NovelToon NovelToon
KURUNGAN SANG MAFIA DINGIN

KURUNGAN SANG MAFIA DINGIN

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Elsa Sefia

Lucifer Azrael — Raja Dunia Bawah berkedok pengusaha. Sadis, dingin, mustahil disentuh. Tuhan pun seolah dia tantang.
Florence Beatrix — gadis panti yang seharusnya mati setelah jadi saksi transaksi gelapnya. Tapi Lucifer melanggar aturan: dia mengurung Florence di pulau pribadinya.
"Selamat datang di kurunganmu, Florence Beatrix. Di sini, aku adalah Tuhan."
Di pulau tanpa jalan keluar, Florence benci sekaligus takut. Tapi perlahan dia lihat retaknya: Lucifer selalu menatap salib di lehernya terlalu lama. Raja Dunia Bawah yang kejam, ternyata hafal ayat Mazmur karena masa lalu yang dia kubur dalam darah.
Ini bukan kisah cinta manis. Ini tentang gadis panti yang berdoa di kurungan mewah, dan mafia yang mulai bertanya apakah neraka miliknya bisa ditukar dengan surga di mata Florence

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elsa Sefia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Neraka di Dalam Kepala (Awal SEASON 2)

Tiga hari. Tiga hari Florence terkurung di mansion itu. Tiga hari ia tak melangkah keluar kamar. Santapnya hanya dua suapan, lalu lambungnya memberontak. Lenanya datang hanya ketika raganya tumbang digerus letih.

Dan tiga hari itu, Lucifer berperang dengan dirinya.

Siang hari ia adalah Raja Jahanam. Meja perundingan, eksekusi, tinta di atas kontrak miliaran dolar. Beku. Bengis. Tak bercela.

Malam hari, ia berubah menjadi lelaki yang hilir-mudik di koridor lantai tiga. Berhenti di ambang pintu Florence. Menyimak. Hanya sunyi yang menyambut. Sunyi yang lebih gaduh dari jerit.

Benaknya riuh. Gemuruh. Dipenuhi siluet Florence yang melarikan diri lagi. Dipenuhi bayangan tubuhnya terjun dari jendela. Dipenuhi imaji Florence ditemukan kaku di entah mana, sebab lebih memilih mati ketimbang bersamanya.

Dia akan lari lagi. Pasti. Istana seluas ini punya seribu retak. Dia cerdas. Dia nekat. Dia lebih sudi jadi abu daripada di sini.

Kurung. Belenggu pergelangannya. Pasak jendelanya. Tanam jeruji.

Tidak. Jika kukurung, dia akan membenci. Dia akan gugur perlahan. Sama seperti di pulau. Lalu dia pergi lagi.

Lantas apa? Lepas? Biar raib? Dua bulan memburu mayat hidup. Aku tak sanggup ulang.

Pusaran itu menggerus ubun-ubunnya tiap detik. Tiada jalan keluar. Membelenggunya sama dengan membunuhnya pelan-pelan. Melepasnya sama dengan menikam diri sendiri.

Malam ketiga, Lucifer takluk. Ia turun ke ruang kerjanya, menuju bar pribadi. Wiski. Botol pertama. Tak terasa. Botol kedua. Jagat mulai oleng. Namun pikiran tentang Florence tak ikut lumat. Malah semakin tajam, semakin menggores.

Dua bulan. Dua bulan ia tak menyentuh perempuan. Kartel Kolombia mengirim bidadari. Ia halau. Wangsa Sisilia menawarkan darah daging mereka. Ia perintahkan Marco melubangi betis sang utusan sebagai peringatan. Jangan bawa jelata ke singgasanaku.

Sebab tubuhnya, nalarnya, iblis di sumsumnya... semua hanya menagih satu nama. Mawar layu di lantai atas. Yang membuat akalnya terkelupas.

Alkohol berpadu buntu adalah racun yang mematikan. Logikanya lumpuh. Yang tersisa hanya naluri. Naluri memiliki. Naluri membui. Naluri purba yang berbisik: jadikan dia milikmu mutlak, hingga ia tak sanggup enyah meski kakinya mampu.

Lucifer menaiki lantai tiga. Langkahnya goyah. Matanya merah bukan semata karena mabuk. Melainkan karena purnama tanpa lelap, karena duel, karena takluk.

Ia tak mengetuk. Ia membuka pintu kamar Florence.

Di dalam, gelap menyergap. Hanya ada bias Central Park. Florence terjaga, duduk di peraduan, mendekap lutut. Ia menatap ke arah pintu. Melihat siluet Lucifer. Dan ia paham. Malam ini berlainan. Aroma wiski tercium bahkan dari jarak tiga depa.

“Lucifer?” suaranya gemetar. Bukan memanggil. Meratap. Jangan.

Lucifer bungkam. Ia mendekat. Setiap tapaknya adalah surut bagi akal sehatnya. Di kepalanya, suara kecil menjerit. Jangan. Jika kau lakukan, dia takkan pernah sudi mengampuni. Kau akan kehilangannya selamanya, walau jasadnya di sini.

Namun suara yang lebih besar, suara iblis yang luka dan limbung, terbahak. Peduli apa? Dia sudah muak. Dia sudah ingin enyah. Setidaknya jika dia muak karena ini, muaknya di hadapanku. Bukan di dekapan orang lain. Bukan di liang kubur.

Ia tiba di tepi ranjang. Florence mundur, punggungnya membentur sandaran. Tiada jalan lari.

“Ka-kau mabuk,” bisik Florence. Embun jatuh dari matanya. “Pergi. Mohon...”

Kata mohon itu, alih-alih mengerem, malah menjadi minyak. Sebab selama ini Florence tak pernah melirih padanya. Florence selalu menentang. Mohon berarti Florence gentar. Berarti Florence mengakui kuasanya. Dan iblis yang mabuk kekuasaan itu haus.

Tangan Lucifer terjulur. Mencengkeram rahang Florence. Tak lagi sehalus dulu. Mencengkeram. Memaksa Florence menatapnya. Ibu jarinya menekan dagu itu hingga ngilu menjalar.

“Aku sudah gila mencarimu,” desis Lucifer. Napasnya panas, wiski menyembur ke wajah Florence. “Dua bulan. Kau paham rasanya dua bulan menjadi bangkai bernyawa?”

Florence memejam. “Lepas...”

“Takkan. Takkan pernah lagi.”

Lucifer menunduk. Melabrak bibir Florence. Bukan kecupan. Penyerbuan. Geram. Putus asa. Bibirnya menghantam, menuntut, merampas udara. Ia menggigit bibir bawah Florence yang masih luka, hingga darah segar mengecap di antara mereka. Asin. Anyir.

Florence menjerit tertahan di dalam paksa itu. Telapaknya mendorong dada Lucifer sekuat daya, kukunya menggaris kulit di balik kemeja kelam. Namun, tenaga Florence tak seujung kuku dibanding lelaki yang dirasuki setan dan candu.

Lucifer menangkap kedua pergelangan Florence dengan satu tangan, mudah saja, lalu menahannya di atas kepala, menekan ke sandaran. Jemari satunya merenggut tali daster lusuh di bahu Florence. Kain itu luruh, tak berguna menolak.

“Tidak... Lucifer, jangan... kumohon...” Florence tersedu, kalimatnya remuk di antara dera yang tak henti. Ia meronta, kakinya menendang, namun Lucifer menindih tubuhnya dengan bobot penuh. Tiada ruang. Tiada hawa.

Kata ampun bergemuruh di kepala Lucifer, namun mulutnya sibuk melumat ketakutan Florence. Jemari sibuk melucuti sisa benteng. Nalarnya mati. Yang hidup hanya obsesi. Hanya mantra dia harus jadi milikku, utuh, detik ini juga, agar tak bisa pergi lagi yang berputar membakar.

Dan ia mengambil Florence malam itu. Kasar. Paksa. Tanpa restu. Diiringi isak yang ia sumbat dengan bibirnya. Diiringi jerit yang ia telan. Tiada kelembutan. Hanya ada vonis. Hanya ada klaim barbar. Hanya ada lelaki yang membuktikan bahwa ia sanggup melumat apa pun yang ia puja.

Dua bulan ia membangun bendung. Dua bulan ia mengekang diri. Malam itu bendung itu pecah, dan yang karam adalah Florence. Karam dalam pedih, dalam hina, dalam sadar bahwa sangkar emasnya ternyata adalah pejagalan.

---

Pukul 05.11.

Lucifer terjaga di lantai, di sisi peraduan. Kepalanya berdentam. Mulutnya getir. Bau wiski, peluh, dan sesal memenuhi ruang.

Ia membuka mata. Yang pertama ia lihat adalah punggung Florence. Gadis itu meringkuk di ujung ranjang, sejauh mungkin darinya. Selimut ia tarik sampai menutup kepala. Bahunya bergetar. Tangis tanpa suara.

Lucifer duduk. Ia menatap punggung tangannya. Empat guratan merah memanjang, jejak cakaran Florence semalam. Menyengat. Ia melirik seprai sutra putih itu. Kusut, setengah terlepas. Ada bercak darah di sana. Bercampur noda lain yang membuat ulu hatinya bergejolak.

Bajingan. Sialan.

Ia melakukannya. Hal yang tak pernah ia lakukan bahkan pada tawanan perang. Ia merampas paksa. Ia menodai satu-satunya insan yang dua bulan ini ia buru bagai hilang ingatan. Ia melumatkan apa yang ingin ia lindungi, sebab takut kehilangan.

Ia hendak bicara. Tenggorokannya tersekat. Kata maaf terlalu ringan. Dalih aku mabuk terlalu hina untuk dijadikan perisai.

Ia berdiri. Kakinya limbung. Ia menatap tubuh Florence yang meringkuk itu. Ada lebam di belikat yang tak tertutup selimut. Lebam dari cengkeramnya. Karyanya.

Ia ingin mengulurkan tangan. Menyelimutkan. Memastikan Florence tak kedinginan. Namun, ia sadar jemarinya kini bisa. Jamahannya adalah belati.

Maka, Raja Jahanam melakukan hal yang tak pernah ia lakukan seumur hidup. Ia mundur. Ia takluk. Ia keluar dari kamar itu tanpa desah. Menutup pintu perlahan.

Di luar, ia menyandarkan punggung ke dinding koridor. Jemari meremas rambutnya sendiri, menjambak hingga kulit kepala menyala perih. Ia tak mengaum. Tak menghancurkan apa pun. Sebab tak ada benda di dunia yang bisa ia remukkan untuk memulihkan apa yang sudah ia lumat semalam.

Ia sudah menahan dua bulan. Menampik semua perempuan. Menjaga tangannya suci dari Florence. Semua luluh dalam satu malam. Karena takut. Karena buntu. Karena pada akhirnya dia hanyalah iblis, bukan manusia.

Dan sesal itu... sesal itu takkan pernah ia perlihatkan di hadapan Florence. Di hadapan Florence, ia harus tetap menjadi iblis. Sebab jika Florence melihatnya runtuh, Florence akan tahu ia punya kuasa. Dan Florence akan pakai kuasa itu untuk pergi lagi.

Maka ia telan sesal itu. Dalam. Hingga membusuk di dalam dirinya. Hingga menjadi jahanam baru yang lebih menyala dari sebelumnya.

Di dalam kamar, Florence masih meringkuk. Air matanya kering. Suaranya habis. Jiwanya... entah. Yang ia tahu, sangkar emas itu kini resmi menjadi pejagalan. Dan jagalnya baru saja membuktikan bahwa tak ada tempat yang aman. Tak ada.

---

1
Nia Nara
Lanjut thor
balonku adalima
ya ampunn😭😭 kakk cerita mu buat aku gak sabar buat cepet cepet pulang kerja, trus baca.. aaa sehat sehat orang baik💪
Elsa Sefia: Makasih banyak ya kak 😭🫶 Senang banget ceritaku bisa jadi alasan buat buru-buru pulang dan baca. Oh iya, aku udah update lagi kak! Semoga kamu juga selalu sehat dan lancar kerjaannya ya!
total 1 replies
Nia Nara
Lanjut thor.. Ceritanya bagus, unik. Gak sama dari yg biasa.
Nia Nara: Siap Thor, ditunggu. Jangan lama-lama ya 😅
total 2 replies
Elnata
cepat update lagi, udah tidak sabar dengan kelanjutannya 😭
Elsa Sefia: siap kak, di tunggu ya update selanjutnya 😍
total 1 replies
Elnata
kerenn😍
Elnata
merinding 😭
Elnata
🤭🤭
Elnata
ceritanya bagus, semangat terus kak🥳
Elnata
sadis, Lucifer gilaaa😭
Elnata
nyesek😭
Nia Nara
Lanjut thor, ceritanya bagus banget 👍
Elsa Sefia: oke kak. terimakasih ya udah like. 😍
total 1 replies
Nia Nara
Pahit ya, kasian anak yg dididik terlalu keras jadi kejam begini
Nia Nara
Ceritanya bagus thor. Lain dari yg lain 👍
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
hadir thor
Elsa Sefia: Terimakasih 😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!