Keana Elvaretta percaya bahwa pisau bedah di tangannya bisa mengungkap kebenaran yang disembunyikan mayat, namun ia gagal mengungkap isi hati suaminya sendiri, Ghazali Mahendra. Menikah karena sebuah wasiat dan paksaan keadaan, Keana harus menerima kenyataan pahit bahwa ranjang pengantinnya hanyalah medan perang emosional yang dingin.Bagi Ghazali, seorang Jaksa Penuntut Umum yang ambisius dan memuja kesempurnaan, Keana hanyalah wanita "berbau formalin" yang merusak citra idealnya.
Di siang hari, mereka adalah rekan profesional yang bersinergi memecahkan kasus hukum dan forensik, namun di malam hari, mereka hanyalah dua orang asing yang berbagi luka di bawah satu selimut. Saat rahasia besar mulai terkuak dari sebuah meja otopsi, Keana menyadari bahwa dirinya selama ini hanyalah 'alamat yang salah' untuk cinta yang dikirimkan Ghazali. Mampukah Keana bertahan saat luka yang ia bedah setiap hari ternyata adalah hatinya sendiri?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21: Kerjasama di Ruang Otopsi
[POV Keana]
Tiga kali dua puluh empat jam.
Itulah waktu yang dibutuhkan oleh sebuah kebenaran untuk merobek perut bumi dan memaksa sebuah negara menatap langsung ke wajahnya yang membusuk. Sejak siaran langsungku di Bundaran Hotel Indonesia, duniaku telah berputar dalam kecepatan yang nyaris meremukkan tulang rusuk.
Aku berdiri di depan meja otopsi utama Rumah Sakit Bhayangkara. Jas lab putih yang kukenakan terasa lebih berat dari biasanya, menutupi perban tebal di bahu kiriku yang masih berdenyut nyeri akibat sayatan scalpel Maia. Ruangan kedap suara ini, yang tiga hari lalu terlarang bagiku atas perintah Direktur Utama, kini sepenuhnya kembali ke dalam otoritas absolutku.
Bahkan Dr. Haris, direktur yang memecatku itu, tadi pagi membukakan pintu ruangan ini dengan tangan gemetar dan senyum penuh keringat dingin. Tekanan dari jutaan opini publik dan atensi langsung dari Kepala Kepolisian Republik Indonesia telah mengubah statusku dari 'istri buronan' menjadi 'saksi mahkota' yang paling dilindungi oleh negara.
"Sistem ekstraksi udara sudah dimaksimalkan, Dok," lapor Adrian. Asistenku itu berdiri di seberang meja logam, mengenakan alat pelindung diri (APD) tingkat tinggi. "Tim penyidik dari Bareskrim baru saja menurunkan kantong jenazahnya di loading dock. Mereka membawa sisa jenazah Bi Inah."
Aku mengangguk pelan, menarik napas panjang untuk mengisi paru-paruku dengan aroma disinfektan fenolik dan klorin yang sangat kukenal.
Bi Inah adalah mantan kepala pelayan di kediaman keluarga Mahendra. Menurut laporan kematian yang dikeluarkan dua bulan lalu, wanita tua itu meninggal dunia dalam tidurnya karena serangan jantung. Namun, catatan crypto-ledger yang kudapatkan dari Koh Bong di Glodok menunjukkan anomali yang mengerikan: Maia membeli dosis kedua Digoxin hanya empat hari sebelum kematian Bi Inah. Jika kakek Ghazali dibunuh karena wasiatnya, maka Bi Inah dibunuh karena ia adalah orang yang menyeduhkan teh beracun itu setiap sore. Ia adalah saksi mata yang harus dibungkam.
"Buka kantongnya, Adrian," perintahku, suaraku memantul dingin di dinding ubin porselen.
Suara ritsleting nilon tugas berat ditarik membelah kesunyian analitis ruangan. Seketika, aroma tanah basah, gas amonia, dan bau khas dekomposisi tingkat lanjut menyengat udara. Jenazah yang sudah dikuburkan selama dua bulan itu telah mengalami pembusukan basah. Jaringan lemaknya telah tersaponifikasi menjadi adipocere—lilin mayat berwarna putih kekuningan yang lengket dan mengeluarkan bau yang sangat tajam.
Bagi orang awam, pemandangan dan bau ini akan membuat lambung mereka memuntahkan isinya seketika. Namun bagiku, ini adalah kanvas fakta.
Saat aku mengangkat pisau bedah nomor 10 dan bersiap melakukan insisi, pintu ganda sensoris di ujung ruangan terbuka dengan desisan hidrolik yang keras.
Langkah sepatu pantofel yang lambat, sedikit terseret, namun diiringi ketukan tongkat penyangga, bergema memasuki ruangan.
Tubuhku membeku. Pisau bedah di tanganku berhenti di udara.
Aku mengangkat wajahku secara perlahan. Di ambang pintu, menembus cahaya lampu shadowless yang putih menyilaukan, Ghazali Mahendra berdiri menatapku.
Pria itu tidak mengenakan jas tiga potong mahalnya. Ia hanya mengenakan kemeja katun hitam yang kerahnya dibiarkan terbuka, mengekspos lehernya yang sedikit pucat. Lengan kanannya dibungkus perban medis tebal dari ujung jari hingga ke siku, ditopang oleh sebuah arm sling (gendongan lengan) berwarna gelap yang melingkari lehernya. Wajahnya menirus, bayangan gelap menghiasi kantung matanya, menunjukkan sisa-sisa kelelahan dari seseorang yang baru saja memaksa dirinya bangun dari koma.
Namun matanya... sepasang mata elang itu menatapku dengan intensitas yang sanggup melumerkan baja.
"Kau seharusnya tidak berada di sini," suaraku akhirnya keluar, terdengar lebih seperti bisikan yang rapuh daripada teguran seorang dokter. "Tubuhmu baru saja menolak henti jantung kedua. Ion fluorida di darahmu—"
"Tidak akan membunuhku secepat rasa penasaranku untuk melihat wajah istriku secara langsung," potong Ghazali. Suaranya serak, parau, dan berat, namun presisi artikulasinya tetap setajam pedang.
Ia melangkah masuk lebih dalam. Dua orang penyidik Bareskrim yang mengawalnya dari belakang mencoba menahannya. "Maaf, Jaksa Ghazali, Anda tidak bisa mendekati meja otopsi tanpa APD lengkap. Ruangan ini—"
"Tinggalkan kami," perintah Ghazali tanpa menoleh, aura dominasinya meledak membungkam kedua petugas itu. "Aku adalah Jaksa Penuntut Umum dari tim independen kasus ini. Dan wanita di depan sana adalah saksi utamaku. Keluar dari ruangan ini dan tutup pintunya."
Kedua penyidik itu saling pandang dengan ragu, lalu menoleh padaku. Aku memberi isyarat anggukan kecil. Begitu juga Adrian, yang dengan sangat pengertian meletakkan instrumennya di atas nampan, lalu berjalan keluar menyusul para polisi itu, meninggalkan kami berdua terisolasi dalam ruang kedap suara yang dipenuhi aroma kematian.
Keheningan yang memekakkan telinga turun menyelimuti kami. Jarak di antara kami hanya tersisa tiga meter. Bukan lagi jarak satu meter yang ia tetapkan sebagai bentuk kebencian, melainkan jarak yang dipenuhi oleh ribuan kata yang belum terucapkan sejak malam di bunker beracun itu.
Ghazali melangkah maju, sangat perlahan. Matanya tidak beralih satu milimeter pun dari wajahku. Ia berhenti tepat di sisi meja logam, tepat di hadapanku, hanya dipisahkan oleh tubuh jenazah Bi Inah.
"Kau meretas billboard nasional di jantung ibu kota," ucap Ghazali. Sudut bibir pucatnya sedikit tertarik ke atas, membentuk senyuman tipis yang luar biasa tampan. "Kau mempermalukan institusi kejaksaan, membungkam ibuku di depan seratus juta penduduk, dan menjadikanku pahlawan tragis dalam semalam. Kau membuatku terlihat seperti pria yang paling beruntung di dunia ini, Dokter Keana."
Jantungku berdebar sangat keras hingga rasanya tulang rusukku ikut bergetar. Aku menelan ludah, menekan rasa panas yang mendadak menyerbu pelupuk mataku.
"Hukum prosedural dengan doktrin Fruit of the Poisonous Tree mereka mungkin bisa mematikan barang bukti di ruang sidang tertutup, Mas," balasku, suaraku bergetar halus. "Tapi mereka tidak bisa mematikan logika seratus juta manusia yang menontonnya secara langsung. Aku hanya memindahkan medan perangnya ke tempat di mana ibumu tidak bisa membeli hakimnya."
Ghazali mengangkat tangan kirinya—satu-satunya tangan yang masih berfungsi dengan baik—lalu mengulurkannya melintasi meja logam yang dingin itu. Jemarinya yang panjang dan hangat menyentuh sisi wajahku. Ibu jarinya mengusap tulang pipiku dengan kelembutan yang sangat kontras dengan lingkungan mengerikan di sekitar kami.
"Kau menepati janjimu," bisiknya pelan, tatapannya menyusuri setiap inci wajahku seolah ia sedang memastikan bahwa aku nyata, bahwa aku masih bernapas di hadapannya. "Kau adalah pisau bedah terakhirku, Keana."
Sentuhan itu menghancurkan sisa-sisa tembok profesionalitasku. Aku memejamkan mata, memiringkan wajahku untuk meresapi kehangatan telapak tangannya. Semua penderitaan, semua hinaan di masa lalu, dan semua rasa sakit karena diabaikan, seolah ditarik keluar dari pori-poriku dan menguap bersama udara.
Pria ini mencintaiku. Ia menipu dunia dan menyiksa dirinya sendiri hanya untuk memastikan jantungku tetap berdetak.
"Jangan pernah melakukan hal bodoh seperti itu lagi, Ghazali," aku membuka mata, menatap lurus ke dalam retinanya. Sebuah butiran air mata lolos, membasahi ujung jarinya. "Jangan pernah lagi kau mendorongku menjauh dengan kata-kata kejammu hanya untuk melindungiku. Jika kau berani berkorban nyawa lagi dan meninggalkanku sendirian di dunia ini... aku bersumpah, aku sendiri yang akan mengotopsi tubuhmu dan menuliskan 'Pengecut' sebagai penyebab kematianmu."
Ghazali tertawa tertahan, sebuah tawa pelan yang bergetar di dadanya. "Aku berjanji, Istriku. Mulai detik ini, tidak akan ada lagi sandiwara. Tidak ada lagi meja makan para orang asing. Dan tidak ada lagi ciuman palsu dengan wanita lain."
Mendengar singgungan tentang wanita lain, mataku seketika menyipit. Insting kewanitaanku menyingkirkan sejenak suasana haru ini.
"Ah, benar. Berbicara tentang ciuman palsu," aku mundur setengah langkah, melepaskan wajahku dari sentuhannya. Aku mengangkat pisau bedahku kembali, menatapnya dengan tatapan membedah. "Koh Bong di Glodok bercerita padaku bahwa dua tahun lalu, kau dan Maia berciuman dengan sangat mesra di depan pintu gudang farmasi ilegalnya. Dan kau bahkan membelikan parfum mawar Perancis untuknya."
Ghazali terkesiap. Wajahnya yang pucat mendadak memerah. Matanya membulat panik, sebuah ekspresi yang sangat langka terjadi pada seorang pria sekelasnya.
"Keana, tunggu, itu tidak seperti yang kau bayangkan!" Ghazali sedikit gelagapan, tangan kirinya terangkat ke udara seolah mencoba menahan laju keretaku. "Koh Bong hanya melihat apa yang ingin kami perlihatkan padanya. Kami harus terlihat seperti pasangan kriminal yang solid agar dia mau menjual Digoxin itu. Aku tidak pernah benar-benar... maksudku, itu hanya sentuhan kulit di permukaan!"
Aku mendengus pelan, mulai membuat sayatan panjang di bagian dada jenazah Bi Inah. Suara robekan jaringan adipocere yang lengket mengisi kesunyian ruangan.
"Hanya sentuhan kulit di permukaan?" aku mengulang kalimatnya dengan nada sarkastis, tanpa mengalihkan pandangan dari organ dalam jenazah. "Sayatan scalpel ini juga hanya menyentuh kulit di permukaan, Bapak Jaksa. Tapi lihatlah, ia bisa membelah dada manusia hingga ke jantungnya. Persis seperti rasa cemburu."
"Keana..." Ghazali menghela napas pasrah, menyadari bahwa ia telah masuk ke dalam ranjau interogasi istri yang terluka. Ia berjalan memutari meja otopsi, mengabaikan jenazah mengerikan itu, dan berdiri tepat di sebelah kiriku. "Kau sedang cemburu pada masa lalu yang sudah lama mati. Parfum mawar itu aku belikan agar bau busuk dari gudang obat Koh Bong tidak menempel di bajunya dan membuat ibuku curiga. Bagiku, tidak ada wangi yang lebih menenangkan daripada... wangi ini."
Ia menundukkan kepalanya, mendekatkan hidungnya ke ceruk leherku. Ia menarik napas dalam-dalam, menghirup aroma sabun klorheksidin dan sisa uap formalin yang menempel kuat di jas labku.
Sentuhan napasnya di leherku membuat saraf motorikku nyaris konslet. Pisau di tanganku berhenti bekerja.
"Dulu kau bilang bau ini adalah bau kematian yang membuatmu mual," ujarku, mencoba mempertahankan nada galak meski suaraku mulai melemah.
"Itu adalah kebohongan terbesar yang pernah kuucapkan seumur hidupku," bisik Ghazali, bibirnya nyaris menyentuh kulit leherku yang tidak terbalut kain. "Bagiku, ini adalah aroma keselamatan. Aroma dari satu-satunya wanita yang berani menerobos masuk ke dalam neraka keluargaku dan menarikku keluar dari sana."
Aku menggigit bibir bawahku kuat-kuat. Ya Tuhan, jika pria ini terus mengucapkan hal-hal seperti ini dengan suara baritonnya yang serak, aku bisa-bisa pingsan di tengah proses otopsi ini.
"Mundur selangkah, Ghazali. Kau menghalangi jarak pandangku ke rongga toraks," aku menegurnya dengan suara yang kubuat setegas mungkin, memaksakan diri kembali pada tugasku.
Ghazali terkekeh pelan. Ia menurut, mundur setengah langkah, namun tetap mengamati setiap pergerakan tanganku.
Dinamika ini terasa begitu surealis. Kami berada di ruang otopsi, dikelilingi oleh bau pembusukan dan kematian, namun ruangan ini justru terasa sebagai tempat paling intim di seluruh dunia bagi kami berdua. Di sinilah kejujuran itu lahir. Kami bukan sekadar suami istri, kami adalah partner dalam sebuah peperangan hukum yang belum usai.
"Apa yang kau cari pada jenazah Bi Inah ini?" tanya Ghazali, nada suaranya berubah menjadi profesional, menempatkan dirinya kembali sebagai dominus litis—sang pengendali perkara.
"Aku mencari bukti korelasi modus operandi," jelasku sambil menggunakan gergaji osilasi untuk memotong tulang iga jenazah dengan hati-hati. "Jika Maia menggunakan sisa Digoxin yang sama untuk membunuh Bi Inah, maka kita akan menemukan endapan glikosida jantung di tulang os femur dan os sternum wanita malang ini."
Aku mengambil pinset panjang, mengekstraksi sebagian kecil tulang dada yang masih utuh. "Dalam kasus racun kronis, racun tidak hanya merusak jantung, tetapi partikel beratnya akan tertinggal di matriks tulang."
"Tapi Keana, bukti ini sama rentannya dengan tulang Kakek," Ghazali mengerutkan dahi, analisis hukumnya mengambil alih. "Pengacara Maia akan menggunakan argumen yang sama. Mereka akan menuntut bahwa otopsi ini ilegal, tidak ada izin dari keluarga Bi Inah, dan akan menggugurkannya di sidang Praperadilan."
Aku menghentikan pergerakanku dan menatap Ghazali dengan seringai tipis. Aku mengambil sebuah map dari meja instrumen di belakangku dan menyerahkannya padanya.
"Baca halaman kedua, paragraf ketiga," pintaku.
Ghazali membuka map itu dengan satu tangannya. Matanya memindai rentetan kalimat legal di atas kertas berstempel resmi kepolisian tersebut. Sedetik kemudian, matanya melebar tak percaya.
"Ini... ini Surat Perintah Penggeledahan dan Penyitaan yang ditandatangani langsung oleh Ketua Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, dan diizinkan oleh keluarga kandung korban di kampung halamannya," Ghazali menatapku dengan raut wajah takjub. "Bagaimana kau bisa mendapatkan administrasi hukum sekuat ini dalam waktu tiga hari?"
"Kau lupa, Sayang? Aku baru saja menjadikan kasus ini sebagai skandal terbesar di republik ini," aku kembali melanjutkan pembedahanku. "Setelah siaran langsung di Bundaran HI, ratusan LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) dan netizen menggalang dana serta petisi. Kakak kandung Bi Inah di desa melihat berita itu dan melaporkan kejanggalan kematian adiknya ke Polda setempat. Komisaris Herman memfasilitasi laporannya secara kilat. Kali ini, tidak ada satu pun pengacara di negeri ini yang berani menyebut bukti ini sebagai Fruit of the Poisonous Tree."
Ghazali tertawa lepas. Suara tawa yang belum pernah kudengar sejak hari pernikahan kami. Tawa itu menggema di ruangan steril ini, penuh dengan rasa bangga dan kelegaan. Ia menatapku seolah-olah aku adalah keajaiban dunia kedelapan.
"Kau benar-benar menakutkan jika sedang marah, Dokter Keana," ucap Ghazali, menggelengkan kepalanya pelan. "Aku sangat bersyukur aku sudah tidak berada di pihak lawanmu."
"Kau sebaiknya terus bersyukur," balasku tanpa menoleh, menahan senyum yang mendesak ingin keluar. "Karena jika kau berani membohongiku lagi, pisau bedah ini tahu persis letak anatomi untuk memotong pita suaramu."
Ghazali menghela napas panjang, bersandar pada pinggiran meja logam yang bersih. "Jadi, begitu Adrian memvalidasi residu racun di tulang ini, Bareskrim akan memiliki dasar yang sah untuk menangkap Maia dan Nyonya Ratna?"
"Tepat sekali. Sesuai Pasal 184 KUHAP, Keterangan Ahli dan Surat hasil laboratorium ini akan menjadi alat bukti primer yang sah," aku menaruh sampel tulang tersebut ke dalam wadah kedap udara, menyegelnya dengan label merah bertuliskan PRO JUSTITIA.
"Kerja bagus," Ghazali menatap wadah itu. Namun, garis wajahnya perlahan kembali menegang. Kilatan gelap yang selama ini menjadi ciri khasnya saat memikirkan ibunya kembali muncul. "Tapi Maia tidak akan menyerah begitu saja. Wanita itu terlalu licin. Dia pasti sudah memprediksi bahwa kita akan membongkar makam Bi Inah."
"Biarkan dia memprediksinya," aku melepaskan sarung tangan lateksku, membuangnya ke tempat sampah medis berlogo biohazard. Aku melangkah mendekati Ghazali, berdiri tepat di hadapannya. "Kita sudah memiliki bukti medisnya. Sekarang giliranmu untuk menyusun dakwaannya. Kau adalah satu-satunya jaksa yang tahu bagaimana cara Maia memanipulasi celah hukum."
Ghazali menunduk menatapku. Jarak kami kembali menipis. "Aku mungkin dipecat atau disidang etik oleh Komisi Kejaksaan karena skandal ini, Keana."
"Maka jadilah pengacara. Atau jadilah ahli hukum swasta. Aku tidak menikahimu karena jabatan di jasmu, Ghazali," aku mengangkat tangan kananku, menyentuh lembut perban di bahu kanannya. "Aku menikahimu karena takdir. Dan aku bertahan denganmu karena... karena kau akhirnya membuktikan bahwa kau pantas untuk dipertahankan."
Ghazali memejamkan mata, meresapi sentuhanku. Ia perlahan menundukkan wajahnya. Kali ini, tidak ada ancaman. Tidak ada kamera CCTV tersembunyi. Tidak ada gas beracun. Hanya ada kami berdua, dan detak jantung yang saling berburu.
Bibirnya menyentuh bibirku. Lembut, hati-hati, namun dipenuhi oleh rasa lapar yang sudah ditahan sejak malam pertama pernikahan kami. Ciuman ini tidak terburu-buru seperti di kamar pengantin waktu itu; ciuman ini adalah sebuah penebusan dosa. Ciuman dari seorang pria yang sedang memohon ampun, dan seorang wanita yang memberikan pengampunan absolut.
Aku memejamkan mata, membalas pautannya. Di ruang otopsi ini, di kelilingi oleh kematian dan bau pembusukan, kami akhirnya benar-benar hidup. Bau parfum oud miliknya yang bercampur samar dengan aroma antiseptikku, menciptakan sebuah harmoni aneh yang membuat lututku lemas.
Namun, momen intim kami itu terpaksa hancur lebur saat pintu ganda di ujung ruangan kembali bergeser terbuka dengan sangat kasar.
"Ghazali! Keana!"
Komisaris Herman menyerbu masuk tanpa menggunakan APD. Wajah perwira polisi veteran itu seputih kertas. Keringat dingin mengucur deras di dahinya. Ia menggenggam ponselnya yang layarnya masih menyala.
Aku dan Ghazali seketika melepaskan tautan kami. Ghazali langsung melangkah menutupi tubuhku dengan refleks protektifnya.
"Ada apa, Komisaris?" tanya Ghazali tajam. "Apakah Maia mencoba membatalkan surat izin penggeledahannya?"
Herman menggeleng cepat, napasnya memburu layaknya orang yang baru saja berlari maraton. Ia menelan ludah dengan susah payah sebelum menatap kami bergantian dengan pandangan horor.
"Bukan Maia," suara Herman bergetar hebat. "Ini tentang Nyonya Ratna. Ibumu, Ghazali."
"Ada apa dengan Ibu?" Ghazali menegangkan rahangnya. "Apakah dia melarikan diri ke luar negeri menggunakan jet pribadinya?"
"Tidak," Herman melangkah maju, tangannya yang memegang ponsel gemetar. "Nyonya Ratna tidak melarikan diri. Beliau baru saja menyerahkan diri secara sukarela ke Markas Besar Bareskrim Polri lima menit yang lalu, disiarkan secara langsung oleh seluruh stasiun televisi."
Aku mengerutkan dahi, merasa ada yang sangat ganjil. "Menyerahkan diri? Itu bagus, bukan? Artinya dia mengakui kejahatannya."
"Kalian tidak mengerti!" bentak Herman frustrasi. Ia menyodorkan layar ponselnya ke depan wajah kami. "Nyonya Ratna memang menyerahkan diri. Tapi beliau membawa sebuah koper berisi uang tunai sepuluh miliar rupiah, dan sebuah dokumen pengakuan tertulis di atas materai!"
Herman menatapku dengan mata yang melebar penuh ketakutan. "Di dalam dokumen pengakuan yang dibacakan di depan wartawan itu, Nyonya Ratna bersumpah bahwa beliau memang menyuruh seseorang untuk membunuh kakekmu dan Bi Inah. Tapi pembunuh bayaran yang menyuntikkan racun itu... bukan Maia Anindita."
"Lalu siapa?!" Ghazali mencengkeram lengan Herman dengan tangan kirinya.
Herman menatap lurus ke dalam mataku. Ucapannya selanjutnya sukses membuat seluruh oksigen di dalam ruangan ini musnah seketika.
"Nyonya Ratna mengaku bahwa pembunuh bayaran yang menyuplai racun itu, dan yang merancang dosis mematikannya dari dalam rumah sakit... adalah Dokter Keana Elvaretta. Dia menuduhmu sebagai otak medis dari semua kematian ini, Keana."
Duniaku runtuh untuk yang kesekian kalinya. Kakiku mundur selangkah, menabrak meja logam otopsi.
Maia dan Nyonya Ratna telah melakukan serangan balik yang jauh lebih kejam dari sekadar jebakan hukum. Mereka tidak mencoba lari dari kejahatan; mereka justru memeluk kejahatan itu, dan menyeretku masuk ke dalam peti matinya bersama mereka.
Permainan ini tidak berakhir di ruang otopsi. Permainan ini baru saja berubah menjadi perang bunuh diri, di mana sang antagonis bersedia dipenjara asalkan ia bisa memastikan aku ikut membusuk di sel yang sama.
baca part ini aku merinding
nunggu update selanjutnya kak😍