NovelToon NovelToon
Bangkitnya Pelayan Terbuang

Bangkitnya Pelayan Terbuang

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: Danzo28

"Wajah bak dewa, namun nasib bak debu."
Di dunia di mana kekuatan adalah segalanya, Han Feng hanyalah seorang pelayan rendahan tanpa bakat kultivasi. Ia dihina, disiksa, dan dibuang ke hutan kematian hanya karena ketampanannya dianggap sebagai penghinaan bagi para tuan muda sekte yang sombong.
Namun, maut justru menjadi gerbang kebangkitannya.
Di ambang kematian, sebuah pusaka terlarang yang telah lama hilang—Sutra Dewa yang Terbuang—memilihnya sebagai wadah. Kitab itu hancur, menyatu ke dalam nadinya, merekonstruksi tubuhnya menjadi sempurna, dan menanamkan ribuan tahun pengetahuan dewa langsung ke dalam benaknya.
Kini, Han Feng kembali bukan untuk melayani, melainkan untuk menagih hutang darah. Dengan otak yang mampu membedah kelemahan lawan dan tubuh yang menyimpan kekuatan surgawi, ia akan membuktikan bahwa mereka yang dulu mengabaikannya akan berlutut di bawah kakinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TARGET DI BALIK KABUT

​Alun-alun Awan masih berdengung. Nama "Han Feng" berbisik-bisik di antara kerumunan seperti api yang merambat di padang rumput kering. Kristal pengukur yang meledakkan cahaya ungu keemasan tadi bukan hanya sekadar angka, itu adalah pernyataan perang bagi tatanan yang sudah ada. Seorang pengembara liar tanpa sekte, dengan umur tujuh belas tahun, memiliki kepadatan Qi yang melampaui murid inti sekte besar? Itu adalah anomali yang harus segera diselidiki, atau dilenyapkan.

​Han Feng melangkah pergi dengan tenang, topi bambunya kembali menutupi ekspresi wajahnya yang datar. Ia bisa merasakan puluhan Divine Sense mencoba merayap ke arah punggungnya, mencoba membedah struktur Dantiannya. Beberapa terasa tumpul dan kasar, namun ada dua atau tiga yang terasa tajam seperti jarum, terutama yang datang dari arah panggung utama tempat para tetua duduk.

​"Terlalu mencolok," gumam Han Feng pelan. Ia tidak menyesali apa yang terjadi, karena naga di dalam tubuhnya memang tidak diciptakan untuk bersembunyi selamanya.

...***...

​Namun, tidak semua orang membiarkannya pergi begitu saja. Saat ia baru sampai di pintu keluar alun-alun yang menuju ke arah distrik pasar, lima pemuda dengan jubah biru bersulam awan perak menghadang jalannya. Mereka adalah murid dari Sekte Awan Biru, sebuah sekte kelas dua yang merasa harga diri mereka terinjak-injak karena perhatian para penonton teralihkan dari jenius mereka.

​"Berhenti di sana, pengembara!" teriak pemimpin mereka, seorang pemuda dengan wajah angkuh yang memegang kipas besi. "Kau pasti menggunakan semacam teknik terlarang untuk menipu kristal itu, bukan? Mana mungkin sampah liar sepertimu punya Pondasi Level 5 yang lebih murni dari kami?"

​Han Feng berhenti, namun ia bahkan tidak mendongak. "Minggir. Aku sedang tidak ingin membuang tenaga."

​"Beraninya kau!" Pemuda itu mengayunkan kipas besinya, melepaskan gelombang angin tajam yang mampu membelah batu.

​Han Feng tidak mencabut pedangnya. Ia hanya menghentakkan kaki kanannya dengan sangat ringan ke atas ubin marmer.

​DUM!

​Sebuah getaran frekuensi tinggi merambat melalui tanah. Seketika, aura petir ungu yang tersembunyi di dalam nadinya meledak dalam radius dua meter. Udara di sekitar Han Feng mendadak menjadi sangat berat. Gelombang angin dari kipas besi itu hancur berantakan sebelum sempat menyentuh jubahnya, dan kelima pemuda itu terpental ke belakang seolah dihantam oleh palu tak kasat mata.

​Ubin marmer di bawah kaki Han Feng retak membentuk pola jaring laba-laba yang sempurna. Tanpa menoleh ke arah lawan-lawannya yang kini mengerang kesakitan di lantai, Han Feng terus berjalan. Kerumunan yang tadinya ingin ikut campur langsung terdiam, memberi jalan selebar mungkin. Efisiensi itu... terlalu menakutkan.

​Han Feng sengaja berputar-putar di gang-gang sempit untuk melepaskan sisa-sisa Divine Sense yang mengikutinya. Saat ia memasuki sebuah taman kecil yang tersembunyi di balik menara jam kuno, bau harum bunga-bunga surgawi tercium. Di sana, duduk seorang gadis dengan gaun sutra berwarna pink cerah yang tampak sedang asyik memetik kelopak bunga.

​Itu adalah Mu Rong, jenius dari Sekte Lembah Hijau.

​"Kau tahu, cara termudah untuk menghilangkan pelacak adalah dengan tersenyum, bukan dengan meretakkan lantai," suara Mu Rong terdengar merdu, penuh dengan nada ceria yang tulus.

​Han Feng berhenti, tangannya secara insting menyentuh gagang pedang. "Sekte Lembah Hijau... apa urusanmu denganku?"

​Mu Rong berdiri, gaun pinknya berdesir ditiup angin ketinggian. Ia berjalan mendekat dengan langkah ringan, tidak menunjukkan tanda-tanda permusuhan. Ia justru mengeluarkan sebuah botol porselen kecil berwarna hijau zamrud.

​"Ini adalah Cairan Embun Pagi. Sangat bagus untuk menenangkan nadi yang baru saja bergejolak karena terobosan kilat," Mu Rong menyodorkan botol itu. "Anggap saja sebagai salam kenal dari seseorang yang benci melihat orang berbakat dikepung oleh lalat."

​Han Feng menatap botol itu, lalu menatap mata Mu Rong yang jernih. Ia tidak merasakan niat jahat. "Kau mempertaruhkan reputasimu dengan mendekati target incaran banyak orang."

​Mu Rong tertawa kecil, lesung pipinya terlihat menggemaskan. "Reputasi adalah beban bagi mereka yang tidak punya kekuatan. Oh, dan satu saran gratis: Tetua Gu dari Sekte Pedang Langit sedang sangat marah. Dia memerintahkan Long Chen untuk menyelidikimu secara agresif. Mereka merasa kau adalah ancaman bagi rencana mereka di seleksi esok hari."

​Mu Rong melambai pelan sambil berjalan pergi ke arah tandunya. "Sampai jumpa di arena, Han Feng. Cobalah untuk tidak mati sebelum kita sempat bertanding."

​Han Feng tidak kembali ke penginapan lamanya. Ia berpindah ke sebuah kediaman kecil yang tersembunyi di distrik pengrajin, tempat suara dentuman palu menempa besi menutupi aktivitas apa pun. Di dalam kegelapan kamar, ia mengeluarkan lencana perunggu dari Kakek Bo.

​Ia menyalurkan Qi Level 5 miliknya ke dalam lencana tersebut. Seketika, lencana itu bergetar hebat dan memancarkan cahaya biru redup ke dinding ruangan. Itu bukan sekadar cahaya; itu adalah proyeksi peta tiga dimensi dari Kota Seribu Awan. Namun, peta ini tidak menunjukkan jalan-jalan biasa, melainkan jalur-jalur rahasia bawah tanah dan ruang-ruang vakum energi yang tidak diketahui publik.

​Ada satu titik merah yang berdenyut di bawah Menara Pengintai Utama, pusat pertahanan kota.

​"Kakek Bo... siapa Anda sebenarnya?" gumam Han Feng. Jalur ini mengarah ke gudang penyimpanan kuno yang seharusnya sudah disegel. Lencana itu seolah-olah memberitahunya bahwa ada sesuatu yang menjadi haknya di sana, sesuatu yang harus diambil sebelum seleksi dimulai.

​Sementara itu, di kamp mewah milik Sekte Pedang Langit, suasananya sangat tegang. Tetua Gu duduk di kursi utama dengan wajah mendung. Di depannya, Long Chen berdiri dengan tangan mengepal, auranya tidak stabil karena cemburu dan marah.

​"Pondasi Dasar Level 5... dan dia hanya seorang pengembara?" Tetua Gu mendengus. "Long Chen, aku tidak peduli siapa dia sebenarnya. Jika dia menghalangi jalanmu untuk menjadi nomor satu, maka dia tidak boleh melihat matahari terbit besok pagi."

​"Saya mengerti, Tetua," jawab Long Chen dengan nada dingin. "Saya sudah menyewa Lima Bayangan Maut. Mereka akan menyelesaikannya di kegelapan malam ini."

​Di sudut ruangan, Su Yan berdiri diam. Matanya menatap ke luar jendela, ke arah cahaya kota yang gemerlap. Hatinya merasa sangat gelisah. Setiap kali ia memikirkan sosok bertopi bambu itu, ia teringat pada pelayan yang dulu selalu diam di pojok kamarnya. Tidak, itu tidak mungkin dia. Han Feng yang kukenal hanyalah sampah tanpa kultivasi. Tapi... mengapa getaran energinya terasa begitu mirip?

​Malam semakin larut. Han Feng sedang menyusuri jalur bawah tanah yang ditunjukkan oleh peta lencana. Suara tetesan air dan bau lembap memenuhi lorong sempit yang terbuat dari batu bata kuno tersebut.

​Tiba-tiba, ia berhenti. Langkah kakinya yang sunyi tidak lagi bergema sendirian.

​Dari kegelapan di depannya dan di belakangnya, lima sosok muncul. Mereka mengenakan pakaian serba hitam yang menyerap cahaya, dengan topeng yang hanya memperlihatkan mata mereka yang haus darah. Mereka adalah Lima Bayangan Maut, pembunuh bayaran tingkat tinggi yang dikenal tidak pernah gagal.

​Pemimpin mereka, yang memegang belati pendek dengan cairan hijau beracun yang menetes, melangkah maju.

​"Seseorang membayar mahal untuk kepalamu, bocah," suaranya serak dan dingin. "Sayang sekali jenius sepertimu harus berakhir di tempat kotor seperti ini. Selokan ini akan menjadi makam yang tenang untukmu."

​Han Feng perlahan melepaskan topi bambunya, menjatuhkannya ke lantai yang basah. Wajahnya yang tenang kini terlihat jelas di bawah cahaya redup kristal dinding. Matanya mendadak berkilat dengan warna ungu yang mengerikan, dan udara di selokan itu mulai berderak dengan listrik statis.

​"Selokan ini memang kotor," ucap Han Feng sambil menghunus sedikit pedangnya, melepaskan aura yang mampu membuat air di lantai membeku karena tekanan. "Tapi ini akan menjadi makam yang sangat bagus untuk kalian berlima. Setidaknya, tidak akan ada yang mencium bau busuk mayat kalian."

​Seketika, aura petir ungu meledak menyelimuti seluruh tubuhnya. Han Feng tidak lagi menunggu. Ia melesat seperti kilat yang membelah kegelapan, memulai pesta darah di malam yang sunyi tersebut. Perburuan telah berbalik arah.

1
T28J
senior kuu
lia
menarik
Danzo28: "Selamat datang! Senang sekali kamu mampir. Semoga betah mengikuti perjalanan ini sampai akhir, ya!"
total 1 replies
lia
menarik
Manusia Ikan 🫪
aku tinggalin jejak dulu ya, nanti siang balik lagi, udah subuh soalnya😹
Danzo28: Terima kasih sudah mampir! Happy reading! ✨"
total 1 replies
Iwa Kakap
sepi pembaca agak nya ..
terlalu banyak kata2 mutiara thor hingga membuat cerita ini seakan jalan ditempat.🙏
Danzo28: Siap, terima kasih masukannya! Saya memang sedang bereksperimen dengan gaya narasi tertentu, tapi masukan ini sangat membantu saya untuk tahu mana yang perlu dikurangi supaya pembaca tidak bosan."
total 1 replies
T28J
cocok buat jadi koleksi 👍
T28J: iya thor, saya mampir terus kalau ada waktu..
kamu juga mampir ketempat saya ya, beri nilai novel pertama saya, kritik dan saran boleh kok👍
total 2 replies
Optimus prime
ga ush pakai bahasa inggris thor... cerita cukup bagus....
Danzo28: "Wah, makasih ya pujiannya! Mengenai bahasa Inggris, memang ada beberapa istilah yang sengaja saya pakai untuk menjaga vibes atau suasana ceritanya (misalnya istilah teknis atau gaya bahasa karakter). Tapi saya bakal coba kurangi pelan-pelan kalau dirasa terlalu mengganggu. Terima kasih sarannya!"
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!