Sepasang mata berwarna coklat tampak menyorot tajam menatap seorang laki laki yang masih berdiri memaku tanpa bergerak sedikitpun dari tempatnya semula, seakan tatapn mata berwarna coklat itu mampu menelannya hidup hidup saat ini juga.
"apa kamu tidak ingin menjelaskan semuanya stave...?"
suara yang baru saja keluar dari laki laki tersebut terdengar seperti sebuah kilatan petir, membuat stave semakinn menundukkan kepalanya semakin dalam.
"apa yang harus aku katakan setelah kamu sudah melihat semuanya."
kepalan tangan dan tonjolan urat yang terlihat jelas saat steave memberanikan diri menatap kearah di mana tangan leon dia letakkan di atas meja, steave rasanya ingin segera menghilang dan berlari dari depan leo, dia tahu dan paham akan tabiat leon ketika marah seperti sekarang.
"jika kamu tidak ingn menjelaskan siapa dia, maka..."
Leon menghentikan ucapannya, terdengar bunyi deritan kursi yang bergeser. seketika steve memberanikan diri menatap ke arah leon, yang kini dekatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Na_1411, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kepulangan Steve.
“Steve mana kopermu yang akan kamu bawa ke Indonesia…?” Tanya aura menatap Steve dengan tas ransel yang dia letakkan di atas bahu kanannya.
“Aku ke sini hanya bawa ini ma, mendengar mama masuk rumah sakit aku tidak sempat berkemas. Hanya ransel ini yang aku bawa, dan untung paspor miliku selalu aku letakkan di dalam tas ini.” Jawab Steve terlihat pe de dengan bawaannya.
“Ya Tuhan Steve, jangan bilang Leon tidak tahu kamu pergi ke sini…?” Tanya aura penuh rasa curiga.
“Tenang sayang, aku sudah mengabari Leon. Jika Steve pulang ke Singapura untuk mengunjungimu, dan kamu tahu reaksi Leon saat mengetahui Steve pulang…?” Alex sekilas menatap Steve, alex merangkul pundak istrinya dengan posesif.
“Dia tampak kawatir, tadinya Leon akan datang ke sini. Tapi entahlah, tiba tiba dia membatalkannya begitu saja.”
Steve melihat ke arah alex, mendengar jika Leon akan datang membuat hati Steve terasa senang. Tapi ucapan alex selanjutnya membuat Steve menjadi sedih dan kecewa.
“Kamu tahu sayang, sepertinya sebentar lagi Leon akan menikah dengan dias. Aku tahu kabar itu dari mamanya Leon, mereka akan melangsungkan pentungan lebih dulu. Setelah kepulangan kak jo dari Austria, mereka akan segera menikah.” Ucap alex menjelaskan akan kabar yang dia dapat dari mamanya Leon.
Entah kenapa Steve merasakan sakit di dalam hatinya, Steve kira selama ini Leon tidak menghubunginya karena Leon yang marah karena Steve yang tidak pamitan dengan Leon, tapi mendengar kabar jika Leon akan menikah membuat Steve merasa terpukul.
“Hei Steve, kamu juga harus memberitahu Leon, jika kamu juga akan menikah dengan Liona. Ya… walaupun pernikahan kalian bukan karena cinta.” Ucapan alex terasa menyindir maksud dan niat baik Steve, mungkin benar apa yang di katakan alex. Jika Leon harus memberitahu akan rencana pernikahannya dengan Liona.
“Iya pa, sesampainya di Indonesia. Aku akan bilang ke kak Leon, dan aku juga ingin mengucap akan selamat atas pentungan ya nanti.” Suara Steve terdengar sedih, aura dapat merasakan kesedihan yang di rasakan Steve.
“Hei boy, are you okey…?” Tanya aura mengelus pelan pundak Steve.
“Okey ma, oh iya. Aku harus segera pergi, takutnya aku bisa ketinggalan pesawat nanti.” Pamit Steve beralasan, padahal dia ingin menghindari ucapan alex selanjutnya tentang Leon.
“Oke son, hati hati di jalan. Maaf kami tidak bisa mengantarkanmu sampai di bandara, jadi papa harap kamu selalu jaga kesehatan, jika ada apa apa segera kabari kami.” Alex menepuk pelan pundak Steve.
“Oke pa, aku pergi dulu. Ma… aku berangkat dulu ya…?”
Steve mencium pipi kanan dan kiri aura, begitu juga dengan alex. Hari ini Steve akan pulang ke Indonesia, tujuan dia kesana hanya ingin mengurus perpindahan kuliahnya, juga mengemasi batang barangnya yang ada di apartemen milik Leon.
Lebih dari tiga jam Steve melakukan perjalanan, kini akhirnya Steve sudah sampai di Indonesia. Sebelum Steve terbang, dia sempat menghubungi Niko untuk menjemputnya.
Steve yang baru saja turun dan keluar dari pintu penumpang pesawat, pandangannya seketika melihat Niko yang melambaikan tangannya ke arah Steve.
“Hai Steve…” teriak Niko yang membuat atensi orang orang menatap dirinya.
“Ya ampun Niko… kenapa sampai teriak seperti itu…?” Lirih Steve melihat Niko dengan menggelengkan kepalanya.
Kini pandagan orang orang beralih melihat ke arah Steve, seperti biasa Steve yang merasa di perhatikan dengan orang orang di sekitarnya tidak merasa sedikitpun. Steve sudah terbiasa menjadi konsumsi pandagan publik, mungkin di penglihatan mereka. Steve seperti seorang aktor china, yang akan melakukan jumpa fans di Indonesia.
Niko berlari menghampiri Steve dengan gaya coolnya, Steve yang melihat Niko sampai dibuat tak percaya melihat kekonyolan Niko.
“Hei bro, gue kangen sama lo…?” Niko segera memeluk Steve, rasa rindu yang Niko rasakan dia tumpahkan saat memeluk tubuh Steve yang berbau wangi karena parfum yang Steve semprotkan di tubuh atletis nya.
“Sialan, tapi gue enggak kangen sama lo nik.” Goda Steve membuat Niko mengerucutkan bibirnya,
“Gue enggak peduli, yang penting lo sudha pulang ke negara ini. Dan gue enggak akan lepasin lo buat pulang lagi ke negara asal lo.” Niko merangkul pundak Steve posesif.
Steve sampai tertawa melihat ulah Niko yang merangkul pundaknya, tinggi Niko yang di bawah Steve membuat Niko sedikit berjinjit saat merangkul Steve.
“Sudah sudah ayo lo antar gue ke apartemen kak Leon, tapi sebelum itu kita makan di sana.” Steve menunjuk ke resto siap saji yang bergambar laki laki tua yang sednag tersenyum.
Perut yang sudah keroncongan membuat Steve tidak bisa menahan rasa laparnya lebih lama lagi, Niko yang tahu apa yang menjadi tujuan Steve segera berjalan bersama Steve menuju ke resto yang ada tak jauh dari tempat mereka berdiri.
Sedangkan Leon yang baru saja bangun merasakan sakit di kepalanya, Leon yang seharusnya berangkat ke kantor sampai harus ijin karena badannya merasa tidak enak. Mungkin karena kehujanan kemarin sehabis mengantarkan pesanan dias, dia jadi sakit seperti sekarang.
“Kepala ku… ya Tuhan… rasanya mau pecah, sepertinya aku masih menyimpan obat sakit kepala di laci tv.” Batin Leon berusaha jalan walau sambil tertatih.
Langkah Leon yang lemah mengharuskan dia berjalan perlahan untuk sampai di ruang tengah, dia sampai berjalan merambat memegangi dinding dan meja.
“Sepertinya ada di laci ini.” Batin Leon sambil membuka satu laci di bawah meja.
Merasakan denyutan yang terasa sangat menyiksa, Leon memilih menghentikan gerakkannya. Dia terduduk jongkok di depan meja televisi, pikir Leon… mungkin dengan posisi yang Leon yang jongkok seperti ini bisa meredakan rasa sakit di kepalanya.
Leon menghela nafasnya yang teras panas, dia mulai putus asa. Rasanya dia ingin segera bisa menutup matanya, rasa kepala yang sangat menyiksa membuatnya ingin segera merebahkan tubuhnya di atas kasur.
Bunyi tombol yang di tekan dari pintu depan membuat atensi Leon teralihkan, dia menatap pintu yang sepertinya akan di buka dari luar. Leon menajamkan pandagan matanya menatap siapa yang akan masuk kedalam apartemennya, dia merasa sedikit takut jika ada maling yang akan masuk ke dalam apartemen milik Leon.
Nafas Leon semakin terengah melihat pintu apartemen yang sedikit demi sedikit terbuka, pandagan mata Leon yang semakin kabur membuat Leon tidak bisa melihat dengan jelas siapa orang yang telah masuk kedalam apartemennya.
Steve yang baru masuk melihat Leon yang jongkok di depan meja televisi, dia segera melepaskan sepatu dan meletakkan tas yang dia bawa. Langkahnya cepat menghampiri Leon, dia segera mendekati Leon.
“Kak leon… apa yang terjadi denganmu…?” Tanya Steve setelah ada di depan Leon.
Tapi sayang Leon yang sepertinya sudah terlihat sekarat tak mendengar ucapan Steve, Leon tiba tiba pingsan di pelukan Steve.