Ketika kakaknya, Orla, kabur dari pernikahan dengan pria berbahaya bernama Lorcan, Pearl dipaksa menggantikannya demi menyelamatkan keluarga dari kehancuran.
Terjebak dalam pernikahan kontrak dengan pria dingin yang seharusnya menikahi orang lain, Pearl harus hidup dalam kebohongan yang bisa merenggut nyawanya kapan saja jika kebenaran terungkap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vaelisse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
2
Pearl melangkah masuk.
Pintu utama mansion itu membuka seperti mulut sesuatu yang besar dan lapar dan Pearl masuk ke dalamnya dengan langkah yang terasa seperti langkah terakhir seorang terpidana.
Lobi utamanya luas. Langit-langitnya tinggi hingga Pearl harus mendongak untuk melihat ujungnya. Lantai marmer hitam mengkilap memantulkan cahaya lampu gantung besar di atasnya, dan di sepanjang dinding, lukisan-lukisan besar tergantung rapi dalam bingkai emas, semuanya gelap, semuanya dingin.
Di depan tangga marmer yang melingkar, barisan pelayan berseragam gelap berdiri kaku dalam dua baris rapi. Kepala mereka menunduk saat Lorcan melangkah melewati mereka. Tidak ada yang berani menatap terlalu lama.
Kecuali satu.
Seorang perempuan tua berambut putih keperakan berdiri sedikit di depan barisan, dengan tangan terlipat rapi di depan tubuhnya. Wajahnya tenang, profesional, tapi matanya sempat bertemu dengan mata Pearl hanya sesaat.
Dan di sana, di antara semua kedinginan tempat ini, Pearl menemukan sesuatu yang tidak ia sangka akan ia temukan malam ini.
Simpati.
Perempuan itu segera menyembunyikannya di balik ekspresi datarnya yang terlatih.
"Selamat malam, Tuan Lorcan," ucapnya dengan suara yang tenang dan berwibawa.
Lorcan tidak berhenti. Ia melangkah lebar menuju tangga, langkahnya terdengar tegas di atas lantai marmer. Pearl mengekor di belakang seperti bayangan yang tidak diminta menyeret gaun pengantinnya yang berat, mencium aroma parfum Lorcan yang memenuhi udara di depannya, dan merasa seperti tercekik oleh kehadirannya bahkan tanpa disentuh.
Mereka naik ke lantai atas.
Lalu berhenti di depan sepasang pintu kayu besar berwarna gelap di ujung koridor.
Lorcan mendorongnya terbuka.
Pearl terpaku di ambang pintu.
Kamar itu sangat luas, jauh lebih besar dari yang ia bayangkan. Didominasi warna abu-abu tua dan hitam, dengan furnitur besar dan berat yang tampak lebih cocok untuk ruang kerja seorang eksekutif daripada tempat peristirahatan. Tidak ada sentuhan lembut di mana pun. Tidak ada bunga. Tidak ada cahaya yang hangat.
Hanya satu ranjang besar di tengah ruangan, dan sofa panjang di bawah jendela besar di sisi kanan, di mana di luarnya, badai mulai menggeliat perlahan.
"Ini kamar kita?" suara Pearl nyaris tidak keluar.
Lorcan melempar jasnya ke kursi kulit di sudut ruangan tanpa menoleh.
"Di depan pelayan dan siapa pun yang peduli ya." Ia mulai melonggarkan dasi, suaranya terdengar seperti seseorang yang sedang membacakan memo kerja. "Aku tidak punya waktu untuk meladeni gosip tentang pengantin baru yang tidur terpisah. Itu merusak citra, dan citra buruk merusak angka."
Ia menoleh sebentar, satu tatapan singkat yang terasa seperti penilaian menyeluruh, dari ujung kepala hingga ujung gaun pengantinnya yang kusut.
"Tapi jangan berpikir terlalu jauh."
Sudut bibirnya terangkat. Bukan senyum. Lebih tepatnya sesuatu yang menyerupai senyum jika dilihat dari kejauhan.
"Aku tidak punya selera untuk perempuan yang dikirim sebagai alat pelunasan hutang."
Jarinya menunjuk ke sofa panjang di bawah jendela.
"Tidur di sana."
Pearl menatap sofa itu.
Mewah, tentu saja. Tapi di luar sana badai semakin keras, angin memukul kaca jendela dengan ritmik yang tidak menentu, dan udara di dalam kamar ini terasa seperti kulkas yang dihidupkan penuh.
"Bolehkah aku mandi lebih dulu?" tanya Pearl pelan.
Wajahnya masih penuh lapisan riasan tebal yang mulai terasa seperti topeng yang terlalu lama ia paksa kenakan. Seluruh tubuhnya terasa berat, kotor, bukan oleh debu atau keringat, tapi oleh semua kebohongan yang sudah ia telan sepanjang hari ini.
Lorcan tidak menjawab.
Ia hanya meliriknya sekali, tatapan singkat yang tidak bisa Pearl artikan, lalu melangkah masuk ke kamar mandi dan menutup pintunya tanpa sepatah kata.
Pearl berdiri sendirian di tengah kamar yang besar dan sunyi itu, seperti boneka yang habis tenaganya, ia merosot ke lantai marmer yang dingin. Gaun pengantinnya mengembang di sekitarnya seperti bunga yang layu.
Dan di sana, di bawah cahaya redup kamar yang tidak pernah dirancang untuk menerimanya, Pearl menangis. Pelan. Tanpa suara. Air mata mengalir dan ia biarkan mengalir, karena itu satu-satunya hal malam ini yang masih terasa seperti miliknya sendiri.
Ia memikirkan ibunya.
Wajah pucat itu. Tangan yang sudah tidak bisa menggenggam erat lagi. Suara mesin yang berdetak teratur di ruangan putih yang berbau obat, menjaga jantung yang lemah itu tetap berjalan, satu detak demi satu detak.
Bertahan, ia berbisik pada dirinya sendiri. Bertahan untuk dia.
Dan demi ibunya, pearl rela melaksanakan pernikahan yg ia sendiri tidak mau sbnrnya🙏😓