NovelToon NovelToon
SKENARIO TUAN DANENDRA

SKENARIO TUAN DANENDRA

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Dijodohkan Orang Tua / Duda
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Lovelyiaca

Elleta Clarissa Crassia, ia tahu bahwa nama belakangnya bukanlah hal yang harus di banggakan. Terlahir dari keluarga pengusaha sukses membuatnya menahan beban yang tak seharusnya ia pikul. Keputusan sang ayah membuatnya tak memiliki pilihan, sebuah perjanjian bisnis dengan kata "pernikahan."

Elleta di jodohkan dengan laki-laki, pewaris utama keluarga Danendra. Steve Athariz Danendra, laki-laki dingin yang katanya tak pernah tersentuh. Dan semuanya berawal dari sana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lovelyiaca, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

24. Di Bawah Payung Danendra

Steve memilih untuk melembur tidur di kantornya. Ruangan kerja itu hanya diterangi satu lampu sudut yang meredup, menciptakan bayangan panjang yang menari di dinding. Ini pertama kalinya Steve lembur sejak kematian Katrina. Biasanya, ia enggan berada di gedung ini lebih dari jam delapan malam.

Hawa dingin AC yang berhembus langsung di lantai 18 tidak menjadi penghalang bagi laki-laki itu untuk duduk di balik meja kerjanya yang luas.

​Ia tidak sendirian. Theo setia menemaninya di ruang tunggu sekretaris. Namun, jangan salah, mereka tidak hanya berdua di gedung megah itu. Ada dua ahli IT anak buah Theo yang masih sibuk dengan deretan layar monitor, melacak siapa dalang di balik pengiriman paket teror itu dan mencari keberadaan Daniel lewat koneksi terakhir telepon genggamnya.

Ponsel Daniel memang tidak ditemukan di lokasi kejadian, tapi Theo adalah orang yang teliti. Laki-laki itu diam-diam pernah menyadap ponsel Daniel jauh sebelum pria itu menghilang.

​"Gimana, Theo? Sudah ketemu titik lokasinya?" tanya Steve dengan suara berat, tanpa mengalihkan pandangan dari tumpukan dokumen yang tak ia baca.

​Theo mengulum bibirnya, jemarinya mengetuk meja dengan ritme gelisah. Ia menoleh ke arah ruang kerja Steve dan menggeleng. "Belum, Pak. Sinyal terakhirnya benar-benar terputus di area pelabuhan tua. Kami masih mencoba menembus firewall enkripsi yang dia pakai."

​Helaan napas berat lolos dari bibir Steve. Ia menyandarkan tubuhnya ke kursi kebesaran, menatap langit malam yang terpantul di dinding kaca ruangannya. Jakarta tampak gemerlap dari ketinggian, namun baginya, dunia terasa sedang meredup. Suara ponselnya yang bergetar di atas meja memecah keheningan.

​Tertera nama 'Daddy'. Steve langsung meraih ponsel itu dengan gerakan kaku, menekan tombol hijau.

​"Halo, Dy. Ada apa?" tanya Steve dengan dahi berkerut. Ia tidak menyangka ayahnya akan menghubunginya selarut ini. Biasanya, Tuan Danendra hanya menelepon untuk urusan mendesak.

​"Daddy sudah dengar berita itu, Steve. Kamu berinvestasi ke kantor itu tanpa minta pendapatku. Lihat sekarang? Kamu rugi besar, bukan?" Suara ayahnya di seberang sana terdengar tenang, namun menusuk.

​Steve memijat pangkal hidungnya. "Aku tidak butuh pendapat, Daddy. Aku bisa mengatasi ini sendiri."

​Terdengar kekehan ringan di seberang telepon, seperti ayahnya sudah hafal dengan sifat keras kepala Steve. "Oke, jika itu maumu. Daddy akan menunggu sampai kamu memohon bantuan. Jangan karena Daddy sudah pensiun dan hobi liburan, kamu kira Daddy tidak tahu masalah yang sedang kamu hadapi."

​Nada suara ayahnya tiba-tiba berubah, menjadi lebih rendah dan sarat peringatan. "Jangan tinggalkan Elleta sendirian, Steve. Gadis itu masih terguncang dengan berita kematian mantan kekasihnya. Jangan lakukan kesalahan yang sama seperti saat kamu menghilang tiba-tiba ketika diterpa masalah dulu. Tinggalkan sifat pengecut itu. Elleta harus segera berada di bawah payung perlindungan Danendra. Musuhmu sudah mulai mengeluarkan taringnya."

​Steve terdiam, matanya menyipit. "Maksud Daddy apa?"

​"Jangan berlagak bodoh! Segera menikahlah dengan Elleta. Dia akan aman dalam status sebagai nyonya Danendra. Dan satu lagi... Elleta akan menjadi korban selanjutnya jika kamu terus menunda. Kali ini, Daddy mohon, Steve... kamu harus menang. Dan satu lagi, Steve. Jangan mengulangi kesalahan yang sama seperti kematian Katrina."

​Tut.

​Sambungan terputus begitu saja. Steve terdiam, menatap layar ponselnya yang kini menggelap. Ia bangkit, melangkah ke pintu, dan menatap Theo dengan isyarat mata yang tajam. Theo, yang sangat memahami tatapan itu, segera menghampiri dengan wajah waspada.

​"Theo, percepat pernikahan menjadi 3 hari dari sekarang. Jika perlu, sogok siapa pun yang menghalangi masalah ini."

​Theo terbelalak, hampir tersedak ludahnya sendiri. "Maaf, Pak Steve. Gimana dengan kondisi Nona Elleta? Menikah mendadak itu akan bisa membuatnya tambah syok karena berita tentang Daniel... bukankah itu berisiko? Dia baru saja kehilangan laki-laki yang dia cintai."

​"Apa ini perintah Tuan Besar?" tanya Theo hati-hati.

​Steve terdiam sejenak, menatap bayangannya sendiri di kaca pintu yang gelap. "Itu benar. Tapi Daddy ada benarnya. Elleta akan aman bersamaku. Hanya bersamaku."

​Steve menyambar jasnya, melangkah tegas menuju lift. "Aku pulang, Theo. Selesaikan sisanya. Kamu bisa pulang sekarang."

​Theo hanya bisa terpaku. Bosnya yang biasanya dingin itu bahkan tidak peduli pada bawahannya, kini justru memberikan izin pulang lebih awal. Steve melesat dengan mobilnya menembus jalanan Jakarta yang mulai lengang, menempuh waktu 20 menit hingga tiba di mansion megah miliknya.

...***...

Steve memarkirkan mobilnya di garasi luas mansion dengan gerakan kasar. Mesin mobil yang tadinya menderu kencang akhirnya mati, menyisakan keheningan yang mencekam di antara dinding-dinding beton itu. Ia diam sejenak di balik setirnya, mengatur napas yang memburu. Bayangan wajah Elleta yang penuh kebencian dan air mata terus berputar di kepalanya.

​Ia membuka pintu mobil, keluar dengan langkah berat. Steve melepaskan jas kerjanya, menyampirkannya sembarangan di lengan kiri, lalu melonggarkan simpul dasi yang terasa mencekik lehernya. Pintu garasi yang terbuka otomatis memperlihatkan halaman mansion yang gelap dan sunyi.

​Steve berjalan menembus pintu samping yang langsung menuju koridor dalam. Langkah kakinya yang tegas terdengar menggema di lantai marmer yang dingin. Ia tidak menoleh ke kiri maupun ke kanan, fokusnya hanya satu, memastikan Elleta ada di dalam kamarnya. Jas yang ia tenteng terasa berat, seberat beban keputusan yang baru saja ia ambil malam ini.

​Ia tidak langsung naik ke lantai dua. Langkahnya berbelok ke arah dapur, mencari satu-satunya orang yang mungkin tahu bagaimana kondisi Elleta setelah badai amarah gadis itu sepanjang hari.​Sesampainya di sana, ia langsung menuju dapur.

"Bi Ina, apa Elleta membuat keributan hari ini?"

​Bi Ina menunduk, mengelap tangannya dengan celemek. "Tadi pagi, iya, Tuan. Nona Elleta berteriak kencang, lalu membanting vas bunga. Setelah itu... dia sangat diam. Waktu makan siang, saya mengantar makanan, tapi Nona menolak makan nasi. Dia hanya mau roti sandwich dan susu almond. Jadi, saya turuti keinginannya."

​Steve mengangguk pelan. Baginya, diamnya Elleta lebih menakutkan daripada amukan gadis itu. "Apa lagi yang dilakukan, Elleta?"

​"Nona hanya melukis di kamarnya, Tuan. Seharian penuh."

​"Oke, makasih, Bi. Besok pagi, kalau dia masih belum mau makan nasi, buatkan kue rasa matcha dan susu almond campur matcha. Itu akan menenangkan pikirannya." Steve tahu makanan kesukaan Elleta dan bagaimana cara menenangkan amarahnya itu, sejak ia membaca riwayat hidup Daniel.

​Setelah berbincang, Steve melangkah ke lantai dua. Langkahnya ragu, namun hatinya mendesak untuk melihat keadaan Elleta. Ia membuka pintu kamar dengan kunci cadangan, sangat perlahan agar tidak menimbulkan suara.

​Kamar itu berantakan. Kanvas-kanvas robek berserakan, dan bekas cat minyak mengotori lantai marmer. Pandangan Steve terkunci pada satu lukisan yang baru kering. Seorang wanita menatap bunga Dandelion yang terbang ditiup angin. Ia tahu maknanya, Elleta hanya ingin bebas, ingin pergi jauh dari kehidupan yang dianggapnya sebagai penjara.

​Ia mendekati tempat tidur. Elleta terlelap, wajahnya tampak pucat namun tetap mempesona meski ada sisa air mata yang mengering di pipinya.

Dengan gerakan lembut yang hampir tidak terasa, Steve menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah gadis itu. Refleks, jarinya menghapus jejak air mata tersebut. Ia membungkuk, memberikan kecupan ringan di kening Elleta.

​"Aku janji, El. Badai ini akan segera berakhir," bisiknya dalam hati. "Aku akan menjagamu, bahkan jika aku harus menjadi monster untuk melindungi duniamu."

Steve terdiam, menatap lukisan itu lama. Ada rasa sesak yang mengganjal dadanya. Ada sesatu yang tidak bisa ia jabarkan dengan kata-kata. Mungkin benar, ia monster yang berusaha mengurung kupu-kupu.

​Steve berbalik, meninggalkan kamar itu dengan perasaan campur aduk. Ia tidak tahu apakah rencana pernikahan 3 hari ini akan membawa kebahagiaan atau justru kebencian yang lebih dalam, namun ia tidak punya pilihan lain. Di bawah payung Danendra, hanya itulah cara ia memastikan Elleta tetap bernapas.

1
Maryati ramlin
cerita bagus di tunggu kelanjutan
Lovelyiaca: Terima kasih sudah membaca karyaku, di tunggu kelanjutannya ya 🥰🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!