NovelToon NovelToon
Pita Hitam Kala Senja

Pita Hitam Kala Senja

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Persahabatan / Trauma masa lalu
Popularitas:107
Nilai: 5
Nama Author: Shourizzz BP

Semua sudah berakhir. Aku yang sulit dalam bergaul, pasti akan mudah dilupakan oleh orang – orang. Tidak dekat dengan siapapun, mau itu teman atau bahkan keluarga, pasti membuat kematianku sama seperti angin yang berlalu. Tidak dikenang oleh siapapun. Hanya kesendirianan yang tersisa. Akhir yang pantas bagi orang sepertiku. Seharusnya begitu, tapi …,
Kenapa aku bisa merasakan tetesan air mata?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shourizzz BP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SESEORANG YANG SANGAT BERHARGA

Aku adalah anak tunggal yang lahir dari keluarga yang bahagia. Mamaku orangnya agak serius, Mama sering menasehatiku atau bahkan memarahiku, meski begitu aku tau kalau itu adalah bentuk kepedulian. Ayahku malah kebalikannya, Ayah sering membuat candaan ketika aku dimarahi, seperti berusaha menenangkan kedua belah pihak. Mereka adalah orang tua yang terbaik. Kami adalah keluarga yang harmonis. Setidaknya, kalau saja semua tidak berubah.

Aku yang baru saja lulus dari sekolah dasar, disarankan orang tua untuk melanjutkan sekolah yang berada di dekat rumah. Sekolahnya bagus, hanya saja tidak banyak temanku yang mau masuk ke sekolahan tersebut. Aku sedikit memaksa untuk memilih sekolah lain. Meski ada sedikit perdebatan, selama kami semua memiliki pemikiran yang sama, akhirnya aku diberi restu oleh mereka. Letak sekolahan lumayan jauh kalau dari rumah, aku diantar Mamaku untuk mendaftarkan ke sekolah yang kuinginkan. Saat itulah hal buruk terjadi. Kami mengalami kecelakaan dijalan. Aku hanya luka – luka ringan, sedangkan Mamaku …, Mama kehilangan nyawanya.

Ayah menyalahkanku atas kematian Mama. Ayah beranggapan kalau akulah penyebab kematian Mama. Kalau saja aku tidak memilih sekolah yang jauh, kalau saja aku menurut apa yang mereka sarankan, kecelakaan tidak akan pernah terjadi. Toh, pada akhirnya, aku tetap memilih sekolah yang disarankan. Seharusnya sejak awal aku menurut. Padahal sudah ada pertanda penolakan, tapi aku tetap memaksa. Aku merasa apa yang Ayahku pikirkan adalah sebuah kebenaran. Atas dasar itu, akupun ikut – ikutan menyalahkan diri sendiri. Kuterima semua amarah yang Ayahku berikan. Kupasrahkan diri pada keadaan. Aku yang tidak pernah melihat Ayah marah selama hidup, hanya bisa terdiam ketika itu terjadi. Kesabaran sudah tidak bisa menahan Ayahku. Hari itu semua benar – benar kacau. Itulah awal mula retaknya keluargaku.

Untungnya kemarahan Ayahku bisa mereda. Dalam beberapa hari, Ayahku bisa kembali mengontrol emosinya. Hanya saja, piring yang sudah pecah tidak bisa disebut sebuah piring. Sejak kematian Mama, aku tidak pernah lagi bicara dengan Ayah. Pernah sekali, itupun percakapan tidak berarti. Hari – hari berikutnya kulalui tanpa adanya lagi makan bersama. Tanpa ada pertemuan wajib pagi dan malam. Kami hanya menjadi orang asing yang kebetulan serumah. Meski begitu, Ayahku tetap membiayai kebutuhanku. Ayah tetaplah orang yang bertanggung jawab. Hanya saja tidak ada interaksi antara kami berdua.

Disekolah, aku kehilangan keberanian. Aku takut kalau inisiatif yang berasal dariku akan menyebabkan kehancuran. Aku tidak mau kejadian dikeluargaku terulang disekolah. Memikirkan itu membuatku susah untuk berkomunikasi dengan orang lain. Aku selalu memikirkan dampak buruk jika aku mencoba mengeluarkan opini yang ada dalam pikiranku. Membuatku hanya menjadi pendengar, pembicaraan akan menjadi satu arah saat teman kelas mengajakku bicara. Lama – kelamaan, orang mulai jenuh dengan sikapku. Hingga pada akhirnya, tidak ada satu orang pun yang mau bicara denganku. Aku lulus sekolah menengah pertama tanpa dikenal siapapun.

               Saat ingin masuk SMA, aku dihadapkan pada situasi yang mengharuskanku untuk melakukan interaksi dengan orang tua. Aku perlu tanda tangan untuk bisa mendaftar. Aku tidak berani menghubungi Ayahku. Aku takut kalau dia akan kembali marah jika mendegar suaraku. Aku juga tidak berani berhadapan langsung dengan Ayah, bisa – bisa dia jengkel saat melihat wajahku. Aku benar – benar kebingungan. Aku sempat berpikir meminta bantuan orang lain, hanya saja tidak ada yang terpikirkan olehku. Aku cuman bisa menghadapinya. Aku memberanikan diri menunggu Ayah datang, dimeja makan. Tempat yang sudah lama berdebu dalam ingatanku. Aku menunggu dan terus menunggu sampai malam tiba, tapi Ayah tetap tidak datang. Aku tidak tau jam berapa Ayah pulang. Aku bahkan tidak tau kapan saja Ayah ada dirumah. Meski begitu, aku hanya bisa menunggu. Kalau tidak hari ini, masih ada hari lain. Aku menunggu sampai tidak sadar kalau tengah malam telah lewat. Mataku rasanya berat, aku tidak bisa menhan kantuk. Aku tertidur dimeja makan dengan kertas pendaftaran ditanganku.

               Saat aku terbangun, matahari sudah sangat menyilaukan. Sepertinya aku tertidur terlalu lama. Segera kuperiksa sekitar, siapa tau Ayahku datang. Kucoba pastikan dengan melihat rak sepatu yang berada didekat pintu utama. Sayangnya aku tidak menemukan sepatu Ayahku. Kemungkinan Ayah tidak pulang ke rumah. Akupun mengurungkan niat untuk meminta tanda tangan dan fokus mempersiapkan yang lain terlebih dahulu. Saat aku ingin mengambil kertas pendaftaran yang ada dimeja makan, aku tidak sengaja melihat isinya yang sudah bertanda tangan. Selain itu, aku melihat ada sepotong kertas tambahan beserta kunci. Isi kertas itu adalah “Selamat ulang tahun.” Ternyata Ayahku masih mengingatnya. Ayah sempat pulang ke rumah lalu kembali bekerja. Lalu, kunci yang diberikan padaku adalah hadiah ulang tahun berupa motor.

               Aku tidak pernah berterimakasih pada Ayahku. Ayah semakin lama semakin jarang dirumah. Aku hanya bisa berpikir kalau Ayah semakin sibuk dengan pekerjaan kantornya. Sesekali ada aku melihat Ayah dirumah, hanya saja aku tidak berani untuk bicara. Mengucapkan terimakasih pun terasa berat. Aku selalu menunda – nunda. Masih ada hari lain untuk mengungkapkannya. Sampai pada aku mati, aku tidak pernah sekalipun berterimakasih. Padahal Ayah selalu ada meskipun tidak terlihat. Ayah selalu ada disisiku untuk memperhatikan. Aku hanya tidak menyadarinya. Aku mengabaikannya. Tidak pernah terbesit dalam benakku untuk melakukan hal yang sama. Aku tidak pernah bisa membalas kebaikan Ayah. Aku tidak pernah bisa membanggakannya. Padahal hanya Ayah satu – satunya keluargaku yang tersisa. Tapi, apa? Apa perlakuan yang kuberikan pada Ayah? Aku tidak pernah mencoba untuk memperbaiki hubungan. Jangankan mencoba, berpikir untuk memperbaikinya pun tidak. aku hanyalah anak beban yang selalu merasa kalau akulah yang paling menderita. Aku tidak tau rasa sakit apa yang selalu Ayah coba tahan. Aku tidak pernah mencoba untuk mengerti dirinya.

Ayah, apa kamu baik – baik saja?

Aku ingin hidup! Penyesalanku belum berakhir! Aku ingin meminta maaf dan berterimakasih pada Ayahku. Aku ingin melihat wajahnya. Aku ingin memeluknya. Aku ingin bersamanya walau hanya sebentar. Aku mau meluangkan seluruh waktu yang kumiliki hanya untuk bisa bertemu dengan Ayahku. Aku akan mengorbankan apapun. Kalau aku diberi kesempatan, aku tidak akan melarikan diri lagi. Aku akan menghadapi Ayahku. Aku siap menerima kebencian yang Ayahku rasakan. Aku ingin menanggungnya bersama. Aku siap. Aku yakin. Maka dari itu …, tolong berikan hamba kesempatan untuk memperbaiki hubungan bersama keluarga. Tolong berikan hamba satu kali saja waktu untuk bisa bersama.

Tuhan, hanya kepadamu aku meminta.

Aku merasakan nyeri diseluruh tubuhku. Tiba – tiba perutku sakit. Bukan sakit biasa, rasanya seperti ditembus oleh sesuatu. Sakit bukan main. Rasanya sama seperti ditembak oleh senjata api. Peluru masuk ke dalam tubuhku. “Kamu udah besar.” Suara yang kudengar dari belakang membuatku mengabaikan semua rasa sakit. Aku mengenal suara orang yang berbicara. Suara yang sudah lama tidak kudengar. Suara yang sering memarahiku ketika aku melakukan kesalahan. Suara yang sama yang selalu menenangkan hati ketika aku kecil. Kucoba memastikan suara tersebut dengan berbalik badan. Ternyata benar, orang yang bicara adalah Mama. Mama tersenyum padaku. Melihat wajah Mama, membuatku ingin menangis. Air mata tidak lagi bisa kutahan. Banyak hal yang ingin kubicarakan. Hanya saja mulutku rasanya terkunci. Aku tidak bisa mengungkapkannya. Alih – alih berusaha, aku memilih untuk mendekat kearahnya. Berusaha untuk memeluknya. “Kayaknya belum waktumu.” Ketika aku hampir melakukan apa yang kuinginkan, Mama menghilang. Semua orang menghilang. Bahkan, alam pun menghilang. Semua menjadi gelap. Saat kukedipkan mata, tau – tau aku sudah berada dirumah sakit.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!