NovelToon NovelToon
Diantara Ketulusan Dan Kekuasaan.

Diantara Ketulusan Dan Kekuasaan.

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Office Romance / Komedi
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Sheila Maharani hanya ingin hidup tenang sebagai karyawan baru yang kalem dan setia pada kekasihnya, Malik. Namun, impian itu hancur saat ia membuka pintu ruang CEO dan menemukan Jeremy Nasution—kakak tingkat masa kuliah yang dulu mengejarnya secara ugal-ugalan—kini menjadi bosnya.
Jeremy yang percaya diri maksimal (PD mampus) tidak membiarkan Sheila lari untuk kedua kalinya. Di antara tumpukan berkas properti dan aroma siomay kantin, Jeremy mulai menyusun strategi untuk merebut hati Sheila kembali.
Bisakah Sheila tetap profesional dan setia pada Malik, atau ia akan menyerah pada "perintah atasan" yang semakin hari semakin tidak masuk akal?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 31

Suasana di depan deretan lift eksekutif yang tadinya hanya diisi oleh perdebatan kecil antara Jeremy dan Sheila mendadak membeku. Udara seolah tersedot keluar dari paru-paru Sheila saat sebuah suara bariton yang sangat ia kenal—dan ia takuti—menggelegar memecah keheningan koridor.

"Jeremy Nasution?!"

Jeremy tersentak, bahunya menegang seketika. Ia menoleh perlahan dan mendapati sang Papa, Tuan Nasution, berdiri dengan tangan bersedekap dan wajah sekeras batu granit. Matanya menatap tajam ke arah tangan Jeremy yang hampir saja menyentuh pundak Sheila.

"Ikut ke ruangan Papa sekarang juga," perintah Tuan Nasution tanpa basa-basi. Nada suaranya tidak menerima penolakan.

"Ada apa sih, Pa?! Aku ada rapat sepuluh menit lagi," bantah Jeremy, mencoba mempertahankan wibawanya di depan Sheila, meski ia tahu posisi mereka sedang di ujung tanduk.

Tuan Nasution tidak memedulikan alasan putranya. Matanya beralih ke arah Sheila, menatap asisten itu dengan tatapan menghina yang sanggup menciutkan nyali siapa pun. "Gak usah banyak tanya. Dan kamu, asisten... Jangan coba-coba masuk ke ruangan anak saya lagi! Kembali ke meja kamu dan kerjakan apa pun yang seharusnya kamu kerjakan, bukan sibuk mengurusi hal yang tidak pantas."

Pintu lift berdenting terbuka. Tuan Nasution masuk lebih dulu dengan langkah angkuh, diikuti oleh Jeremy yang memberikan tatapan "tenanglah" yang sangat sekilas kepada Sheila. Sheila hanya bisa mematung, meremas tali tasnya dengan tangan gemetar saat pintu lift tertutup, memisahkan dirinya dari Jeremy yang kini harus menghadapi "sidang" ayahnya.

Ruangan sang Komisaris Utama itu terasa begitu luas dan dingin. Jeremy berdiri di depan meja besar ayahnya, sementara Tuan Nasution duduk di kursi kebesarannya, menatap putranya seolah Jeremy adalah investasi yang gagal.

"Jeremy, kamu itu di kantor kerja atau sibuk ngebucinin asisten kamu itu?" tanya Tuan Nasution dengan nada sarkasme yang kental.

Jeremy mengeraskan rahangnya. "Maksud Papa apa sih? Aku profesional. Semua target divisi aku tercapai, bahkan melampaui."

"Gak usah akting ya kamu, Jeremy! Papa sudah bilang, jangan anggap Papa bodoh," Tuan Nasution menggebrak meja dengan pelan namun bertenaga. "Toni barusan bicara sama Papa soal apa yang kalian lakukan di ruangan kerja kamu. Apa kamu pikir meja kantor itu tempat untuk bermain api?!"

Darah Jeremy seolah mendidih. Ternyata dugaannya benar, si penjilat Toni itu benar-benar tidak bisa memegang janjinya untuk diam. "Pa, aku—"

"Cukup!" Tuan Nasution berdiri, berjalan mendekati Jeremy. "Kamu itu pewaris Nasution Property Group. Kamu sama dia itu nggak selevel, Jeremy. Jangan bodoh kamu. Wanita seperti dia itu banyak, mereka cuma mengincar posisi atau uangmu. Jangan korbankan reputasi keluarga kita cuma buat asisten yang latar belakangnya saja tidak jelas."

"Sheila bukan wanita seperti itu, Pa! Papa nggak tahu apa-apa soal dia!" bentak Jeremy, emosinya meledak. Ia tidak peduli lagi jika harus berhadapan dengan murka sang ayah. Baginya, menghina Sheila adalah garis merah yang tidak boleh dilewati siapa pun.

"Papa tahu lebih banyak dari yang kamu bayangkan," balas ayahnya dingin. "Satu langkah salah lagi, Papa sendiri yang akan menyingkirkan dia dari perusahaan ini, dan kamu tahu Papa tidak pernah main-main dengan ucapan Papa."

Di tengah ketegangan yang memuncak, di saat Jeremy merasa ingin meninju dinding atau meneriaki ayahnya, ponsel di saku celananya bergetar. Sebuah denting notifikasi yang lembut.

Jeremy merogoh ponselnya dengan kasar, namun begitu melihat nama pengirimnya, napasnya yang memburu perlahan mulai teratur.

Sheila: "Jangan marah-marah di dalam. Nanti makin jelek muka kamu. Fokus saja, aku di sini nungguin kamu. I love you."

Sebuah kalimat sederhana yang dibumbui dengan pernyataan cinta pertama yang ia kirimkan lewat pesan singkat. Jeremy memejamkan matanya sejenak. Amarah yang tadi membara perlahan padam, digantikan oleh rasa hangat yang menenangkan. Sheila tahu persis bagaimana cara menjinakkan "singa" yang sedang mengamuk.

Jeremy memasukkan kembali ponselnya. Ia menatap ayahnya dengan sorot mata yang lebih dingin, lebih terkontrol.

"Papa boleh mengatur gedung ini, tapi Papa nggak bisa mengatur siapa yang aku cintai," ucap Jeremy dengan suara rendah namun sangat tegas. "Kalau Papa mau pecat Sheila, silakan. Tapi jangan kaget kalau besok pagi meja CEO juga kosong karena aku akan pergi bareng dia."

Tuan Nasution tertegun, terdiam melihat keberanian putranya yang kali ini tampak berbeda. Jeremy tidak lagi bicara seperti anak kecil yang merajuk, tapi seperti pria yang sudah menemukan tempat pulangnya.

Jeremy berbalik, melangkah keluar dari ruangan ayahnya tanpa pamit. Begitu pintu tertutup, ia langsung mengetik balasan singkat sambil berjalan menuju lift, mengabaikan tatapan penasaran para staf yang melihatnya keluar dari "ruang eksekusi" dengan senyum miring yang misterius.

Jeremy: "Gantengku tetap nomor satu, kan? Tunggu aku di parkiran sekarang. Kita bolos kerja, aku mau 'menagih' ucapan I love you itu secara langsung."

Di mejanya, Sheila membaca pesan itu dengan jantung berdebar. Ia tahu badai dengan Tuan Nasution baru saja dimulai, tapi selama ada Jeremy yang siap berdiri di depannya, ia merasa tidak ada lagi yang perlu ditakuti.

***

Mobil SUV hitam itu membelah jalanan menanjak menuju kawasan Puncak yang mulai berkabut. Di dalamnya, keheningan menyelimuti setelah ketegangan hebat di kantor tadi pagi. Jeremy menyetir dengan satu tangan, sementara tangan lainnya menggenggam jemari Sheila begitu erat, seolah takut jika ia melepaskannya sedetik saja, wanita itu akan lenyap ditelan amarah sang Papa.

Begitu gerbang kayu jati raksasa terbuka, sebuah vila bergaya modern tropis dengan pemandangan langsung ke lembah hijau menyambut mereka. Udara dingin pegunungan segera menyusup masuk saat Jeremy mematikan mesin mobil.

Sheila turun dengan ragu, memeluk cardigannya rapat-rapat. Ia menatap bangunan megah yang tersembunyi di balik rimbunnya pohon pinus itu dengan tatapan cemas.

"Je, kamu serius ngajak aku ke sini?" tanya Sheila pelan, suaranya sedikit bergetar karena udara dingin dan rasa takut yang masih mengendap. "Kita bolos kerja, ponsel kamu mati, dan kita ada di tempat yang jauh dari jangkauan siapa pun. Nanti kalau Papa kamu tahu gimana? Beliau pasti makin marah, Jer."

Jeremy keluar dari mobil, melangkah mendekati Sheila dan langsung melingkarkan lengannya di bahu gadis itu, menariknya ke dalam pelukan hangat. Ia mengecup puncak kepala Sheila, menghirup aroma sampo stroberi yang selalu berhasil menenangkannya.

"Biarkan dia marah, Shei. Aku sudah muak jadi robot yang harus selalu memenuhi ekspektasinya," bisik Jeremy dengan suara bariton yang berat. "Vila ini atas nama aku sendiri, bukan aset perusahaan Nasution. Papa nggak punya akses ke sini. Di sini, nggak ada CEO, nggak ada asisten, dan nggak ada Toni si penjilat. Cuma ada kita."

Jeremy menuntun Sheila masuk ke dalam. Ruang tamu vila itu memiliki dinding kaca setinggi lima meter yang memperlihatkan kabin-kabin kayu di kejauhan dan kabut yang mulai turun. Jeremy menyalakan perapian elektrik, menciptakan pendar cahaya oranye yang hangat di ruangan yang temaram itu.

"Kamu duduk di sini. Aku buatkan cokelat panas," perintah Jeremy lembut, mendudukkan Sheila di sofa beludru yang empuk.

Sheila hanya bisa menurut. Ia memperhatikan punggung Jeremy yang sedang sibuk di dapur bersih. Pria itu sudah melepas dasi dan menggulung lengan kemeja putihnya hingga siku, menampilkan urat-urat tangan yang maskulin—pemandangan yang selalu membuat jantung Sheila berdegup tidak beraturan.

Beberapa menit kemudian, Jeremy kembali dengan dua cangkir mug berasap. Ia duduk tepat di samping Sheila, sangat dekat hingga paha mereka bersentuhan.

"Minum dulu. Kamu pucat banget sejak keluar dari kantor tadi," ucap Jeremy, menyodorkan cangkir itu.

Sheila menyesap cokelat panasnya, membiarkan rasa manis dan hangat itu mengalir ke kerongkongannya. "Aku takut, Jer. Papa kamu benar... aku nggak selevel sama kamu. Aku cuma asisten yang kebetulan masuk ke hidup kamu di waktu yang salah. Aku nggak mau jadi penyebab hubungan kamu sama Papa hancur."

Jeremy meletakkan cangkirnya di meja, lalu memutar tubuhnya menghadap Sheila sepenuhnya. Ia meraih dagu Sheila, memaksa gadis itu untuk menatap langsung ke dalam matanya yang kelam namun penuh cinta.

"Dengar aku, Sheila Maharani. Level itu cuma angka di saldo bank yang Papa banggakan. Buat aku, level kamu itu ada di sini," Jeremy menunjuk dadanya sendiri, tepat di posisi jantungnya. "Kamu yang bikin aku merasa hidup lagi. Kamu yang berani ngetawain aku pas aku lagi galak-galaknya. Kamu pikir aku bakal ngelepasin permata kayak kamu cuma demi jabatan CEO?"

Sheila menunduk, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. "Tapi Malik juga bilang gitu dulu, dan akhirnya dia pergi..."

"Aku bukan Malik!" sentak Jeremy, namun segera melunakkan suaranya saat melihat Sheila tersentak. Ia menarik Sheila ke pangkuannya, memeluknya seperti barang pecah belah yang sangat berharga. "Malik itu pengecut yang milih lari saat masalah datang. Aku? Aku akan bakar dunia ini kalau ada yang coba-coba misahin kita. Termasuk Papa."

Jeremy mulai mengecup kening, hidung, dan berakhir di bibir Sheila. Awalnya lembut, seolah meminta izin, namun perlahan berubah menjadi ciuman yang dalam dan penuh rasa lapar—sebuah pelepasan dari segala tekanan yang mereka hadapi seharian ini.

Dalam keheningan vila yang hanya ditemani suara gemeretak perapian, gairah itu kembali tersulut. Jeremy menggendong Sheila menuju kamar utama yang menghadap langsung ke arah tebing. Ia membaringkan Sheila di atas kasur king size yang lembut, menindihnya dengan perlahan namun pasti.

"Malam ini, lupakan kantor. Lupakan Papa. Lupakan semua ketakutan kamu," bisik Jeremy di telinga Sheila, suaranya serak dan menggoda. "Cuma aku, kamu, dan janji aku kalau aku nggak akan pernah membiarkan kamu sendirian lagi."

Sheila melingkarkan tangannya di leher Jeremy, menarik pria itu lebih dekat. Di tengah dinginnya kabut Puncak, ia menemukan kehangatan yang sesungguhnya. Ia sadar, pelarian ini mungkin hanya sementara, tapi di dalam dekapan Jeremy, ia merasa memiliki seluruh dunia yang ia butuhkan.

"I love you, Jer," bisik Sheila di sela napasnya yang memburu.

"I love you more than anything, Nyonya Nasution," jawab Jeremy sebelum kembali menenggelamkan mereka dalam lautan perasaan yang tak berujung.

1
putmelyana
next Thor ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!