Di sudut kota Bogor yang basah oleh hujan, Farrel (22 tahun) hanyalah seorang supir angkot jurusan Baranangsiang–Bubulak yang hidupnya di ujung tanduk.
Setiap hari ia harus menahan lapar, dicaci maki oleh kernet lain, difitnah mencuri uang setoran oleh mandor pangkalan, dan puncaknya: diputuskan oleh kekasihnya karena tidak mampu membelikan kuota internet. Modal hidupnya setiap hari setelah setoran hanyalah sebungkus nasi rames karet dua dan sebatang rokok eceran.
Namun, sebuah insiden pengeroyokan oleh oknum ormas di Terminal Baranangsiang mengubah takdirnya. Saat sekarat, sebuah suara mekanis bergema di otaknya: [Sistem Afeksi Kekayaan Berhasil Diaktifkan].
Sistem ini memberikan Farrel saldo tak terbatas, namun dengan syarat gila: uang tersebut hanya bisa digunakan untuk membiayai atau membelikan barang untuk wanita yang memiliki potensi afeksi (rasa suka) terhadapnya. Setiap kali persentase Favorability (tingkat kesukaan) wanita tersebut naik, saldo pribadi Farrel akan berlipat g
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Wahyuni92, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode: 15
Keheningan di lobi apartemen mewah itu terasa begitu mencekam. Seratus lima puluh pasang mata menatap Farrel yang berdiri sendirian tanpa senjata di tangan.
Di balik meja resepsionis, beberapa petugas keamanan apartemen sudah tiarap di lantai dengan tubuh gemetar, tidak berani bernapas terlalu keras.
Kapten Guntur menatap Farrel dari ujung kepala sampai ujung kaki, lalu meledak dalam tawa yang menghina.
"Hahaha! Jadi lu bocah supir angkot yang bikin Jenderal Hermawan murka? Sendirian? Lu pikir ini film aksi, hah?!"
Guntur mengangkat pistol semi-otomatisnya, mengarahkan moncongnya tepat ke arah dada Farrel.
"Gua gak punya waktu buat main-main. Mati lu, bocah!"
Dor! Dor.!
Suara tembakan menggema keras merobek keheningan lobi. Namun, apa yang terjadi berikutnya membuat mata Kapten Guntur hampir melompat keluar dari rongganya.
Tepat saat pelatuk ditarik, tubuh Farrel bergeser dengan kecepatan yang tidak bisa ditangkap oleh mata telanjang. Stat kecepatannya yang berada di angka 23 membuat gerakannya seperti kilatan bayangan.
Peluru kaliber 9mm itu melesat kosong, menghantam dinding kaca di belakang Farrel hingga retak seribu.
"Apa?!" Guntur tertegun.
Belum sempat ia menarik pelatuk untuk kedua kalinya, Farrel sudah berada tepat di hadapannya. Jarak lima meter terpangkas dalam kedipan mata.
Brak! Brak!
Tangan kanan Farrel melesat maju secepat kilat, mencengkeram pergelangan tangan Guntur yang memegang pistol.
Dengan kekuatan stat 25 yang setara dengan lima pria berotot, Farrel memutar pergelangan tangan itu ke arah berlawanan.
Krakkk!
"ARRRGHHH!!!"
Guntur menjerit histeris saat tulang pergelangan tangannya patah, menembus kulit hingga darah segar menyembur.
Pistol di tangannya jatuh, namun sebelum menyentuh lantai, Farrel menangkapnya dengan tangan kiri, memutarnya, dan menghantamkan popor pistol itu tepat ke rahang Guntur.
Bugh!
Guntur terlempar tiga meter ke belakang, giginya rontok berhamburan, dan ia langsung terkapar pingsan tak sadarkan diri di atas lantai marmer yang putih bersih.
Pemimpin mereka tumbang dalam waktu kurang dari tiga detik!
"K-Kurang ajar! Dia bukan manusia! Sikat dia!!! Cepat sikat!!!"
teriak salah satu wakil Guntur yang mulai panik.
Seratus lima puluh preman bayaran itu langsung bergerak maju bagaikan air bah. Parang, celurit, dan besi pemukul diayunkan secara membabi buta dari segala arah, mengepung Farrel dalam lingkaran maut.
Farrel menyeringai kejam. Aura pembunuh yang pekat meledak dari tubuhnya.
Di bawah pengaruh kemampuan Mata Sang Penguasa, semua ayunan senjata tajam di sekitarnya bergerak sangat lambat, seperti ranting pohon yang bergoyang ditiup angin sepoi-sepoi.
Wuss!
Farrel merunduk menghindari tebasan parang dari kanan.
Sambil berputar, ia melayangkan pukulan lurus ke arah rusuk pria penyerangnya. Hantaman tangan kosong Farrel begitu kuat hingga terdengar suara rusuk yang remuk berkeping-keping.
Pria itu terlempar menghantam tiga temannya di belakang.
Farrel bergerak bagai hantu di antara kerumunan.
Setiap kali tangannya bergerak, satu nyawa melayang atau setidaknya cacat permanen. Ia merebut sebilah parang panjang dari tangan musuh yang patah tebasannya.
Sret! Sret! Sret!
Gaya bertarung dari Seni Bela Diri Militer Mematikan tingkat maksimal yang diberikan sistem mulai bekerja secara otomatis.
Gerakan Farrel sangat efisien, tidak ada ruang untuk koreografi yang sia-sia—setiap tebasan dan tusukan langsung mengincar titik fatal: leher, jantung, dan urat nadi.
Darah segar mulai memercik, membasahi kemeja putih Farrel hingga berubah warna menjadi merah pekat.
Lantai marmer lobi apartemen yang tadinya putih bersih kini tertutup oleh genangan darah dan potongan tubuh manusia.
Jeritan kesakitan, erangan sekarat, dan bunyi besi beradu memenuhi ruangan, menciptakan simfoni kematian yang mengerikan.
"Ampun! Ampun! Dia monster! Lari!!!"
Setelah lima menit pembantaian sepihak itu berlangsung, nyali para preman bayaran itu runtuh sepenuhnya.
Dari seratus lima puluh orang, kini hanya tersisa sekitar tiga puluh orang yang masih bisa berdiri, itu pun dengan tubuh yang gemetar hebat dan celana yang basah karena mengompol ketakutan.
Mereka melihat ke sekeliling; ratusan teman mereka sudah terkapar tak bernyawa dengan kondisi mengenaskan.
Farrel berdiri di tengah-tengah lautan mayat tersebut.
Jas hitamnya sudah robek di beberapa bagian, dan kemeja putihnya kini basah kuyup oleh darah musuh. Ia membuang parang di tangannya yang sudah tumpul dan bengkok ke atas tumpukan mayat.
Wajah tampannya yang terpercik noda darah menatap sisa preman yang ketakutan itu.
"Bilang sama Jenderal Hermawan... malam ini, gua sendiri yang bakal dateng ke rumahnya buat ambil kepalanya."
Tanpa perlu diperintah dua kali, sisa preman itu langsung berbalik arah dan lari tunggang langgang keluar dari apartemen, bahkan ada yang merangkak karena lemas.
【 Ting! Tugas Mandiri Selesai dengan Sangat Sempurna! 】
【 Anda berhasil membantai faksi penyerang Jenderal Hermawan sendirian! 】
【 Selamat! Pengguna mendapatkan Hadiah Utama: Tambahan Saldo Tunai Pribadi sebesar Rp 500.000.000 dan membuka Target Wanita Kedua secara otomatis! 】
【 Sistem sedang melacak lokasi Target Wanita Kedua dalam radius dekat... 】
【 Melacak... Target Wanita Kedua Ditemukan! 】
【 Analisis Target: Clarissa Alexandra (23 tahun). Tingkat Kecantikan: 92/100 (Sangat Menawan/Wanita Karier Kelas Atas). Status: Perawan. Jabatan: CEO Mandala Group (Perusahaan Properti Terbesar di Bogor). Lokasi: Sedang disandera di dalam mobil mewah di area parkir bawah tanah apartemen ini oleh beberapa anak buah Jenderal Hermawan! 】
Farrel menghapus sisa darah di sudut bibirnya dengan punggung tangan. Matanya berkilat tajam mendengar informasi dari sistem.
"Clarissa Alexandra... CEO Mandala Group?" Farrel tersenyum sinis.
Jenderal Hermawan ternyata tidak hanya mengirim orang untuk membunuhnya, tapi juga memanfaatkan kekacauan ini untuk menculik salah satu wanita paling berpengaruh di Bogor.
Farrel meregangkan jarinya kembali.
"Pas banget. Sambil menyelam minum air.
" Mari kita lihat seindah apa wanita kedua yang disiapkan sistem buat gua."
Dengan langkah mantap yang meninggalkan jejak kaki berdarah di atas lantai marmer, Farrel berjalan menuju pintu darurat yang mengarah ke area parkir bawah tanah, bersiap untuk memulai babak baru dalam penaklukan kota Bogor.