NovelToon NovelToon
Penulis Terjebak; Tolong, Karakter Gue Ngamuk

Penulis Terjebak; Tolong, Karakter Gue Ngamuk

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Romansa Fantasi / Transmigrasi
Popularitas:972
Nilai: 5
Nama Author: Ananda Anggit

"Dewa Penulis... kenapa Kau bikin kami hidup, tapi gak kasih kami arti?" — Lord Valgus, Penyihir Jahat

Gue Leon, dan gue yang bikin dunia ini. Gue yang nulis siapa hidup, siapa mati, siapa kuat, siapa lemah. Tapi gue ngelakuinnya santai banget, asal ketik aja di keyboard. Buat gue, ini cuma cerita hiburan doang.

Sampai akhirnya gue malah terjebak masuk ke dalam cerita itu sendiri.

Ternyata, jadi penulis itu gak enak ya kalau ceritanya sendiri berantakan. Kerajaan megah tapi bentuknya aneh, tokoh-tokohnya punya perasaan sendiri di luar naskah, terus musuh utama malah pengen bunuh gue karena ngerasa hidupnya cuma dipermainkan.

Sekarang gue gak cuma nulis cerita lagi. Gue harus hidup di dalamnya, benerin semua kesalahan gue, dan bikin akhir cerita yang adil buat mereka... sebelum gue dihukum sama karya gue sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ananda Anggit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 5. pertarungan kata dan kekuatan

 Angin malam berubah menjadi tajam dan dingin, membawa bau apek yang bercampur bau busuk, persis seperti suasana di film horor. Kabut hitam itu makin meluas, menutupi seluruh langit desa sampai bintang dan bulan sama sekali tidak terlihat. Warga desa yang baru saja mendapatkan jati diri kini gemetar ketakutan, mundur perlahan sambil saling berpegangan. Mereka tahu, makhluk yang datang ini bukan bahaya biasa. Ini bahaya tingkat dewa.

Lord Valgus berdiri di sana, tingginya dua kali lipat orang biasa. Jubah hitamnya melambai-lambai sendiri seolah ada angin yang berhembus di dalamnya. Matanya menyala merah tajam, menatap lurus ke arah Leon seolah ingin memakannya hidup-hidup. Di belakangnya muncul bayangan-bayangan gelap yang bentuknya seperti manusia namun tidak jelas — pasukan bayangan yang tercipta karena Leon tidak menyelesaikan deskripsi pasukan apa saja yang dimiliki Valgus.

“Kau… kau Valgus ya?!” teriak Zarek dengan gagah, melangkah maju sambil mengangkat pedangnya tinggi-tinggi. “Dengar ya! Aku Zarek, ksatria terkuat Kerajaan Cahaya! Aku tidak akan membiarkanmu menyakiti siapa pun di sini! Apalagi mengancam temanku!”

Valgus hanya melirik sekilas ke arah Zarek, lalu tertawa kecil. Suara tawanya berat, serak, dan membuat bulu kuduk berdiri. “Ksatria terkuat? Hah! Kau hanyalah boneka yang berotak kosong, dia ciptakan hanya untuk hiburan semata. Kau kira kekuatanmu berarti di hadapanku? Aku adalah tokoh utama kejahatan; dia menuliskanku sebagai yang paling kuat, paling dibenci, paling menderita… tapi dia lupa memberiku alasan mengapa aku harus kalah!”

Kalimat terakhirnya diucapkan dengan suara menggelegar, sampai tanah kembali bergetar.

Leon merasa dadanya terasa sesak. Benar semua yang dikatakannya. Leon memang menulis Valgus sebagai penjahat paling kuat dan kejam, membuatnya hidup sendirian di ujung dunia dalam penderitaan, tapi lupa memberikan latar belakang, alasan, maupun kelemahan yang jelas. Akibatnya, seiring waktu Valgus makin kuat, makin marah, dan sulit dikendalikan. Dan kini, seluruh kemarahan itu tertuju langsung pada Leon.

Liora melangkah ke sisi kiri Leon, telapak tangannya mulai bersinar terang dengan cahaya putih keemasan. Wajahnya tenang namun tegas, tidak menunjukkan rasa takut sedikit pun. “Valgus, dengarkan aku. Kami mengerti kemarahanmu, kami mengerti kau merasa diabaikan. Tapi menghancurkan dan menyakiti orang lain tidak akan menyelesaikan masalah. Leon… maksudku, Penulis sudah menyadari kesalahannya. Dia ada di sini untuk memperbaiki semuanya.”

Valgus menatap Liora, matanya menyipit. “Liora… Putri Cahaya. Dia menciptakanmu cantik, baik hati, disayangi semua orang, dan memiliki kekuatan cahaya… tapi dia lupa memberimu kelemahan, lupa memberimu rasa sakit yang nyata. Kau hidup di dunia yang ia buat indah namun hampa. Kau pikir kau bahagia? Kau hanyalah boneka cantik yang ia pajang dalam cerita!”

“Itu tidak benar!” seru Liora dengan suara lantang, cahaya di tangannya makin terang sampai membuat kabut hitam sedikit surut. “Aku nyata! Perasaanku nyata! Rasa takut, rasa senang, rasa sayang… semuanya nyata! Meskipun dia yang menulis, kini akulah yang menentukan jalan hidupku sendiri! Dan aku memilih untuk membela dia, karena dialah satu-satunya yang peduli pada nasib kita semua!”

Leon menatap Liora di sampingnya, hatinya terasa campur aduk. Gadis ini, ciptaannya sendiri, justru menjadi sosok yang paling kuat dan memahami situasi. Dia jauh lebih hebat dibandingkan penulisnya sendiri yang penakut seperti dirinya.

Valgus terdiam sejenak, seolah tertegun mendengar kata-kata Liora. Namun kemudian ia mengaum dengan marah sambil mengangkat tangannya ke atas. “Omong kosong! Semua hanyalah tulisan! Semua hanyalah imajinasinya! Dan aku akan menghancurkan semuanya, agar dia merasakan rasanya kehilangan segalanya persis seperti yang kurasakan!”

Bayangan-bayangan di belakangnya langsung melesat cepat ke arah kami, bersuara mendesis seperti ular.

“Bersiaplah!” teriak Zarek, langsung menyerang paling depan sambil mengayunkan pedangnya ke kanan dan kiri. “AKU KSATRIA TERKUAT! AKU TAK TAKUT PADA BAYANGAN JELEK SEPERTI KALIAN!”

Memang benar, otak Zarek sederhana namun tenaganya luar biasa, persis seperti yang ditulis Leon. Setiap kali pedangnya menyentuh, bayangan itu langsung hancur menjadi asap hitam. Namun jumlahnya makin banyak, terus keluar dari tubuh Valgus bagaikan uap yang tak ada habisnya.

Liora menggerakkan tangannya, cahaya keemasan melesat bagaikan panah, menembus dan membakar bayangan-bayangan itu hingga lenyap. “Leon! Jangan hanya diam! Kau bisa mengubah ini! Gunakan kekuatanmu!”

Leon menatap tas di pinggangnya, merasakan buku catatan di dalamnya. Namun ia merasa bingung. Harus menulis apa? Jika ia menulis “Valgus menjadi baik”, nanti terasa terlalu mudah dan tidak masuk akal. Jika ia menulis “Valgus kalah”, justru akan membuatnya makin marah karena merasa dipermainkan lagi. Ini masalah hati, masalah rasa sakit yang terpendam tidak bisa diselesaikan hanya dengan tulisan perintah semata.

Valgus melangkah maju, langkahnya yang berat membuat tanah di bawahnya retak-retak. Ia mengangkat tangannya yang besar ke arah Leon, dan tiba-tiba Leon merasa tubuhnya terangkat melayang, tertahan oleh kekuatan hitam yang membuat napasnya sesak. Leon terangkat di udara, tepat di hadapan wajah Valgus, begitu dekat hingga ia bisa melihat jelas mata merah dan raut wajah bengisnya.

“Nah… akhirnya bertemu juga dengan wajah aslimu,” bisik Valgus, suaranya hanya bisa didengar Leon. “Lihatlah aku baik-baik, Penulis Ceroboh. Lihat apa yang telah kau ciptakan. Kau berikan aku kekuatan besar, tapi tidak memberiku tempat tinggal. Kau tanamkan rasa benci di hatiku, tapi tidak memberiku alasan untuk membenci. Kau buat aku menjadi penjahat, tapi lupa memberiku kesempatan untuk menjadi baik. Aku hanyalah alat untuk membuat cerita menjadi seru, bukan? Hah?!”

Leon tidak bisa berbicara, tenggorokannya terasa tercekik. Matanya terasa panas, bukan karena takut, melainkan karena rasa bersalah yang luar biasa. Benar semua yang dikatakannya. Leon telah bersikap sangat tidak adil padanya. Ia hanya berpikir agar ceritanya memiliki konflik, musuh, dan tantangan, tanpa memikirkan perasaan dari tokoh yang ia ciptakan.

“Maaf…” bisik Leon pelan, air matanya jatuh tanpa sadar. “Maafkan aku, Valgus… aku sangat bodoh… aku tidak berpikir sejauh itu… aku kira ini hanyalah sebuah cerita…”

Valgus menatap air mata itu, matanya yang merah berkedip sejenak. Ia tampak terkejut. Ia mengira Leon akan marah, mengancam, atau langsung menulis sihir untuk mengalahkannya. Namun yang ia lihat justru ketakutan dan rasa bersalah yang tulus di mata Leon.

“Kau… menangis?” tanya Valgus pelan, kekuatan yang menahan tubuh Leon sedikit mengendur. “Kau… menyesal?”

“Ya!” jawab Leon dengan tegas, napasnya mulai terasa lega. “Aku sangat menyesal! Aku tidak tahu kalau kalian semua akan merasakan hal seperti ini! Aku tidak tahu tulisanku akan menjadi nyata dan membuat kalian menderita! Aku datang ke sini untuk memperbaiki semuanya! Aku ingin memberimu alasan, memberimu tempat tinggal, memberimu akhir cerita yang layak untukmu! Bukan hanya menjadi penjahat yang kalah, tapi menjadi sosok yang memiliki makna!”

Di belakang, Zarek sibuk mengusir sisa bayangan sambil berteriak, “WOI LEON! MENGAPA BERLAMA-LAMA BERBICARA DENGANNYA! LEMPAR SAJA DIA JAUH-JAUH! AKU BANTU MENARIK DARI SINI!”

Namun Liora menahan Zarek, matanya menatap Leon dan Valgus dengan penuh harapan. “Diamlah Zarek… Leon sedang melakukan sesuatu yang jauh lebih kuat daripada pedangmu. Dia sedang berbicara dengan hati Valgus.”

Valgus masih menatap Leon lekat-lekat. Amarah di matanya perlahan bercampur dengan rasa bingung dan kesedihan yang telah lama terpendam. “Kau… ingin memberiku makna? Apa gunanya itu sekarang? Semua sudah hancur. Aku sudah dijuluki penjahat seumur hidup. Aku sudah dibenci oleh semua orang. Kau pikir kata maaf saja cukup untuk menyembuhkan itu?”

“Tidak,” jawab Leon dengan jujur, lalu meraih buku catatan dari dalam tas dan mengangkatnya di hadapan Valgus. “Kata maaf saja memang tidak cukup. Itulah sebabnya aku ada di sini. Aku akan menulis ulang nasibmu, bukan sebagai perintah, melainkan sebagai cerita baru yang kita tulis bersama. Kau memiliki kekuatan terbesar, Valgus. Mengapa harus digunakan untuk memendam amarah? Mengapa tidak digunakan untuk melindungi dunia yang menjadi berantakan karena kesalahanku? Dunia ini penuh celah, hal-hal aneh, dan kekacauan. Ia membutuhkan penjaga yang kuat, yang mengerti rasa sakit, yang mengerti ketidakadilan. Dan hanya kaulah yang paling pantas untuk itu.”

Leon membuka buku catatan itu, memperlihatkan halaman yang kosong dan bersih. Ia memegang pulpennya, lalu menatap kembali mata Valgus.

“Valgus… aku tidak ingin menulis kau menjadi baik secara tiba-tiba. Itu akan terasa palsu. Tapi aku ingin memberimu pilihan. Apakah kau ingin terus hidup sebagai penjahat yang kesepian, atau menjadi pelindung terkuat yang dihormati semua orang? Pilihan ada di tanganmu sekarang. Aku adalah penulisnya, tapi aku tidak ingin lagi menentukan hidup kalian secara sepihak. Mulai sekarang, kaulah yang menentukan nasibmu sendiri. Aku hanya akan membantu menuliskan jalan ceritanya.”

Suasana menjadi hening sejenak. Angin berhenti berhembus. Kabut hitam di sekitar perlahan berubah warna menjadi abu-abu, tidak lagi gelap gulita.

Valgus menurunkan tangannya, dan Leon jatuh perlahan ke tanah. Ia berdiri diam, menatap telapak tangannya yang besar dan penuh bekas luka akibat pertarungan yang ia lalui sendirian selama bertahun-tahun. Ia menatap Liora yang siap bertahan namun memandangnya dengan rasa iba, menatap Zarek yang masih tertegun memegang pedang, serta menatap warga desa yang gemetar namun tampak berharap.

Lalu ia menatap kembali ke arah Leon.

“Pilihan…” gumam Valgus pelan, suaranya tidak lagi terdengar marah, melainkan berat dan lelah. “Selama ini aku tidak pernah punya pilihan. Kau menuliskan aku harus begini, harus begitu. Aku membencimu… tapi aku juga membenci diriku sendiri yang hanya bisa mengikuti tulisanmu.”

Ia menarik napas panjang, lalu jubah hitamnya berkibar hebat. Asap hitam keluar dari tubuhnya dan menyebar ke langit, menghapus kegelapan hingga bintang dan bulan kembali terlihat bersinar terang.

“Kalau begitu…” kata Valgus, matanya yang merah perlahan berubah menjadi warna emas tua yang sama tajamnya namun memiliki makna yang berbeda. “Aku memilih. Aku tidak ingin lagi menjadi penjahat yang dibenci. Aku ingin menjadi orang yang menentukan jalannya sendiri. Dan jika dunia ini rusak karena kesalahanmu… aku akan membantu menjaganya. Agar kau tahu, kekuatanku tidak hanya untuk menyakiti, tapi juga untuk melindungi.”

Leon tersenyum lebar, rasanya ingin berteriak senang sampai tenggorokannya sakit. Aku berhasil! Aku tidak hanya menyelesaikan masalah, tapi juga memperbaiki kesalahan terbesarku.

Zarek melongo sampai rahangnya hampir terlepas. “HAH?! BENARKAH DIA?! BERUBAH MENJADI BAIK SECEPAT INI?! GILA… LEON, SIHIR APA YANG KAU GUNAKAN SEBENARNYA?!”

Liora tersenyum manis, matanya berbinar memandang Leon. Ia melangkah maju dan berdiri di sampingnya, lalu menyentuh lengan Leon dengan lembut. “Sudah kubilang kan… kaulah penulis terbaik untuk kami.”

Valgus menunduk menatap kami, tingginya masih sama namun suasana di sekitarnya sudah terasa sangat berbeda. “Tapi ingat baik-baik, Penulis…” katanya dengan nada tegas namun tidak lagi penuh amarah. “Jika kau menulis sembarangan lagi, jika kau lupa lagi, atau jika kau membuat kami menderita lagi… aku tidak akan bersikap sehalus ini. Aku akan benar-benar marah.”

“Siap, Tuan!” jawab Leon dengan semangat sambil mengacungkan jempol. “Aku berjanji, mulai sekarang aku akan sangat teliti. Aku akan menulis cerita yang paling menarik, paling adil, dan paling membahagiakan untuk semuanya!”

Malam itu berakhir dengan kedamaian yang sesungguhnya. Desa Tenang & Damai benar-benar menjadi tempat yang paling tenang di dunia. Warga desa bernyanyi dengan gembira, merayakan pemberian jati diri dan keselamatan kami.

Kami berempat duduk di pinggir desa sambil memandang langit yang terlihat sangat indah. Valgus duduk agak jauh di bawah pohon besar, diam sambil menatap langit seolah menikmati kebebasan yang baru saja ia dapatkan.

“Besok kita lanjutkan perjalanan menuju Istana Kerajaan Cahaya ya,” kata Liora pelan dengan suara yang lembut. “Di sana masih banyak hal yang perlu diperbaiki. Batas wilayah kerajaan, aturan sihir, dan nasib seluruh dunia masih belum jelas.”

Leon membuka buku catatannya dan menulis baris baru di halaman kosong itu: “Perjalanan menuju istana bukanlah akhir, melainkan awal dari babak baru. Di sana, Leon si Penulis Ceroboh akan tumbuh menjadi Leon si Penulis Sejati, yang akan menjadikan dunia ini tempat terindah yang pernah ada.”

Leon menatap Liora, menatap Zarek yang sudah tertidur sambil mendengkur, menatap Valgus yang tampak tenang, serta menatap seluruh desa yang tampak bahagia.

Leon tersenyum lebar. Ia baru menyadari satu hal: ia tidak hanya ingin kembali ke dunia asalnya. Ia ingin bolak-balik ke sini, menulis, mengubah, dan melindungi dunia ini. Karena ini bukan lagi sekadar cerita. Ini juga menjadi dunianya. Dan mereka… adalah keluarganya.

“Bersiaplah,” bisiknya pada diri sendiri sambil menutup buku catatan itu. “Perjalanan yang panjang dan seru masih menanti. Dan kali ini, aku akan menuliskan semuanya dengan sepenuh hati.”

1
Sarah
Wah... rupanya dia masih memiliki seseorang di dunia asal. Ini pasti jadi akhir arc 1 nih. 😮
Sarah
Aku rasa... aku sepemikiran tentang, “Menciptakan dunia yang cukup kuat untuk terus bercerita meski pena sudah diletakkan”
Di real life... kalau kita baca cerita, ceritanya bagus. Tokohnya hidup. Pokoknya bagus lah. Itu pasti pas udah ada kata “Tamat/End/Selesai” itu sebagai pembaca kita masih bisa membayangkan kehidupan mereka setelah itu. Itu ’kan definisi sebenarnya dari “Menciptakan dunia yang cukup kuat untuk terus bercerita meski pena sudah diletakkan”. Karena penulis udah gak lanjutin ceritanya lagi, tapi kita bisa membayangkan kalau gimana kehidupan tokoh-tokoh di cerita yang kita baca setelah itu. Makanya ceritanya gak pernah benar-benar berakhir meskipun ceritanya dah ada label “Tamat”.
Ya enggak? Karena kita gak mungkin masuk novel kayak Leon dan membebaskan aturan dunia cerita itu kan makanya ceritanya tidak pernah benar-benar berakhir. Wkwkwk. 😁
Sarah
Aku sering penasaran, apa dia gak punya siapa-siapa dan hidupnya hampa atau tersiksa banget yah di dunia modern sampai bisa gampang banget bilang iya untuk tinggal di sana tanpa pikir panjang.
Sarah
Udah mulai gak inget dunia modern kah?
Rafi Hafizh
bagus ceritanya 👍
Ananda Anggit
🤭🤭
Ananda Anggit
siap ka, terimakasih saran nya 😁🙏
Sarah
Ya kalau dateng... kalau gak ada yang dateng? Basi dong. /Sweat/
Sarah
Aku juga sudah menduganya. 😂
Sarah
Aduhhh, Leon dipuji mulu tiap bab sama heroine nya ini. 😁
Sarah
Ceritanya lucu banget. 😁
Sarah
Kalau nama awalannya harus huruf kapital yah, “Leon”
Sarah
Ketika catatan penulis yang biasa ada di dalam kurung di tengah-tengah cerita jalan... beneran masuk ke cerita. 😂
Sarah
Bagus, cuma... ini pov orang ketiga (narator) sama pov orang pertama (Leon alias MC) yang konsisten yah. Kalau mau ganti pov tandain dulu. Biar gak bikin bingung. Atau tandain kata kayak “Pikirnya”, “Batinnya”, “Ucapnya dalam hati” untuk nunjukkin apa yang ada di otak Leon.
Ananda Anggit: iya sekali lagi makasih ya kak 😁
total 3 replies
Ananda Anggit
😍💪💪
Rafi Hafizh
semangat author 😍
Ananda Anggit
🥳🥳
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!