NovelToon NovelToon
Dikejar Cinta Pak Guru (Dipaksa Menikah Dengan Orang Mati Season 2)

Dikejar Cinta Pak Guru (Dipaksa Menikah Dengan Orang Mati Season 2)

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Fantasi / Iblis
Popularitas:823
Nilai: 5
Nama Author: Fitria callista

Vince adalah seorang guru sekaligus pemilik saham terbesar di SMA Taruna. Awalnya ia mau untuk menjadi kepala sekolah, namun setelah kedatangan murid dengan paras yang begitu mirip dengan cinta pertamanya.
Vince mengurungkan niatnya untuk menjadi kepala sekolah.
Ternyata muridnya itu adalah anak kandung dari cinta pertamanya yang bernama Naura, Naura di paksa menikah dengan vampir.
Murid Vince yang menjadi cinta pertamanya adalah Maura, Maura tidak tahu jika dia bukanlah anak kandung dari Stela.
Maura adalah anak dari raja vampir Liam, Lian dan juga Naura.
Lian maupun Liam dulu sangat mencintai Naura, namun Naura meninggal dunia setelah beberapa hari melahirkan bayi Maura.
Naura meninggal dengan cara mengenaskan dengan menjadi tawanan raja vampir.
Lian sendiri menikah dengan Stela, namun detik detik meninggalnya Naura. Lian mengatakan hal yang menyakitkan Stela, membuat Stela menaruh dendam kesumat bahkan kebencian pada Maura, apalagi wajah Maura itu sama persis dengan ibunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria callista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12.

Vince benar benar terenyuh, bahkan ia merasa sangat kasihan dengan hidup Maura.

"Apakah aku boleh melihat semua bekas luka yang ada di tubuhmu Maura? Agar aku bisa mempercayai semua yang kamu kayakan. Aku janji tidak akan melapor ke polisi atau mengatakan pada siapa pun," ujar Vince dengan wajah simpati.

Setelah satu jam lebih mendengarkan dongeng murid nya yang hidup penuh penderitaan, Vince memilih untuk memastikan semua cerita dongeng itu. Karena bagaimana pun ia dan juga Maura baru saja bertemu beberapa hari yang lalu, dan sebelumnya dia maupun muridnya juga tidak saling mengenal satu sama lain.

Maura yang melihat kepedulian yang terpancar dari ke dua bola mata gurunya pun, akhirnya memilih untuk menunjukkan beberapa luka memar dan luka cambuk di bagian lengan.

Deg!

Mata Vince terbelalak sempurna, dan jantungnya berdegup kencang saat ia melihat muridnya itu mulai menaikkan bagian lengannya. Sebagai pria berumur 33 tahun yang belum pernah merasakan apa yang disebut "surga dunia", seluruh tubuh Vince merasa merinding.

"Stop Maura! Tolong jangan dibuka lagi," ujar Vince dengan panik sambil memalingkan pandangannya ke arah lain. Bahkan, semburat merah memerah di kedua pipinya seakan menjadi pertanda rasa malunya yang amat dalam.

Maura menatap gurunya dengan wajah heran, lalu berkata, "Loh, tadi bukannya Bapak yang meminta untuk menunjukkan semua bekas luka saya? Kok tiba-tiba begini! Kalau tidak saya perlihatkan semuanya, nanti Bapak tidak percaya."

Sementara itu di dalam hati, Vince merasa dilema dan bingung. Ia ingin tahu dan membantu muridnya, namun ia juga menyadari batasan yang harus dijaga sebagai seorang guru. Akhirnya, ia menghela nafas, mencoba meredakan rasa panik yang mendera hatinya dan memikirkan bagaimana sebaiknya ia menghadapi situasi ini.

Vince menegaskan kembali pada dirinya, bahwa ia adalah guru dan harus bisa menemukan solusi terbaik untuk kepentingan muridnya, bukan karena rasa penasaran pribadi semata.

"Saya percaya padamu Maura, sudah jangan di buka lagi! Bagaimana pun kita itu bukan muhrim," ucap Vince seraya bangkit berdiri. Ia terlihat berjalan ke arah kamar mandi yang berada di dalam ruang inap muridnya itu.

Naura hanya bisa melongo, sembari menatap punggung gurunya yang sudah menghilang dari balik pintu kamar mandi.

***

**

*

Aron menatap istrinya dengan penuh perhatian, mencoba mencari tahu apa yang membuatnya mondar-mandir seperti orang resah.

"Sayang, kenapa wajahmu tampak begitu panik? Ada apa?" tanya Aron penasaran, melihat istrinya yang seperti tidak bisa diam dan sudah lebih dari satu jam mondar-mandir tanpa merasa lelah.

"Aku mencoba menelpon Maura berkali-kali, tapi dia tidak mengangkat teleponku, apa yang harus kulakukan?" ungkap Cherly dengan raut cemas.

"Mungkin saja dia belum pulang sekolah, ada saja kegiatan yang membuatnya lupa waktu di beberapa hari pertama masuk sekolah baru," jawab Aron sambil mencoba kembali fokus ke pekerjaannya, dengan setumpuk dokumen yang menanti untuk diselesaikan.

"Tapi... ini sudah pukul 6 petang, Aron. Maura belum pulang. Bagaimana kalau dia diculik orang?" suara Cherly semakin panik dan was-was.

Aron berusaha tenang, berbicara pelan agar istrinya kembali rasional. "Sayang, kamu sepertinya terlalu khawatir berlebih. Mungkin saja Maura sudah dijemput oleh ibu tirinya, Stela." Ia berusaha menyampaikan suara hatinya agar Cherly bisa sedikit tenang, tapi sejujurnya Aron juga merasa ada kegelisahan yang tidak bisa ia abaikan begitu saja, dan tidak berani mengungkapkannya pada Cherly.

"Tidak mungkin Stela mau menjemput Maura, anak tirinya! Karena Stela —" ucapan Cherly terhenti, sebab ponsel yang dipegangnya tiba-tiba berbunyi.

Aron, sang suami, lebih memilih untuk fokus menyelesaikan tumpukan dokumen penting yang ada di depannya. Pasalnya, beberapa hari lagi adalah hari spesial, yaitu ulang tahun Maura. Ia sudah berjanji pada putri angkatnya itu untuk membawanya pergi ke luar negeri dan melihat salju.

Apa yang harus kulakukan, Stela sudah pasti tidak akan membantuku, dia memang kejam dan menyepelekan Maura, ujar Cherly dalam hati. Ponselnya kembali berbunyi, ia langsung mengangkatnya dengan rasa penasaran dan gelisah.

"Benar dugaanku, Maura menghilang. Baru saja aku ditelpon Stela, dan dia bilang Maura belum pulang sekolah. Dia bahkan menyalahkan aku!" Terdengar suara panik Cherly.

Aron segera berdiri, berusaha menenangkan istrinya. Di tengah kekalutan perasaan dan pertanyaan-pertanyaan yang melintas di pikiran mereka, telepon kembali berdering. Cherly segera mengangkatnya dengan perasaan tidak karuan.

"Apa? Maura ada di rumah sakit?" Teriak Cherly dengan suara terkejut. Rasa cemas, marah, dan takut bergabung dalam benak Cherly, akan tetapi ia harus berfikir jernih demi keselamatan Maura. Sepertinya ini menjadi ujian besar bagi kami berdua, pikirnya.

Saat mendengar dering telepon yang misterius, Cherly seketika berteriak kebingungan dan panik, memanggil nama anak angkatnya, "Maura!"

"Maura di rumah sakit?" tanya Aron, suaminya, dengan nada tak percaya. Cherly hanya mengangguk, tangan gemetar dan wajah pucat pasi. Dia meraih tangan Aron, berusaha untuk mengajaknya segera pergi ke rumah sakit.

Tapi Aron berhenti sejenak, "Sayang, sebentar. Aku harus merapikan beberapa dokumen dulu."

"Kita tidak punya waktu, ayo kita buruan ke rumah sakit!" seru Cherly, tak sabar dan cemas.

"Aku benar-benar khawatir, takut, dan penasaran. Apa yang sebenarnya terjadi pada Maura? Kenapa dia bisa sampai masuk rumah sakit? Tapi ibu tirinya itu tidak tahu..."

Mendengar ucapan istrinya, Aron menghela nafas kasar, lalu memilih mengikuti istrinya itu. Dengan cepat, dia mengirim pesan pada asisten pribadinya untuk menata dokumen dan menutup kantor.

Kali ini Cherly memilih untuk duduk di kursi kemudi, ia benar-benar tidak sabar dan gelisah untuk segera ke rumah sakit dan menemui Maura, anak angkat yang selama ini mereka sayangi. Semoga semuanya baik-baik saja.

****

**

**

Mobil yang dikendarai oleh Cherly tiba di rumah sakit yang telah diberitahukan oleh penelpon misterius tersebut.

Dengan langkah kaki cepat, Cherly segera berlari masuk ke rumah sakit sembari terus menyeret tangan suaminya.

Di sana, suasana sedang sibuk karena waktu untuk jam berkunjung pasien. Ketika hendak memasuki lift, mereka menemukan lift sudah penuh.

"Yuk, kita naik tangga saja!" usul Cherly pada suaminya yang berdiri di sampingnya, berusaha semampu mungkin untuk mencari cara cepat agar bisa mengecek keadaan Maura.

"Astaga, sayang, Maura ada di lantai 6. Gak mungkin kita naik tangga, lebih baik menunggu lift saja," sahut Aron dengan nada lelah, menolak permintaan istrinya.

"Ta..tapi aku khawatir, kalau terjadi sesuatu yang buruk pada Maura," ucap Cherly dengan suara bergetar, rasa cemas mulai menguasai pikirannya.

Aron menepuk bahu istrinya, "Tenanglah, semua pasti baik-baik saja! Aku yakin Maura adalah anak yang kuat."

Setelah menunggu lima menit, akhirnya giliran Cherly dan Aron untuk naik lift.

Begitu mereka sampai di depan ruangan Maura, tanpa diduga-duga, Cherly mendapati pemandangan yang membuatnya marah setelah membuka pintu.

"VINCE! Apa yang kamu lakukan pada anak angkatku?! Kenapa kamu malah menciumnya?!" teriak Cherly dengan penuh emosi, ia tak mampu membendung amarahnya hingga berlari langsung menampar pipi Vince.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!