NovelToon NovelToon
Elegi Devan

Elegi Devan

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri
Popularitas:222
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

Kehidupan kampus Anya yang monoton dan tanpa emosi mendadak runtuh ketika mahasiswa pindahan bernama Devan muncul. Sikap dingin Devan, tatapan penuh kebencian sekaligus kerinduan, dan rahasia kelam tentang kecelakaan masa lalu Anya yang terlupakan, perlahan menyeret gadis itu ke dalam realitas bahwa hidupnya selama ini adalah sebuah kebohongan yang dirancang rapi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 34: Amukan Gelombang dan Mesiu

​Cahaya itu tidak datang dengan sopan. Ia menghantam dek kapal kami seperti tamparan raksasa yang terbuat dari listrik putih, membutakan mata dan mencabik-cabik kegelapan Selat Malaka yang selama beberapa jam ini menjadi sekutu kami. Dalam sekejap, kayu-kayu kapal yang sudah lapuk dan sisa-sisa jaring nelayan yang berbau amis terlihat begitu jelas, telanjang di bawah pengamatan lampu sorot dari kapal predator yang mengejar kami.

​Aku mencengkeram tepian kapal hingga kuku-kukuku terasa akan patah. Suara mesin di belakang kami bukan lagi deru, melainkan raungan frekuensi tinggi dari mesin jet air yang sangat bertenaga. Itu adalah suara kekuasaan yang tak tersentuh, suara dari orang-orang yang merasa bisa membeli hukum alam sekalipun.

​"Anya! Masuk ke dalam palka! Sekarang!"

​Suara Devan membelah kebisingan angin dan air. Ia menarikku dengan satu sentakan kuat, mendorongku ke arah lubang kecil di tengah dek yang menuju ruang penyimpanan ikan yang pengap. Matanya yang tadi sempat melunak saat menceritakan luka di punggungnya, kini telah hilang. Yang tersisa hanyalah sepasang manik mata yang dingin, tajam, dan sepenuhnya mematikan. 'Hantu' itu telah bangun sepenuhnya.

​"Aku tidak mau bersembunyi di sana, Devan! Aku memegang datanya!" teriakku, suaraku parau karena tertelan angin laut yang kencang.

​"Justru karena kau memegang datanya, kau harus selamat! Jika mereka menembak kapal ini, kau harus berada di titik paling rendah!" Devan tidak menunggu jawabanku. Ia menekan bahuku hingga aku merosot masuk ke dalam kegelapan palka yang berbau es mencair dan darah ikan. "Vincent! Putar ke arah beting karang! Sekarang!"

​Aku jatuh di atas lantai kayu yang basah dan licin. Di atasku, Devan menutup penutup palka, menyisakan kegelapan total yang hanya dipecahkan oleh suara dentuman ombak yang menghantam lambung kapal. Di dalam sini, setiap suara terasa sepuluh kali lebih keras. Aku bisa mendengar jantungku sendiri yang berpacu liar, seolah-olah ia ingin melompat keluar dari dadaku.

​Lalu, suara itu datang.

​RAT-TAT-TAT-TAT!

​Rentetan tembakan senapan otomatis merobek udara malam. Aku mendengar suara serpihan kayu yang beterbangan di atas kepalaku. Kapal nelayan tua ini mulai bergoyang hebat saat Vincent melakukan manuver tajam yang membuat mesinnya menjerit kesakitan.

​"Sialan! Mereka benar-benar mencoba menenggelamkan kita!" Suara Vincent terdengar samar dari arah kokpit.

​Aku merangkak dalam kegelapan, tanganku meraba-raba tas server yang kupeluk erat. Dinginnya logam tas itu terasa kontras dengan telapak tanganku yang berkeringat. Aku tidak bisa hanya diam di sini. Aku mengingat wajah Melati—ibuku—di kilas balik itu. Ia tidak menyerah saat dikepung. Ia memberikan perlawanan terakhirnya lewat data. Jika aku adalah pewaris darahnya, maka aku tidak boleh hanya menjadi saksi dari pengorbanan Devan.

​Aku mendorong penutup palka sedikit, mengintip lewat celah sempit.

​Pemandangan di luar adalah neraka yang basah. Kapal pengejar itu—sebuah interceptor hitam legam tanpa lampu navigasi, hanya lampu sorot raksasa—berjarak kurang dari lima puluh meter di belakang kami. Dua orang pria dengan seragam taktis berdiri di haluan kapal itu, melepaskan tembakan ke arah mesin kapal kami.

​Devan berdiri di balik tumpukan kotak es kayu, menggunakan mereka sebagai perlindungan darurat. Ia memegang pistolnya dengan dua tangan, napasnya terlihat keluar sebagai uap putih di udara malam yang dingin. Ia tidak menembak asal-asalan. Ia menunggu. Ia adalah petarung jalanan yang tahu bahwa peluru adalah komoditas mahal saat kau terkepung.

​"Mendekatlah, keparat..." desis Devan.

​Kapal pengejar itu melakukan kesalahan yang ditunggu Devan. Mereka mencoba merapat dari sisi samping untuk melakukan aksi boarding. Saat kapal mereka berada di puncak gelombang, membuat bagian bawah lambung mereka terekspos, Devan melepaskan tembakan.

​DOR! DOR! DOR!

​Tiga tembakan presisi. Satu mengenai penembak di haluan, membuatnya terjerembab ke laut. Dua lainnya menghantam jendela kokpit mereka.

​"Vincent! Sekarang!" raung Devan.

​Vincent memutar kemudi dengan sisa tenaga terakhirnya. Kapal nelayan kami yang lamban secara tak terduga memutar arah, bukan menjauh, melainkan memotong jalur kapal pengejar. Kami masuk ke dalam area dangkal yang dipenuhi oleh tonjolan karang tajam yang hanya terlihat saat air surut.

​KRAAAAK!

​Suara lambung kapal pengejar yang menghantam karang terdengar memilukan. Mesin mereka yang canggih menghisap pasir dan koral, membuatnya terbatuk asap hitam dan berhenti seketika. Mereka terdampar.

​Namun, kemenangan itu hanya bertahan sesaat.

​Kapal kami juga terkena imbasnya. Mesin tua itu mengeluarkan suara ledakan kecil dan mulai mengeluarkan api dari bagian belakang. Vincent melompat keluar dari kokpit saat asap hitam memenuhi ruangan sempit itu.

​"Kapal ini akan tenggelam! Kita harus pindah ke sekoci!" Vincent berteriak, wajahnya pucat pasi.

​Devan segera berlari ke arah palka, membantuku keluar. Saat aku berdiri kembali di dek, duniaku terasa goyang. Bukan hanya karena ombak, tapi karena asap yang mulai menyesakkan. Di kejauhan, aku melihat lampu-lampu kapal pengejar lain mulai muncul dari arah cakrawala. Orion tidak hanya mengirim satu tim.

​"Ambil pelampungnya! Cepat!" Devan menarikku menuju sebuah perahu kayu kecil yang tergantung di sisi kapal.

​Di tengah kekacauan itu, sebuah peluru menyasar mengenai bahu Devan. Ia tersentak, tubuhnya limbung.

​"DEVAN!" aku menjerit, melepaskan tas server dan menangkap tubuhnya.

​Darah merah segar mulai membasahi kaus hitamnya yang lusuh. Ia merintih, namun matanya tetap tajam. "Aku tidak apa-apa... hanya tergores... masukkan servernya ke sekoci!"

​"Berhenti berbohong padaku!" air mataku pecah, menyatu dengan air laut yang membasahi wajahku. Aku merobek sebagian kain mantel pelayan yang masih kupakai, menekannya ke luka bahunya. "Kau sudah berdarah selama tiga tahun untukku, Devan! Jangan berani-berani mati sekarang!"

​Devan menatapku, sebuah senyuman pahit muncul di bibirnya yang pucat. "Aku belum akan mati, Anya. Belum sebelum aku melihatmu memakai toga kelulusan."

​Vincent berhasil menurunkan sekoci ke air. "Cepat! Kapal ini mulai miring!"

​Kami melompat ke dalam sekoci kecil yang terombang-ambing liar di atas gelombang. Devan memegang kemudi mesin tempel kecil, sementara aku dan Vincent berusaha mengeluarkan air yang mulai masuk ke sekoci. Di belakang kami, kapal nelayan tua yang membawa kami dari Malaysia perlahan-lahan tenggelam ke dalam pelukan Selat Malaka, membawa api dan asapnya ke dalam kedalaman.

​Kami kini sendirian di tengah laut. Tanpa lampu. Tanpa arah yang pasti. Hanya ada suara napas Devan yang berat dan gemericik air yang menghantam kayu sekoci.

​"Mereka masih mengejar?" tanyaku dengan suara bergetar.

​Vincent melihat ke belakang melalui teropong malam kecilnya. "Lampu-lampu itu... mereka melambat. Sepertinya mereka kehilangan jejak kita di antara beting karang ini. Tapi begitu matahari terbit, kita akan terlihat jelas seperti titik hitam di atas kertas putih."

​Aku menunduk, menatap Devan yang kini bersandar di tepian sekoci, tangannya masih memegang kemudi meski wajahnya semakin pucat. Aku mendekat, duduk di antara kakinya, membiarkan ia menyandarkan kepalanya di bahuku.

​"Tidurlah sebentar, Van. Biar aku yang mengawasi," bisikku.

​"Tidak bisa, Nya... aku harus membawamu sampai ke daratan..."

​"Kau sudah membawaku sejauh ini," aku memegang tangannya yang dingin. "Sekarang giliranku. Aku mengingat jalan menuju pelabuhan tikus di perbatasan Sumatera. Ayah sering membawa koleksi barang antiknya lewat sana. Aku tahu koordinatnya."

​Devan menatapku dengan tatapan tidak percaya yang perlahan berubah menjadi rasa bangga yang luar biasa. "Kau benar-benar tidak lagi menjadi porselen, ya?"

​"Porselen itu sudah pecah, Devan. Dan pecahannya cukup tajam untuk memotong siapa pun yang mencoba menyentuh kita," jawabku mantap.

​Malam itu, di atas sekoci kecil di bawah langit Indonesia yang kelam, kami tidak lagi menjadi buronan yang ketakutan. Kami adalah pejuang yang sedang meniti garis garam menuju keadilan.

​[KILAS BALIK SINEMATIK - SUDUT PANDANG DEVAN]

​FADE IN:

​INT. ARENA TARUNG BAWAH TANAH - MALAM HARI (1 TAHUN LALU)

​Suara sorakan "HANTU! HANTU!" bergema di ruangan bawah tanah yang pengap. DEVAN (18 tahun) berdiri di atas ring yang terbuat dari kayu bekas. Ia baru saja menjatuhkan lawan yang ukurannya dua kali lipat darinya. Tangannya gemetar, bukan karena takut, tapi karena kelelahan yang luar biasa.

​Ia berjalan menuju sudut ring, di mana seorang pria tua dengan cerutu di mulutnya—seorang pelatih taktis jalanan—sedang menunggunya.

​PELATIH

"Kau bertarung seperti orang yang ingin mati, Nak. Itu berbahaya. Orang yang ingin mati tidak akan bisa melindungi apa pun."

​DEVAN

(Sambil membasuh wajahnya dengan air dingin)

"Aku tidak ingin mati. Aku hanya tidak takut pada rasa sakit. Ada perbedaan besar di sana."

​PELATIH

"Kalau begitu, ingat ini. Di laut atau di jalanan, musuh terbesarmu bukan senjata mereka. Tapi rasa panikmu. Jika kau terjepit, masuklah ke tempat yang paling berbahaya bagi mereka, tapi aman bagimu. Karang yang tajam hanya akan melukai kapal yang terlalu angkuh untuk melambat."

​Devan mengangguk pelan, menyimpan nasihat itu jauh di dalam benaknya. Ia kemudian mengambil selembar foto Anya yang sudah mulai kusam dari saku celananya, menatapnya sejenak sebelum menyembunyikannya kembali.

​DEVAN (V.O)

"Malam itu, aku belajar bahwa untuk menyelamatkan Anya, aku harus menjadi lebih tajam dari karang yang paling runcing sekalipun. Aku harus menjadi tempat yang paling berbahaya bagi mereka."

​FADE OUT.

​Cahaya fajar mulai muncul di ufuk timur, memberikan warna ungu dan jingga yang aneh pada permukaan laut. Di kejauhan, garis hijau hutan bakau Sumatera mulai terlihat.

​"Kita sampai," bisik Vincent, suaranya penuh kelegaan.

​Namun, kegembiraan itu sirna saat sebuah suara helikopter kembali terdengar di atas kepala kami. Kali ini bukan satu, tapi dua. Dan dari arah pantai, beberapa kapal cepat polisi air sudah menunggu dengan lampu sirene yang menyala.

​"Mereka menutup pantai," Devan berdiri dengan susah payah, memegang pistolnya kembali. "Satria tidak ada di sini. Ini bukan tim penjemput."

​"Lalu siapa?" tanyaku panik.

​"Orang-orang yang ingin memastikan data itu tidak pernah sampai ke pengadilan," Devan menatapku, lalu ia memberikan tas server itu kepadaku. "Anya, dengarkan aku baik-baik. Begitu kita mendarat di bakau, kau lari bersama Vincent. Jangan menoleh. Masuklah ke dalam hutan sampai kau menemukan mercusuar tua yang ada di peta ibumu."

​"Tidak! Aku tidak akan meninggalkanmu lagi!" tangisku meledak.

​"Kau tidak meninggalkanku! Kau sedang membawa peluru kita! Tanpa data itu, semua luka di tubuhku ini tidak ada gunanya!" Devan memegang wajahku, mencium keningku dengan sangat dalam. "Aku akan menahan mereka di sini. Aku berjanji, aku akan mencarimu lagi. Seperti yang kulakukan selama tiga tahun ini."

​Sekoci kami menghantam akar-akar bakau yang licin. Devan mendorongku dan Vincent keluar dari sekoci. Saat aku berdiri di atas lumpur yang dalam, aku melihat Devan memutar sekoci itu kembali ke arah laut, bersiap menghadapi kepungan kapal cepat dan helikopter sendirian.

​"LARI, ANYA! JANGAN MENOLEH!"

​Aku berbalik dan berlari menembus rimbunnya hutan bakau, dengan air mata yang mengalir deras dan detak jantung yang terasa seperti ingin meledakkan dadaku. Di belakangku, suara tembakan kembali pecah, bersaing dengan suara deburan ombak dan raungan helikopter.

​Elegi kami belum berakhir. Ia baru saja memasuki gerakan yang paling tragis.

​[BERSAMBUNG KE BAB 35]

1
Afri
gila bener ayahnya Anya .. sedendam itu sama Devan
apa ayah Devan yg membunuh ibu Anya ??
Afri
ternyata Devan ada d kehidupan Anya sebelum kecelakaan
Misterios_Man: masih revisi kak masih agak bingung, tapi ya nikmatin aja lah😄
total 1 replies
marchang
lanjuttt thorr
Misterios_Man: Siap boss/Ok/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!