam mulut singa yang sedang lapar.
Perang antara obsesi berdarah Jakarta dan perlindungan baja Dubai baru saja dimulai. Dan kali ini, Anindya tidak akan lari. Ia akan berdiri di samping Zayed, menyaksikan keruntuhan pria yang telah menghancurkan hidupnya.
...----------------...
**To Be Continue** ....