Yvaine, ratu es yang legendaris di pasukan khusus, mengalami pengkhianatan dalam misinya. Dua tembakan menghantam tubuhnya, dan dia jatuh tak bernyawa di tempat.
Namun, ketika Yvaine membuka matanya lagi, dunia telah berubah. Kini dia menjadi nyonya rumah dari keluarga besar yang menyepelekan dirinya, seorang istri yang marah tapi diabaikan suaminya, dan seorang ibu yang anaknya juga tak pernah memperhatikannya.
“Kalau aku tidak salah, kita sudah bercerai. Sekarang kamu malah masuk ke rumahku, mantanku tercinta,” suara dingin sang mantan terdengar.
Yvaine mengangkat dagu, duduk di ujung sofa dengan kaki terlipat, menebarkan aura sombong yang tak terbantahkan. “Kalau begitu… kita bisa menikah lagi,” ujarnya dengan tenang tapi penuh tantangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Suara reporter masih terngiang di telinga Yvaine.
“Sejumlah perwira, termasuk seorang pemimpin tim, gugur saat menjalankan tugas. Penyebab penembakan masih dalam penyelidikan. Kami melaporkan langsung dari lokasi kejadian.”
'Gugur dalam tugas?'
Sudut bibir Yvaine terangkat tipis, membentuk senyum dingin yang hampir tak terlihat. Sebuah ejekan tanpa suara.
Ia tahu persis bagaimana ia “gugur”.
Saar itu dua telag peluru bersarang di jantungnya.
Satu datang dari belakang, jelas merupakan tembakan penembak jitu yang bersembunyi dalam gelap. Itu masuk akal. Itu sesuai dengan skenario pertempuran yang selama ini ia hadapi.
Namun yang satu lagi..
Yvaine mengingatnya dengan sangat jelas. Sudut tembakannya, arah anginnya, bahkan jeda sepersekian detik sebelum peluru itu menembus tubuhnya.
Dari arah jam dua.
Arah yang sebelumnya disebutkan oleh petugas kepolisian. Arah di mana tim bantuan berada. Tim yang dipimpin oleh Kapten Li.
Rekan sendiri.
Selama ini, Yvaine selalu membayangkan akhir hidupnya akan datang di tangan musuh. Ia siap mati di medan tugas, tertembak saat menjalankan misi berbahaya.
Namun ia tak pernah membayangkan bahwa peluru terakhirnya justru datang dari orang yang berdiri di pihak yang sama.
Bagi Yvaine, itu hal konyol yang pernah menimpanya, sebuah bentuk pengkhianatan yang bersih dan rapi.
Ekspresi wajah Yvaine yang semula datar sempat berubah, dalam sepersekian detik itu, ada kilatan dingin yang melintas di matanya.
Namun secepat itu pula, semuanya kembali seperti semula, ia kembali tenang dan mengontrol emosinya.
Ia sudah terbiasa menyembunyikan segalanya, dan untung saja, tak ada yang benar-benar akan bersedih atas kematiannya.
Ibu angkatnya telah meninggal lima tahun lalu. Orang tua kandungnya? Bahkan ia tak memiliki kenangan tentang mereka, seolah menghilang bersama tragedi masa lalu.
Ia sendirian dan akan selalu sendirian.
Jika ada satu orang yang mungkin akan menangis, itu pasti hanyalah Mork.
Yvaine menghela napas pelan.
'Hah.. Mork mungkin akan meratapi kepergianku untuk sementara waktu. Namun seiring berjalannya waktu, ia pasti akan bangkit kembali. Dunia tidak berhenti hanya karena satu orang pergi.'
Ibu Mork dan ibu angkat Yvaine adalah sahabat dekat. Mereka tumbuh bersama, saling menjaga. Karena itulah Yvaine memperlakukan Mork seperti adiknya sendiri.
Sayang sekali karna hubungan itu pun kini telah terputus oleh kematian.
Sementara itu, ada suara langkah kaki yang tiba-tiba terdengar dari luar pintu dan membuat Yvaine membuyarkan pikirannya
Pintu pun terbuka.
Seorang gadis berpakaian pelayan masuk sambil membawa nampan berisi makanan sederhana. Gerakannya kasar, dan ekspresi di wajahnya jelas menunjukkan ketidaksenangan.
Seolah-olah hanya dengan mengantarkan makanan saja sudah menjadi penghinaan baginya.
“Nyonya, sudah waktunya makan,” ucapnya singkat, nada suaranya datar namun tajam.
Tanpa menunggu respons, ia meletakkan nampan itu di meja dekat jendela dengan bunyi cukup keras.
Tidak ada rasa hormat ataupun kesopanan darinya.
Yvaine bisa melihat aura kebencian yang terang-terangan dari gadis itu
Mata Yvaine menyipit sedikit, ia langsung memahami situasinya.
Sikap dingin Tobias terhadap dirinya rupanya menjadi alasan bagi seluruh penghuni mansion untuk memandang rendah dirinya.
Ia bukan “nyonya” di mata mereka, melainkan hanya sebuah kesalahan yang terlanjur berada di posisi itu.
Apalagi setelah rumor menyebar bahwa ia adalah wanita dari keluarga bergengsi yang menipu Tobias agar tidur dengannya, demi mendapatkan posisi sebagai Nyonya keluarga Raguel.
Rumor kotor, namun cukup efektif untuk menghancurkan martabat seseorang.
Mereka tidak berani mengatakannya di depan. Tapi di belakang? Bisikan, ejekan, dan hinaan mengalir tanpa henti.
Yvaine masih ingat saat ia pingsan sebelumnya. Samar-samar ia mendengar jeritan para pelayan, bukan karena khawatir, melainkan karena takut terseret masalah jika ia benar-benar mati.
Baginya, mereka hanya peduli pada diri sendiri.
Dan selama ia belum mati, mereka merasa bebas untuk bersikap semaunya.
Tatapan Yvaine terangkat, menatap langsung pelayan di depannya.
Tobias bahkan tidak datang menjenguknya, padahal ia baru saja selamat dari percobaan bunuh diri.
Menggorok pergelangan tangan sendiri adalah sebuah tindakan putus asa yang seharusnya mengguncang siapa pun.
Namun bagi pria itu?
Seolah tak berarti apa-apa.
Dan sikap itulah yang memberi keberanian bagi para pelayan untuk mengabaikan hidup dan matinya sang nyonya.
Pelayan itu menyilangkan tangan, menatap Yvaine dengan tidak sabar.
Namun saat mata mereka bertemu, sesuatu dalam dirinya bergetar.
Ada yang berbeda.
Tatapan itu bukan tatapan wanita lemah yang ia kenal sebelumnya.
Ada sesuatu yang dingin dan mengintimidasi, namun keraguan itu hanya berlangsung sesaat.
Ia segera mengingat bagaimana pengecutnya Yvaine dulu.
Dengan cepat, ia menegakkan tubuhnya dan berkata dengan sinis, “Apa yang kamu lihat? Kalau tidak mau makan, ya sudah. Hidupmu saja sudah pemborosan.”
Tangannya bergerak, meraih nampan.
Jelas sekali ia berniat mengambilnya kembali.
Ini bukan pertama kalinya. Biasanya, Yvaine hanya akan diam dan menerima perlakuan itu.
Namun kali ini ia salah.
Mata Yvaine menyipit, dalam sekejap, tangannya terangkat.
Gerakannya sangat cepat.
“Ah—!”
Suara benturan keras disusul jeritan melengking memenuhi ruangan.
Pelayan itu terjatuh ke lantai, tubuhnya bergetar kesakitan. Makanan panas tumpah, membasahi pakaiannya.
cerita nya bagus