Kurza adalah vampir terkuat dimasa lalu, entah apa yang ada dipikiranya sehingga dia memutuskan untuk beristirhat/tidur di dalam sebuah goa . sebelum Putri Kerajaan Alabas tanpa sengaja membangunkan Kurza dari tidurnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arafi Arif Dwi Firmansyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20. Menginjakkan Kaki di Utara ( Viking)
Udara dingin yang menusuk tulang langsung menyambut mereka, seolah-olah ribuan jarum es menghujam kulit. Gelapnya dimensi bayangan berganti dengan pemandangan putih yang menyilaukan mata. Mereka telah tiba di Daratan Es Utara, wilayah kekuasaan bangsa Viking. Khiya tersentak, napasnya membentuk uap tebal di udara. Di hadapan mereka, berdiri gerbang raksasa yang terbuat dari tulang paus dan kayu ek kuno, dijaga oleh menara - menara pengawas yang dikelilingi salju. Jubah Miyuki yang sekarang di pakai oleh Khiya tidak mampu melindungi tubuhnya dari dinginya cuaca di Utara. Kurza melihat tubuh Khiya menggigil; melepaskan jubahnya dan memberikanya kepada Khiya. "pakailah jubah ku!" Perintah Kurza.
"Siapa yang berani menginjakkan kaki di sini tanpa undangan?!" sebuah suara menggelegar dari balik kabut salju. Sekelompok prajurit bertubuh kekar dengan baju zirah bulu beruang muncul, mengacungkan kapak - kapak besar yang berkilauan dingin. Di tengah mereka, seorang pria dengan janggut kemerahan yang dikepang melangkah maju. Matanya tajam, namun ia langsung terpaku melihat kalung yang dipegang erat oleh Khiya.
Kurza melangkah satu langkah di depan Khiya, tangannya tetap siaga namun tidak menghunus senjata. "Kami ingin bertemu dengan raja kalian," suara Kurza memecah kebekuan. Keheningan menyergap. Para prajurit Viking itu saling pandang, menurunkan kapak mereka perlahan. Pria berjanggut merah itu mendekat, "dari mana kalian? Ada perlu apa ingin bertemu raja kami?" Seru pria berjanggut tadi.
"Kami datang mengantar Putri Khiya, anak dari Pangeran Bjorn, kami datang dari kerajaan Alabas." Jawab Kurza dengan lantang. Pria berjanggut merah itu meludah ke salju, wajahnya memerah karena amarah. "Penipu! Pangeran Bjorn tidak memiliki keturunan di tanah Alabas! Ini pasti tipu muslihat" Tanpa peringatan, ia mengayunkan kapak raksasanya. "Serang! Habisi mereka dan tangkap gadisnya!" Teriak pria berjanggut merah itu.
Kurza bereaksi dalam sekejap mata. Ia mendorong Khiya ke arah Rin yang segera menciptakan perisai energi hitam. Kurza sendiri tidak menghunus pedangnya; ia tahu jika ia menumpahkan darah di gerbang ini, diplomasi mereka akan mati sebelum dimulai. Seorang prajurit menerjang dengan tombak.
"Whuush..." suara ayunan tombak itu. Kurza menghindar, lalu dengan satu hentakan telapak tangan ke dada pria itu, "Slap" ia memutus aliran napas sang lawan hingga pingsan seketika. "Tahan diri kalian!" seru Kurza, suaranya menggelegar menyaingi badai. Namun, bangsa Viking tidak mengenal kata menyerah. Dua prajurit menyerang bersamaan dari sisi kiri dan kanan.
Kurza merunduk, "Swish..." melakukan sapuan kaki yang presisi di atas salju tebal, menjatuhkan mereka. Sebelum mereka sempat bangkit, Kurza menekan titik saraf di leher mereka dengan gerakan kilat. Tubuh - tubuh kekar itu jatuh lunglai ke atas tumpukan salju. Kurza bergerak seperti bayangan cepat "Whoosh", "Swoosh" efisien, dan mematikan namun tanpa niat membunuh.
Ia menangkap pergelangan tangan pria berjanggut merah yang hendak mengayunkan kapak lagi, lalu memutarnya sedikit hingga sang kapten kehilangan keseimbangan. Dengan satu pukulan pendek di ulu hati "Buuuggghh", pria itu terhuyung dan jatuh berlutut, tersengal - sengal mencari udara. "Jika aku ingin membunuh kalian," ucap Kurza dingin sambil berdiri di tengah para prajurit yang terkapar pingsan, "kalian sudah mati sebelum kapak itu menyentuh tanah. Lihatlah kalung itu baik-baik sebelum kalian kehilangan lebih banyak harga diri." Seru Kurza sambil menunjuk ke arah Rin.
Rin maju, memperkuat aura hitamnya agar para Viking yang masih berdiri tidak berani mendekat, sementara Khiya melangkah maju dengan tatapan mata yang berani, mengangkat kalung ayahnya tinggi - tinggi
Gerbang raksasa itu bergetar hebat. Dari balik badai salju yang menggila, muncul sosok yang seolah - olah dipahat dari gunung es itu sendiri. Tingginya hampir dua kali lipat manusia biasa, dengan bahu lebar yang tertutup jubah bulu serigala putih. Di tangannya, ia memegang gada berduri yang tampak terlalu berat untuk diangkat manusia normal. "Minggir, kalian pengecut!" suara itu menggelegar, membuat salju di sekitar mereka bergetar. "Biar aku sendiri yang menghancurkan mereka ini!" Ia adalah Ube, adik kandung Pangeran Bjorn, sang pemegang gelar Beruang Utara. Matanya yang biru sedingin es memancarkan kemarahan murni.
Baginya, melihat Kurza sosok yang bertubuh tinggi namun tidak besar dengan aura dimensi bayangan berdiri di samping prajurit yang sudah pingsan, sesuatu yang menghina; Ube menerjang... Langkah kakinya membuat tanah es retak. Ia mengayunkan gadanya secara vertikal dengan kekuatan penghancur yang luar biasa. "BOOM!" Kurza melompat mundur tepat pada waktunya. Tempatnya berdiri barusan kini hancur berkeping - keping, meninggalkan lubang besar di tanah yang membeku.
Ube tidak memberi jeda; ia memutar senjatanya dengan kecepatan yang tidak masuk akal untuk ukuran tubuh sebesar itu. Kurza harus bergerak ekstra cepat. Ia tahu Ube bukan prajurit biasa; pria ini memiliki kekuatan fisik murni yang bisa meremukkan tulangnya dengan satu sentuhan. Kurza menghindari hantaman gada yang menyamping dengan cara melenting di udara, namun ujung gada itu sempat menyerempet bajunya hingga robek.
"Berhenti!" teriak Khiya namun suaranya tertelan oleh raungan angin dan amarah Ube. Ube menggeram, Ube kembali menyerang, kali ini dengan serangkaian pukulan kombinasi yang memaksa Kurza untuk terus bertahan tanpa kesempatan membalas jika tidak ingin melukai pangeran Viking tersebut.
Pertempuran itu menjadi tontonan yang mengerikan di tengah salju. Kontras antara kekuatan murni yang menghancurkan dan kelincahan bayangan yang mematikan.Ube bertarung seperti bencana alam. Setiap ayunan gada berdurinya membelah udara dengan suara menderu, menciptakan gelombang kejut yang menerbangkan salju ke segala arah. Ia menerjang dengan serudukan bahu yang sanggup meruntuhkan tembok benteng. "Tunjukkan wujud aslimu, iblis!" raungnya sambil menghantamkan gada ke tanah, menciptakan retakan es yang menjalar cepat menuju kaki Kurza.
Kurza, di sisi lain, bergerak seperti asap. Ia tidak menangkis karena menangkis gada Ube sama saja dengan membiarkan tulangnya remuk melainkan membelokkan momentum. Saat gada Ube terayun horizontal, Kurza melompat, menapakkan kaki ringannya di atas batang senjata lawan, lalu meluncur di udara untuk mendarat tepat di belakang punggung raksasa itu. Ube berputar cepat, sangat gesit untuk ukurannya, dan mencoba mencengkeram leher Kurza.
Kurza merunduk, melakukan gerakan putaran rendah, dan dengan presisi seorang pembunuh, ia menghantamkan pangkal telapak tangannya ke sendi siku Ube; bukan untuk mematahkan, tapi untuk melumpuhkan saraf lengannya sesaat. "Kau cepat, tapi di Utara, hanya kekuatan yang berkuasa!" Ube menggeram, matanya berkilat biru saat ia mulai membangkitkan aura Berserker khas Viking yang membuat tubuhnya seolah kebal rasa sakit.
Kurza terpaksa menarik pedang hitamnya, namun tetap dalam sarungnya. Ia menggunakan sarung pedang itu untuk menangkis serangan gada Ube, menciptakan bunyi benturan logam yang memekakkan telinga "Clank....CLank.." Setiap kali gada Ube menghantam sarung pedang Kurza, percikan api memercik di tengah badai es.
Pertarungan mereka semakin sengit. . .
Bersambung. . .