NovelToon NovelToon
MALAM TERLARANG BERSAMA MANTAN SUAMI KAKAKKU

MALAM TERLARANG BERSAMA MANTAN SUAMI KAKAKKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Duda
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: gendiz

Jangan pernah sebut Luna pelakor! Dia jauh lebih terhormat dibanding kamu yang berselingkuh di belakangku."

​Demi menyelamatkan kakaknya dari ancaman penjara, Luna Maharani terpaksa menyerahkan dirinya. Masuk ke dalam jebakan pernikahan kontrak bersama Devano—sang CEO dingin sekaligus mantan suami kakak kandungnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20: Sakit yang Tak Berdarah

BAB 20: Sakit yang Tak Berdarah

​Pagi hari menjelma menjadi momok yang teramat menakutkan bagi Luna Maharani. Ketika alarm ponselnya berdering di sudut kamar yang sempit, seluruh persendian tubuhnya terasa seolah lolos dari tempatnya. Kepala Luna berdenyut-denyut hebat seakan dihantam gada besi, sementara tenggorokannya terasa begitu kering dan perih, membuat suaranya nyaris habis tak tersisa. Ketika dia menyentuh keningnya sendiri, hawa panas yang membara langsung terasa di telapak tangannya. Efek dari guyuran hujan deras di pemakaman kemarin serta siksaan batin yang bertubi-tubi akhirnya meruntuhkan pertahanan fisik Luna. Dia terserang demam tinggi.

​Namun, di rumah itu, rasa sakit tidak pernah mendapatkan tempat.

​"Luna! Bangun! Jangan berani-berani pasang tampang malas ya hari ini!" teriakan melengking Siska dari luar kamar membuyarkan kesadaran Luna yang masih berkabut.

​Pintu kamarnya digebrak kasar. Bu Rahma masuk dengan wajah tanpa empati, langsung menarik selimut tipis yang membungkus tubuh menggigil Luna. "Ibu tidak mau tahu ya, Luna. Kamu harus tetap masuk kantor hari ini! Jangan sampai Tuan Devano curiga dan mengira kita sengaja menyembunyikanmu setelah kejadian dengan manajer kemarin! Cepat mandi dan dandan yang tebal!"

​Dengan air mata yang mengalir menahan rasa pening yang luar biasa, Luna terpaksa bangkit. Di depan cermin riasnya yang retak, dia menatap pantulan dirinya sendiri. Wajahnya seputih kapas, dengan bibir yang pecah-pecah. Demi menuruti paksaan ibu tirinya, Luna terpaksa memulas bedak tebal-tebal di pipinya yang tirus dan mengoleskan lipstik merah muda untuk menutupi bibirnya yang membiru. Dia mengenakan blus kerja berwarna putih bersih dan rok pensil hitam, mencoba tampil seprofesional mungkin meski lututnya sudah gemetar hebat bahkan hanya untuk berdiri tegak.

​Langkah kaki Luna terasa sangat mengambang saat dia melangkah keluar dari lift di lantai tiga puluh gedung Devano Group. Pandangan matanya sesekali mengabur, dipenuhi oleh bintik-bintik hitam akibat tekanan darahnya yang merosot drastis.

​Tepat di dekat meja administrasi utama, Luna berpapasan dengan Dika yang baru saja keluar dari ruang berkas. Jantung Luna berdenyut perih. Dia menghentikan langkahnya, mencoba mengumpulkan sisa-sisa suaranya yang serak untuk meminta maaf atas kejadian memalukan di teras rumahnya kemarin sore.

​"P-Pak Dika..." panggil Luna lirih, suaranya terdengar sangat parau. "Soal kemarin... saya benar-benar minta maaf atas ucapan ibu dan kakak saya—"

​"Mbak Luna," potong Dika dengan nada suara yang teramat kaku dan dingin, sangat berbeda dengan kehangatan yang dia tunjukkan kemarin. Dika memundurkan langkahnya, menjaga jarak yang cukup jauh dari Luna. Tatapan matanya tidak lagi memancarkan rasa iba, melainkan kekecewaan yang mendalam karena mengira Luna adalah bagian dari rencana licik keluarganya yang gila harta. "Urusan kemarin tidak perlu dibahas lagi. Tolong kembali ke meja Anda. Kita berada di kantor, dan saya tidak ingin ada kesalahpahaman lagi yang melibatkan posisi saya."

​Setelah mengucapkan kalimat yang teramat formal itu, Dika melangkah pergi melewati Luna begitu saja tanpa menoleh lagi. Luna mematung di koridor, merasakan sesak yang teramat luar biasa di dadanya. Satu-satunya orang baik yang bersedia mengulurkan tangan padanya di kantor ini, kini telah membangun tembok pembatas yang tebal karena telanjur sakit hati.

​Dengan sisa-sisa kesadaran yang semakin menipis, Luna mendorong pintu jati besar ruang kerja CEO. Di dalam ruangan megah itu, meja kerjanya sudah tertata rapi di sudut kanan, berhadapan langsung dengan meja kerja Devano.

​Devano sudah duduk di kursi kebesarannya dengan keangkuhan yang murni. Kemeja hitam formal yang membungkus tubuh tegap setinggi seratus delapan puluh mis sentimeter itu memberikan kesan dingin yang tak tersentuh. Begitu melihat Luna melangkah masuk, mata elang Devano yang kelam langsung menyipit, memancarkan kilatan benci dan penghinaan yang sangat pekat. Di mata Devano, penampilan Luna dengan bedak tebal dan lipstik hari ini adalah bentuk usahanya untuk kembali tampil "cantik" setelah kemarin gagal merayu Dika.

​"Bagus sekali, Asisten Luna. Kamu masih ingat jalan pulang ke kantor ini setelah puas bermain drama hujan-hujanan dengan selingkuhanmu kemarin?" cibir Devano dengan suara bariton yang rendah namun sarat akan racun intimidasi.

​Luna tidak membalas. Dia hanya menundukkan kepalanya yang terasa seperti mau pecah, lalu berjalan menuju mejanya. "Maaf atas keterlambatan saya, Tuan Devano."

​"Jangan banyak alasan," potong Devano kejam. Dia meraih seonggok map dokumen laporan keuangan triwulan yang sangat tebal dari atas mejanya, lalu melemparkannya hingga mendarat dengan bunyi debuman keras di depan Luna. "Berdiri di samping meja saya. Bacakan seluruh rincian angka audit ini satu per satu sekarang juga. Jangan ada satu angka pun yang terlewat."

​Ini adalah bentuk hukuman baru yang sudah dirancang Devano untuk menguras tenaga Luna. Dia ingin melihat sampai di mana batas ketahanan wanita yang dia anggap licik ini.

​Luna mengangguk patuh dalam kepasrahan yang mendalam. Dia melangkah mendekati meja Devano, mengambil map tebal tersebut dengan jemari tangannya yang sedingin es dan bergetar hebat. Luna mulai membuka halaman pertama dan membacakan angka-angka laporan tersebut.

​"P-Pendapatan bersih kuartal pertama... sebesar... dua puluh empat miliar..." suara Luna terdengar sangat serak, bergetar, dan putus-putus. Napasnya memburu, dan keringat dingin mulai membasahi pelipisnya, melunturkan bedak tebal yang dipakainya.

​Devano bersandar di kursinya, melipat tangan di dada sembari terus menatap Luna dengan pandangan mengintimidasi. Namun, seiring berjalannya waktu, Devano mulai menyadari ada yang aneh. Suara Luna semakin lama semakin mengecil, dan tubuh ringkih di hadapannya itu tampak berayun samar ke kanan dan ke kiri seperti daun kering yang tertiup angin.

​"Luna, bacakan dengan jelas! Jangan berbisik seperti orang menderita!" gertak Devano dingin.

​Luna mencoba menarik napas dalam-dalam untuk memenuhi paru-parunya, namun pandangan matanya mendadak berubah menjadi gelap gulita. Seluruh angka di dalam kertas itu melebur menjadi satu. Kesadaran Luna terenggut sepenuhnya oleh demam tinggi yang membakar tubuhnya.

​Bruk.

​Map tebal di tangan Luna terlepas, dan tubuh ringkihnya langsung limbung, jatuh pingsan ke arah depan tepat ke arah meja kerja Devano.

​Melihat hal itu, pertahanan ego Devano runtuh dalam sedetik. Insting murninya sebagai seorang pria bergerak lebih cepat daripada akal sehatnya. Secepat kilat, Devano bangkit dari kursinya dan mengulurkan sepasang lengan kokohnya, menangkap tubuh lemas Luna tepat sebelum kepala gadis itu membentur tepian meja kaca yang tajam.

​Grep.

​Devano menarik tubuh Luna ke dalam dekapannya. Namun, begitu telapak tangan besarnya menyentuh kulit leher dan tengkuk Luna yang terbuka, Devano seketika tersentak kaget. Suhu tubuh Luna teramat sangat panas, bagaikan membakar telapak tangannya sendiri. Wajah Luna yang kini bersandar di dada bidang Devano tampak begitu pias, dengan napas yang keluar pendek-pendek dan terasa sangat panas.

​Dari balik dinding kaca transparan yang benderang, Rania dan beberapa karyawan luar yang sejak tadi menonton langsung terbelalak syok dan menjerit tanpa suara. Mereka menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana sang CEO yang terkenal kejam dan anti-sentuhan, kini justru sedang mendekap erat tubuh sang asisten pribadi dengan raut wajah yang dipenuhi kepanikan yang luar biasa.

​Tanpa memedulikan tatapan puluhan orang di luar kaca, Devano langsung mengangkat tubuh ringan Luna ala bridal style ke dalam gendongannya, membawanya menuju sofa kulit panjang di sudut ruangan. Devano membeku sesaat setelah merebahkan tubuh Luna, menatap wajah pucat gadis itu yang tampak begitu murni sekaligus menyedihkan dalam tidurnya. Rasa bersalah yang teramat asing mendadak menyerang lubuk hati Devano yang paling dalam.

​"Dia... benar-benar sakit?" bisik Devano dengan suara yang bergetar samar, menatap jemari tangannya yang masih menyisakan rasa panas dari tubuh Luna—sebuah rasa hangat yang mendadak meretakkan dinding batu dendam di hatinya.

1
gendiz
up
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!