NovelToon NovelToon
Cinderella, Glass Slipper Syndicate

Cinderella, Glass Slipper Syndicate

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Romansa Fantasi / Mafia
Popularitas:487
Nilai: 5
Nama Author: Fitria Susanti Harahap

Setelah ayahnya hilang dalam kecelakaan mobil, Ella hidup dengan satu tujuan yaitu menemukan kebenaran tentang ayahnya.


Sementara Leo seorang jaksa muda hidup dengan satu prinsip yaitu menegakkan hukum tanpa pengecualian.


Ketika mereka bertemu di pesta dansa, keduanya tak sadar mereka berada di sisi yang berlawanan dari permainan yang sama.


Ketika perasaan mulai tumbuh, satu pertanyaan tak bisa dihindari, apa yang harus dimenangkan? Kebenaran atau cinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CGS 20

Ella tersenyum tipis bukan karena setuju. “Tiba-tiba jadi peduli soal biaya,” katanya.

Nada itu membuat Bu Vero sedikit menajamkan pandangannya. “Ngomong-ngomong soal biaya,” lanjutnya, kali ini langsung ke poin lain, “berapa lama Tante Rosa akan tinggal di sini?”

Pertanyaan itu datang tanpa pengantar. Tapi jelas bukan pertanyaan biasa .Ella tidak ragu kali ini. “Selama yang dibutuhkan,” jawabnya.

“Rumah ini bukan hotel,” balas Bu Vero datar. “Setiap orang yang tinggal di sini berarti ada tambahan pengeluaran.”

Ella akhirnya bergerak, mengambil satu langkah mendekat ke meja, cukup untuk menunjukkan bahwa ia tidak mundur dari percakapan ini. “Ini rumah Ibu saya,” katanya pelan tapi tegas. “Yang berarti juga keluarga Tante Rosa.”

Bu Vero tidak memotong.

“Mereka sudah saling kenal jauh sebelum…” Ella berhenti sejenak, lalu melanjutkan, “…semua ini terjadi.”

Ia melipat tangannya di depan dada.

“Dan Tante Rosa tidak bergantung pada siapa pun di rumah ini. Dia makan dengan uangnya sendiri, tidak menggunakan apa pun dari sini.” Nada suaranya tetap terkendali. Tapi jelas bukan lagi defensif. Melainkan batas. “Jadi saya tidak melihat alasan kenapa dia harus pergi.”

Sunyi. Beberapa detik yang terasa lebih lama dari seharusnya.

Bu Vero memperhatikan Ella lebih lama dari biasanya, seolah sedang menilai sesuatu yang baru. Perubahan sikap. Atau perlawanan. Akhirnya, ia menutup map itu kembali.

“Pikirkan saja soal asuransi itu,” katanya singkat. “Semakin cepat selesai, semakin baik untuk semua.” Ia berdiri, merapikan pakaiannya, lalu berjalan menuju pintu. Sebelum keluar, langkahnya berhenti sejenak. “Kamu berubah, Ella,” katanya tanpa menoleh.

Bukan pujian. Bukan juga kritik. Lebih seperti pengamatan. Pintu terbuka. Lalu tertutup. Ella tetap berdiri di tempatnya.

Matanya perlahan turun ke meja ayahnya. Ke map yang tadi didorong ke arahnya. Dan untuk pertama kalinya, ia tidak hanya melihat ini sebagai urusan administrasi. Tapi sebagai sesuatu yang terlalu ingin diselesaikan. Terlalu cepat. Terlalu rapi. Seolah ada yang ingin segera ditutup sebelum sempat dibuka kembali.

"Aku tidak akan membiarkan semuanya berakhir begitu saja dengan mudah." kata Ella. "Aku akan berusaha membuktikan ayah tidak bersalah." Ella meminggirkan map berisi pengajuan asuransi ayahnya. Sebenarnya ia ingin merobeknya, tetapi Ella tak mau ada konflik berikutnya. Ia harus tenang meski sebenarnya hatinya berisik.

***

Perburuan itu dimulai tanpa pengumuman. Tidak ada garis start, tidak ada tanda resmi hanya dua arah yang perlahan bergerak, saling mendekat tanpa benar-benar saling melihat sepenuhnya.

Di satu sisi, Leo berdiri di ruang kerjanya yang sunyi, lampu meja menjadi satu-satunya cahaya yang tersisa saat malam semakin larut. Di hadapannya, beberapa berkas terbuka, layar laptop menampilkan potongan data yang tidak tercatat dalam laporan resmi, dan di tangannya masih tergenggam miniatur sepatu kaca itu. Ia memutarnya perlahan, memperhatikan detail kecil yang sebelumnya mungkin terlihat sepele, tapi kini menjadi satu-satunya benang yang menghubungkan semuanya.

Ella. Ia sudah memverifikasi. Gadis itu memang ada di rumah saat ia datang. Setidaknya itu yang terlihat. Itu yang dikatakan semua orang. Dan justru itulah yang membuatnya tidak percaya.

Leo bukan orang yang mudah menerima kebetulan. Terlalu banyak hal yang tidak sinkron, kehadiran Ella di pesta yang tidak seharusnya ia masuki, cara ia bergerak di dalam ruangan itu, reaksi yang terlalu cepat saat melarikan diri, dan benda kecil yang kini ada di tangannya. Itu bukan sekadar aksesori. Itu petunjuk. Dan wanita itu bukan sekadar anak dari seorang tersangka yang sudah “ditutup” kasusnya. Ia sesuatu yang lain. Sesuatu yang belum ia pahami.

Leo menutup berkas di depannya, lalu membuka yang baru, bukan tentang Pak Tanto, tapi tentang jaringan yang selama ini hanya muncul di pinggiran kasus. Nama-nama besar, pertemuan-pertemuan yang tidak tercatat, transaksi yang hilang dari sistem resmi. Semua yang sebelumnya terasa terpisah, kini mulai ia tarik ke satu titik.

Wanita misterius itu. Dan untuk pertama kalinya, penyelidikan Leo tidak lagi sepenuhnya mengikuti jalur yang diberikan. Ia mulai menyimpang. Menggali lebih dalam. Mencari sendiri. Perburuan dimulai dari sisi hukum.

"Masih memikirkan gadis pemilik sepatu kaca itu?" tiba-tiba saja Andrew, rekan kerja Leo menepuk pundaknya. Membuyarkan lamunan Jaksa muda terbaik itu. "Ini seperti kisah Cinderella saja. Ketemu di pesta dansa, sebelah sepatunya ada di pangeran, sebelah lagi dibawa Cinderella."

Celetukan itu menyita perhatian Leo.

"Kalau ngikutin ceritanya, yakin pasti ketemu!" Andrew menepuk pundak Leo sambil tersenyum. "Asal jangan sampai jatuh cinta aja." tambahnya, sambil berlalu meninggalkan Leo.

***

Sementara itu, di sisi lain kota, Ella justru bergerak ke arah sebaliknya. Ia menghilang. Bukan secara fisik tapi dari perhatian. Dari sorotan. Dari siapa pun yang mungkin mencarinya.

Di rumah, ia kembali menjadi seperti sebelumnya, atau setidaknya itu yang ia tunjukkan. Bangun pagi, melakukan pekerjaan rumah, menjawab seperlunya, tidak menonjol, tidak menimbulkan kecurigaan. Di kampus, ia hadir tanpa benar-benar hadir, duduk di kelas, mencatat, tapi tidak terlibat. Ia belajar menjadi bayangan.

Seseorang yang ada tapi tidak diperhatikan. Di balik itu, semuanya berubah. Malam hari kembali menjadi miliknya.

Bersama Tante Rosa dan Niko, ia melanjutkan apa yang sempat mereka mulai. Data diperiksa ulang, kode diterjemahkan lebih dalam, pola mulai terlihat lebih jelas. Tanpa sepatu kaca itu, mereka kehilangan satu kunci, tapi bukan semuanya. Masih ada jejak lain.

Masih ada celah. Dan Ella kini lebih berhati-hati. Tidak ada lagi gerakan spontan. Tidak ada lagi kesalahan. Setiap langkah dipikirkan. Setiap keputusan diukur. Karena ia tahu sekarang bukan hanya dia yang mencari. Seseorang juga sedang mencarinya. Dan orang itu bukan orang biasa.

Di satu malam yang sunyi, Ella berhenti sejenak dari layar laptopnya, menatap pantulan dirinya di jendela gelap. Wajah yang sama, tapi tidak lagi dengan pikiran yang sama. Ia bukan lagi gadis yang hanya ingin membuktikan ayahnya tidak bersalah. Ia sudah masuk terlalu jauh.

Sekarang ia harus bertahan.

Di sisi yang berlawanan, Leo berdiri di depan jendela ruang kerjanya, memandang kota yang sama, tapi dengan tujuan yang berbeda. Di tangannya, sepatu kaca itu masih ada diam, kecil, tapi cukup untuk membuatnya tidak berhenti.

Dua orang. Dua arah. Satu kebenaran yang sama. Dan tanpa mereka sadari jarak di antara mereka semakin dekat. Perburuan itu sudah dimulai. Dan tidak ada yang benar-benar tahu siapa yang akan menemukan siapa lebih dulu.

***

Hari-hari berikutnya berjalan dengan ritme yang tampak normal di permukaan, tapi di bawahnya, pergerakan semakin cepat dan semakin dalam. Leo mulai menyusun ulang potongan-potongan yang ia miliki, bukan lagi berdasarkan laporan resmi, melainkan berdasarkan intuisi yang jarang ia abaikan.

1
Fitria
Jangan lupa tinggalkan Like dan komen. terimakasih.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!