NovelToon NovelToon
My Love Never Left

My Love Never Left

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Zanesa

Alexander Kingsley pernah menjadi seluruh dunia bagi Aurora Quinn. Pria itu mencintainya tanpa syarat dan berjanji menjadikannya bagian dari masa depannya.

Namun tanpa peringatan, Aurora
menghancurkan semuanya. Ia berubah, menjauh, menyakiti Alexander, lalu pergi begitu saja. Sejak hari itu, Alexander membencinya.

​Lima tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka kembali. Namun Alexander yang dulu hangat telah menghilang, berganti menjadi CEO muda yang dingin, angkuh, dan tak tersentuh. Tatapan penuh cintanya kini berubah menjadi tatapan penuh kebencian.

​Sementara Aurora harus menghadapi pria yang tidak pernah tahu bahwa selama lima tahun ini, ia hidup dengan luka yang sama.

​Ada rahasia dan kebenaran yang disembunyikan. Ada alasan mengapa Aurora memilih menjadi wanita paling jahat dalam kisah mereka.

​"Jika suatu hari kau mengetahui alasan aku pergi, apakah kau masih sanggup membenciku, Alexander?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zanesa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 20

Malam yang kian larut itu terasa semakin mencekam. Di dalam ruang kerja pribadi yang terkesan dingin dan mewah milik keluarga Kingsley, Victoria Kingsley menatap Sophia Laurent dengan tatapan mata yang teramat tajam menelisik.

Gadis muda dari kalangan elite itu tampak duduk dengan pembawaan yang sangat tenang di hadapannya. Terlalu tenang, seolah-olah ia telah memikirkan dan merencanakan setiap untaian kalimat yang akan keluar dari bibirnya dengan sangat matang.

Victoria perlahan-lahan meletakkan cangkir teh porselennya ke atas meja, menciptakan denting halus yang memecah keheningan. "Apa sebenarnya maksud dari perkataanmu itu, Sophia?" tanya Victoria menuntut penjelasan langsung.

Sophia menyunggingkan sebuah senyuman tipis di bibirnya. "Saya pikir... kita berdua saat ini sama-sama tidak menginginkan keberadaan gadis seperti Aurora Quinn untuk terus berada di sisi hidup Alexander, Nyonya," jawab Sophia frontal tanpa ragu.

Ruangan luas itu seketika langsung dilingkupi keheningan yang senyap.

---

Victoria sama sekali tidak terlihat terkejut mendengar pengakuan berani itu. Justru sebaliknya, raut wajah wanita paruh baya itu tampak sangat tenang—terlampau mahir dalam menyembunyikan isi kepalanya yang sebenarnya.

"Sophia," panggil Victoria dengan nada suara yang teratur.

"Ya, Nyonya?" sahut Sophia menanggapi.

"Aku adalah tipe orang tua yang paling tidak suka untuk ikut campur ke dalam urusan hubungan asmara anakku sendiri," bohong Victoria dengan nada datar.

Sophia hampir saja tertawa hambar mendengar klaim sepihak tersebut. Sebab di dalam lingkaran dunia sosialita mereka, semua orang tahu betul bahwa kalimat itu sama sekali tidak benar. Victoria mungkin memang tidak pernah mengontrol jalan hidup Alexander secara terang-terangan di depan publik, namun wanita itu selalu menggunakan pengaruh besarnya di balik layar untuk mengarahkan masa depan sang putra tunggal. Termasuk dalam hal menentukan siapa sosok yang pantas menjadi pasangan hidupnya.

---

Sophia memundurkan sedikit posisi duduknya, menyandarkan tubuhnya dengan anggun pada sandaran kursi. "Nyonya Kingsley," panggil Sophia dengan nada meyakinkan. "Saya sudah mengenal sosok Alexander sejak kami masih sangat lama tumbuh bersama."

Victoria tetap bergeming di tempatnya, memilih diam untuk mendengarkan argumen sang gadis.

Sophia melanjutkan untaian kalimatnya, mempertegas posisinya. "Saya tahu persis pria seperti apa dia, dan saya juga tahu dengan sangat jelas masa depan megah seperti apa yang paling pantas untuk bersanding dengannya."

Sesaat kemudian, binar di sepasang mata cantik milik Sophia mendadak berubah menjadi sedikit lebih dingin.

"Dan faktanya, gadis beasiswa seperti Aurora Quinn sama sekali bukan bagian dari masa depan cerah yang kumaksud itu, Nyonya," tegas Sophia menyudutkan kasta Aurora.

Victoria memperhatikan gurat ambisi di wajah wanita muda di hadapannya itu selama beberapa saat. Kemudian, ia melemparkan sebuah pertanyaan pribadi yang menohok. "Apakah kamu seserius itu mencintai putraku, Sophia?" tanya Victoria menyelidik.

Sophia tersenyum pahit mendengar pertanyaan tersebut. Dan untuk pertama kalinya sepanjang malam itu, topeng percaya diri yang selama ini ia agungkan tampak sedikit runtuh, menampilkan gumpalan luka yang nyata.

"Sangat, Nyonya. Saya sangat mencintainya," ungkap Sophia dengan nada suara yang bergetar tulus.

Victoria kembali terdiam membisu. Karena sebagai seorang wanita, ia bisa melihat ada sebuah ketulusan dan keputusasaan yang teramat nyata di balik jawaban singkat milik Sophia Laurent.

---

Sementara itu di belahan sisi kota yang terpisah, Aurora Quinn sama sekali tidak mengetahui tentang konspirasi besar yang tengah bergulir di kediaman Kingsley.

Gadis itu saat ini sedang duduk sendirian di meja belajar kamar apartemennya, mencoba fokus untuk mengerjakan deretan tugas kuliah yang menumpuk. Namun, fokusnya terus-menerus buyar. Pikirannya berulang kali melayang kembali pada memori pesta malam itu; kepada tatapan menghakimi dari Victoria, dan kepada kalimat-kalimat kejam yang terus-menerus terngiang di dalam kepalanya laksana kaset rusak.

"Kamu sama sekali tidak cocok untuknya."

Aurora menghela napas panjang, memijat pelipisnya yang mulai terasa pening. "Ayo fokus, Aurora. Fokus," gumam Aurora pada dirinya sendiri, mencoba mengusir pikiran buruk itu. Namun, ia tetap gagal total.

---

Tepat di saat ia sedang dirundung kegelisahan, ponsel di atas mejanya tiba-tiba saja bergetar hebat, menampilkan sebuah panggilan video masuk.

Alexander Kingsley is calling...

Melihat nama sang kekasih tertera di layar, seulas senyuman manis spontan terbit di wajah Aurora. Begitu ia menggeser tombol hijau dan wajah tampan Alexander muncul di layar, Aurora merasakan suasana hatinya yang semula mendung mendadak menjadi sedikit lebih baik.

"Halo, Alex," sapa Aurora hangat ke arah kamera.

Alexander menyunggingkan senyuman tipisnya dari seberang sana. "Kamu sedang sibuk melakukan apa saat ini?" tanya Alexander membuka percakapan.

"Aku sedang sibuk mengerjakan tugas kuliah," jawab Aurora bohong.

"Kamu berbohong," potong Alexander cepat dengan binar jenaka di matanya.

Aurora mengernyitkan dahinya, pura-pura tidak terima. "Kok kamu bisa tahu kalau aku berbohong?" tanya Aurora menantang.

"Tentu saja aku tahu. Karena sedetik sebelum menjawab pertanyaanku tadi, kamu sedang melamun dengan tatapan kosong, Aurora," tutur Alexander terkekeh pelan.

Aurora langsung tertawa lepas mendengar analisis yang terlalu akurat itu. Pria kasta atas di seberang sana memang benar-benar sudah mengenali setiap detail tabiatnya dengan terlampau baik.

---

Di saat Aurora dan Alexander sedang asyik saling bertukar tawa lewat panggilan video, di belahan tempat lain, percakapan antara Victoria dan Sophia justru berjalan semakin serius dan mengarah pada niat buruk.

"Lalu, apa sebenarnya yang ingin kamu lakukan sekarang, Sophia?" tanya Victoria dengan nada menuntut kejelasan rencana.

Sophia tidak langsung memberikan jawaban. Ia menjeda kalimatnya selama beberapa saat, sebelum akhirnya berkata dengan nada dingin yang teratur. "Saya hanya ingin membuat Aurora Quinn segera tersadar dari mimpi indahnya, Nyonya," jawab Sophia tenang.

Victoria mengernyitkan dahinya dalam-dalam. "Sadar dalam hal apa maksudmu?" tanya Victoria lagi.

"Sadar bahwa dirinya yang miskin tidak akan pernah bisa cocok untuk masuk ke dalam belahan dunia milik Alexander," urai Sophia dengan tatapan mata yang berangsur mendingin. "Jika gadis itu memang cukup pintar dan tahu diri, dia pasti akan memilih untuk berjalan pergi menjauh dengan sendirinya tanpa perlu kita usir."

---

Victoria tidak memberikan jawaban verbal ataupun persetujuan secara terang-terangan atas rencana tersebut. Namun, jauh di dalam lubuk hatinya yang terdalam, Victoria Kingsley dipastikan tidak membenci ide kejam yang baru saja dilontarkan oleh Sophia.

Sebab secara prinsip, ia juga mempercayai doktrin kenyataan yang sama; bahwa hubungan asmara antara putranya yang berada di kasta tertinggi dengan seorang gadis pelayan kafe tidak akan pernah bisa bertahan lama menghadapi kerasnya realitas dunia nyata.

---

Beberapa hari kemudian setelah malam pesta yang menegangkan itu berlalu, atmosfer di area lingkungan kampus kembali berjalan ramai seperti biasanya.

Aurora baru saja melangkahkan kakinya keluar dari ruang kelas setelah jam kuliah terakhir selesai, ketika tiba-tiba saja dari arah tikungan koridor yang ramai, seseorang berjalan tergesa-gesa dan langsung menubruk tubuhnya dengan cukup keras.

Bruk!

"Aduh!" pekik Aurora spontan.

Akibat hantaman mendadak itu, seluruh deretan buku-buku teks tebal yang berada di dalam dekapannya seketika terlepas dan jatuh berserakan di atas lantai marmer. Aurora dengan segera ikut berjongkok ke bawah, berniat untuk memunguti kembali barang-barangnya yang berserakan.

Namun, belum sempat jemarinya menyentuh buku pertamanya, sepasang sepatu hak tinggi berharga mahal tampak menghentikan langkah kaki tepat di hadapannya. Aurora perlahan-lahan mengangkat kepalanya ke atas untuk melihat siapa sang pemilik sepatu, dan seketika itu juga seluruh tubuhnya mendadak membeku di tempat.

Sosok itu tidak lain adalah Sophia Laurent.

---

Sophia membungkukkan tubuhnya anggun, mengambil salah satu buku milik Aurora yang terjatuh, lalu menyerahkannya kembali dengan gestur yang sangat berkelas. "Maafkan aku, ya. Aku tidak sengaja menabrakmu tadi," ucap Sophia dengan nada suara yang terdengar halus.

Aurora mengernyitkan dahinya sedikit bingung di tempatnya berdiri. Sebab, ini adalah untuk pertama kalinya dalam sejarah seorang Sophia Laurent yang angkuh bersedia melontarkan kata maaf secara langsung kepadanya. "Iya, tidak apa-apa, Sophia," jawab Aurora mencoba bersikap ramah kesopanan.

Sophia menyunggingkan sebuah senyuman di bibirnya—sebuah senyuman yang sekilas terlihat begitu ramah bagi orang awam yang melihatnya. Namun entah mengapa, jauh di dalam lubuk hatinya, Aurora justru merasakan sebuah intuisi ketidaknyamanan yang luar biasa besar merayap di dadanya. Sangat tidak nyaman.

---

"Aurora," panggil Sophia dengan nada suara yang mendadak melembut, menghentikan langkah kaki Aurora yang baru saja hendak beranjak pergi.

"Hm? Iya, ada apa lagi, Sophia?" tanya Aurora menolehkan kepalanya sopan.

Sophia menatap lekat-lekat wajah cantik Aurora selama beberapa detik penuh arti, sebelum akhirnya ia membisikkan sebuah kalimat dengan nada yang teramat pelan namun sarat akan intimidasi mental.

"Aku hanya ingin memberikan sedikit saran yang tulus kepadamu... Kuharap kamu tidak terlalu menaruh harapan yang terlampau tinggi dalam hubungan ini, Aurora," bisik Sophia tenang.

Aurora mengernyitkan dahinya dalam-dalam karena tersinggung dengan kelancangan itu. "Apa sebenarnya maksud dari perkataanmu itu, Sophia?" tanya Aurora menuntut penjelasan tegas.

Sophia kembali mengulas senyuman tipisnya. Namun kali ini, senyuman manis di wajah indahnya itu justru terasa laksana sebilah pisau tajam tak kasat mata yang sengaja dihunuskan tepat ke arah jantung pertahanan Aurora.

"Sebab... belahan dunia milik seorang Alexander Kingsley itu bertingkat jauh lebih kejam dan mengerikan daripada apa yang mampu dibayangkan oleh otak sederhanamu itu, Aurora Quinn," pungkas Sophia tajam memperingatkan.

Setelah melemparkan untaian kalimat intimidasi tersebut, Sophia langsung berbalik tubuh dan berjalan pergi begitu saja meninggalkan koridor kampus, meninggalkan Aurora yang masih berdiri terpaku sendirian di tengah keramaian.

Aurora meremas buku-buku di dekapannya dengan erat, merasakan sebuah firasat buruk yang teramat pekat perlahan-lahan mulai tumbuh mengakar di dalam hatinya. Dan tanpa pernah Aurora sadari... sebuah permainan konspirasi yang sebenarnya untuk menghancurkan kebahagiaannya baru saja resmi dimulai hari ini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!