NovelToon NovelToon
KEBANGKITAN VAMPIR TERKUAT DARI TIDUR PANJANG

KEBANGKITAN VAMPIR TERKUAT DARI TIDUR PANJANG

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Romansa Fantasi
Popularitas:220
Nilai: 5
Nama Author: Arafi Arif Dwi Firmansyah

Kurza adalah vampir terkuat dimasa lalu, entah apa yang ada dipikiranya sehingga dia memutuskan untuk beristirhat/tidur di dalam sebuah goa . sebelum Putri Kerajaan Alabas tanpa sengaja membangunkan Kurza dari tidurnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arafi Arif Dwi Firmansyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15. Menyusup Masuk kedalam Istana

‎Kurza tidak menunggu lama. Ia mengguncang bahu Khiya dengan tegas hingga gadis itu tersentak bangun dari tidur lelapnya. Wajah Khiya tampak bingung, namun aura serius yang terpancar dari Kurza membuatnya segera sadar sepenuhnya. "Bangun, Khiya. Pakai bajumu sekarang," perintah Kurza dingin sambil merapikan barang bawaan mereka. "Kita harus bergegas menuju ibu kota. Penyamaran iblis di desa ini sudah terlalu dalam. Aku harus segera bertemu Raja Zion; Alabas dalam bahaya yang lebih besar dari sekadar serangan terbuka."

Khiya, meski tubuhnya masih terasa sedikit lemas namun mendengar ucapan Kurza, segera bangkit. "Baik, Tuan. Apakah... apakah ada yang mengintai kita?" tanyanya sambil dengan cepat mengikat tali sepatunya. "Mereka ada di mana-mana, bersembunyi di balik wajah-wajah ramah penduduk desa," jawab Kurza sambil melirik ke arah jendela yang masih gelap. "Jika kita tetap di sini, desa ini akan menjadi medan pertumpahan darah sebelum matahari terbit. Kita harus sampai ke ibu kota sebelum Jendral iblis Valac memerintahkan pasukanya untuk menangkap aku."Kurza menarik tangan Khiya, membimbingnya keluar dari kamar.

‎Kurza memutuskan untuk bergerak tanpa gangguan. Ia melangkah menuju pemilik penginapan yang baru saja terbangun. Tanpa banyak bicara, Kurza menyerahkan tali kekang kudanya. "Ambil kuda ini. Isi kantong ini dengan makanan dan minuman! ucapnya singkat Kurza sembari memberikan sebuah kantong kosong. Pemilik penginapan yang masih mengantuk itu hanya bisa melongo melihat kuda berkualitas tinggi ditukar dengan makanan dan minuman.

Kurza kembali ke hadapan Khiya yang berdiri gemetar di udara pagi yang menusuk. "Naiklah ke punggungku, Khiya. Pegangan yang erat dan jangan coba - coba untuk membuka mata," perintah Kurza tegas. Khiya menurut, ia melingkarkan lengannya di leher Kurza dengan erat. Begitu ia merasa posisi gadis itu stabil, Kurza mengambil napas dalam. Energi vampir murninya bergejolak di dalam pembuluh darahnya, memberikan kekuatan eksplosif pada otot-otot kakinya.

"Wuussssh!" Dalam satu kedipan mata, mereka menghilang dari depan penginapan. Kurza berlari sekencang kilat, melintasi jalanan setapak dan hutan dengan kecepatan yang tidak masuk akal bagi manusia biasa. Pohon-pohon di sisi mereka hanya tampak seperti garis-garis hijau yang kabur. Angin kencang memaksa Khiya untuk menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Kurza. Kecepatan ini jauh melampaui lari kuda mana pun di Alabas.

Kurza fokus pada satu tujuan: Gerbang Utama Ibu Kota. Ia tahu, dengan kecepatan ini, perjalanan yang seharusnya memakan waktu dua hari bisa ia pangkas menjadi hitungan jam."Bertahanlah, Khiya," gumam Kurza di tengah deru angin. "Ibu kota sudah di depan mata." Sesampainya di atas perbukitan, Kurza menghentikan larinya, Khiya turun dari gendongannya, dan Kurza memberikan kantong kepada Khiya. "Makanlah dulu Khiya" perintah Kurza, Khiya menerima kantong itu dan mulai memakanya di samping Kurza.

Kurza terus mengawasi dari kejauhan, ‎Kurza melihat gerbang utama yang dijaga ketat oleh barisan prajurit. Ia tahu bahwa melewati jalur resmi hanya akan membuang waktu dengan formalitas protokol kerajaan, atau lebih buruk lagi, ia bisa saja terjebak oleh mata-mata iblis yang mungkin sudah menyusup ke dalam barisan penjaga. Kurza mengamati dengan tajam setiap dinding dari kota alabas, Kurza melihat di pojokan dinding tanpa penjagaan.

Ia menengok ke arah Khiya, memastikan apakah Khiya sudah selesai dengan makananya. Khiya menyadari Kurza melihat ke arahnya dengan polos Khiya menawarkan sepotong roti, "Tuan makanlah ini" ucap Khiya dengan sepotong roti ada di tanganya dan disodorkan ke arah Kurza. "Makanlah dan habiskan. Kita akan melewati dinding itu!" ucap Kurza sembari menunjuk pojokan dinding tanpa penjagaan.

"Pegang erat, Khiya!" seru Kurza.Ia melompat dari satu dahan pohon ke tonjolan batu di dinding tebing dengan akurasi yang mematikan. Khiya hanya bisa membenamkan wajahnya, merasakan sensasi perut yang terguncang saat Kurza menanjak vertikal seolah gravitasi tidak berlaku baginya. Dalam hitungan detik, mereka sudah melompati dinding.

Kurza memperhatikan di sekeliling, dan memikirkan cara agar bisa masuk ke dalam istana. Khiya yang masih dalam gendongan Kurza hanya diam dan mengikuti langkah Kurza tanpa pertanyaan. Kuza berlari disepanjang bawah dinding, sesampainya di wilayah istana ia melompat dan berhasil mendarat di atap istana.

Ia dan Khiya masuk lewat jendela, Kurza mendarat tanpa suara di atas lantai marmer yang dingin. Suasana di sini sunyi, namun Kurza bisa merasakan ketegangan yang menggantung di udara. Ia menurunkan Khiya yang tampak sangat pucat dan gemetar karena perjalanan "terbang" tadi. Kurza segera merapikan bajunya yang berantakan terkena angin. "Tunggu di sini dan jangan bersuara," bisiknya pada Khiya.

Kurza berjalan tanpa suara menuju aula kerajaan. Berharap di sana ia bisa langsung bertemu dengan Raja Zion, langkah Kurza terhenti sejenak. Ia mencium aroma iblis yang sangat pekat, menyadari meninggalkan Khiya sendiri bukanlah hal yang bijak, ia kembali menghampiri Khiya dan mengajaknya untuk ikut menuju aula kerajaan.

"Kenapan di dalam istana tercium aroma iblis yang sangat kuat? Ada apa dengan kerajaan ini? Gumam Kurza di dalam hati. Khiya yang menyadari jika Kurza dalam kebingungan bertanya, "Sebenarnya apa yang sedang tuan pikirkan, sampai wajah tuan terlihat seperti orang yang ling - lung" tanya Khiya yang dari tadi mengamati Kurza. "Entah lah Khiya" jawab singkat Kurza.

Semakin mendekat ke arah aula semakin tajam aroma iblis, sekarang Kurza meningkatkan kewas padaanya, dengan aroma busuk iblis yang sangat tajam, ia sadar di dalam istana sudah di penuhi dengan iblis - iblis kelas atas. "Selama aku tertidur, apa yang kau lakukan Zion dengan iblis - iblis ini" gumamnya lagi di dalam hati.

Langkah Kurza terhenti seketika di balik pilar besar aula utama. Matanya yang tajam saat melihat sosok yang duduk di atas takhta bukan lagi Raja Zion yang bijak, melainkan Zhit, adik sang raja yang dikenal ambisius dan haus kekuasaan."Zhit... Kemana Zion?" desis Kurza pelan.

Atmosfer di istana telah berubah, aroma pengabdian telah digantikan oleh bau busuk iblis dan ketakutan yang tertutup oleh penyamaran. Menyadari situasi telah berubah drastis, Kurza segera menarik Khiya kembali ke bayang-bayang sebelum para penjaga baru yang berseragam hitam melihat mereka. "Tuan, kenapa kita kembali?" tanya Khiya dengan penuh heran kenapa Kurza tidak jadi bertemu dengan Raja.

"Dia bukan Raja Zion Khiya" jawab Kurza sembari menarik tangan Khiya. Ia tahu, jika ia muncul sekarang tanpa rencana, ia hanya akan berjalan masuk ke dalam jebakan. Entah di mana Raja Zion berada, dikudeta, dipenjara, atau lebih buruk lagi. Kurza segera membawa Khiya kembali ke kastel pribadinya di pinggiran berbukitan curam ibu kota melalui jalur belakang yang tersembunyi.

Bersambung. . .

1
T28J
hadiir kakak 🙏
Arafi Arif Dwi Firmansyah: Terima kasih bosku.
total 1 replies
putri kurnia
lanjutannya dooong, penasaran bgt ini 😍
putri kurnia
bikin penasaran kelanjutannya
Arafi Arif Dwi Firmansyah: sabar ya. malam ini bab 4 selesai.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!