NovelToon NovelToon
Aku Pergi Dan Tak Kembali

Aku Pergi Dan Tak Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Yanti Topato

Mona Gradies, wanita 26 tahun yang ceria, blak-blakan, dan sedikit ceroboh, tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah setelah bekerja di Aditama Group—perusahaan milik Wira Aditama, seorang CEO berusia 30 tahun yang dikenal dingin, tegas, berwibawa, dan gila kerja.
Di balik sikapnya yang tampak sempurna, Wira menyimpan dunia yang penuh kontrol, aturan, dan jarak dari siapa pun. Namun Mona hadir seperti gangguan yang tidak bisa ia atur—berisik, ceroboh, tapi jujur dan hangat.
Awalnya hanya kesalahan kecil dan perdebatan sepele di kantor. Tapi semakin lama, batas profesional dan perasaan mulai kabur.
Hingga satu peristiwa mengubah segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yanti Topato, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab. 3- Aturan baru di ruang CEO

Aturan Baru di Ruang CEO

Pagi di lantai tertinggi Aditama Group tidak pernah benar-benar terasa seperti pagi. Tidak ada suara ramai, tidak ada tawa, tidak ada langkah santai. Yang ada hanya ketepatan waktu, layar monitor yang menyala terus, dan orang-orang yang bergerak seperti jam yang tidak boleh terlambat sedetik pun.

Mona Gradies berdiri di depan meja sekretarisnya dengan napas pelan. Sudah dua hari, tapi rasanya seperti baru saja masuk ke dunia yang berbeda.

Hari ini adalah hari pertamanya benar-benar bekerja sebagai sekretaris CEO dan itu berarti bekerja langsung di bawah Wira Aditama.

Pintu ruang utama terbuka.

“Masuk.” Suara itu tidak keras, tapi cukup membuat ruangan terasa lebih sempit.

Mona melangkah masuk. Wira sudah duduk di meja kerjanya, seperti biasa rapi tanpa cela. Jas hitam, kemeja putih, dan tatapan yang tidak pernah terlihat benar-benar santai.

Ia tidak langsung menatap Mona. Seolah kehadirannya hanya bagian kecil dari rutinitas.

“Duduk,” ucapnya singkat.

Mona duduk, hening. Hanya suara jam dinding dan ketikan pelan dari laptop Wira yang terdengar. Setelah beberapa detik, Wira akhirnya berbicara tanpa mengangkat kepala.

“Mulai hari ini, kamu ikut jadwal saya.”

Mona mengangguk. “Baik, Pak.”

Wira menggeser satu map ke depan.

“Ini jadwal hari ini. Rapat jam 09.00, jam 11.30, dan jam 15.00. Kamu pastikan semua orang sesuai waktu.”

Mona membuka map itu. Matanya langsung bergerak cepat membaca isi jadwal yang padat.

“Baik.”

Wira akhirnya menatapnya. “Di sini tidak ada kata ‘coba’. Hanya ada ‘bisa’ atau ‘keluar’.”

Kalimat itu tidak diucapkan dengan emosi. Justru itu yang membuatnya lebih berat.

Mona mengangguk pelan. “Saya mengerti, Pak.”

Wira bersandar di kursinya. “Bagus.” Lalu ia berdiri. “Mulai sekarang, kamu ikut saya ke rapat pertama.”

Rapat pertama dimulai tepat waktu. Tidak ada satu pun orang yang terlambat. Mona duduk di sisi ruangan, mencatat semua hal dengan cepat. Topik rapat tentang ekspansi bisnis, angka investasi, dan target pasar yang semuanya bergerak dalam skala besar.

Ia mencoba mengikuti, meski beberapa istilah terasa asing di awal, namun ia tidak berhenti. Beberapa kali, Wira berbicara dan seluruh ruangan langsung diam.

Tidak ada yang berani menyela. Mona memperhatikan itu. Bukan hanya karena Wira adalah CEO, tapi karena semua orang benar-benar mendengarkannya dan bukan karena takut saja, tapi karena percaya. Setelah rapat selesai, ruangan mulai kosong.

“Catatan rapat,” kata Wira tanpa menoleh.

Mona langsung berdiri. “Baik, Pak.”

Ia mengikuti Wira kembali ke ruangannya. Di dalam, Wira melepas jasnya dan meletakkannya di kursi. Gerakannya cepat, efisien, tanpa basa-basi.

“Buat ringkasan. Kirim ke email saya sebelum jam 12,” katanya.

Mona mengangguk. “Baik.”

Ia langsung duduk di meja sekretarisnya di luar ruang CEO dan mulai mengetik. Kecepatan tangannya meningkat perlahan. Ia mencoba menangkap inti pembicaraan, menyusun ulang kalimat, dan memastikan tidak ada yang terlewat.

Waktu berjalan cepat, jam menunjukkan 10.40. Belum selesai, Mona mengerutkan alisnya sedikit, tapi tetap fokus.

Di dalam ruangan, pintu terbuka sedikit, Wira keluar. Matanya langsung tertuju pada Mona.

“Kamu lambat,” katanya datar.

Mona berhenti mengetik. “Saya sedang memastikan ringkasan tidak ada yang salah, Pak.”

Wira berjalan mendekat. Ia berdiri di belakang Mona, melihat layar laptopnya. Suasananya berubah sedikit lebih tegang.

“Di sini bukan tempat untuk terlalu lama berpikir,” ucapnya.

Mona tetap tenang. “Kalau terlalu cepat, bisa ada informasi yang salah.”

Wira diam beberapa detik, lalu ia berkata, “Tunjukkan.”

Mona memutar layar sedikit, Wira membaca cepat. Hening lagi, Mona tidak tahu apakah itu tanda baik atau buruk, namun tiba-tiba Wira berkata, “Perbaiki bagian ini.”

Ia menunjuk satu paragraf. “Kalimatnya terlalu panjang. Tidak efisien.”

Mona mengangguk. “Baik.”

Wira berdiri tegak kembali. “Jam 11.30 kamu ikut saya ke meeting berikutnya. Pastikan semua file siap.” Lalu ia kembali masuk ke ruangannya.

Jam 11.30, rapat kedua dimulai. Kali ini lebih tegang, ada beberapa direktur yang terlihat berbeda pendapat. Suara mereka naik turun, tapi Wira tetap tenang.

Mona memperhatikan cara Wira berbicara. Singkat, tegas tapi selalu tepat sasaran. Tidak ada kata yang sia-sia dan setiap kali Wira berbicara, perdebatan langsung mereda sedikit demi sedikit.

Mona mulai mengerti satu hal, Wira bukan hanya dingin, dia sangat terkontrol.

Selesai rapat, Mona keluar ruangan sedikit lebih cepat untuk menyiapkan dokumen berikutnya, namun di tengah koridor, salah satu staf senior menghentikannya.

“Kamu Mona, sekretaris baru CEO?” tanyanya.

“Ya.” Staf itu menatapnya dari atas ke bawah.

“Bertahan ya. Biasanya tidak lama orang di posisi itu.”

Mona tidak menjawab langsung. Ia hanya tersenyum tipis.

“Saya akan coba.” Lalu ia berjalan lagi.

*****

Sore hari, Wira masih di ruangannya. Mona berdiri di luar, membawa dokumen terakhir hari itu.

“Masuk.” Mona masuk sesuai intruksi.

Wira tidak menoleh. “Laporan sudah?”

“Sudah, Pak.”

“Letakkan.” Mona meletakkan map itu di meja sesuai perintah.

Wira membuka satu halaman, membaca cepat, lalu menutupnya kembali.

“Cukup.” Suasana Hening dengan ucapan terakhir Wira.

Mona menunggu instruksi berikutnya, namun Wira justru berdiri dan mengambil jasnya.

“Kamu pulang.”

Mona sedikit terkejut. “Sekarang, Pak?”

Wira melirik jam. “Kalau kamu tetap di sini tanpa instruksi, itu hanya membuang waktu.”

Ia berjalan melewati Mona, namun sebelum keluar ruangan, ia berhenti sebentar.

“Besok lebih cepat.” Wira berlalu pergi, selesai dengan ucapannya.

Mona berdiri sendirian di ruang sekretariat yang mulai sepi. Hari pertama sebagai sekretaris CEO… tidak seperti yang ia bayangkan.

Tidak ada waktu untuk bernapas, tidak ada ruang untuk salah, tapi juga tidak ada ruang untuk menyerah. Ia menatap pintu ruang Wira yang tertutup.

Pria itu dingin, tegas, terlalu sulit ditebak, namun entah kenapa justru di bawah tekanan itulah Mona merasa dirinya benar-benar sedang diuji dan tanpa ia sadari, setiap hari di dekat Wira Aditama bukan hanya tentang pekerjaan, tapi tentang bagaimana ia perlahan masuk ke dunia seseorang yang tidak pernah benar-benar membuka dirinya untuk siapa pun.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!