NovelToon NovelToon
Lencana Cinta Sang Kapten

Lencana Cinta Sang Kapten

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Militer
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: istimariellaahmad

Adeeva Zamira Arjunka tidak pernah menyangka bahwa sifat pemberontaknya justru menjadi alasan ia terjebak dalam pernikahan militer. Seharusnya, Kak Adiba—kembarannya yang sholehah dan lembut—lah yang bersanding dengan Kapten Shaheer Ali. Namun, sang perwira pasukan khusus itu secara mengejutkan justru menjatuhkan pilihan pada Adeeva, si gadis keras kepala yang terang-terangan membenci dunia militer.
Terpaksa menggantikan posisi kakaknya, Adeeva masuk ke kehidupan Shaheer dengan dendam dan penolakan. Baginya, lencana dan seragam hijau Shaheer adalah simbol pengekangan. Namun, perjalanan takdir adiba ke tanah Mesir dan kehadiran buah hati di balik pagar pinus perlahan mengubah segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sketsa baru di meja gambar

Sejak kejadian di gudang tua itu, atmosfer di rumah nomor 12 berubah total. Tidak ada lagi rasa waswas yang menghantui setiap kali ponsel Adeeva bergetar. Revian telah menghilang, kabarnya ia pindah tugas ke luar pulau setelah mendapat "teguran" halus dari koneksi militer keluarga Jenderal Ali.

Adeeva kini lebih banyak menghabiskan waktunya di sudut ruangan yang telah disiapkan Shaheer. Meja gambar itu tidak lagi berdebu. Di atasnya, berserakan sketsa gaun dengan potongan modern namun tetap santun—sebuah perpaduan antara jiwanya yang bebas dan lingkungan barunya yang tertutup.

Pagi itu, Adeeva sedang sibuk mewarnai desain sebuah tunik saat pintu depan diketuk. Ia segera membenarkan pashminanya yang masih terpasang agak longgar sebelum membuka pintu.

"Pagi, Mbak Deeva! Waduh, makin hari makin mirip Ibu Persit teladan ya," sapa Kaysan yang berdiri di sana sambil menenteng sebuah kotak kayu.

Adeeva tertawa. Ia sudah terbiasa dengan gaya bicara Kaysan yang ceplas-ceplos. "Mau cari Kapten? Dia sedang ke lapangan tembak, San."

"Bukan, saya cari Mbak Deeva. Ini ada kiriman dari Bang Shaheer. Katanya buat nambah koleksi mainan Mbak," Kaysan menyerahkan kotak itu. Isinya adalah satu set pensil warna profesional dan beberapa buku referensi desain dari luar negeri.

"Wah, mahal ini. Terima kasih ya," ucap Adeeva tulus.

Kaysan tidak langsung pergi. Ia melirik ke dalam rumah, tepatnya ke arah meja makan. "Ngomong-ngomong, Dok Fathiyah tadi saya lihat lewat sini tidak? Katanya mau periksa kesehatan anggota di barak sebelah."

Adeeva menyipitkan mata, senyum jahil muncul di wajahnya. "Oh, jadi sekarang Kapten Kaysan kalau ke sini tujuannya bercabang ya? Antar barang buatku atau cari muka depan Kak Fathiyah?"

Wajah Kaysan yang biasanya tembok mendadak sedikit salah tingkah. "Ah, Mbak bisa saja. Saya cuma memastikan dokter kita itu tidak pingsan karena terlalu galak."

"Kak Fathiyah ada di poliklinik asrama sejak jam delapan tadi. Kalau kamu mau lewat sana, bawakan saja dia air mineral. Dia paling malas kalau disuruh minum air putih," bisik Adeeva memberikan bocoran.

Kaysan memberikan hormat ala militer dengan semangat. "Siap! Laksanakan, Mbak! Info yang sangat strategis!"

Adeeva hanya geleng-geleng kepala melihat Kaysan yang lari menuju motor dinasnya dengan terburu-buru. Gadis itu kembali masuk ke dalam rumah. Ia merasa senang melihat hubungan Fathiyah dan Kaysan yang mulai mencair. Ternyata, di balik kekakuan dunia asrama, masih ada ruang untuk cerita-cerita kecil yang manis.

Siang harinya, Shaheer pulang dengan seragam yang basah oleh keringat. Ia melihat Adeeva sedang asyik menggambar sambil mendengarkan musik dari earphone-nya. Pemandangan itu selalu berhasil membuat lelah Shaheer hilang seketika.

Shaheer mendekat, berdiri di belakang Adeeva tanpa mengganggu. Ia melihat sketsa yang sedang dikerjakan istrinya. Itu adalah gambar seorang wanita yang mengenakan pashmina hitam—persis seperti yang dipakai Adeeva—namun dengan gaya yang sangat modis dan elegan.

"Bagus," komentar Shaheer singkat.

Adeeva tersentak, lalu melepas earphone-nya. "Kaget! Sejak kapan kamu di situ?"

"Baru saja. Itu pesanan?" tanya Shaheer sambil menunjuk gambar itu.

Adeeva mengangguk penuh semangat. "Iya! Teman kuliahku lihat sketsa yang aku unggah di media sosial. Dia mau aku buatkan desain untuk baju lebaran keluarganya. Ini pesanan pertamaku, Kapten!"

Shaheer mengusap kepala Adeeva. "Teruskan. Aku bangga kamu tidak membiarkan bakatmu mati di sini."

Adeeva menatap Shaheer dengan tatapan yang kini lebih lembut. "Semua karena meja ini. Terima kasih ya, Shaheer."

"Sudah kewajibanku," jawab Shaheer. "Oya, aku punya berita. Besok malam kita diundang makan malam di rumah Papa. Adiba akan melakukan panggilan video dari Mesir. Dia bilang ada pengumuman penting."

Wajah Adeeva langsung berbinar. "Kak Adiba? Akhirnya! Aku kangen sekali dengar suaranya."

Malam itu, asrama terasa lebih tenang dari biasanya. Adeeva tidak lagi merasa seperti burung yang dikurung. Ia menyadari bahwa kebebasan bukan soal bisa pergi ke mana saja, tapi soal memiliki seseorang yang percaya pada langkahnya.

Namun, di sela-sela kegembiraan itu, Adeeva menyadari satu hal. Jika Adiba punya pengumuman penting dari Mesir, apakah itu berarti kakaknya sudah menemukan jalan hidupnya sendiri di sana? Dan apakah pengumuman itu akan mengubah dinamika keluarga mereka lagi?

Happy reading sayang...

Baca juga cerita bebu yang lain...

Annyeong love...

1
Fauziah Rahma
👍
Ana
lbjut
Titik Sofiah
awal yg menarik ya Thor moga konfliknya nggak trllau berat 😍😍😍
Ana
lnjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!