Empat tahun Inara menjadi ibu susu bagi Zidan. Selama itu pula, ia mendapatkan cinta dari Reno, ayah Zidan, bahkan mereka berencana untuk menikah.
Namun semuanya berubah saat Zoya, mantan istri Reno sekaligus ibu kandung Zidan, kembali dengan niat menebus kesalahan. Sejak saat itu, kehidupan Reno dan Zidan perlahan berpusat pada Zoya. Sementara Inara justru merasa tersisih dan selalu menjadi pihak yang disalahkan.
Inara tidak pernah tahu di mana letak kesalahannya, hingga membuat Reno yang dulu mencintainya kini berubah dingin.
Apa yang sebenarnya terjadi? Akankah Inara memilih bertahan atau justru akan pergi karena merasa sudah tidak dipilih lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji170, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Penyesalan memang datangnya di akhir dengan sebuah kata kehilangan yang berjalan beriringan. Namun, bukankan masih ada kata maaf untuk bisa memperbaiki semuanya?
Hanya kalimat itu yang kini terus diyakini Reno agar bisa membuat Inara kembali padanya. Kini pikirannya tidak lagi fokus pada Zoya ataupun masalah lain yang ada di kepalanya hanya Inara. Ia harus menemukan wanita itu.
Dengan keadaan emosi yang masih berantakan, Reno masuk ke kamar Zidan lalu mulai membongkar beberapa laci dan barang-barang di sana. Ia ingat Inara sering menyimpan catatan kecil tentang jadwal obat, makanan, sampai nomor penting di kamar itu.
Beberapa menit berlalu hingga akhirnya Reno menemukan sebuah buku catatan kecil berwarna kusam yang terselip di antara tumpukan buku gambar Zidan. Tangannya cepat membuka lembar demi lembar hingga matanya berhenti pada satu halaman yang berisi nomor telepon dan alamat seseorang, Nila.
Reno langsung mengembuskan napas lega untuk pertama kalinya sejak tadi. “Akhirnya…” gumamnya pelan. “Aku nemuin kamu.”
Sementara itu, di atas tempat tidur, Zidan sebenarnya belum benar-benar tidur. Anak kecil itu hanya memejamkan mata sambil memeluk selimutnya erat. Ancaman Zoya beberapa waktu lalu masih membuatnya takut.
Ia melihat ayahnya mondar-mandir sejak tadi, tetapi tidak berani bicara apa pun. Bahkan untuk sekadar memanggil pun Zidan ragu.
Anak itu hanya diam sambil memperhatikan Reno dari balik matanya yang setengah terbuka.
***
Butuh waktu hampir setengah jam hingga akhirnya Reno sampai di apartemen Nila. Sepanjang perjalanan pikirannya terasa penuh sesak, sementara dadanya terus dihantui rasa takut jika semuanya benar-benar sudah terlambat.
Sesampainya di depan unit apartemen itu, Reno berdiri beberapa saat sambil menarik napas panjang untuk menenangkan dirinya sendiri. Tangannya bahkan sempat terangkat ingin mengetuk pintu, tetapi ragu di detik terakhir.
Namun sebelum sempat melakukannya, suara langkah kaki terdengar dari arah lorong. Reno spontan menoleh. Dan di sana, Inara baru saja keluar dari lift bersama Nila.
Seketika napas Reno terasa tercekat. “Inara,” panggil Reno pelan.
Langkah Inara langsung terhenti. Sementara Nila yang berdiri di sampingnya refleks menatap Reno dengan tatapan tidak suka. Berbeda dengan Inara yang justru tampak diam membeku di tempatnya sendiri.
"Nyapain dia kayak gak ada habisnya. Biar aku panggil satpam," ucap Nila.
Namun, Inara langsung menghentikan Nila. "Dengan sifatnya bukannya masalah selesai tapi bakal nambah masalah. Kita lihat saja."
Reno menatap Inara lekat-lekat, seolah takut wanita itu kembali menghilang kalau ia lengah sedikit saja. Sementara Inara sendiri tampak masih terdiam dengan wajah yang sulit dijelaskan.
Nila mengikuti keinginan Inara, hanya saja ia tidak bisa diam.
“Ngapain kamu ke sini?” tanyanya ketus tanpa berusaha ramah sedikit pun.
Reno sama sekali tidak memedulikan tatapan tajam Nila. Fokusnya hanya tertuju pada Inara yang sejak tadi memilih diam.
“Ara, kita bicara baik-baik,” ucap Reno pelan.
Inara menunduk sesaat sebelum akhirnya menarik napas panjang. “Kayaknya udah gak ada lagi yang perlu dibicarain, Mas.”
Jawaban itu membuat dada Reno terasa makin sesak. “Ada,” sahutnya cepat. “Banyak.”
Nila langsung mendecak kesal. “Kalau mau nyari ribut jangan di sini ya, Reno. Inara baru aja mulai tenang.”
“Aku gak mau ribut,” jawab Reno lirih. Tatapannya kembali jatuh pada Inara. “Aku cuma mau minta maaf.”
Kalimat itu membuat Inara perlahan mengangkat kepalanya. Selama empat tahun bersama, Reno bukan tipe orang yang mudah meminta maaf. Bahkan ketika jelas-jelas bersalah pun lelaki itu lebih sering diam atau mengalihkan pembicaraan. Karena itulah ucapan tadi terdengar begitu asing di telinga Inara.
Reno melangkah mendekat satu langkah lagi.
“Aku udah tahu semuanya,” ucapnya dengan suara serak. “Tentang Zidan… tentang rumah sakit… tentang Zoya.”
Wajah Inara langsung berubah kaku.
Sementara Nila tampak mengerutkan alis, tetapi memilih diam karena sadar ini bukan waktunya menyela.
“Aku salah, Ra,” lanjut Reno pelan. “Aku terlalu sibuk nyalahin kamu sampai gak pernah mau dengerin penjelasan kamu.”
Inara refleks menggigit bibir bawahnya pelan. Entah kenapa mendengar Reno akhirnya mengatakan semua itu justru membuat hatinya semakin sakit. Karena semua permintaan maaf ini datang setelah dirinya benar-benar hancur lebih dulu.
“Aku udah nyakitin kamu…” suara Reno makin pelan. “Dan aku nyesel.”
Lorong apartemen mendadak terasa sunyi.
Inara menatap Reno beberapa detik sebelum akhirnya tersenyum kecil. Namun senyum itu sama sekali tidak terlihat bahagia.
“Mas tahu gak,” ucapnya lirih, “tidak semua kesalahan hanya dengan kata maaf semua akan selesai."
"Aku tahu, untuk itu aku akan berusaha lebih baik lagi agar bisa menjadi orang yang kamu pilih kembali."