Kirana, seorang maba cerewet dan nggak bisa diem, langsung membenci Bima—cowok teknik cuek dan dingin yang nggak mau minta maaf setelah menabraknya di pertemuan pertama mereka. Sejak itu, hidup Kirana dipenuhi omelan tentang si cowok teknik bau oli tersebut bersama gengnya yang hobi bergosip itu. Di tengah hari-hari kuliah yang penuh gebrakan, tingkah absurd teman-teman mereka, sampai pasangan bucin yang bikin geli satu kampus, hadir Danu—kakak tingkat sempurna yang mulai mendekati Kirana. Di sisi lain Bima justru diam-diam mulai jatuh hati dan terus mencuri pandang pada gadis cerewet itu. Lalu, akankah Kirana memilih Danu si pangeran kampus, atau Bima si cowok teknik acak-acakan yang selalu berhasil membuat harinya kacau?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon minttea_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Riuh di Bengkel Mesin
Hingar bingar aula utama kampus masih terngiang di telinga Kirana. Pengumuman itu, yang tertulis dengan tinta digital tebal di layar besar, seolah menjadi jawaban atas semua malam tanpa tidur dan perdebatan sengit yang menguras emosi. Nama mereka—Kirana dan Bima—berada di posisi puncak. Rasanya seperti baru saja memenangkan lotre, tapi jauh lebih memuaskan karena ini adalah hasil keringat sendiri.
Tanpa memedulikan rambutnya yang sedikit berantakan atau napasnya yang memburu, Kirana berlari melintasi koridor fakultas. Tujuannya hanya satu: Bengkel Teknik Mesin. Sebuah tempat yang biasanya ia hindari karena aromanya yang terlalu maskulin dan suasananya yang berisik. Namun hari ini, tempat itu terasa seperti istana kemenangan.
Begitu ia mendorong pintu geser besi yang berat itu, bunyi gesekan logam yang memekakkan telinga menyambutnya. Di sudut ruangan, di bawah lampu neon yang sedikit berkedip, ia melihat punggung lebar itu. Bima, dengan kaus hitam tanpa lengan yang sudah penuh noda oli, sedang berkutat dengan mesin bubut. Otot-otot lengannya menegang setiap kali ia menggerakkan tuas.
"Bimmm! Akhirnyaaa! Projek kita sukses, Bima! Kita lolos!"
Suara Kirana melengking tinggi, mengalahkan bising mesin. Bima tersentak, hampir saja menjatuhkan kunci pas di tangannya. Ia mematikan mesin dan berbalik dengan wajah bingung. Namun, sebelum pria itu sempat mengeluarkan satu kata pun, Kirana sudah menerjangnya.
Dalam ledakan euforia yang tak terbendung, Kirana menghambur ke pelukan Bima. Ia mendekap pria itu erat-erat, menyandarkan wajahnya di bahu Bima yang terasa keras dan panas karena uap mesin.
Ada aroma khas yang menguar dari tubuh Bima—campuran pelumas, bensin, dan aroma maskulin yang jujur. Kirana tidak peduli kemeja putihnya yang mahal sekarang mungkin sudah ternoda oli hitam dari tangan Bima.
Ia hanya ingin merayakan ini dengan satu-satunya orang yang paling tahu betapa berdarah-darahnya perjuangan mereka.
Bima mematung. Tangannya yang kotor karena oli tertahan kaku di udara, tidak berani menyentuh punggung Kirana karena takut merusak pakaian gadis itu.
Namun, di balik wajahnya yang biasanya sedatar papan penggilesan, sebuah senyum tipis terukir. Senyum yang sangat langka, yang hanya muncul saat ia benar-benar merasa lega. Jantungnya berdegup kencang, menghantam dadanya sendiri, bersahutan dengan detak jantung Kirana yang bisa ia rasakan langsung.
Detik-detik berlalu, dan kesadaran tiba-tiba menghantam Kirana seperti tersengat listrik. Kirana segera melepaskan pelukannya dan mundur dua langkah dengan wajah yang mendadak merah padam sampai ke telinga.
"Eh, sorry, Bim... gue... gue refleks tadi. Duh, sorry banget," gumamnya gugup, tangannya sibuk merapikan rambutnya yang sebenarnya tidak berantakan.
Bima berdehem pelan, mencoba menetralkan suasana. "Santai, Kir. Gue paham."
Tapi rasa senang itu rupanya lebih kuat dari rasa malunya. Kirana kembali bergerak, ia mulai melompat-lompat kecil di depan Bima sambil tertawa lebar. Matanya berbinar-binar, sesuatu yang jarang sekali Bima lihat.
Biasanya, Kirana adalah sosok "singa betina" yang siap menerkam Bima kapan saja. Kirana adalah gadis yang galak, yang selalu mengomeli Bima kalau cara bicaranya terlalu irit, atau marah-marah kalau Bima telat membalas pesan soal progres laporan proyek mereka. yang selalu menuntut kesempurnaan.
Namun sore ini, semua kegalakan itu menguap entah ke mana. Kirana benar-benar keluar dari karakternya. Ia berceloteh tanpa henti. Ia lupa bahwa ia harus menjaga image di depan cowok yang sering ia sebut "beruang kutub tanpa ekspresi" itu.
Bima hanya memperhatikan Kirana dalam diam. Di dalam hatinya, ada kebanggaan yang meluap. Bukan cuma karena proyek mereka sukses, tapi karena ia baru saja melihat sisi Kirana yang paling jujur.
Ia berpikir, bahkan Danu—cowok yang sedang dekat dengan Kirana yang selalu tampil sempurna itu—mungkin tidak pernah melihat Kirana se-lepas ini. Danu mungkin mendapatkan senyum sopan Kirana, tapi Bima mendapatkan pelukan tulusnya.
"Gila, Bim, gue bener-bener nggak nyangka!" Kirana masih antusias.
"Ya, kerja keras elu juga, Kir," sahut Bima singkat, namun ada nada bangga di suaranya.
Tiba-tiba, suasana riuh itu bertambah saat pintu bengkel terbuka lebar. Adit, Roni, dan si Gendut—rekan-rekan teknik Bima—masuk sambil tertawa-tawa membawa beberapa botol minuman dingin.
"Woy! Ada apa nih? Kirana tumben main ke kandang macan?" goda Adit sambil menyenggol bahu Bima dengan akrab.
"Cieee, yang projeknya menang! Tadi gue lihat ada yang pelukan ya dari jauh? Wah, Bima diam-diam menghanyutkan nih!" celetuk Roni yang langsung disambut tawa terpingkal-pingkal oleh si Gendut.
Kirana mendadak kaku. Mode "gadis galak" dan sopannya kembali terpasang secara otomatis. Wajahnya masih sisa rona merah, tapi ia mencoba tersenyum formal. "Eh, iya, kita cuma lagi senang karena pengumuman tadi kak."
"Halah, nggak usah malu-malu, Kir. Bima emang perlu dijagain tuh, biar nggak kaku banget kayak baut karatan," goda si Gendut lagi.
Bima hanya mendengus, kembali mengambil kunci pasnya seolah-olah tidak terjadi apa-apa, padahal telinganya sedikit memerah karena godaan teman-temannya.
Di luar, langit yang semula hanya mendung kini benar-benar pecah. Suara guntur menggelegar hebat, disusul hujan deras yang langsung mengguyur bumi dengan ganas. Suasana di dalam bengkel yang panas karena mesin berubah menjadi dingin dan lembap. Suara hujan yang menghantam atap seng bengkel menciptakan kebisingan ritmis yang membuat suasana terasa semakin terisolasi.
Tiba-tiba, di tengah tirai hujan, sebuah sosok muncul di ambang pintu. Itu Danu.
Ia berdiri di sana dengan payung hitam besar di tangan. Pakaiannya sangat rapi—kemeja flanel biru tua yang disetrika licin, celana chino krem yang bersih, dan sepatu kulit yang mengkilap. Ia tampak sangat asing di antara tumpukan ban bekas, ceceran oli, dan mesin-mesin tua di bengkel itu.
Danu memang jarang, atau hampir tidak pernah, menginjakkan kaki di wilayah Teknik. Ia lebih suka menghabiskan waktunya di perpustakaan pusat yang tenang atau di kelas-kelas bisnis yang harum pengharum ruangan.
"Kirana?" panggil Danu lembut. Suaranya terdengar tenang namun memiliki aura kepastian.
Kirana menoleh, sedikit terkejut. "Kak, Danu, kok kakak disini?"
"Gue lihat hujan makin deras di luar, dan gue tahu lo pasti masih di sekitaran kampus merayakan hasil pengumuman tadi. Ayo balik, gue anterin sampai rumah," ucap Danu sambil melangkah masuk, mencoba menghindari genangan oli di lantai dengan hati-hati.
Kirana sempat ragu. Ia menoleh ke arah Bima yang masih berdiri di dekat mesinnya. Bima melihat ke arah Danu, lalu ke arah payung hitam yang dibawa pria itu. Ada kilat persaingan yang tidak terucapkan di antara kedua pria itu.
"Nggak apa-apa, Dan. Ntar gue aja yang anter Kirana balik kalau hujannya udah agak redaan," sahut Bima dengan nada datar namun menantang.
Danu tersenyum sangat sopan, namun matanya menatap tajam ke arah Bima. "Hujannya nggak bakal reda cepat, Bim. Lihat aja langitnya masih gelap banget. Kasihan Kirana kalau harus nunggu lama di bengkel yang... dingin begini. Lagipula, gue bawa mobil. Kirana nggak boleh kehujanan, nanti dia sakit. Gue nggak mau dia drop cuma gara-gara nekat pulang naik motor di cuaca kayak gini."
Argumen Danu sangat masuk akal dan penuh perhatian. Ia selalu tahu cara memposisikan dirinya sebagai pelindung yang ideal. Bima terdiam. Ia melihat ke arah motor tuanya yang terparkir di pojok bengkel, sebuah kendaraan yang pastinya akan membuat Kirana basah kuyup meski sudah memakai jas hujan sekalipun. Bima adalah orang yang realistis. Ia lebih mementingkan kesehatan Kirana daripada egonya sendiri.
"Ya udah, Kir. Balik sama Danu aja. Bener kata dia, mending naik mobil biar elu nggak sakit," ucap Bima akhirnya, meski ada rasa sedikit sesak di dadanya.
Kirana menghela napas. Ia merasa sedikit bingung dengan situasi ini, tapi ia juga tidak ingin berdebat di tengah kebisingan hujan. Sebelum ia melangkah mengikuti Danu, Kirana menghampiri Bima sekali lagi. Ia menatap mata cowok teknik itu dengan tulus, melupakan semua perselisihan dan omelan-omelan galaknya selama beberapa bulan terakhir.
"Bim... makasih ya buat semuanya. Ternyata nggak sia-sia gue sekelompok sama elu. Kerja keras elu di bengkel ini kebayar semuanya hari ini," ucap Kirana pelan namun penuh penekanan. Senyumnya manis sekali, sebuah penghargaan yang menurut Bima jauh lebih berharga daripada piala mana pun.
Bima terpaku. Kata-kata itu terasa seperti pelumas yang mendinginkan mesin hatinya yang sedang panas.
Danu kemudian membukakan payungnya, merangkul bahu Kirana dengan protektif agar tidak terkena percikan air hujan saat mereka berjalan menuju parkiran mobil. Kirana sempat menoleh sekali lagi ke arah Bima yang masih berdiri tegak di tengah bengkel yang mulai gelap, menatap kepergian mereka dengan perasaan campur aduk.
Begitu mobil Danu yang mewah itu meluncur meninggalkan area kampus, teman-teman Bima langsung mengerubunginya.
"Ah, elah! Gimana sih lu, Bim? Masa saingan lu dibiarin bawa dia balik gitu aja? Kalah telak lu sama mobil!" ledek Adit sambil geleng-geleng kepala.
"Payah lu, Bim! Harusnya lu tahan dong, bilang aja mobil lu lagi di bengkel atau apa kek," tambah si Gendut sambil terkekeh.
Bima tidak membalas. Ia mengambil ponselnya dari atas meja kerja yang berantakan. Rasa kesal karena kehadiran Danu perlahan luruh, digantikan oleh memori hangat saat Kirana memeluknya tadi. Dan kalimat manis dari bibir gadis yang biasanya galak itu masih terngiang jelas.
Bima tahu, Danu mungkin bisa memberikan kenyamanan dan perlindungan fisik dengan mobilnya yang mewah. Tapi Danu tidak ada di sana saat Kirana menangis karena data risetnya hilang, atau saat Kirana berteriak gembira merayakan kesuksesan mereka. Bima tahu, dialah yang memiliki sisi emosional Kirana yang paling jujur.
Ia tersenyum tipis, sebuah senyum kemenangan yang sebenarnya, 15 menit setelah Kirana pergi ia mulai mengetik pesan singkat di WhatsApp.
“Udah sampai rumah belum? Jangan lupa minum teh anget, Kir, biar nggak masuk angin.”
Bagi Bima, itu sudah cukup. Karena di balik ketenangan Danu, Bima tahu ia sudah memenangkan sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan mobil apa pun: sebuah kepercayaan dan pelukan dari seorang Kirana.