"Salah klik jurusan saat kuliah adalah bencana, tapi bangun dari koma dan bisa melihat hantu adalah petaka!"
Arini, dokter forensik yang aslinya clumsy dan penakut, harus menerima kenyataan pahit: ia terbangun dari koma dengan "bonus" mata batin terbuka. Kini, ruang otopsinya jadi ramai! Ia harus membedah mayat sambil mendengarkan curhat para arwah yang menuntut keadilan (dan permintaan konyol lainnya).
Untungnya, ada Mika—hantu gadis Tionghoa yang centil dan bar-bar—yang setia membantu Arini mengungkap fakta medis lewat "jalur gaib".
Masalahnya satu: Tunangan Arini, Baskara, adalah Jaksa kaku yang skeptis dan hanya percaya logika. Baskara memang bucin parah, tapi bagaimana jadinya jika sang Jaksa tahu bahwa bukti-bukti kemenangan kasusnya berasal dari bisikan makhluk halus?
Di tengah konspirasi maut yang mengancam nyawa, Arini harus memilih: Tetap waras di antara para hantu, atau terjebak dalam pelukan posesif sang Jaksa yang benci takhayul?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15: Labuhan di Balik Badai
Lobi Hotel Grand Astari malam itu tampak begitu megah dengan pilar-pilar marmer yang menjulang tinggi dan lampu gantung kristal yang membiaskan cahaya keemasan. Namun, bagi Arini, keindahan itu hanyalah lapisan tipis. Di sudut-sudut lobi, di balik sofa beludru mewah, ia melihat "penghuni" lain.
Ada seorang pria tua dengan pakaian pelayan zaman dulu yang berdiri kaku di dekat lift, dan seorang wanita bergaun merah yang duduk sendirian di bar—padahal bar itu sudah tutup sejak satu jam yang lalu.
Arini mengeratkan pegangannya pada lengan Baskara. Biasanya, tanpa kehadiran Mika yang cerewet, Arini akan gemetar ketakutan melihat pemandangan seperti ini. Tapi malam ini berbeda.
Baskara menyadari kegelisahan istrinya. Ia merangkul pinggang Arini dengan posesif, menarik tubuh mungil itu agar semakin menempel pada tubuhnya yang hangat.
"Abaikan mereka, Arini," bisik Baskara tepat di telinga Arini, suaranya rendah dan memberikan getaran tenang. "Tatapanmu hanya boleh untukku malam ini. Anggap saja dunia ini hanya milik kita berdua."
Arini mendongak, menatap rahang tegas Baskara yang tampak membayang di bawah lampu lobi. "Aku merasa aman, Bas. Aneh, ya? Meskipun Mika tidak ada untuk melindungiku, selama aku mencium aroma sandalwood dari jasmu, hantu-hantu itu terasa tidak lebih dari sekadar bayangan lewat."
Baskara tidak menjawab dengan kata-kata. Ia justru mengecup pelipis Arini dengan lembut sambil menunggu kunci kamar diberikan oleh resepsionis. Petugas hotel itu sempat melirik heran melihat kemesraan mereka yang begitu intens, namun segera menunduk saat melihat tatapan tajam nan berwibawa dari sang Jaksa.
"Mari, Nyonya Adhitama," ucap Baskara saat mereka melangkah menuju lift.
Di dalam lift yang berdinding cermin, Arini melihat pantulan mereka. Di belakang mereka, arwah wanita bergaun merah tadi sempat mencoba masuk, namun begitu ia melihat aura kemarahan dan perlindungan yang memancar dari diri Baskara, arwah itu mendesis dan urung melangkah. Baskara benar-benar "pagar" hidup bagi Arini.
Pintu kamar Presidential Suite itu tertutup dengan bunyi klik pelan, mengunci semua kengerian dunia luar—baik yang bernapas maupun yang tidak. Di dalam kamar yang luas ini, hanya ada cahaya temaram dari lampu sudut yang memberikan rona keemasan pada kulit mereka.
Baskara melepaskan dasinya dengan gerakan pelan, matanya tidak sedetik pun lepas dari Arini. Ada binar yang berbeda di mata sang Jaksa malam ini; bukan ketajaman seorang penegak hukum, melainkan keinginan seorang pria yang baru saja melewati maut demi istrinya.
"Bas..." bisik Arini. Suaranya terdengar sangat kecil di tengah kesunyian kamar yang kedap suara itu.
Baskara melangkah maju, memerangkap tubuh Arini di antara dirinya dan pintu yang tertutup. Ia menunduk, menghirup aroma melati dan sisa parfum yang masih menempel di ceruk leher Arini. "Sudah kubilang, Arini. Malam ini, jangan lihat yang lain. Hanya aku."
Tangan Baskara yang hangat dan kokoh naik membelai pipi Arini, lalu jemarinya menyusuri garis rahang istrinya dengan sangat lembut. Arini memejamkan mata, menikmati sentuhan itu. Aroma sandalwood yang maskulin dari tubuh Baskara seolah menjadi obat bius yang menyingkirkan bayangan hitam Sari dari ingatannya.
Baskara menunduk, mendaratkan kecupan-kecupan halus di kening, kedua mata, dan ujung hidung Arini, sebelum akhirnya bibir mereka bertemu. Awalnya kecupan itu terasa ragu dan lembut, seolah Baskara takut Arini akan pecah jika ia terlalu menuntut. Namun, saat Arini membalas dengan melingkarkan lengannya di leher Baskara, ciuman itu berubah menjadi dalam dan posesif.
Arini merasakan degup jantung Baskara yang kuat di dadanya. Di saat seperti ini, ia baru menyadari betapa ia sangat mencintai pria kaku ini. Pria yang siap melawan hantu maupun ayahnya sendiri demi dirinya.
Baskara melepaskan tautan bibir mereka sejenak, napasnya memburu. Ia menatap Arini dengan tatapan yang sangat dalam. "Aku ingin kamu tahu, Arini... setiap inci dari diriku adalah milikmu. Dan malam ini, aku ingin kamu merasakan itu tanpa ada rasa takut lagi."
Baskara mengangkat tubuh Arini dengan mudah, membawanya menuju tempat tidur besar yang tampak begitu nyaman. Ia merebahkan Arini di atas kelopak mawar dengan sangat hati-hati, seolah Arini adalah harta paling berharga yang pernah ia temukan.
Malam itu, di bawah selimut sutra yang lembut, ketakutan Arini akan dunia gaib benar-benar lenyap. Setiap sentuhan Baskara, setiap bisikan sayangnya yang parau, dan kehangatan kulit mereka yang bersentuhan membuat Arini merasa benar-benar utuh. Tidak ada suara jeritan Sari, tidak ada bau kemenyan, hanya ada suara napas mereka yang saling bersahutan di tengah keheningan malam yang manis.
Baskara memeluk Arini sangat erat setelahnya, membiarkan kepala Arini bersandar di dadanya yang bidang. Ia mencium puncak kepala Arini berkali-kali, posesif sekaligus menenangkan.
"Tidurlah, Istriku," bisik Baskara sambil mengelus punggung Arini dengan irama yang menenangkan. "Aku akan menjagamu sampai pagi tiba. Tidak akan ada yang berani mengganggumu lagi."
Arini tersenyum di balik dekapan Baskara, matanya perlahan terpejam dengan damai. Untuk pertama kalinya sejak bangun dari koma, Arini bisa tidur tanpa harus melihat bayangan di sudut ruangan. Karena baginya, pelukan Baskara adalah satu-satunya dunia yang ingin ia tempati selamanya.
lanjut thorr
lagian botol parfum taro diluar dulu deh rin kalo mau bikin anak. hantu lu resek🤭🤣🤣🤣