NovelToon NovelToon
Arumi

Arumi

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Single Mom
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: Miss Ra

​Dicap sebagai janda rendahan, dipermainkan oleh pria tak bertanggung jawab, dan dicemooh oleh keluarga sendiri karena kemiskinannya, Arumi memiliki segalanya untuk hancur. Namun, Arumi memilih untuk bangkit dari abu.

​Ia mematikan hatinya, menolak bantuan siapa pun, dan bekerja dalam diam hingga namanya disegani.

Saat ia kembali, ia tidak datang untuk memohon. Ia datang untuk menagih setiap air mata yang pernah ia jatuhkan.

​Karena pembalasan yang paling manis adalah kesuksesan yang membuat musuhmu tidak mampu lagi menatap matamu.

Kita Simak Kisah Selanjutnya Di Cerita Novel => Arumi.
By - Miss Ra

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 16

Malam di pinggiran kota terasa lebih mencekam bagi mereka yang memiliki rencana besar. Arumi melangkah membelah gang-gang sempit di belakang kawasan industri tekstil, tempat di mana limbah pabrik raksasa dibuang.

Di gendongannya, Kirana tertidur lelap, terbungkus kain jarik tipis. Arumi tidak meninggalkan Kirana di warung Ibu Ratna, ia tidak lagi mempercayai siapapun untuk menjaga jantung hatinya, bahkan Ibu Ratna sekalipun.

Langkah Arumi terhenti di depan sebuah gudang seng yang tidak memiliki papan nama. Bau kimia dari zat pewarna kain dan debu kapas menyeruak tajam. Di sana, gunungan kain sisa, atau yang biasa disebut kain perca menumpuk hingga setinggi atap.

"Siapa?!" sebuah suara serak menggelegar dari balik gunungan kain.

Seorang pria tua dengan satu mata yang tertutup perban kumal muncul. Tangannya yang kasar memegang sebuah besi pengait.

Namanya adalah Pak tora, mantan mandor gudang di pabrik tekstil yang dipecat secara tidak hormat tanpa pesangon karena kecelakaan kerja yang membuatnya cacat.

"Saya Arumi. Saya datang untuk mencari bahan yang orang lain anggap sampah," jawab Arumi tanpa gentar, meski besi pengait itu hanya berjarak beberapa senti dari wajahnya.

Pak Tora tertawa sinis, menunjukkan deretan gigi yang tidak lengkap. "Bahan di sini bukan untuk penjahit amatir yang mau buat daster. Ini sisa ekspor. Sutra Italia, katun Mesir, hingga brokat Perancis. Tapi semuanya dalam potongan kecil. Kamu mau apa? Membuat baju boneka?"

Arumi menurunkan Kirana perlahan ke atas tumpukan kain yang bersih, lalu ia mendekati salah satu gunungan perca. Dengan mata yang sudah terlatih di Butik Griya Anggun, ia menarik sehelai kain berwarna midnight blue.

"Ini sutra shantung sisa potongan gaun pesta. Dan yang di sana, itu adalah brokat chantilly yang baru saja digunakan perusahaan tekstil untuk koleksi musim semi mereka, kan?" Arumi menoleh ke arah Pak Tora dengan tatapan yang membuat pria tua itu tersentak.

Pak Tora menurunkan besinya. "Bagaimana kamu tahu?"

"Karena saya adalah orang yang menjahit sampel aslinya sebelum mereka mencuri ide saya dan membuang saya ke jalanan," desis Arumi.

Suasana gudang mendadak sunyi. Pak Tora menatap Arumi lekat-lekat dengan satu mata sehatnya. Ia melihat api yang sama dengan yang ia rasakan setiap kali melewati gerbang pabrik, api dendam yang tidak akan padam oleh air mata.

"Seorang bajingan memang ahli membuang orang seperti sampah," gumam Pak Tora. "Jadi, apa maumu?"

"Berikan saya akses ke sisa-sisa kain terbaik ini sebelum para pengepul besar mengambilnya. Saya tidak punya banyak uang sekarang, tapi saya punya cara untuk membuat kain sisa ini menjadi pakaian seharga jutaan rupiah. Dan saat saya sukses, pabrik tekstil akan kehilangan klien-klien eksklusif mereka karena mereka tidak bisa lagi memonopoli bahan berkualitas."

Pak Tora tersenyum miring. Ia menyukai keberanian wanita di depannya. "Kamu tahu, Arumi? Di dunia tekstil, bahan adalah nyawa. Pabrik tekstil mengontrol pasar karena memegang suplayer utama. Kalau kamu bisa membuktikan kamu bisa mengolah sampah ini menjadi emas, aku akan jadi bayang-bayangmu."

"Saya butuh bukti," tantang Pak Tora lagi.

Arumi mengeluarkan gunting jahitnya. Di bawah lampu neon yang berkedip-kedip, ia mengambil lima jenis kain sisa yang berbeda tekstur.

Tangannya bergerak dengan kecepatan yang tidak masuk akal. Ia melipat, menggunting, dan menyatukan potongan-potongan itu dengan teknik origami fabric, sebuah teknik tingkat tinggi yang hanya dikuasai segelintir orang.

Dalam waktu lima belas menit, sebuah rompi kecil yang sangat modis dan tampak sangat mahal tercipta di tangan Arumi. Tidak terlihat sama sekali bahwa itu terbuat dari potongan sisa.

Pak Tora tertegun. "Gila... Kamu menyatukannya tanpa mesin?"

"Jarum dan benang hanyalah alat, Pak Tora. Otak dan rasa sakitlah yang menjahitnya," Arumi berdiri. "Jadi, bagaimana? Apakah kita punya kesepakatan?"

"Setiap malam Jumat, saat pengiriman limbah tiba, datanglah ke sini. Kamu boleh ambil apa saja yang kamu butuhkan dengan harga sepertiga dari harga pasar. Sebagai gantinya... saat kamu berhasil menghancurkan martabat Pabrik tekstil di panggung fashion, biarkan aku menonton di barisan depan."

Pulang dari gudang Pak Tora, Arumi tidak langsung beristirahat. Di warung Ibu Ratna yang sudah tutup, ia mulai memilah kain-kain emas yang ia dapatkan. Ia tahu minggu depan adalah acara Gala Dinner bergengsi yang akan dihadiri Dinda dan Reza.

Arumi mulai menjahit sebuah gaun malam. Bukan untuknya, melainkan untuk seorang pelanggan warung bernama Mbak Cindy, seorang penyanyi kafe yang sering dihina oleh kelompok sosialita karena penampilannya yang dianggap murahan.

"Mbak Cindy," panggil Arumi saat wanita itu datang untuk makan siang esok harinya. "Saya punya penawaran. Saya akan buatkan Mbak gaun yang akan membuat semua mata di Gala Dinner minggu depan tertuju pada Mbak. Gratis."

Cindy mengerutkan kening. "Gratis? Apa imbalannya?"

"Sederhana. Saat orang bertanya siapa yang menjahitnya, katakan saja, Seorang wanita yang pernah kalian anggap sampah." Arumi menatap Cindy tajam. "Dan pastikan Mbak berdiri tepat di samping wanita yang bernama Dinda saat sesi foto media."

Cindy melihat sketsa yang dibuat Arumi. Matanya membelalak. Gaun itu tampak sepuluh kali lebih elegan daripada gaun yang biasa dipamerkan Dinda di Instagram. "Kamu gila, Arumi. Tapi aku suka kegilaan ini. Deal."

~~

Di tempat lain, di sebuah rumah mewah, Dinda sedang mencoba gaun barunya dari Butik Bu Sarah. Ia berputar di depan cermin besar, mengagumi kecantikannya.

"Puas, Sayang?" tanya Reza sambil memeluk pinggang Dinda dari belakang.

"Sempurna, Mas. Gaun ini hanya ada satu di dunia. Tidak akan ada yang bisa menandingi aku di acara besok. Apalagi janda miskin itu... aku dengar dari grup sosialita dia sekarang jadi tukang cuci piring di warung kumuh. Benar-benar menjijikkan," tawa Dinda renyah.

Reza tersenyum bangga. "Dia sudah bukan siapa-siapa lagi, Dinda. Jangan buang energimu untuk memikirkan debu."

Mereka tidak tahu bahwa di sebuah warung nasi yang pengap, Arumi sedang menjahitkan bom waktu ke dalam setiap jahitan gaun Mbak Cindy. Arumi menggunakan kain yang sama dengan gaun Dinda, sisa kain yang ia dapatkan dari Pak Tora namun dengan desain yang jauh lebih revolusioner.

Arumi berdiri di depan cermin kecil yang retak di gudang warung. Ia memegang sepotong kain brokat sisa milik pabrik Reza.

"Kalian pikir kalian menguasai segalanya karena memiliki uang dan pabrik," bisik Arumi.

Ia mengambil korek api dan membakar ujung kain itu sedikit. Bau terbakar memenuhi ruangan.

"Tapi kalian lupa satu hal... seorang arsitek yang membangun rumahmu, adalah orang yang paling tahu di mana letak pilar yang harus dihancurkan agar rumah itu rata dengan tanah."

Kirana terbangun, menatap ibunya yang sedang berdiri tegak dengan wajah yang diterangi cahaya api kecil dari kain yang terbakar.

"Ibu... kenapa kainnya dibakar?"

Arumi mematikan api itu dengan jarinya, seolah tidak merasakan panas sama sekali. Ia menoleh ke arah Kirana, memberikan senyum yang sangat tipis namun mematikan.

"Ibu sedang belajar, Kirana. Belajar bagaimana cara membakar mimpi seseorang tanpa menyisakan abu."

Di luar, badai mulai kembali turun, namun Arumi tidak lagi takut. Ia telah memiliki suplayer, ia memiliki sekutu dalam kegelapan, yaitu Pak Tora, dan ia memiliki senjata, yaitu Mbak Cindy yang siap ditembakkan.

Perjuangan sunyinya telah berakhir. Mulai besok, Arumi akan mulai muncul ke permukaan, setahap demi setahap, hingga dunia menyadari bahwa 'Si Tukang Cuci Piring' telah berubah menjadi mimpi buruk paling elegan bagi mereka.

...----------------...

To Be Continue .....

1
THAILAND GAERI
👍👍kpn up thor
Dew666
💎💎💎💎
Enny Suhartini
semangat Arumi
Dyas31
bagus cerita nya KK, mengandung konflik berat, tetep semangat KK kuuuu 😘😘😘😘
Enny Suhartini
ayo Arumi semangat 💪
Sulfia Nuriawati
kok ni crta keterlaluan skali konflik nya, dlm dunia nyata bs d siksa tu yg sk fitnah knp jatuhnya arumi sampai sdh bangkit jd kesel bc nya
Enny Suhartini
semangat ya Arumi
Enny Suhartini
Miss Ra kenapa kok kejam banget
Enny Suhartini
kok kejam sekali sih
Enny Suhartini
sabar dan kuat ya Arumi 💪
Enny Suhartini
ayo semangat Arumi💪
Enny Suhartini
cerita penuh perjuangan
semoga kuat dan sabar Arumi
Dew666
☀️☀️
Dew666
🔥🔥🔥🔥
Himna Mohamad
sdh mampir baca,,lanjut kk
Ma Em
Miss Ra , Arumi atau Arini namanya , tapi semoga sukses Arini dgn usahanya dan balas tuh perbuatan mbak Sari yg menyebalkan selalu menghina dan merendahkan Arini tunjukan pada mereka yg sdh menghina kamu Arini bahwa Arini bisa sukses .🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏
Miss Ra: ooh sori, saya ingatnya arini yg di novel baru yg belum rilis..
nanti saya rubah
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!