NovelToon NovelToon
MAHAR 1 MILIAR: AKU JUAL DIRI, TAPI AKU TIDAK JUAL HARGADIRI

MAHAR 1 MILIAR: AKU JUAL DIRI, TAPI AKU TIDAK JUAL HARGADIRI

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Romantis / Aksi
Popularitas:882
Nilai: 5
Nama Author: wiwi

"Aku jual diri demi 1 Miliar Emas, tapi aku TIDAK JUAL HARGADIRI!"

Lin Qingyan menerima pernikahan kontrak dengan pria lumpuh tak berdaya demi menyelamatkan keluarganya. Semua orang menertawakan dia, mengira dia akan hidup menderita selamanya.

Tapi siapa sangka? Di balik tubuh lemah itu tersembunyi sosok Raja Dunia yang paling ditakuti! Dan dia hanya tunduk pada satu wanita: Lin Qingyan!

Siapa berani meremehkan istri kontrak ini? Bersiaplah digilas habis! Karena aku bukan wanita biasa, aku adalah Ratu yang akan menguasai segalanya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24: Warisan Berdarah

## 📖 BAB 24: Warisan Berdarah

Keheningan di ruang bawah tanah terasa jauh lebih menakutkan daripada suara dentuman senjata di luar. Di dalam ruangan kedap suara itu, Lin Qingyan terduduk lemas di lantai marmer yang dingin, tangannya gemetar hebat saat memegang secarik surat tua yang baru saja ia temukan.

Kata-kata di dalam surat itu—

*darah yang sama dengan mereka*

—terus berputar di kepalanya bagaikan kaset rusak yang menyakitkan.

Di sampingnya, si kembar Qingyu dan Chenfeng tertidur lelap dalam boks bayi portabel, seolah tidak menyadari bahwa di atas sana, ayah mereka sedang berubah menjadi iblis demi melindungi nyawa mereka. Sementara itu, putra sulungnya, Chenyu, menatap ibunya dengan tatapan dewasa yang melampaui usianya, seolah ia bisa merasakan badai emosi yang sedang melanda.

### 🌑 Sisi Gelap Sang Raja

Di lantai atas, koridor kediaman Gu kini telah berubah menjadi ladang perburuan. Cahaya bulan yang menembus jendela kaca memantul pada bilah belati hitam milik Gu Beichen yang kini sudah ternoda cairan pekat. Pria itu berdiri tegak di tengah koridor, menatap dingin pada sosok pembunuh bayaran yang baru saja ia lumpuhkan.

"Katakan,"

suara Beichen rendah, hampir seperti bisikan angin malam, namun mengandung ancaman yang bisa menghentikan detak jantung.

"Siapa yang mengirimmu? Tetua Pertama atau Tetua Ketiga?"

Pembunuh itu terbatuk, memuntahkan darah ke karpet bulu yang mahal. Ia tertawa dengan suara serak yang mengerikan.

"Kau sudah terlalu lama pergi, Beichen... Kau lupa bahwa di Klan Tua, tidak ada yang namanya pengkhianatan, yang ada hanyalah pembersihan. Kau adalah darah murni kami, namun kau memilih menjadi manusia biasa yang lemah. Tetua Agung ingin jantungmu, dan ia ingin mata putrimu untuk melengkapi ritual keabadian."

Mata Beichen menyipit. Aura membunuh yang terpancar dari tubuhnya begitu kuat hingga suhu di ruangan itu seolah turun beberapa derajat. Tanpa peringatan, ia mengayunkan belatinya dengan gerakan yang sangat presisi. Bukan untuk membunuh, melainkan untuk memberikan rasa sakit yang tak terbayangkan.

"Ritual keabadian?" Beichen mendengus sinis.

"Mereka masih percaya pada dongeng kuno itu. Katakan pada mereka, jika mereka ingin 'Anak Takdir', mereka harus melangkahi gunung mayat anggota klan mereka sendiri terlebih dahulu."

Beichen bangkit berdiri, membiarkan pembunuh itu meregang nyawa dalam kegelapan. Ia menyalakan kembali *earpiece*-nya.

"Xiao Li, bagaimana situasi di gerbang selatan?"

"Tuan, musuh terus berdatangan. Mereka menggunakan gas saraf. Beberapa pengawal kita mulai kewalahan, tapi unit elit bayangan sudah mengambil posisi di garis kedua," lapor Xiao Li di tengah suara desingan peluru.

"Gunakan amunisi kaliber berat. Jangan sisakan satu pun yang bernapas. Aku akan segera turun ke ruang kendali," perintah Beichen tegas.

### 🕯️ Rahasia di Balik Foto Tua

Kembali ke ruang bawah tanah, Lin Qingyan mencoba mengatur napasnya. Ia kembali menatap foto tua itu. Di sana, Gu Beichen muda terlihat sangat berbeda. Tatapannya kosong, tajam, dan penuh kehampaan. Ia berdiri di depan simbol matahari hitam yang dikelilingi rantai—lambang Klan Tua yang legendaris sebagai penguasa dunia bawah tanah di Asia Timur.

"Selama ini aku mencintai seorang pria yang identitasnya adalah musuh terbesar kita sendiri?" bisik Qingyan pedih.

Ia ingat bagaimana Beichen selalu menghindari pembicaraan tentang keluarganya. Beichen selalu mengatakan bahwa ia adalah seorang yatim piatu yang berjuang dari nol di jalanan. Ternyata, kebenarannya jauh lebih gelap. Beichen bukan hanya berjuang di jalanan; ia adalah "Pangeran Mahkota" dari organisasi paling kejam yang pernah ada, dan ia melarikan diri untuk membangun kehidupan normal bersamanya.

Tiba-tiba, suara alarm di ruang bawah tanah berbunyi pelan namun mendesak. Layar monitor menunjukkan adanya pergerakan di lorong rahasia yang menuju ke ruang perlindungan tersebut.

Seseorang telah berhasil menembus pertahanan luar dan menemukan pintu masuk rahasia.

Qingyan langsung berdiri, ia menyambar sebuah pistol kecil yang sebelumnya diletakkan Beichen di atas meja untuk pertahanan terakhirnya. Ia bukan wanita yang hanya bisa menangis. Sebagai istri dari Gu Beichen, ia telah belajar bahwa ada saatnya kelembutan harus digantikan dengan keberanian baja.

"Chenyu, jaga adik-adikmu di balik lemari besi itu. Jangan keluar apa pun yang terjadi," perintah Qingyan dengan suara yang tiba-tiba stabil.

Pintu besi ruang perlindungan berdecit pelan. Seseorang sedang mencoba meretas kode aksesnya dari luar.

### ⚔️ Pertemuan Dua Saudara

Di luar pintu, bukan pasukan berjubah kelabu yang berdiri, melainkan seorang pria tinggi dengan setelan jas rapi dan wajah yang sangat mirip dengan Gu Beichen, namun dengan tatapan yang lebih licik. Ia adalah Gu Yan, sepupu Beichen sekaligus rival utamanya di klan.

"Beichen, kau selalu menyimpan barang berharga di tempat yang mudah ditebak," gumam Gu Yan sambil menempelkan alat peretas pada panel pintu.

Namun, sebelum pintu terbuka sepenuhnya, suara tembakan terdengar dari arah belakang koridor. Gu Beichen telah tiba. Ia bergerak seperti kilat, menerjang Gu Yan hingga keduanya terjatuh dan berguling di lantai beton yang dingin.

"Kau berani menyentuh pintu ini, Yan, berarti kau sudah memilih cara matimu,"

desis Beichen sambil mencengkeram kerah baju saudaranya itu.

Gu Yan tertawa, meski sudut bibirnya berdarah.

"Kau pikir ini hanya tentang klan? Tidak, Beichen. Ini tentang darah. Anak perempuannya... dia memiliki tanda lahir 'Mata Kristal'. Kau tahu apa artinya itu dalam kitab suci klan kita? Dia bukan hanya milikmu, dia adalah milik sejarah!"

"Dia adalah putriku!" raung Beichen. Pukulan demi pukulan mendarat di wajah Gu Yan. Amarah yang selama ini ia tahan demi peran sebagai "ayah yang lembut" kini meledak sepenuhnya.

Pertarungan itu bukan lagi sekadar pertahanan diri, melainkan pertempuran harga diri. Gu Yan menggunakan teknik bela diri klan yang sangat mematikan, mencoba menusukkan jarum beracun ke leher Beichen. Namun Beichen, dengan insting yang sudah terasah ribuan kali di medan perang, mematahkan lengan Gu Yan dengan satu hentakan brutal.

### ⛈️ Badai yang Belum Usai

Di tengah pertarungan itu, pintu ruang bawah tanah akhirnya terbuka dari dalam. Lin Qingyan berdiri di sana dengan pistol terarah tepat ke kepala Gu Yan.

"Berhenti!" teriak Qingyan.

Kedua pria itu membeku. Beichen menatap istrinya dengan terkejut, sementara Gu Yan menyeringai melihat sosok wanita yang ia anggap sebagai "titik lemah" Beichen.

"Tembak dia, Qingyan! Dia ingin mengambil Qingyu!" seru Beichen.

Namun, tangan Qingyan sedikit gemetar. Bukan karena takut pada Gu Yan, melainkan karena ia melihat tatapan Beichen yang penuh kegelapan—tatapan yang sama dengan pria di foto tua itu.

"Siapa sebenarnya kamu, Beichen?" tanya Qingyan lirih di tengah todongan pistolnya.

"Dan siapa orang ini?"

Belum sempat Beichen menjawab, suara ledakan besar mengguncang seluruh kediaman Gu. Langit-langit ruang bawah tanah retak, dan debu mulai berjatuhan. Musuh telah membawa artileri berat. Mereka tidak lagi berniat mengambil "Anak Takdir" hidup-hidup jika mereka tidak bisa memilikinya; mereka lebih baik menghancurkan semuanya.

"Kita tidak punya waktu lagi!"

Beichen bangkit, menarik Qingyan masuk kembali dan mengunci pintu baja itu secara manual.

"Yan, jika kau ingin hidup, bantu aku membawa mereka keluar lewat jalur laut, atau kita semua akan terkubur di sini sebagai debu sejarah!"

Gu Yan, yang lengannya terkulai lemas, menatap saudaranya dengan kebencian sekaligus kekaguman.

"Kau gila, Beichen. Kau mengkhianati klan demi seorang wanita dan bayi."

"Aku tidak mengkhianati klan,"

jawab Beichen sambil menggendong Chenyu dan memberi kode pada Qingyan untuk mengambil si kembar.

"Aku sedang menghancurkan klan yang mencoba menyentuh hidupku."

Malam itu, kediaman megah keluarga Gu terbakar hebat di bawah siraman hujan badai. Di tengah kobaran api dan desingan peluru, sebuah kapal cepat meluncur membelah ombak dermaga pribadi, membawa rahasia besar yang akan mengubah peta kekuatan dunia bawah selamanya.

Pertempuran sesungguhnya baru saja dimulai.

**BERSAMBUNG KE BAB 25**

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!