Usai memutuskan hubungan dua setengah tahun dengan Reza, Tari merasa lelah dengan drama cinta dan tekanan keluarga. Belum sembuh sepenuhnya, ia dipaksa ibunya mengikuti kencan buta—dan takdir malah mempertemukannya dengan Aldo, adik kandung mantan pacarnya sendiri.
Wajahnya mirip, tapi sikapnya sangat berbeda: lebih dingin, lebih tajam, dan seolah menyimpan rahasia serta dendam tersembunyi. Pertemuan yang dipaksa keluarga perlahan membangkitkan perasaan yang tak seharusnya ada. Di tengah gosip lingkungan dan luka lama yang mulai terbuka kembali, Tari dihadapkan pada satu pertanyaan berat:
Apakah ia berhak merasakan bahagia di samping orang yang masih terikat erat dengan masa lalunya yang menyakitkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HebiKage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kenangan Yang Tak Akan Pernah Pudar
Pagi itu, tepat pukul delapan, ponselku yang tergeletak di meja kecil di samping kasur tiba‑tiba bergetar perlahan. Sebuah pesan masuk muncul di layar—pengirimnya: Aldo.
“Selamat pagi, Tari. Hari ini kamu ada jadwal kegiatan tertentu tidak?”
Segera aku membalasnya, “Selamat pagi, Aldo. Tidak ada jadwal apa‑apa. Memangnya kenapa?”
Tak lama, pesan balasan pun datang, “Kalau begitu aku akan menjemputmu pukul sembilan pagi. Kita akan berkeliling Jakarta bersama.”
Aku sedikit bingung membacanya, lalu mengetik balik, “Berjalan‑jalan keliling Jakarta? Ke mana saja kira‑kira?”
Jawabannya datang cepat, “Ke tempat‑tempat yang menyimpan banyak kenangan indah bagimu.”
Senyum perlahan mengembang di bibirku. Aku pun menulis, “Tempat apa saja maksudnya?”
“Itu kejutan buatmu,” tulisnya singkat.
Aku sedikit mengeluh, “Aldo, kamu tahu kan aku tidak terlalu suka hal‑hal yang berupa kejutan.”
Namun ia menjawab dengan nada yang penuh keyakinan, “Justru kamu sangat menyukainya. Kamu saja belum menyadarinya saat ini.”
Aku menghela napas panjang seolah pasrah, namun tak bisa menahan senyum yang terus muncul di wajahku. Aku pun menyetujui, “Baiklah kalau begitu. Aku tunggu pukul sembilan.”
“Siap, sampai jumpa,” balasnya menutup percakapan itu.
***
Tepat pukul sembilan pagi, kendaraan Aldo sudah terlihat berhenti rapi di depan pagar tempat kosanku.
Ia turun sebentar untuk membukakan pintu penumpang. Hari ini ia mengenakan kemeja putih lengan panjang—gaya berpakaian yang selalu menjadi ciri khasnya—namun kali ini ujung lengannya digulung rapi hingga mencapai siku, sehingga terlihat jam tangan kulit berwarna coklat tua yang selalu ia kenakan. Rambutnya disisir rapi ke belakang, dan kacamata bingkai hitamnya masih setia bertengger di pangkal hidung yang mancung. Penampilannya sederhana namun selalu tampak berwibawa dan menenangkan hati.
“Selamat pagi, Tari,” sapanya lembut begitu aku duduk di sampingnya.
“Selamat pagi, Aldo,” jawabku sambil mengencangkan sabuk pengaman. “Jadi, hari ini kita benar‑benar mau ke mana saja?”
Aldo hanya tersenyum penuh misterius saat menyalakan mesin kendaraan. “Kamu akan mengetahuinya sebentar lagi, begitu kita sampai di sana.”
“Aldo… kamu ini ya…” desahku sambil menggeleng pelan.
“Bersabarlah sedikit ya, Tari. Nikmati saja setiap detik perjalanan kita pagi ini,” katanya tenang sambil mengemudikan mobil perlahan meninggalkan kawasan kosan.
Aku pun diam, bersandar nyaman di bantalan kursi, lalu menatap ke luar jendela kaca. Mobil melaju melewati jalan‑jalan yang sudah sangat kukenal baik sejak lama: melewati pasar tradisional yang riuh dengan suara pedagang dan pembeli, melewati pertigaan lampu merah yang seringkali padat kendaraan, hingga melewati bangunan Sekolah Dasar tempat aku dulu pertama kali belajar mengenal huruf dan angka.
Jakarta… kota yang sering disebut bising, macet, dan terik panasnya menyengat. Namun bagiku, kota inilah tempatku tumbuh, tempatku mengenal orang‑orang terkasih, dan kota yang menyimpan ribuan kisah berharga.
***
Tujuan pertama kami adalah: SMA Negeri 71 Jakarta, tempat aku dan Maya menghabiskan masa‑masa remaja kami.
Aldo memarkirkan kendaraannya tepat di pinggir jalan raya, berhadapan langsung dengan gerbang sekolah yang kokoh. Bangunan ini tampak masih persis sama seperti dulu: dinding luar berwarna putih bersih dengan garis cat biru di bagian bawahnya, lapangan upacara yang luas dan rata, serta pohon beringin raksasa yang tumbuh rindang di halaman depan, seolah menjadi penjaga setia kenangan ribuan siswa yang pernah belajar di sini.
“Kenapa tiba‑tiba kita berhenti di sini?” tanyaku dengan nada bingung, menoleh ke arahnya.
Aldo menatapku lembut. “Tempat inilah yang menjadi awal kamu tumbuh menjadi gadis yang kukenal sekarang, bukan? Dulu kamu pernah bercerita kalau kamu seringkali pergi ke perpustakaan saat jam pelajaran kosong atau saat ingin menenangkan diri.”
Aku tertegun sejenak, tak menyangka ia masih mengingat hal sekecil itu. “Kamu… kamu masih ingat hal yang kuceritakan begitu lama?”
“Aku mengingat segala hal yang pernah kamu ceritakan kepadaku, Tari. Tak ada satu pun yang terlupakan,” jawabnya tegas dan tulus.
Kami berdua turun dari mobil, lalu berjalan beriringan menuju gerbang sekolah yang masih terbuka lebar. Di bawah naungan pohon beringin yang teduh itu, aku menunjuk sebuah bangku kayu panjang yang permukaannya sudah mulai halus karena sering diduduki orang.
“Di sini… tepat di bangku kayu ini,” ceritaku perlahan, “Dulu aku dan Maya sering duduk berdua saat jam istirahat makan siang.”
“Ceritakan padaku apa saja yang kalian lakukan di sini,” pinta Aldo sambil duduk di bangku itu, mempersilakanku duduk di sebelahnya.
“Maya selalu membawa bekal makanan dari rumah—biasanya nasi uduk yang gurih, sepotong ayam goreng yang renyah, serta sambal buatan ibunya yang pedasnya pas sekali,” kenangku sambil tersenyum mengingat masa lalu. “Sedangkan aku… aku hampir selalu lupa membawa bekal sendiri. Akhirnya Maya tak pernah keberatan, ia selalu membagi makanannya denganku.”
Aldo menatapku dengan pandangan yang penuh pengertian. “Apakah kamu benar‑benar lupa, atau justru sengaja melakukannya supaya bisa berbagi makan bersamanya?”
Aku tertawa kecil sambil menundukkan wajah. “Bisa jadi… memang aku sengaja saja, supaya ada alasan untuk duduk lama mengobrol dengannya.”
Aldo ikut tertawa renyah mendengar jawabanku itu. “Maya memang gadis yang sangat baik hati dan tulus.”
“Iya benar. Dia adalah sahabat terbaik yang pernah kumiliki seumur hidupku,” jawabku dengan nada bangga.
“Kamu pasti akan bertemu dan mengobrol dengannya lagi di sini, di Jakarta, nanti,” ucap Aldo menenangkan.
“Masih harus menunggu waktu dua tahun lagi,” gumamku pelan.
“Dua tahun itu bukanlah waktu yang lama, Tari. Percayalah, waktu akan berlalu lebih cepat daripada yang kamu bayangkan,” katanya meyakinkan.
Aku menatapnya lekat‑lekat. “Kamu yakin sekali ya?”
Aldo segera menggenggam tanganku erat dan hangat. “Aku yakin sepenuh hati.”
***
Tujuan kedua kami: Perpustakaan Umum Jakarta, tempat yang sering menjadi tempat persembunyianku saat masih remaja.
Aldo memarkirkan kendaraan di area parkiran gedung yang luas itu. Bangunan perpustakaan ini tampak megah dan kokoh, berlantai empat, dengan dinding depan yang sebagian besar terbuat dari kaca bening yang memantulkan cahaya matahari. Saat kami melangkah masuk ke dalam, udara sejuk dan wangi kertas tua langsung menyapa indra penciuman. Ribuan buku tersusun rapi di atas rak‑rak kayu tinggi yang berderet sepanjang lorong, seolah menawarkan ribuan dunia baru yang bisa dibaca siapa saja.
“Dulu aku sering datang ke sini sendirian, berjam‑jam hanya untuk membaca dan melupakan waktu,” ceritaku sambil berjalan santai di sela‑sela rak buku.
“Datang sendirian saja? Tanpa ditemani Maya?” tanyanya.
“Ya, sendirian. Maya memang tidak terlalu suka berlama‑lama membaca buku. Dia lebih suka jalan‑jalan ke pusat perbelanjaan atau bermain permainan di ponselnya,” jelasku sambil tertawa mengingat sifat sahabatku itu.
Aldo ikut tertawa mendengarnya. “Dia pernah bilang padaku kalau dia sangat pandai bermain permainan Mobile Legends, benar bukan?”
“Iya, benar sekali. Dia sangat jago dan seringkali mengajakku ikut main, padahal aku sama sekali tidak mengerti cara memainkannya,” jawabku.
“Kalau begitu aku harus belajar main juga, supaya nanti bisa bertanding bersamanya,” canda Aldo.
“Nanti saja. Setelah aku berangkat ke Melbourne,” kataku pelan.
Tiba‑tiba tangan Aldo terulur mengambil sebuah buku dari rak di sebelahnya—novel berjudul “Laskar Pelangi” karya Andrea Hirata. Ia menatap sampul buku itu sejenak.
“Buku ini pernah kamu baca, Tari?” tanyanya.
“Pernah. Dulu saat aku masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama,” jawabku.
“Dan kamu menyukai ceritanya?”
“Sangat menyukai. Terutama bagian yang menceritakan tentang perjuangan para ibu yang rela berkorban apa saja demi masa depan anak‑anaknya,” jawabku dengan nada lembut.
Aldo membuka halaman pertama, membaca beberapa baris paragraf dengan tenang, lalu menutup kembali buku itu rapi.
“Aku akan membeli buku ini hari ini,” katanya tiba‑tiba.
“Kenapa harus buku ini?” tanyaku heran.
“Karena ini adalah salah satu buku favoritmu. Aku ingin membacanya juga, ingin memahami apa yang membuatmu menyukainya, dan ingin merasakan apa yang pernah kamu rasakan saat membaca kisah‑kisah di dalamnya,” jawabnya tulus.
“Aldo… kamu ini benar‑benar…” ucapku tercekat oleh rasa haru.
“Aku hanya ingin mengenalmu lebih dalam lagi, Tari,” potongnya lembut sambil kembali menggenggam tanganku erat. “Aku sangat menyayangimu.”
“Aku pun sangat menyayangimu, Aldo,” jawabku dengan suara yang penuh ketulusan.
Di sanalah, di antara deretan rak kayu yang penuh cerita, kami saling berpelukan sejenak—di tengah keheningan perpustakaan, dikelilingi ribuan kisah yang masih menunggu untuk dibaca dan dihayati.
***
Tujuan ketiga kami: Kafe Senjakala, tempat kami pertama kali mengobrol panjang lebar dengan hati yang terbuka.
Aldo memarkirkan mobilnya tepat di depan halaman kedai yang sudah sangat kami kenal itu. Begitu kami melangkah masuk, Rendra—pemilik kafe—sedang sibuk meracik minuman di balik meja pelayanan. Wajahnya langsung berseri cerah begitu melihat kehadiran kami berdua.
“Wah, pasangan yang selalu tampak serasi akhirnya datang juga,” sapanya ramah sambil tersenyum lebar.
Aldo membalas senyumannya. “Rendra, seperti biasa ya: satu teh chamomile hangat dan satu kopi Americano tanpa gula.”
“Kopi hitam pahit kesukaanmu ya?” Rendra tertawa renyah. “Dasar Aldo, selera dan kebiasaanmu tak pernah berubah sedikit pun.”
“Aku memang suka hal‑hal yang tetap dan konsisten,” jawab Aldo santai.
Kami berjalan menuju meja pojok kesayangan kami—meja yang sama persis, dekat dengan jendela besar yang menghadap ke taman kecil di bagian belakang kedai. Di sanalah awal mula segala obrolan kami bermula.
“Kapan ya kira‑kira hari pertama kita datang ke sini berdua?” tanyaku sambil mengingat‑ingat.
Aldo berpikir sejenak, lalu menjawab dengan pasti, “Kurang lebih dua bulan yang lalu. Saat itu kamu masih tampak sangat canggung duduk berdua denganku.”
Aku tersenyum malu. “Ah, mana ada… aku sama sekali tidak canggung.”
Aldo menatapku dengan pandangan yang penuh ingatan. “Kamu sangat canggung, Tari. Aku perhatikan saat itu tanganmu sibuk memainkan ujung rokmu terus‑menerus sepanjang obrolan berlangsung.”
“Kamu… kamu sampai memperhatikan hal sekecil itu?” tanyaku takjub.
“Aku memperhatikan segala hal tentangmu, setiap saat,” jawabnya lembut namun tegas.
“Aldo…”
“Tari… dengarkan aku baik‑baik,” potongnya sambil menatapku lekat‑lekat, dalam sekali, persis seperti hamparan lautan yang tak bertepi. “Bertemu denganmu dan mengenalmu adalah hal terindah dan terbaik yang pernah terjadi sepanjang hidupku.”
“Aldo, jangan bicara begitu… nanti aku menangis,” desahku pelan, namun air mata sudah mulai menggenang di pelupuk mata.
“Aku takkan pernah melupakan hari‑hari indah ini, di tempat ini, bersamamu,” lanjutnya dengan suara yang sedikit bergetar karena rasa haru.
Butiran air mataku akhirnya jatuh juga membasahi pipi. “Aldo… jangan buat aku menangis begini.”
Aldo segera mengusap air mataku perlahan menggunakan ibu jarinya. “Kamu tahu kan… kamu terlihat sangat cantik saat sedang menangis.”
Aku tertawa kecil sambil menyeka sisa air mata. “Kalimat itu… jangan‑jangan kamu dengar dari Maya ya?”
Aldo tersenyum penuh makna. “Bisa jadi…”
***
Tujuan keempat dan terakhir: Apartemen Aldo.
Bukan kali pertama aku menginjakkan kaki di tempat ini. Namun suasana hari ini terasa sangat berbeda dari biasanya. Mungkin karena di dalam hatiku sudah tertanam kesadaran yang nyata: sebentar lagi aku takkan bisa datang ke sini sesuka hati—setidaknya untuk waktu yang cukup lama.
Aldo membukakan pintu dan mempersilakanku masuk. Ruangan apartemennya tampak sama persis seperti dulu: rak‑rak buku kayu yang berderet rapi menempel di dinding, tanaman kaktus di ambang jendela yang kini mulai tumbuh buah kecilnya, laptop kerja yang selalu terbuka di atas meja tulis, serta secangkir kopi hitam yang sudah dingin dan dibiarkan tergeletak di sampingnya.
“Silakan duduk di mana saja,” katanya sambil menunjuk ke lantai kayu—karena memang ia tidak memiliki kursi sofa di ruang tamunya.
Aku duduk bersandar pada sisi rak buku yang kokoh itu. Aldo pun duduk tepat di sebelahku, jarak kami begitu dekat hingga aku bisa merasakan kehangatan tubuhnya.
“Aldo… ada satu hal yang ingin kutanyakan padamu,” ujarku memecah keheningan.
“Apa saja, silakan,” jawabnya lembut.
“Kamu… kamu tidak merasa takutkah?”
“Takut mengenai apa?” tanyanya balik.
“Takut kalau nanti aku berubah menjadi orang yang berbeda saat berada jauh di Melbourne sana. Takut kalau aku berubah sifat, berubah kebiasaan, atau berubah perasaan,” jelasku pelan apa yang ada di dalam hatiku.
Aldo terdiam sejenak, seolah menyusun kata‑kata yang paling pas untuk menjawab kekhawatiranku itu. Lalu ia menatapku dengan ketenangan yang menembus jauh ke dalam hati.
“Dengarkan aku, Tari. Perubahan adalah bagian alami dari kehidupan ini. Kamu pasti akan berubah seiring berjalannya waktu, menjadi lebih dewasa dan lebih bijak. Aku pun akan ikut berubah dan bertumbuh bersamamu. Namun ada satu hal yang takkan pernah berubah sedikit pun: yaitu perasaanku dan kesetiaanku padamu.”
“Aldo…” suaraku tercekat.
“Aku menyayangimu, Tari. Bukan karena apa yang kamu miliki atau siapa dirimu saat ini saja. Melainkan karena kamu adalah dirimu sendiri—gadis yang kukenal dan kucintai sepenuh hati. Dan aku akan tetap menyayangimu dengan cara yang sama, apa pun yang terjadi di masa depan nanti.”
Aku tak mampu berkata‑kata lagi. Aku hanya bisa menangis—menangis karena bahagia mendengar janji setianya, menangis karena sedih membayangkan perpisahan, menangis pula karena rasa takut kehilangan sosok luar biasa yang ada di sampingku ini.
“Aldo… aku pun sangat menyayangimu. Sampai kapan pun, dan takkan pernah berubah,” ucapku tegas di sela‑sai tangis.
Kami pun saling berpelukan erat di atas lantai kayu apartemennya yang terasa dingin, di antara rak‑rak buku yang penuh kisah dan tanaman kaktus yang tumbuh tegar di dekat jendela.
***
Pukul enam sore, Aldo mengantarku kembali ke tempat kosan.
Mobilnya berhenti perlahan tepat di depan pagar gerbangku. Langit Jakarta mulai berubah warna menjadi jingga kemerahan, tanda bahwa matahari akan segera terbenam di ufuk barat. Cahaya sore itu menerangi wajah Aldo yang tampak teduh dan damai.
“Aldo…” panggilku sebelum beranjak turun dari kendaraan.
“Iya?” jawabnya lembut.
“Terima kasih banyak ya… untuk hari yang indah ini,” ucapku tulus.
“Terima kasih untuk apa saja?” tanyanya ingin tahu.
“Untuk segala hal yang kamu lakukan. Untuk waktu yang kamu luangkan. Untuk kenangan‑kenangan indah yang kamu ajakku telusuri kembali hari ini,” jawabku mendalam.
Aldo tersenyum bahagia. “Sama‑sama, Tari. Aku pun sangat menikmati setiap detiknya bersamamu.”
“Kalau begitu… besok kita bertemu lagi?” tanyaku memastikan.
“Besok juga. Di jam yang sama,” janjinya mantap.
“Baiklah, sampai jumpa besok.”
Aku membuka pintu mobil, melangkah turun, lalu menutup pintu itu perlahan agar tidak menimbulkan suara keras. Sebelum masuk ke dalam pagar kosan, aku berbalik menoleh ke belakang.
Aldo masih duduk diam di dalam mobil, menatap ke arahku dengan senyum yang tak hilang dari bibirnya.
Aku mengangkat tangan melambai sebagai tanda perpisahan sore itu. Ia pun membalas lambaian tangannya dengan lembut.
Aku pun berjalan masuk menuju kamar, menaiki tangga satu per satu, membuka pintu kamar yang sudah kukenal baik, lalu merebahkan tubuhku di atas kasur empuk yang selalu menjadi tempat istirahatku.
Di dalam dadaku, terasa ada perasaan yang sulit sekali untuk kujelaskan dengan kata‑kata—campuran rasa bahagia yang meluap, namun juga rasa sedih yang menyelinap, penuh harapan akan masa depan namun disertai rasa takut akan ketidaktahuan.
Namun di antara segala perasaan itu, ada satu hal yang paling kuat dan mendominasi hatiku saat ini: rasa syukur yang tak terhingga.
Syukur karena aku pernah bertemu dan dicintai oleh sosok seperti Aldo.
Syukur karena aku lahir dan dibesarkan oleh keluarga yang penuh kasih dan selalu mendukung impianku.
Syukur karena aku memiliki sahabat sejati seperti Maya yang tak pernah berubah hatinya.
Syukur karena Tuhan memberiku kesempatan luas untuk mengejar cita‑cita yang kucita‑citakan.
Aku memang akan pergi meninggalkan tanah air ini.
Namun aku berjanji pada diriku sendiri: aku pasti akan kembali.
Kembali dengan membawa ilmu, pengalaman, dan kesuksesan.
Kembali ke tempat di mana segala cintaku berawal.
Janji.