Aira Maharani, 28 tahun, dikenal sebagai gadis mungil dan cantik dengan dedikasi tinggi di bidang keuangan. Kariernya di salah satu anak perusahaan Satria Group berjalan stabil hingga ia dipindahkan ke unit yang lebih besar, sebuah kesempatan yang seharusnya menjadi langkah maju. Namun, harapan itu berubah menjadi kecanggungan ketika ia mengetahui bahwa direktur barunya adalah Bimantara Dwi Cahyo, putra pemilik Satria Group sekaligus mantan kekasihnya di masa SMA.
Dulu, Aira memilih mengakhiri hubungan mereka karena merasa prestasinya menurun sejak berpacaran dengan Bima. Keputusan itu meninggalkan luka yang tampaknya belum sepenuhnya sembuh bagi Bima. Kini, dalam posisi sebagai atasan, Bima kerap memberi tekanan dan tugas berlebihan kepada Aira, seolah membalas masa lalu yang belum selesai.
Meski awalnya dipenuhi ketegangan dan konflik, interaksi mereka mulai berubah seiring berjalannya waktu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Robby Ido Wardanny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 17
Begitu sampai di rumah bibinya, Aira langsung diarahkan masuk ke kamar. Udara rumah itu terasa lebih hangat dibandingkan dinginnya ruang perawatan yang beberapa hari terakhir menjadi tempatnya terbaring. Namun, alih-alih merasa lega, wajah Aira justru menunjukkan ekspresi tidak puas.
“Aira, kamu istirahat dulu. Jangan banyak bergerak,” ujar bibinya dengan nada tegas, nyaris tanpa ruang untuk ditawar.
Aira mendengus pelan. Ia menjatuhkan tubuhnya ke kasur, menatap langit-langit kamar dengan tatapan kosong.
“Istirahat lagi…” gumamnya lirih, lebih seperti protes pada dirinya sendiri daripada kepada siapa pun.
Sudah berhari-hari ia hanya berbaring. Bangun, makan, minum obat, lalu kembali tidur. Rutinitas itu terasa seperti penjara yang tidak terlihat. Ia muak. Sangat muak.
“Kenapa? Tidak suka?” tanya bibinya, menyilangkan tangan di dada.
Aira mengalihkan pandangan. “Bukan tidak suka… cuma bosan saja.”
Belum sempat ia melanjutkan, bibinya langsung mendekat dan—tanpa aba-aba—menarik telinganya.
“Aduh! Bibi!” Aira meringis kesakitan.
“Bosan, katanya?” omel bibinya. “Kemarin siapa yang bikin ulah sampai masuk rumah sakit? Sekarang disuruh istirahat malah banyak alasan.”
Aira hanya bisa memejamkan mata, menahan rasa sakit sekaligus rasa bersalah yang diam-diam muncul.
“Kalau kamu tidak aneh-aneh, tidak akan begini jadinya,” lanjut bibinya, kini nadanya sedikit lebih lembut meski tetap tegas. “Jadi, tidak ada protes. Istirahat itu wajib.”
Aira akhirnya mengangguk kecil. “Iya, Bi…”
Bibinya menghela napas, lalu menepuk pelan bahu Aira sebelum keluar dari kamar. “Tidur. Jangan macam-macam.”
Pintu tertutup perlahan, meninggalkan Aira sendirian dengan pikirannya.
Beberapa detik ia hanya berbaring diam. Lalu, dengan gerakan malas, ia meraih ponselnya yang tergeletak di samping bantal. Layar menyala, memantulkan cahaya lembut ke wajahnya.
Tanpa berpikir panjang, ia membuka grup kantor—divisi finance.
Jempolnya bergerak pelan, menggulir layar.
Ia sempat ragu. Jujur saja, sebagian dari dirinya takut melihat apa yang akan ia temukan. Ia sudah mengundurkan diri. Ia pergi dalam keadaan yang… tidak baik. Tidak ada jaminan mereka akan membicarakannya dengan baik.
Namun rasa penasaran menang.
Satu per satu chat terbaca.
Topik pekerjaan masih berjalan seperti biasa. Laporan, revisi, candaan ringan. Tidak ada yang aneh. Tidak ada yang menyebut namanya secara terang-terangan.
Aira mengernyit.
“Mereka… tidak membahas aku?” gumamnya pelan.
Ia menggulir lagi, lebih cepat kali ini.
Hingga akhirnya—
Ia berhenti.
Sebuah percakapan lama, terselip di antara obrolan lain.
Tentang dirinya.
Tentang kejadian saat ia melawan Pandu. Tentang ancaman yang ia terima. Tentang kondisi mentalnya yang sempat membuatnya ingin mengakhiri hidup.
Aira menelan ludah.
Matanya bergerak membaca satu per satu pesan.
“Aku tidak nyangka Aira seberani itu…”
“Semoga dia baik-baik saja…”
“Jujur, aku kangen dia…”
“Dia orangnya baik, cuma lagi kena masalah saja…”
Aira terdiam.
Tidak ada hinaan.
Tidak ada cibiran.
Tidak ada kalimat yang menyudutkannya.
Yang ada justru… kekhawatiran. Kerinduan.
Tangannya gemetar sedikit saat menggenggam ponsel.
“Kenapa…” bisiknya.
Air matanya mulai menggenang.
Ia mengira mereka akan menjauh. Menganggapnya sebagai masalah. Bahkan mungkin menyalahkannya.
Namun kenyataannya justru sebaliknya.
Mereka peduli.
Dan itu membuat dadanya terasa sesak dengan cara yang berbeda.
“Aku… malah pergi begitu saja…” ucapnya pelan.
Perasaan bersalah menyelinap masuk, perlahan tapi pasti.
Ia menutup mata sejenak, mencoba menenangkan diri. Namun belum sempat ia tenggelam lebih jauh dalam pikirannya, notifikasi baru muncul di layar.
Nama yang sangat ia kenal.
Ayunda.
Aira langsung membuka pesan itu.
“Aira, kamu sudah pulang? Aku mau jenguk.”
Dalam sekejap, ekspresi Aira berubah. Kesedihan yang tadi memenuhi wajahnya perlahan tergantikan oleh secercah kebahagiaan.
Ia segera mengetik balasan.
“Aku sudah di rumah bibi. Kamu mau ke sini?”
Tidak butuh waktu lama.
“Aku ke sana sekarang. Kirim lokasi.”
Aira tersenyum kecil. Ia langsung membagikan lokasi rumah bibinya.
Beberapa detik kemudian, pesan baru masuk lagi.
“Kamu mau makan apa? Aku bawakan.”
Aira menggigit bibirnya pelan.
Ia ragu.
“Tidak usah, Ayu. Aku sudah merepotkan kamu…”
Balasan datang hampir seketika.
“Jangan mulai. Aku tetap bawa sesuatu.”
Aira tertawa kecil, meski matanya masih sedikit sembab.
“Terserah kamu…”
“Ya sudah. Aku bawa buah. Biar kamu cepat sehat.”
“Aku juga ajak Desi, ya.”
Mata Aira langsung berbinar.
“Serius?”
“Iya. Dia juga kangen kamu.”
Aira menatap layar ponselnya beberapa detik, lalu menarik napas panjang.
“Terima kasih…”
Ia tidak mengetik itu. Namun perasaan itu jelas terasa di dalam hatinya.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa… ditunggu.
Sementara itu, di tempat lain—
Bima berdiri di depan sebuah pintu apartemen. Wajahnya datar, namun sorot matanya tajam.
Tangannya terangkat, mengetuk pintu.
Tok. Tok. Tok.
Tidak lama, pintu terbuka.
Seorang pria muncul—Pandu.
Di belakangnya, terlihat seorang gadis yang tampak santai, seolah tidak terganggu dengan kehadiran tamu tak diundang itu.
Pandu tersenyum sinis. “Aku pikir kamu tidak mau melihatku lagi.”
Bima tidak membalas senyum itu. “Itu benar.”
Nada suaranya dingin.
“Lalu?” Pandu menyandarkan tubuhnya di pintu.
“Aku ke sini untuk urusan lain.”
Pandu mengangkat alis. “Menarik. Silakan.”
Bima menatapnya lurus. “Aku ingin kamu keluar dari perusahaan.”
Senyum Pandu tidak hilang. Bahkan sedikit melebar.
“Langsung ke inti. Aku suka itu.”
“Tapi sayangnya,” lanjut Bima, “aku tidak bisa memecatmu begitu saja.”
Pandu terkekeh pelan. “Karena ayahku?”
Bima tidak menjawab. Tapi itu sudah cukup sebagai jawaban.
Pandu mengangkat bahu. “Kalau begitu, aku tidak perlu peduli.”
Bima menatapnya beberapa detik, lalu berkata, “Aku punya solusi.”
Pandu memiringkan kepala. “Oh? Aku penasaran.”
Bima berbalik. “Ikut aku.”
Beberapa menit kemudian, mereka berada di tempat parkir apartemen yang sepi. Suasana sunyi, hanya terdengar gema langkah kaki mereka.
Bima berhenti. Berbalik menghadap Pandu.
“Kita selesaikan ini dengan cara sederhana.”
Pandu tersenyum, seperti sudah menebak. “Berkelahi?”
Bima mengangguk. “Kalau aku menang, kamu keluar dari perusahaan dan pergi jauh.”
Pandu tertawa kecil. “Dan kalau aku yang menang?”
Bima menatapnya tajam. “Aku tidak akan ikut campur urusanmu dan Aira.”
Nama itu membuat suasana berubah sejenak.
Pandu menyipitkan mata. “Kesepakatan yang menarik.”
Bima tidak berkata apa-apa lagi.
Pandu melangkah mendekat. “Kamu yakin? Sudah lama tidak berkelahi, bukan?”
Bima tersenyum tipis. “Aku tidak mungkin kalah dari pria yang hanya bisa mempermainkan wanita.”
Senyum Pandu berubah menjadi lebih tajam.
“Baiklah.”
Tanpa aba-aba, Pandu langsung menyerang.
Di saat yang sama, di rumah bibinya—
Suara bel pintu terdengar.
Aira yang sedang duduk di kasur langsung menoleh.
“Itu pasti mereka…” gumamnya.
Beberapa detik kemudian, pintu kamar terbuka.
“Aira!” suara Ayunda terdengar ceria.
Aira tersenyum lebar. “Ayu!”
Ayunda langsung mendekat dan memeluknya dengan hati-hati. “Kamu bikin kaget saja…”
Aira membalas pelukan itu pelan. “Maaf…”
Di belakangnya, Desi berdiri sambil tersenyum canggung.
“Aira…” ucapnya.
Aira menatapnya dan tertawa kecil. “Kamu kelihatan kurusan.”
Desi menghela napas. “Jangan dibahas. Aku sendirian di kantor sekarang. Sepi sekali.”
Aira merasa dadanya sedikit sesak mendengar itu.
“Maaf…”
Desi menggeleng cepat. “Bukan salahmu.”
Ayunda meletakkan kantong buah di meja. “Ini. Jangan protes.”
Aira tersenyum. “Terima kasih…”
Mereka bertiga kemudian duduk bersama. Suasana hangat perlahan mengisi ruangan.
“Aku tidak menyangka semuanya jadi seperti ini,” ujar Aira pelan.
Desi menatapnya. “Kami juga.”
Aira menunduk. “Aku menyesal… tapi sudah terlambat.”
Ayunda langsung menimpali, “Tidak semuanya harus kamu sesali.”
Aira menggeleng. “Aku tetap pergi. Aku meninggalkan kalian.”
Desi tersenyum kecil. “Kami tidak ke mana-mana.”
Aira terdiam.
Kalimat sederhana itu terasa begitu berat.
“Aku akan cari kerjaan lain,” lanjut Aira, mencoba mengalihkan pembicaraan.
Ayunda mengangguk. “Itu bagus.”
Lalu ia teringat sesuatu. “Oh iya, soal uang kost kamu…”
Aira langsung menatapnya. “Kenapa?”
“Aku mau balikin. Rasanya tidak enak.”
Aira langsung menggeleng. “Tidak usah. Aku masih mau kost di sana.”
Ayunda terlihat ragu. “Tapi…”
“Aku serius,” potong Aira.
Ayunda menghela napas. “Aku cuma… khawatir.”
Aira menatapnya. “Khawatir apa?”
Ayunda terdiam sejenak, lalu berkata pelan, “Aku takut kamu melakukan hal yang berbahaya lagi.”
Suasana mendadak hening.
Aira tidak langsung menjawab.
Ia hanya menunduk, memandangi tangannya sendiri.
Beberapa detik berlalu.
Lalu ia menarik napas panjang.
“Aku tidak akan seperti itu lagi.”
Suaranya pelan, tapi jelas.
Ayunda menatapnya, mencoba membaca kesungguhan di balik kata-kata itu.
“Aku janji,” lanjut Aira.
Kali ini, Ayunda tersenyum tipis.
Desi juga mengangguk pelan.
Dan untuk pertama kalinya setelah semua yang terjadi, Aira merasa… mungkin, semuanya belum benar-benar berakhir.