Mikayla tidak hanya dikhianati.
Ia dihancurkan.
Dipaksa menikah menggantikan kakaknya, lalu dikhianati oleh suaminya sendiri bersama wanita yang seharusnya ia lindungi. Lebih kejam lagi, keluarganya sendiri merampas masa depannya membuatnya kehilangan satu hal yang paling berharga bagi seorang wanita.
Setiap hari diberi obat agar tidak bisa mengandung, Rahimnya dibuat tidak berfungsi, Namun mereka lupa satu hal, wanita yang mereka hancurkan tidak benar-benar mati.
Dua tahun kemudian, ia kembali dengan identitas baru sebagai Michelle Ad Lynne lebih cerdas, lebih dingin, dan jauh lebih berbahaya. Dengan kekuatan finansial triliunan dan kecerdasan yang terasah, ia tidak datang untuk meminta keadilan.
Ia datang untuk menghancurkan.
Sedikit demi sedikit, segala yang dia bangun mulai runtuh tanpa peringatan. Tanpa ampun, kenyataan itu menghantamnya keras seperti pisau yang terus-menerus menebas luka lama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 羽菜, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Kecurigaan itu muncul perlahan, bukan sebagai jawaban pasti, melainkan gangguan kecil yang terus mengusik pikiran Elang sejak pagi. Ia berdiri di depan jendela ruang kerjanya, menatap keluar dengan rahang mengeras, mencoba merangkai semuanya dalam satu garis logika.
Seseorang sedang bermain di belakangnya.
Bukan orang biasa ini jelas kerja seseorang yang punya akses, memahami sistem, dan cukup berani untuk menyentuh wilayah yang selama ini ia jaga rapat. Audit pusat memang masuk akal, dan nama Gerald muncul sebagai kemungkinan terkuat, namun ada sesuatu yang terasa tidak pas. Semuanya terlalu rapi, terlalu terarah, bahkan terasa personal.
Elang berbalik, pikirannya mulai menyisir kemungkinan lain. Satu per satu nama muncul lalu gugur, tidak ada yang cukup dekat sekaligus cukup berani untuk melakukan ini tanpa meninggalkan jejak, hingga satu nama terlintas Mikayla.
Ia terdiam sejenak, alisnya berkerut tipis. Rasanya tidak masuk akal. Mikayla tidak pernah benar-benar diterima di keluarga Abimanyu, bahkan oleh ibunya sendiri ia hanya dianggap pelengkap, bukan bagian penting yang perlu diperhitungkan. Di luar itu, hidup Mikayla terlihat biasa saja, bekerja di bank sebagai manajer keuangan, dengan rutinitas yang stabil dan mudah ditebak.
Tidak ada ruang untuk permainan sebesar ini.
“Mustahil…” gumamnya pelan, seolah menegaskan pada dirinya sendiri.
Namun bayangan Mikayla beberapa hari terakhir justru muncul kembali terlalu tenang, terlalu diam, dan anehnya terlalu terkendali. Tidak ada reaksi berlebihan, tidak ada tuntutan, tidak ada emosi yang biasanya muncul dalam situasi seperti ini.
Justru itu yang membuatnya tidak nyaman.
Elang meraih ponselnya dan membuka akses CCTV rumah, menelusuri rekaman beberapa hari terakhir dengan cepat. Mikayla terlihat seperti biasa tenang, rapi, menjalani aktivitas tanpa hal mencurigakan. Namun semakin ia melihat, semakin terasa ada sesuatu yang ganjil, seolah semua itu terlalu sempurna untuk disebut alami.
Ia menutup layar perlahan, napasnya tertahan sejenak. “Kalau bukan kamu…” bisiknya rendah, tatapannya menggelap, “lalu siapa?” Pertanyaan itu menggantung tanpa jawaban.
Namun jauh di dalam pikirannya, sebuah intuisi mulai bergerak pelan, nyaris tak terasa, tapi cukup untuk menimbulkan kegelisahan yang tak bisa ia abaikan, untuk pertama kalinya, Elang mulai menyadari satu hal yang tidak pernah ia pertimbangkan sebelumnya. Mungkin ia tidak benar-benar mengenal wanita yang selama ini hidup bersamanya.
Elang meletakkan ponselnya di atas meja kerja dengan bunyi dentum yang berat. Kegelisahan itu kini berubah menjadi bentuk fisik—rasa dingin yang merambat di tengkuknya. Ia mencoba mengingat detail kecil: senyum Mikayla saat menyodorkan teh, ketenangannya saat membahas pemblokiran kartu ibunya, dan tatapan matanya semalam di tangga.
"Manajer keuangan di bank swasta..." Elang bergumam, suaranya parau
Ia baru menyadari satu hal yang selama ini ia remehkan: Mikayla mengelola aset triliunan milik nasabah besar setiap hari. Ia ahli dalam melacak aliran dana, memahami celah hukum, dan terbiasa bekerja di bawah tekanan tinggi. Jika Mikayla bisa mengelola uang orang asing dengan presisi seperti itu, apa yang menghentikannya untuk mengelola kehancuran suaminya sendiri?
Insting Pemburu yang Mulai Terusik
Kecurigaan yang sejak tadi mengganggu pikirannya akhirnya berubah menjadi dorongan untuk bertindak. Elang langsung menekan tombol interkom di mejanya. “Siska, bawakan berkas data pribadi istri saya dari arsip asuransi perusahaan. Sekarang.”
Tidak butuh waktu lama, Siska masuk dengan wajah sedikit pucat imbas dari kehadiran tim audit di lantai bawah yang mulai membuat seluruh kantor gelisah. Ia menyerahkan map tipis itu tanpa banyak bicara.Elang membukanya dan tngannya sedikit menegang.
Matanya bergerak cepat membaca setiap baris.
Lulusan terbaik akuntansi, sertifikasi manajemen risiko internasional, kemampuan bahasa lebih dari satu bahasa, Inggris, Jepang, Jerman, Mandarin.
Semuanya terlalu sempurna.
Lalu ia berhenti pada satu bagian.
Catatan medis: kosong.
Elang tahu itu tidak mungkin. Ia sendiri yang selama ini menyabotase kesehatan Mikayla, namun melihat kolom itu bersih tanpa jejak justru membuat sesuatu di dalam dirinya terasa dingin.
Terlalu rapi dan terkontrol. “Dia tidak mungkin sesederhana yang terlihat…” gumamnya pelan.
Pandangannya kembali menyusuri dokumen itu hingga berhenti pada satu detail yang membuat pikirannya semakin berat. Akses sistem clearing antar bank artinya, jika Mikayla mau, ia bisa melacak setiap transaksi yang pernah ia lakukan, termasuk aliran dana yang selama ini ia sembunyikan.
Kesadaran itu datang perlahan, namun menghantam keras. Mikayla bukan hanya istri yang ia anggap bisa dikendalikan, Ia bisa jadi ancaman.
Langkah Defensif Elang.
Elang tidak bisa tinggal diam. Jika semua ini memang berkaitan dengan Mikayla, maka ia sedang hidup bersama seseorang yang jauh lebih berbahaya dari yang pernah ia bayangkan.
Ia segera membuka akses ke rekening rahasianya yang selama ini ia gunakan untuk membiayai Naura.
Layar menampilkan status yang membuat nafasnya tertahan. Temporary Restricted, dibatasi oleh sistem pusat atas permintaan audit.
Jantungnya mencelos.
Tanpa menunggu lama, ia langsung menghubungi Naura. “Sayang, jangan keluar dari villa dulu. Dan jangan makan atau minum apa pun yang dikirim atas namaku atau perusahaan tanpa konfirmasi langsung dariku. Ada yang tidak beres.” Suara di ujung sana terdengar panik, namun Elang sudah lebih dulu menutup sambungan.
Pikirannya bergerak cepat, ia butuh memastikan satu hal, dengan siapa ia sebenarnya berhadapan.
Elang meraih jasnya dan memutuskan pulang lebih awal. Kali ini bukan sekadar untuk beristirahat, tapi untuk menguji. Ia ingin melihat langsung reaksi Mikayla saat ia melempar umpan pertanyaan sederhana tentang audit Gerald.
Reaksi kecil saja cukup untuk membuka celah.
Di Balik Layar: Senyum Sang Arsitek
Di tempat lain, jauh dari rumah itu, Mikayla duduk tenang di ruang kerja kantor pusat bank. Layar monitornya menampilkan notifikasi akses yang baru saja terjadi, seseorang mencoba membuka data pribadinya di arsip asuransi, senyum tipis muncul di wajahnya. “Sudah mulai curiga, Mas?” gumamnya pelan sambil menyesap teh.
Di layar lain, pergerakan dana Elang terlihat jelas semuanya kini terkunci rapat dalam pengawasan sistem yang dikendalikan dari pusat, tanpa terburu-buru, Mikayla mengambil ponselnya dan menghubungi Reno.
“Reno, Elang mulai mencari tahu,” ucapnya tenang. “Aktifkan protokol mirroring.”
Ia berhenti sejenak, memastikan instruksinya jelas.
“Biarkan dia melihat apa yang ingin dia lihat di CCTV rumah. Tampilkan aku sedang memasak atau membaca buku secara berulang. Pastikan rekaman itu looping dan tidak menimbulkan kecurigaan.” Nada suaranya tetap datar.
“Dia tidak boleh tahu… kalau saat ini aku tidak ada di sana.” Ia menutup panggilan dengan tenang, lalu kembali menatap layar di depannya.
Sementara Elang bersiap pulang untuk mencari jawaban, Mikayla sudah lebih dulu mengatur apa yang akan ia lihat. Dan di permainan ini, satu langkah lebih cepat, berarti satu langkah lebih dekat pada kehancuran lawan.
Pertemuan Dua Predator
Sore itu, Elang sampai di rumah. Ia melihat Mikayla sedang menyiram tanaman di taman belakang dengan tenang, mengenakan gaun rumah sederhana. Pemandangan itu begitu domestik, begitu damai, hingga Elang hampir percaya bahwa kecurigaannya hanya delusi.
"Sudah pulang, Mas? Tumben cepat," tanya Mikayla tanpa menoleh, suaranya seringan bulu.
Elang berjalan mendekat, berdiri tepat di belakangnya. "Audit pusat sedang kacau, Mika. Seseorang membocorkan data transaksi internal ke Kak Gerald." Elang menjeda, matanya tajam menusuk punggung Mikayla. "Kamu tahu sesuatu tentang ini? Kamu kan ahli keuangan."