Karang Wilis bukan sekadar desa terpencil. Di balik hamparan sawahnya yang hijau, ada ketegangan yang sudah mengakar bertahun-tahun — perebutan wilayah yang belum selesai, warga yang hidup dalam waspada, dan batas bambu yang tidak boleh didekati.
Dokter Nayla datang untuk menyembuhkan.
Letnan Raditya datang untuk melindungi.
Tapi di tempat seperti ini — siapa yang menyembuhkan si penyembuh? Dan siapa yang melindungi si pelindung?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irsan Wahyudi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
burung, isyarat /pergerakan
BAB 20
Sore itu Karang Wilis terasa sunyi.
Bukan sunyi biasa. Sunyi yang salah. Burung-burung di palem di depan pos berhenti bersuara lebih cepat dari biasanya seakan mereka sedang memberi isyarat.
Tetapi Nayla tidak menyadarinya.
Ia sedang duduk di depan tenda medis. Buku catatan kecil terlihat terbuka di pangkuannya. Tulisan rapi di baris pertama. Miring di baris kelima. Hampir tidak terbaca di baris kesepuluh. Tangan kanannya mulai bergetar sejak jam dua siang.
"Pak Darmo — perban diganti, kondisi membaik. Ibu Ratmi — tekanan darah masih tinggi, perlu kontrol besok. Anak Pak Hendra — demam turun, tapi masih perlu dipantau."
Ujung pulpen mengetuk bibirnya. Masih ada dua puluh tiga nama yang belum tercatat.
Di dalam pos komando, udaranya terasa berbeda.
Dimas masuk. Pintu kayu bergeser, berbunyi. ngik. Ia berhenti di ambang. Langkahnya tidak seperti biasanya — tidak ada santai, tidak ada senyum sambil lalu, tidak ada ejekan ringan untuk Raditya yang sedang memeriksa peta. Hanya tubuh yang terlihat tegang, bahunya terlihat sedikit terangkat.
Raditya saat ini sedang berdiri di depan peta yang ditempel di dinding kayu. tatapan nya fokus. Ia menatap garis batas desa yang sudah dihafalnya dalam tidur, tapi tetap dia diperiksa setiap pagi. Seolah garis itu bisa bergeser sendiri di malam hari.
"Letnan." suara dimas
Raditya menoleh menemukan wajah Dimas dan berhenti sejenak. Ia menatapnya sedikit lebih lama melihat sesuatu yang berbeda di wajah Dimas.
"Ada laporan dari pos tiga." ucapnya tiba tiba
Dimas melangkah masuk. Pintu menutup sendiri di belakangnya, berbunyi jeb.
" lapor letnan Tadi siang. Jam 14.00." terlihat"Pergerakan di batas bambu. Tiga orang. Dari arah desa sebelah."
Raditya masih terdiam.
"Prajurit pos tiga sudah catat posisi dan waktu. Tidak ada provokasi dari kita."Tapi — salah satu dari mereka terlihat membawa sesuatu di punggung,
Hening. Sepertinya beda tajam mungkin parang bisa juga pedang.
Raditya kembali menatap peta. Matanya jatuh ke titik merah kecil di pojok kiri — batas bambu. Pos tiga. Jarak dari pos utama dua kilometer. Jalan setapak. Tidak semua kendaraan bisa lewat.
Tiga orang. Dua puluh menit. Sesuatu yang panjang dan terbungkus.
Ia tidak perlu berbicara. Kalkulasinya selesai sebelum Dimas mengucapkan kata terakhir.
"Aldi tahu?"
"Sudah saya kabari, Letnan. Dia minta konfirmasi Bapak dulu sebelum ambil tindakan."
Raditya mengangguk sekali. Kepala turun, lalu naik.
"Tingkatkan jaga pos tiga. Dua orang jadi empat. Shift empat jam." perintah nya lalu Ia berbalik, menghadap Dimas sepenuhnya. " dengar Tidak ada patroli mendekati batas bambu tanpa izin saya langsung. Paham?"
"Siap, paham let."
"Dan Dimas —"
Dimas berhenti di ambang pintu. Menoleh. Cahaya dari luar membelah wajahnya menjadi dua bagian tidak sama.
"Jangan ada yang bocor ke warga. Kita belum tahu apa-apa." Raditya berhenti. Memilih kata berikutnya dengan hati-hati, seperti memilah ranjau. "Satu informasi salah di desa ini lebih berbahaya dari tiga orang di batas bambu."
Dimas mengangguk. Pelan. "Siap, Letnan."
Pintu terbuka dan tertutup Gruk jeb.
Raditya berdiri sendiri.
Matanya kembali ke peta. Ke titik merah kecil yang kini terasa lebih besar dari seharusnya. Jari telunjuknya menyentuh titik itu. Pelan. Seperti mengecek denyut sesuatu yang tidak memiliki denyut.
"Dua bulan," ucapnya dalam hati. Suara yang tidak keluar, tapi tetap terdengar di kepalanya sendiri. "Masih banyak waktu untuk hal-hal yang tidak diinginkan."
Ia menarik napas. Tidak dalam. Tidak dangkal. Hanya napas yang dihitung.
Tangannya bergerak ke radio di meja. Memeriksa frekuensi. Menyentuh setiap tombol. Memastikan semua jalur aktif meski tidak ada yang berbicara.
Di luar, Nayla masih duduk di depan tenda medis.
Masih mencatat.
Ia tidak tahu apa yang baru dibicarakan di dalam pos.
Tidak tahu bahwa dua kilometer dari tempat ia duduk, sesuatu mulai bergerak.
Halaman catatannya bergerak. Nayla menekannya dengan tangan kiri. Lalu melanjutkan menulis.
"Ibu Ratmi — tekanan darah masih tinggi."
Di dalam pos komando, radio berbunyi sekali. Kreek.
Raditya mengangkatnya.
"Siap."