NovelToon NovelToon
Obsesi Sang Guru Misterius

Obsesi Sang Guru Misterius

Status: sedang berlangsung
Genre:Action
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: who i am?

Sinopsis / Deskripsi
Adella hanyalah seorang perempuan sederhana yang menjalani hidup dengan ritme yang tenang—mungkin terlalu tenang hingga terasa hampa. Kesehariannya berubah ketika ia bertemu dengan sosok pendidik yang karismatik, seseorang yang menawarkan "kehangatan" dan perhatian yang belum pernah Adella rasakan sebelumnya.
Bagi Adella, guru ini adalah pelindung, tempatnya bersandar dari kerasnya dunia. Namun, di balik tutur kata yang lembut dan tatapan yang menenangkan, tersimpan rahasia gelap yang tersusun rapi di balik dinding rumahnya yang sunyi.
Satu per satu kejanggalan mulai muncul. Perhatian yang semula terasa manis perlahan berubah menjadi obsesi yang menyesakkan. Adella segera menyadari bahwa kehangatan yang ia dambakan bukanlah sebuah pelukan, melainkan sebuah jerat. Di dunia yang penuh intrik ini, Adella harus memilih: tetap terbuai dalam kenyamanan yang semu, atau melarikan diri sebelum ia menjadi bagian dari koleksi rahasia sang guru.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon who i am?, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 27

Udara Jakarta terasa lebih berat dari yang diingat Adella. Bukan hanya karena polusi yang menyesakkan, tetapi karena setiap sudut kota ini sekarang terasa seperti sirkuit elektronik yang sedang mengawasinya. Dengan paspor Kanada palsu atas nama Claire Vance, seorang jurnalis lepas untuk isu pendidikan, Adella melangkah keluar dari Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta. Kacamata hitam berbingkai tebal menutupi ketajaman matanya, dan wig pendek berwarna cokelat madu mengubah siluet wajahnya yang biasanya elegan menjadi lebih kasual.

Viona berada di sebuah unit apartemen sewaan di Batam, bertindak sebagai pusat komando nirkabel. Melalui earpiece yang ditanam jauh di dalam lubang telinga Adella, suara Viona terdengar jernih namun penuh kekhawatiran.

"Status SMA Persada saat ini adalah Black Site, Adella. Secara resmi, gedung itu sedang dalam renovasi total setelah insiden kebakaran enam bulan lalu. Namun, citra satelit menunjukkan adanya aktivitas pemasangan antena frekuensi rendah dan pengamanan perimeter dengan sensor panas. Jangan sekali-kali mendekati gerbang utama."

"Aku tidak berencana mengetuk pintu depan, Viona," bisik Adella sambil masuk ke dalam taksi yang sudah dipesan secara anonim. "Aku tahu celah di laboratorium biologi yang tidak pernah diperbaiki sejak zaman Pak Adwan."

Taksi itu berhenti dua blok dari area SMA Persada. Adella turun, membawa tas kamera besar yang sebenarnya berisi peralatan peretasan fisik dan perangkat pelumpuh sinyal buatan Zero. Ia menyusuri gang-gang sempit di balik kompleks sekolah, tempat di mana tembok-tembok kusam dipenuhi coretan grafiti—sebuah kontras yang nyata dengan teknologi mutakhir yang kini bersembunyi di baliknya.

Ia memanjat pagar belakang dengan ketangkasan yang lahir dari bulan-bulan pelatihan intensif selama di Singapura. Begitu kakinya menyentuh tanah, ia segera merunduk di balik rimbunnya pohon kamboja. Di depannya, gedung sekolah yang dulu penuh dengan suara tawa siswi kini berdiri kaku, jendela-jendelanya ditutup dengan pelat baja gelap.

Adella bergerak menuju ventilasi ruang laboratorium biologi. Dengan alat pemotong laser kecil, ia membuka pengait besi itu dan menyelinap masuk. Ruangan itu dingin, suhunya diatur secara konstan untuk menjaga integritas perangkat keras yang kini memenuhi setiap meja praktikum. Di tengah ruangan, sebuah kursi medis berdiri tegak, dikelilingi oleh layar yang menampilkan grafik aktivitas otak manusia.

"Viona, aku di dalam. Sinkronkan posisiku," bisik Adella.

"Diterima. Adella, ada aktivitas di lantai dua. Perpustakaan lama. Seseorang baru saja mengaktifkan lampu utama di sana."

Adella menaiki tangga darurat dengan gerakan hantu. Pintu perpustakaan sedikit terbuka, membiarkan seberkas cahaya putih pucat jatuh di lantai koridor. Dengan pulpen jarum beracun di tangan kanan, Adella mendorong pintu itu.

Bukannya Aristho atau Pak Adwan, Adella melihat seorang anak laki-laki kecil sedang duduk di meja tempat dulu ia sering mengerjakan tugas sastra. Anak itu tampak mungil di tengah rak-rak buku yang menjulang. Ia mengenakan seragam sekolah Persada yang lama, tampak sangat rapi seolah sedang menunggu jam pelajaran dimulai.

Itulah Lukas Mahendry.

Anak itu tidak menoleh, namun suaranya memecah keheningan dengan nada yang sangat dewasa. "Kamu telat dua menit, Kak Adella. Ayah bilang kamu adalah orang yang sangat menghargai waktu."

Adella membeku. Panggilan "Ayah" itu merujuk pada Julian, namun cara anak itu berbicara—datar, tanpa intonasi emosi, namun memiliki ritme yang sangat mirip dengan cara bicara Pak Adwan—membuat bulu kuduknya berdiri.

"Di mana Julian, Lukas?" tanya Adella, menjaga jarak aman.

Lukas perlahan memutar kursinya. Mata anak itu... Adella belum pernah melihat mata seperti itu. Hitam pekat, tanpa binar kehidupan, seolah-olah semua data di dunia telah diserap ke dalam pupilnya.

"Ayah sedang 'istirahat' di tempat yang aman. Dia tidak ingin melihat kegagalan lagi," Lukas menunjuk ke sebuah tablet di meja. "Aku sedang membaca bab tentangmu. Subjek 042: Cenderung memberontak karena keterikatan emosional pada figur ibu. Solusi: Eliminasi total keterikatan tersebut."

"Mereka mencuci otakmu, Nak," ujar Adella lembut, mencoba mendekat.

"Otakku tidak dicuci, Kak. Otakku dioptimalkan," Lukas berdiri. Ia mengambil sebuah pulpen hitam dari sakunya—pulpen yang sama dengan milik Pak Adwan. "Arsitek bilang, kamu adalah sketsa yang salah. Aku adalah cetak biru yang benar. Dan tugasku hari ini adalah menghapus kesalahan itu."

Tiba-tiba, lampu di perpustakaan berkedip merah. Suara sirene terdengar dari kejauhan.

"Adella! Itu jebakan! Tim taktis Arkana masuk dari gerbang depan!" teriak Viona di telinganya.

Lukas tidak lari. Ia justru tersenyum—sebuah senyum mekanis yang mengerikan. "Jangan takut, Kak. Pelajaran pertama ini hanya tentang cara berpisah."

Lukas menekan sebuah tombol di tabletnya, dan tiba-tiba rak-rak buku besar di perpustakaan itu mulai bergeser, menutup pintu keluar dan menjebak Adella di tengah labirin kayu. Dari langit-langit, gas tidur mulai menyembur keluar.

Adella segera menutup hidungnya dengan masker filtrasi. Ia harus membuat keputusan cepat: menangkap Lukas sebagai kunci untuk menghancurkan Arkana, atau menyelamatkan dirinya sendiri sebelum gedung ini terkepung total.

"Lukas, ikut aku! Mereka hanya menggunakanmu!" teriak Adella di tengah kepulan gas.

Lukas menggeleng. "Aku tidak digunakan. Aku adalah sistemnya."

Anak itu menghilang di balik rak yang berputar. Adella mencoba mengejarnya, namun guncangan hebat melanda gedung tersebut. Sebuah ledakan dari luar menghancurkan sebagian dinding perpustakaan. Tim taktis berbaju hitam mulai turun dari helikopter menggunakan tali.

Adella melompat melewati reruntuhan dinding, mendarat di atap gedung laboratorium. Di bawah sana, ia melihat Lukas digiring masuk ke dalam kendaraan lapis baja oleh pria-pria bersenjata. Sebelum masuk, anak itu menoleh ke atas, menatap Adella, dan menggerakkan bibirnya tanpa suara.

"Sampai jumpa di bab selanjutnya, Kak."

Adella terengah-engah, melihat kendaraan itu melaju kencang meninggalkan kompleks sekolah. Ia menyadari satu hal yang mengerikan: Lukas bukan hanya subjek. Lukas adalah pusat kendali berjalan yang baru. Perang ini bukan lagi soal menghancurkan organisasi, tapi soal menghentikan seorang anak yang telah menjadi senjata pemusnah massal digital.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!