Semua bermula saat regu berjumlah enam anggota mahasiswa hendak bertolak ke sebuah perkampungan pelosok demi tugas KKN, mereka menolak ikut rombongan bus kampus, memilih menaiki mobil pribadi.
Sampai pertengahan jalan, sang sopir berbelok arah, mencari jalur alternatif agar cepat sampai tujuan, tapi malah memasuki wilayah tidak terdaftar pada peta digital maupun konvensional.
Keanehan, kejanggalan mulai terjadi kala sang waktu merambat memasuki malam hari. Langit berangsur-angsur berubah warna layaknya api menyala.
Ada apa sebenarnya? lantas bagaimana dengan nasib para mahasiswa, termasuk Candra Kanti, gadis pendiam yang dapat merasakan aura mistis disekitarnya ...?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lolongan : 26
Tangannya ikut bergerilya menyisir rambut, memberikan usapan lembut pada lengkungan leher dan tulang selangka, lalu ibu jari mengelus daun telinga.
Si gadis pun terlena, mencoba mengimbangi meskipun masih amatiran. Ini ciuman pertamanya, tepat pada bibir yang belum pernah disentuh lawan jenis.
"Aksata," desahnya berupa bisikan disertai hembusan napas berat.
"Iya, Sayang ...." pagutan itu bertambah dalam, terlebih si gadis memberi akses untuk dirinya mengeksplor bibir ranum, terasa manis.
"Aksata ...."
Hahheuuhhh ....
Untuk pertama kalinya Kanti mimpi erotis, ia terbangun dengan wajah memerah, berkeringat. "Betulan tadi cuma mimpi, kan? Kenapa seperti nyata?" Dirabanya bibir bawah terasa lembab.
Kanti menoleh kesamping, ada Aya masih pulas, lalu di atas lantai beralaskan tikar, ketiga pemuda pun terlelap, tidak terganggu pekikan tertahannya tadi
'Aksata?' batinnya berbisik, satu nama mengusik ketenangan jiwa, hati mulai meraba kala perasaan sedikit gelisah.
'Sedari awal melihat sepasang mata biru di dasar jurang, kenapa aku merasa familiar? Pernahkah kami bertemu, dimana?'
Sekeras apapun usahanya, tetap tidak membuahkan hasil. Yang ada kepalanya sakit. Pelan-pelan Kanti turun dari pembaringan, mengendap-endap keluar kamar, ia butuh udara segar untuk menjernihkan pikiran.
Baru saja menutup pintu, dirinya diserang kenangan entah milik siapa saja, berusaha merasuki pikirannya.
'Aku pasti bisa mengendalikannya seperti dulu,' Kanti menekan rasa takut, me sugesti diri agar bisa menerima keistimewaannya telah kembali. Wajahnya menengadah, menatap lurus pada halaman yang mana ada sosok arwah dengan luka pada tubuh tanpa memakai busana lengkap, cuma selembar kain putih penuh noda darah mengering.
Jiwa malang itu terdiam, sorot matanya sudah mengatakan betapa kesakitan detik-detik kematian mengerikan itu.
Kanti terduduk dilantai, meremas dada terasa nyeri, dia tidak akan lari, sebaliknya berusaha beradaptasi walaupun bentuk arwah gentayangan sangat menyeramkan.
Sosok gadis bermata satu, sebelah matanya satu lagi keluar dari rongga, hidung melesak ke dalam, pipi bagian kiri pipih. Kematiannya dikarenakan sebuah godam menghantam wajah. Namun, setelah Kanti perhatikan – ada luka menganga berwarna hitam pada bagian leher.
'Apa kamu dipenggal?' tanyanya dapat berkomunikasi menggunakan telepati.
Anggukan lemah, menjawab pertanyaan gadis yang memiliki keistimewaan.
'Bisakah kamu mengatakan tentang penghuni rumah ini?'
Dia menggeleng, lalu kabut tebal mengelilingi, membawanya menghilang.
'Aku gak mungkin diam saja menunggu giliran untuk dipenggal, bagaimanapun caranya harus bisa keluar dari desa Latu abang.' Kanti berdiri, mengamati sekitar yang sepi. 'Katanya para warga berjaga-jaga dikarenakan bakalan ada penyerangan, ternyata cuma untuk menakuti kami.'
Kanti pergi ke tempat sebelumnya dijadikan kandang Rusa, yang ikut terbakar dan sekarang sudah rata dengan tanah. Ia berjongkok, jari telunjuk mencolek abu bekas bakaran kayu.
Tiba-tiba sebuah kilas balik masuk tanpa bisa dicegah. Mata polos yang dia kira anak Rusa, ternyata sorot kesakitan seorang remaja laki-laki terikat rantai besi, mulut disumpal kain putih, dia tak mengenakan busana. Meringkuk ketakutan dengan wajah bersimbah air mata campur darah bekas luka sayatan pada pipi.
Satunya lagi, seorang gadis remaja. Kondisinya hampir sama. Bibir robek, lengan lebam, rambut gundul, paling miris – kedua buah dada masih baru tumbuh terdapat cap besi, membuat kulitnya melepuh.
Lambat laun, diri Kanti dikuasai amarah. Tak terima para anak tak bersalah disiksa oleh iblis menyamar sebagai orang kehilangan akal, gila.
"Aku berjanji, akan menghentikan semua ini. Agar tak ada lagi korban seperti kalian dan juga diriku sendiri." Tangannya terkepal erat, ia bersumpah hendak membuat perhitungan.
"Sesulit apapun itu, pasti ada cara mengalahkan mereka. Maafkan aku yang tidak menyadari kalau kalian berusaha keras meminta pertolongan." Kanti menyesali ketidaktahuannya. Padahal ia sempat saling tatap dengan kedua remaja ini dalam wujud Rusa, hasil tipuan ilmu hitam.
Paham jika dia tidak bisa berlama-lama berada diluar, takut kepergok salah satu penghuni rumah atau makhluk buas lainnya, Kanti beranjak. Sangat hati-hati dalam melangkah.
Roarrr ....
Auman hewan buas disahuti lolongan Serigala. Kanti meningkatkan kewaspadaan diri, dia bersembunyi disela akar pohong beringin yang menjuntai menembus tanah.
Dari balik semak-semak cahaya bola kecil sebesar kelereng bewarna merah layaknya senter laser terarah ke belakang tembok indekos, tepat di dinding kamar Candra Kanti.
'Apa maksudnya itu? Apa aku korban selanjutnya, dan sedang ditandai, dijadikan target?' Kanti tidak berani bergerak sedikitpun, bahkan menghela napas dibuat sepelan mungkin.
Srek ... srekk ....
'Sebetulnya mereka ngapain? Suara kaki melangkah, kenapa tiba-tiba seperti bunyi orang tengah berjingkrak-jingkrak?' kendatipun takut, dia menyamping agar bisa mengintip lewat sela akar.
Hah! Kanti bergegas membekap mulut. Tak jauh dari tempatnya bersembunyi, ia menyaksikan pemandangan teramat menjijikan – Sepasang Anjing berbulu pendek tengah kawin, bukan tentang penyatuan yang membuatnya mau muntah, tapi bagaimana hewan berkaki empat itu berebut tulang panjang masih berlumuran darah.
'Itu bukan tulang kaki Mayang, kan? Tolong jangan. Aku bakalan gak sanggup kalau iya,' pinta batinnya. Masih bertahan menonton tanpa hampir berkedip sampai matanya perih.
Auuunggggg ....
Lolongan panjang terdengar di kejauhan, menyudahi hewan tadi bercinta. Salah satu yang memiliki tinggi lebih menonjol, menggigit tulang sepanjang lengan. Berlari masuk ke dalam semak-semak.
Kanti mundur, kaki tanpa mengenakan sandal, menginjak akar menonjol. Ditahannya rasa sakit pada telapak, lalu dia menekan punggung di pohon beringin, sejenak menahan napas kala Anjing berpostur lebih pendek melewatinya.
'Mau ke mana dia?' Kanti panik, hewan yang tidak jelas warnanya dikarenakan cahaya temaram, melangkah penuh perhitungan ke kamar indekos.
Benar saja, yang ditakutkan Kanti menjadi kenyataan. Kaki depan Anjing sudah menjejak teras.
'Jangan, tolong jangan!'
.
.
Bersambung.
lanjut Thor
ngeri kali