NovelToon NovelToon
Istri Seksi Tuan Arnold

Istri Seksi Tuan Arnold

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Duda / Aliansi Pernikahan / Nikah Kontrak / Beda Usia / Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Putrichou

"Menikahlah dengan ku dan berikan aku keturunan. Aku akan memberikan semua yang kamu inginkan, termasuk kesejahteraan,"

Anjani tidak menyangka di usianya dua puluh tahun, harus menghadapi tawaran gila dari pria konyol yang dia bantu. Di sisi lain ia ingin memperbaiki hidup, sedangkan di sisi lain ia tidak ingin melakukan hal bodoh itu.

Namun melihat pengorbanannya Arya, keputusan besar akhirnya ia ambil untuk mereka berdua, bersiap menikah dan memberikan Arnold keturunan. Akankah mereka berdua berubah pikiran dan menjalin hubungan tanpa aliansi apapun?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putrichou, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

AMARAH YANG MEMUNCAK

Arnold menatap Anjani yang masih tertidur pulas. Hari sudah siang, kekhawatiran Arnold kini memudar di gantikan dengan rasa bahagia. Arnold memastikan kesehatan Anjani baik-baik saja, bahkan harus menghubungi Arya.

Ia memegang tangan Anjani yang kini jauh lebih hangat dari sebelumnya. Senyuman manis terpampang jelas di wajah pria itu, mungkin banyak yang tak percaya kalau Arnold yang biasanya di kenal galak, kini tersenyum lebar.

"Anjani, bangun lah." gumamnya pelan. Arnold berharap agar istrinya segera siuman, karena dalam dirinya masih ada rasa khawatir.

Dokter sudah memberitahu dua kabar sekaligus, pikiran Arnold mulai di penuhi oleh kabar buruk yang sempat disampaikan oleh Dokter. Tak lama, Anjani mulai tersadar dari biusnya. Gadis itu menyipitkan matanya dan menyadari kalau Arnold berada di sebelahnya.

"Minumlah," Anjani hanya menurut dan merasakan kepalanya sedikit pusing.

"Aku kenapa, Mas?" tanyanya setelah menyadari dirinya di ruang rawat. Arnold tersenyum dan membenarkan posisi Anjani agar bersandar di ranjang lebih nyaman.

"Kamu kelelahan," jawab Arnold. Pria itu memijat pelan kepala Anjani. "Lebih baik?"

"Iya, terima kasih."

Arnold mengecup pelan kening istrinya. Anjani mengerut pelan melihat tingkah Arnold, "kamu baik-baik saja?"

Arnold terkekeh pelan, sepertinya Anjani menyadari tingkahnya. "Mulai sekarang, aku akan menjaga mu dan bayi kita dengan sangat baik."

Anjani terdiam pelan, hingga pupil mata gadis itu membesar tak percaya. "Maksud kamu, aku hamil?!"

Arnold mengangguk pelan, Anjani yang masih tak percaya hanya bisa terisak kecil. Ia tak menyangka kalau akan di berikan hadiah yang sangat istimewa di usia pernikahannya yang seumuran jagung. Arnold mengusap air mata istrinya pelan.

"Jangan menangis ya, mulai sekarang kita harus menjaga bayi ini dengan baik."

Anjani yang tak kuasa, memeluk Arnold dengan tangisan yang terdengar kembali. Arnold juga bersyukur kalau Anjani hamil lebih cepat dari perkiraannya. Mereka berdua larut dalam pelukan, tak menyadari kalau Jasmine dan Fero mendengar semuanya dari celah pintu ruang rawat.

"Mama enggak salah dengar, Pa?" Jasmine melirik Fero yang tampak santai. Wanita itu mendengus kesal dan mencubit lengan suaminya.

"Why?" protes Fero mengelus lengannya yang sedikit sakit. "Ma, walaupun Papa ini terlihat santai, tidak mungkin kalau Papa tidak senang loh." ucap Fero membuat Jasmine tersenyum dan memeluk suaminya.

"Maafin, Mama. Lagian Papa itu kebiasaan hih!" Kedua pasangan suami-istri itu tertawa pelan dan menatap putra mereka yang masih larut dalam pelukan. Mereka senang dan bahagia, akhirnya Putra mereka memiliki tujuan hidup yang mungkin bisa menghilangkan sedikit trauma masa lalunya.

"Buat jaga-jaga, Papa akan segera mengurus mereka."

Jasmine sedikit menadah, ia paham siapa yang di maksud oleh suaminya. "Aku akan bicara dengan Papi nanti."

Fero mengangguk dan memilih meninggalkan Arnold dan Anjani. Mereka tak ingin menganggu kebahagiaan pasangan muda itu. Fero melirik Kevin dan Berta yang memilih menunggu di lobby rumah sakit.

"Beritahu keluarga Darmawangsa, kalah putra ku Arnold dan istrinya akan menjadi orang tua." ucap Fero membuat Ayah dan anak itu saling menukar pandang.

"Anjani sedang mengandung," sahut Jasmine memperjelas. Kevin dan Berta lantas tersenyum bahagia, mereka juga bahagia atas apa yang di berikan kepada pasangan suami-istri itu.

"Baik, Tuan."

...****************...

"AKHHHH!"

PRANG ....

"Tiara, hentikan!"

Mira menatap vas bunganya yang sudah hancur tak berbentuk lagi, Arthur menghela napas dan menarik lengan putrinya yang kehilangan kendali. Berita tentang kehamilan Anjani sudah mereka ketahui, Tiara semakin tak terkendali dan memecahkan semua barang di kamarnya.

"Aku tidak terima, Ma! Arnold itu milikku!" jerit Tiara dengan menatap penuh amarah kepada Mira dan Arthur.

"Apa yang kamu inginkan sebenarnya, Tiara?!" tanya Arthur dengan kesal. Semua yang Tiara inginkan sedari dulu sudah mereka wujudkan, bahkan Arthur harus di tahun selama bertahun-tahun karena ulah Tiara yang begitu terobsesi kepada Arnold.

"Aku ingin Arnold menjadi milikku! Gadis kampungan itu tidak boleh memiliki Arnold!" jawab Tiara. Mira sudah terduduk lemas, mereka sangat menyayangi Tiara bahkan memanjakannya sedari dulu.

Obsesi Tiara kepada Arnold menjadi boomerang bagi mereka. Kasus yang masih di tuntut keadilannya hingga sekarang oleh Fero dan Jasmine, kehilangan kepercayaan dan pekerjaan sekaligus. Fero dan Jasmine benar-benar tak memberikan celah bagi mereka.

"Kalau kamu menginginkan Arnold, maka kamu harus bisa mengontrol dirimu, Tiara!"

Tiara menatap Mira yang berteriak frustasi kepadanya. Tatapan wanita itu penuh amarah dan langsung menjambak rambut Mira.

"TIARA LEPASKAN IBU MU!" teriak Arthur. Pria itu terkejut melihat kelakuan anaknya. Mira yang berhasil menarik diri, menatap punggung putrinya.

"Aku bisa saja membunuh kalian berdua seperti aku membunuh saudara kembar Arnold!"

PLAK ....

Mira benar-benar kehilangan akal, cukup semua masalah yang Tiara sebabkan membuat mereka kesulitan. Kejadian puluhan tahun lalu, Tiara yang hilang akal bahkan tanpa ragu membunuh saudara kembar dari sepupunya sendiri, walaupun dengan perantara orang, Tiara tetap di hukum adil.

Saat usianya sepuluh tahun, bersamaan dengan si kembar Arnold dan Arjun saat itu. Entah apa yang dipikirkan oleh Tiara yang di kenal ceria dan penyayang itu, Arjun di temukan tak bernyawa di kolam renang dengan tangan dan kaki terikat tali sepatu. Arnold melihatnya, ia melihat dengan mata kepalanya sendiri, saat tubuh Arjun di angkat oleh petugas.

Ia tahu siapa pelakunya hanya dari gerak-geriknya. Di saat semua orang menangis, ia melihat Tiara tak terlihat sedih. Karena kejadian itu, Arnold harus memeriksakan diri ke psikiater dan mengalami trauma berat. Tak banyak yang mengetahui masalah itu, karena Fero benar-benar membungkam awak media, ia tidak ingin Arnold semakin terpukul begitu pula dengan Jasmine serta dirinya.

"Kamu sudah gila!!" berang Mira. Tiara memegangi pipinya yang kebas. Tamparan Mira membuat Tiara terdiam, seakan-akan tersadar. "Kamu sudah membunuh Arjun, Tiara! Kamu pula? Kamu masih sebelas tahun tapi kamu sudah menjadi seorang penjahat!"

"Mira, sudah!" tegur Arthur. Mira memberontak dan menunjuk wajah putrinya dengan air mata berlinang.

"Aku dan Ayah mu sudah melakukan semua yang kamu inginkan! Semuanya, Tiara! Apakah kamu tidak pernah memikirkan kami?"

Tiara melirik sekilas, wanita itu terdiam dan mengambil ikat rambut. Arthur mengerutkan keningnya curiga.

"Aku tahu,"

DEG ....

"Aku selalu memikirkan kalian, jangan khawatir pada ku." ucap Tiara yang langsung menidurkan dirinya di ranjang begitu saja. Mira menghapus air matanya dan benar-benar tak menyangka dengan respon Putrinya.

"Arthur?" wajah wanita itu penuh tanda tanya melihat reaksi berbeda Tiara. Ia takut kalau penyakit mental putrinya kembali mencuat atau mungkin menjadi lebih agresif.

Arthur menggeleng ragu dan menatap istrinya. "Ayo keluar, Mira." gumam Arthur setelah melihat Tiara memejamkan matanya. Pria itu mendekat fan memastikan kalau Tiara tertidur.

"Kunci semuanya, Pa. Aku tidak akan melakukan apapun, tenang saja." kata Tiara dari balik selimutnya. Wanita itu membungkuk dirinya, tak terdengar Isak tangis ataupun hal yang mencurigakan.

Arthur yang hendak menyentuh kepala putrinya, akhirnya ia urungkan. Menarik Mira untuk keluar dari kamar Tiara, mengunci pintunya dari luar. Mira memeluk Arthur dengan perasaan hancur.

"Kenapa jadi seperti ini, Pa?"

Arthur terdiam. Ia juga tidak tahu harus melakukan apa sekarang. Jasmine tak memberi celah sedikitpun untuk berbicara atau membela dirinya. Amarah dalam dirinya seketika memudar, ia bisa saja bertindak gegabah seperti biasanya kalau Tiara sedang luar kendali. Tapi dirinya hanya seorang Ayah yang ingin putrinya pulih walaupun harus merelakan semuanya.

"Maafkan aku, Mira. Mari kita bawa Tiara ke rumah sakit kembali,"

Mira sontak menadah terkejut. "Apa?"

Arthur mengangguk, ia sudah terlalu lama mengabaikan semua perilaku Tiara. Ia juga tak menyalahkan sikap Fero ataupun Jasmine yang tampak tak menyukai kehadiran mereka bertiga. Karena, mereka lah di balik meninggalnya salah satu putra mereka.

"Perasaan ku tidak enak,"

1
partini
pesikopet dia mah ,najani the next korban berikutnya OMG moga aja ga methong
partini
tekdung
partini
dua puluh tahun masih SMA Thor sehhh
partini: ok ,, soalnya jarang sih Thor di tempat ku lulus SMA umur 20th kebanyakan 18 dan 19 th
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!