NovelToon NovelToon
Pendekar Pedang Samudera

Pendekar Pedang Samudera

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Epik Petualangan / Action
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Dana Brekker

Pewaris Pedang Samudera yang memilih berlayar ketimbang meneruskan jejak sang ayah. Lantas bagaimana cara dia untuk memanfaatkan pusaka legendaris itu dan mewujudkan perdamaian di Shenzhou jika dia sendiri adalah sampah yang dimanjakan ibu dan kakak perempuannya?

"Ibuku memberiku segalanya kecuali kebebasan. Kakakku memberiku perlindungan meski aku tidak memintanya. Sementara Ayahku memberiku mimpi yang membuatku terus berjalan meski semua orang berkata untuk berhenti. Aku adalah orang paling beruntung sekaligus paling terkekang di dunia."

Novel Xianxia baru dari Dana Brekker, bisa langsung baca aja. Tinggalkan like, vote, dan komentarnya kalau suka. Terima kasih!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16 : RENCANA YANG DISIMPAN

Sekte Penguasa Dalam bukan organisasi baru.

Catatan tertua yang pernah Haifeng baca menyebutkan nama mereka dalam konteks yang sangat berbeda dari yang dia bayangkan kemarin. Bukan sekte jahat dalam pengertian konvensional, namun seperti penjaga yang lama kelamaan kehilangan batas antara mengabdi dan memangsa. Sejatinya mereka muncul bersamaan dengan legenda Pulau Penjaga, generasi demi generasi menjaga ritual yang mereka yakini menjaga keseimbangan antara dunia atas dan entitas yang mereka sebut Penguasa Dalam, makhluk yang dalam kepercayaan mereka adalah pemilik asli semua lautan di Shenzhou sebelum manusia pertama belajar berlayar.

Apakah ayahnya pernah berurusan dengan mereka? Haifeng tidak tahu. Tapi potongan pedang yang ditemukannya di hutan itu membuktikan bahwa Wei Changsong pernah menginjakkan kaki di pulau ini, tapi tidak membuktikan apa pun selain itu. Mungkin ayahnya berhasil menghindari sekte itu. Mungkin juga tidak.

Pertanyaan itu belum terjawab, dan Haifeng menyimpannya di tempat yang sama dengan pertanyaan-pertanyaan lain yang belum waktunya dijawab.

Sementara Qinghan tidak membuang banyak kata untuk Bai Mei.

Satu tatapan yang berlangsung tiga hitungan jari ketika perempuan itu datang membawakan air minum ke dekat tempatnya berdiri cukup untuk menyampaikan semua yang perlu disampaikan tanpa satu pun kata diucapkan. Bai Mei meletakkan cangkir itu, mundur dua langkah, sebelum kembali ke area kerjanya tanpa mencoba melanjutkan percakapan.

Perubahan pada Bai Mei dalam dua hari terakhir cukup mencolok untuk diperhatikan oleh siapa pun yang cukup memperhatikan. Wanita yang biasanya tidak akan menyentuh pekerjaan kasar kecuali ada alasan yang sangat menguntungkan dirinya itu kini terlihat mengangkut papan-papan kayu ringan, menyiapkan makanan untuk kru yang bekerja, dan mengisi ember-ember air dari sumur alami yang ditemukan di tepi hutan. Dia tidak mengeluh dengan keras, dan tangannya tidak pula berhenti.

Qinghan melihat semua itu dan tidak mengubah penilaiannya satu derajat pun.

"Dia tidak membicarakan pedang itu lagi," kata Zhao Feng sepelan mungkin kepada Sun Li yang duduk di sampingnya, suaranya cukup rendah untuk tidak sampai ke telinga yang tidak perlu. "Sejak keluar dari bawah tanah itu. Sama sekali tidak pernah."

"Aku juga perhatikan kok." Sun Li menatap punggung Bai Mei yang sedang mengangkut sesuatu di kejauhan. "Aneh ya. Padahal dia yang paling pertama menghitung nilainya waktu kita masih di kapal dulu."

"Mungkin hampir dipatok ular mengubah prioritas seseorang," kata Ma Chao. “Aku mengerti rasanya.”

"Atau dia punya rencana lain yang lebih tidak terlihat." Zhao Feng mengambil seruputan dari cangkirnya. "Bai Mei tidak pernah berhenti punya rencana. Yang berubah hanya rencananya. Entah itu tetap pada pencurian Pedang Samudera, atau yang lain."

Tianbao yang duduk di seberang mereka dengan Wang Bi dan Liu Mao di kiri kanannya menimpali dari jaraknya. "Kalian terlalu banyak berpikir. Haifeng bilang biarkan saja selama tidak ada yang dirugikan."

"Haifeng juga yang bilang kita harus menyelamatkan Bai Mei padahal Panglima sudah mau merelakannya, bukan?" Wang Bi menyilangkan kaki di atas batu tempatnya duduk. "Bocah itu terlalu baik hati untuk situasi seperti ini."

"Bukan terlalu baik hati," timpal Liu Mao. "Dia hanya tidak takut."

"Bedanya apa?"

"Orang yang terlalu baik hati takut jadi jahat. Orang yang tidak takut hanya melakukan apa yang menurutnya benar."

Lantas Wang Bi menatap Liu Mao dengan ekspresi yang tidak biasa muncul di wajahnya ketika berhadapan dengan sahabatnya itu. "Kau kadang-kadang bisa bilang sesuatu yang berguna."

"Kadang-kadang?"

Zhao Feng menatap ke arah pantai di mana Haifeng tadi terakhir terlihat. "Kalau tingkatnya tidak nol, kira-kira dia sekarang sudah di mana?"

"Dengan darah Wei Changsong dan kakak seperti Panglima Qinghan?" Sun Li berpikir sejenak. "Tingkat empat mungkin."

Keheningan singkat yang menyusul memiliki kualitas orang-orang yang baru memvisualisasikan sesuatu yang tidak nyaman.

"Panglima saja sudah sekuat itu," kata Ma Chao. "Kalau nanti adiknya berada di tingkat yang sama..."

"Lebih baik Jangan diteruskan," kata Tianbao. "Dan tolong jangan ada yang membicarakan ibunya. Aku pernah tinggal di istana itu dan sampai sekarang ada mimpi tertentu yang masih tidak berani kuceritakan."

Wang Bi dan Liu Mao kompak menutup mulut mereka pada saat yang bersamaan setelah Tianbao menyinggung Kaisar Wei Wu Shuang yang jelas berada di tingkat puncak, alias tingkat sepuluh.

Haifeng sudah berlatih sejak matahari masih rendah di cakrawala timur.

Pantai di ujung selatan pulau itu cukup jauh dari area perbaikan kapal untuk memberikan ketenangan yang dibutuhkan, dan cukup terbuka untuk tidak membatasi ruang geraknya. Pasirnya keras di tepi air, memberikan pijakan yang baik, dan suara ombak yang datang dan pergi memberikan ritme yang tidak dipaksa.

Dia berlatih sampai tangannya tidak mau diajak mengangkat pedang lagi. Kemudian mengistirahatkan sebentar, lalu berlatih lagi. Kemudian satu sesi terakhir yang berakhir dengan tubuhnya tergeletak di pasir, lengan terentang mati rasa, menatap langit biru yang tidak peduli pada kelelahan siapa pun.

Napasnya ketara sekali tidak teratur selama beberapa menit.

"Kemarin aku bergantung lagi padanya," katanya kepada langit. Tidak ada yang dia tuju secara spesifik dengan kata "padanya", tapi maknanya jelas. "Aku tidak suka itu."

Kelemahan bukan sesuatu yang Haifeng takuti seperti orang takuti kegagalan. Akan tetapi seperti sesuatu yang dia anggap sebagai masalah teknis yang perlu diselesaikan, dan masalah teknis yang tidak diselesaikan akan terus muncul sampai ada yang cukup serius untuk menyelesaikannya.

Semua pikirannya itu ambyar, setelah wajah muncul tepat di atas wajahnya.

Lantas Haifeng berguling ke samping dengan kecepatan yang tidak dia rencanakan, tangan kanannya sudah di gagang Pedang Samudera sebelum matanya selesai memproses apa yang dilihatnya.

Ternyata Samudera melayang sekitar setengah meter di atas pasir, rambutnya biru kehijauan yang bergerak seperti ada arus air yang tidak terlihat di sekelilingnya. Wajahnya bisa dilihat dengan jelas, matanya, ekspresinya, dan ekspresi itu saat ini adalah ekspresi seseorang yang sedang berusaha sangat keras untuk tidak tertawa tapi tidak berhasil.

Tangannya terangkat menutupi mulutnya. Tidak cukup berhasil.

"Kau," kata Haifeng sembari melepaskan pegangan pada gagang pedang. "Kau tidak pernah muncul seperti ini sebelumnya."

"Baru pertama kali, kan? Kaget ya?" Samudera melayang sedikit ke kiri, lalu ke kanan, seperti sedang mencoba sesuatu yang baru dan masih mempelajari cara kerjanya. "Menarik sekali rasanya."

"Kenapa bisa begitu?"

Samudera berhenti melayang dan memiringkan kepalanya. "Coba tebak."

"Kontrak?"

"Lebih spesifik."

"Syarat yang aku minta?"

"Lebih spesifik lagi."

Haifeng berpikir keras sampai menggosok dagunya. "Syarat kebebasan yang kucantumkan membuka sesuatu yang tidak terbuka sebelumnya?"

Samudera menunjuk ke arahnya dengan satu jari. "Kontrak dengan Wei Changsong tidak memiliki klausul kebebasan. Dia menerima ikatan standar antara jiwa pedang dan pemilik, yang artinya keberadaanku sepenuhnya terikat di dalam bilah." Suaranya tidak berubah nada tapi ada sesuatu di dalamnya yang berbeda ketika dia menyebut nama ayah Haifeng. "Kontrak kita berbeda. Karena ada klausul kebebasan yang kau masukkan, bahkan sebelum klausul itu terpenuhi, ada semacam... kelonggaran yang terbentuk. Aku bisa keluar dalam wujud seperti ini. Tidak sepenuhnya fisik." Tangannya melewati batang kayu apung yang ada di dekatnya tanpa menyentuhnya, membuktikan pernyataannya sendiri. "Tapi menurutku ini sudah lebih dari cukup."

Haifeng menatapnya selama beberapa saat. Kemudian berdiri dari pasir, menepuk celananya, dan tersenyum dengan cara yang tidak banyak orang lihat di wajahnya karena biasanya muncul hanya ketika ada sesuatu yang benar-benar terasa tepat.

"Kalau begitu," katanya, "bantu aku jadi kuat. Semakin kuat aku, semakin dekat kita ke titik di mana kontrak itu bisa dipenuhi sepenuhnya. Dan kalau itu terjadi, kau tidak akan jadi hantu lagi."

Samudera sampai terdiam selama tiga detik penuh.

Tidak banyak hal yang bisa membuat jiwa yang sudah ada sejak sebelum kekaisaran pertama Shenzhou berdiri kehilangan kata-kata. Haifeng tampaknya menemukan cara untuk melakukan itu dengan sangat efisien.

"Kau terlalu serius," kata Samudera.

"Aku selalu serius kalau soal hal yang penting."

Akhirnya Samudera tersenyum. Tangannya terangkat ke depannya dengan telapak menghadap ke atas.

Haifeng pun mengangkat tangannya juga, telapak menghadap ke bawah, melayang tepat di atas telapak tangan Samudera yang tidak bisa disentuh. Jarak di antara keduanya sangat tipis.

"Untuk kebebasan," kata Haifeng.

"Untuk kebebasan," kata Samudera.

Sedangkan jauh di area kapal, Bai Mei meletakkan mangkuk-mangkuk makan siang di dekat kru yang sedang beristirahat dengan cara yang sangat berbeda dari cara dia meletakkan sesuatu dua minggu yang lalu. Kini jelas lebih hati-hati dan sadar bahwa setiap gerakan dilihat oleh setidaknya satu pasang mata yang tidak ramah.

Matanya sesekali mencari Haifeng di antara orang-orang yang berkerumun. Meski bukan dengan niat yang sama dengan yang dibawanya dari Long Yuan, tapi seperti orang yang sedang memperbarui penilaian lama dengan data yang baru.

Ketika tidak ada yang cukup dekat untuk mendengar, bibirnya bergerak sangat pelan.

“Tetua Garan bukan pemimpin tertinggi sekte itu.”

Memang benar, selama beberapa lama disekap di bawah tanah sebelum ritual dimulai, Bai Mei mendengar cukup banyak dari percakapan di antara para pengikut sekte itu untuk memahami bahwa Garan hanya menjalankan perintah dari seseorang yang lebih tinggi dalam hierarki yang tidak kecil. Ada struktur di balik sekte itu yang jauh lebih rapi dari yang terlihat.

Yang jelas informasi itu bernilai.

Tapi menyampaikannya ke Qinghan berarti memberikan sesuatu yang berguna kepada wanita kaku yang sudah memandangnya seperti ancaman yang belum cukup besar untuk ditangani, dan Bai Mei tidak mau melakukan itu. Tidak sekarang. Mungkin tidak pernah.

Alih-alih, dia menyimpan informasi itu di tempat yang sama dengan semua informasi berharga lainnya yang pernah dikumpulkannya di dalam kepala sambil menunggu momen yang tepat untuk digunakan.

Dan kalau momen itu tidak datang, setidaknya dia tahu kapan harus lari.

1
Ilham Akbar
Mantap thor, apalagi kalo cerita ini sampai finish💪👍
DanaBrekker: Terima kasih atas dukungannya 👍
total 1 replies
Ilham Akbar
Mampus lu,, dasar betina rakus🤭
DanaBrekker: /Smirk/
total 1 replies
GFR31
top 👍
DanaBrekker: terima kasih. sangat disarankan juga buat ikutin kisah Ji Zhen di novelku yang berjudul Lahirnya Kultivator Naga Keabadian 🙏
total 1 replies
DanaBrekker
Selamat datang di karya baru author semoga kalian suka.. Terima kasih sudah meluangkan waktunya untuk membaca cerita ini. Bisa terus kasih dukungan demi kelanjutan karya-karya author, dan kalau tidak suka jangan dipaksa 🤭🙏🤣
DanaBrekker: semoga cocok 🤭
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!