NovelToon NovelToon
Mari Kita Bercerai,. Tuan Stone!

Mari Kita Bercerai,. Tuan Stone!

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Dijodohkan Orang Tua / Penyesalan Suami
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Minaaida

Setelah lima tahun menikah, miliarder Axel Stone yakin bahwa istrinya, Olivia Stone, tidak mencintainya. Olivia juga yakin bahwa suaminya masih mencintai mantannya dan pernikahan mereka hanyalah pernikahan demi kepentingan semata. Axel menyerahkan surat gugatan cerai kepadanya, tetapi segera menyesali keputusan impulsifnya itu. Dalam upaya putus asa untuk memenangkan hatinya kembali, Axel menunda proses perceraian tersebut. Olivia, yang sudah muak dengan pertemuan-pertemuan suaminya dengan mantannya, memutuskan untuk tetap melanjutkan proses perceraian.

Apa yang akan dilakukan Axel ketika ia menyadari bahwa ia telah membuat kesalahan terbesar dalam hidupnya? Akankah Olivia membuatnya membayar atas pengkhianatannya atau justru jatuh cinta padanya lagi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Minaaida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 20 Resmi Bercerai

"Kamu jelas - jelas tahu Alex sudah menikah tapi kamu masih saja mendekatinya." ucapku, mataku menatap tajam ke arahnya. "Apakah kamu punya tujuan lain?"

"Aku pikir kamu seharusnya menanyakan hal ini langsung pada suamimu, bukan aku," ucap Claudia, mataku bergerak menatapnya. Dia benar, aku seharusnya tidak menanyakan hal itu langsung padanya. Aku harusnya menanyakan hal itu pada Alexander.

Tapi aku tidak pernah bicara dengannya sudah lebih dari seminggu.

"Aku pikir kamu seharusnya punya sedikit rasa malu dan tidak mendekati suami orang." aku balas membentaknya. "Bagaimana kamu bisa tidur nyenyak padahal kamu adalah perusak rumah tangga?" tanganku menunjuk wajahnya.

Saat melihat keadaan mulai memanas, Sonya menarikku ke belakang. Claudia memanfaatkan kesempatan untuk menutup pintunya. Aku sadar apa yang aku lakukan salah namun aku sudah gelap mata.

"Kembalikan kalung yang dia berikan padamu!" teriakku sambil menendang pintu sebelum aku kembali ke mobil dengan marah.

Sonya dengan tergopoh-gopoh mengikuti ku. "Olivia, tunggu! Kita harus bicara tentang masalah ini!" Sonya memanggilku tetapi aku tidak peduli.

Aku membuka pintu mobil dengan kasar dan menghempaskan tubuhku dengan kasar di jok mobil. Tanganku bergetar karena amarah. Sonya bergegas masuk dan duduk di sampingku, dia menaruh tangannya di bahuku, mencoba menenangkan diriku.

"Kamu harus tenang. Kamu bahkan belum yakin Alex selingkuh dengannya." ucap Sonya dan aku terdiam.

Foto mereka yang sedang berciuman di sosial media sudah lebih dari cukup untuk menyakinkanku bahwa Alex memang berselingkuh dengannya.

"Sebaiknya kamu bicara dulu dengan Alex sebelum memutuskan segalanya, Olivia." tambah Sonya, suaranya dipenuhi simpati.

"Aku bahkan tidak yakin apakah aku ingin bertemu dengannya saat ini."jawabku dengan suara yang agak serak di telan amarah. Kami memang belum sempat bicara, tapi orang tuanya sempat bilang kalau dia akan pulang nanti malam.

Itu adalah salah satu alasan mengapa aku sempat berpikir untuk mengkonfrontasi Claudia. Aku ingin melakukan hal itu sebelum Alex pulang dari perjalanan bisnisnya.

"Kamu harus bicara padanya." kata Sonya, dia memberikan pelukan hangatnya. Aku bersandar pada Sonya sementara air mataku mengalir deras di pipiku.

Kami tinggal di sana sampai beberapa saat sebelum Sonya pergi dengan mobilnya. Dia mengantarku saat aku pulang sampai ke rumah.

Saat kami tiba, Sonya masuk ke dalam rumah bersamaku. Bahkan aku sama sekali tidak terkejut ketika ia memperlihatkan padaku postingan terbaru di media sosial yang lagi trending.

Itu adalah foto mengenai aku, Sonya, dan Claudia, di depan rumah Claudia. Aku sama sekali tidak peduli dengan headline berita itu karena aku sudah terluka dan tidak ingin memperparah lukaku.

Aku sudah hancur. Aku bahkan sudah merusak reputasiku dengan muncul di depan rumah Claudia. Bagaimana semua blogger itu memperoleh informasi?

Tiba-tiba, pesan Alex melintas di layar ponselku.

(Aku sedang dalam perjalanan pulang dari bandara. Ku harap kamu ada di rumah. Kita harus bicara)

Tentu saja, kita memang harus bicara.

Beruntung sekali, kedua orang tua Alex sudah pergi sejak tadi. Mereka keluar untuk makan siang dengan relasi keluarga Stone. Jadi, mereka pasti tidak akan berada di rumah sementara aku dan Alex sedang adu mulut mengenai masalah kedatanganku di rumah mantannya.

Ketika Sonya menyadari Alex sudah pulang, dia langsung izin pulang ke rumahnya karena dia tidak ingin berada di tengah-tengah drama kami.

Aku mengantarnya sampai ke mobil sebelum akhirnya melihat mobilnya meninggalkan komplek perumahan tempat kami tinggal.

Setelah mobil Sonya meninggalkan rumahku, mobil Alex masuk ke halaman. Aku sudah siap menunggunya di depan pintu.

Saat dia melangkah masuk, wajahnya sudah menggelap. Dia tidak berkata apa-apa, hanya berjalan melewati ku. Aku berjalan mengikutinya di belakang dan saat tiba di ruang tamu, dia berhenti.

"Mengapa kamu pergi ke rumah Claudia?" dia bertanya, wajahnya terlihat kesal.

Aku tidak bisa menahan diri untuk tertawa meskipun itu bukan hal yang lucu. "Kamu tidak bilang padaku dan aku perlu jawaban." jawabku, tanganku menyilang di dada dengan erat.

Dia tak bisa berbicara sepatah katapun karena dia tak punya apapun lagi untuk dikatakan sekedar untuk menjelaskan tindakannya.

"Kamu sudah melihat foto intimmu dengan mantanmu, kan? Menurutmu, bagaimana perasaanku setelah melihat semua itu?"Aku susah payah menelan ludah dan melanjutkan ucapanku. "Kamu bahkan tidak memberiku penjelasan dan malah pergi untuk urusan bisnis!"

"Perjalanan bisnis itu mendadak sekali, Olivia." jawabnya, dia mengabaikan pertanyaanku yang lain.

"Wow," gumamku, setelah menarik napas panjang. Aku terdiam. Dia bahkan tidak berusaha untuk membela diri. "Hanya wow," ucapku lirih, seperti sebuah ejekan.

"Olivia, dengar." dia bergerak mendekatiku, memotong jarak di antara kami. "Ciuman itu adalah sebuah kesalahan. Aku bahkan tidak mencium nya. Itu dia yang mencoba untuk mencium keningku namun aku dengan cepat mendorongnya. Aku juga tidak tahu siapa yang telah mengambil foto itu."

Kepercayaanku pada Alex telah hilang. Aku tidak percaya padanya lagi. Aku tidak bisa kembali dan terus berada di situasi yang sama setiap kalinya.

"Sudahlah, kamu tidak perlu menjelaskan apapun." ucapku, hatiku benar-benar hancur saat aku mengucapkan kata-kata selanjutnya. "Tanda tanganmu sudah tertera di berkas perceraian itu. Biarkan aku menandatangani milikku agar kita bisa segera berpisah. Aku sudah lelah dengan semua hal yang memalukan ini."

Alexander menatapku dengan tatapan penuh keterkejutan yang terlihat jelas di wajahnya. "Apa kamu yakin ini yang kau inginkan?" dia bertanya dan aku mengangguk. "Jika kamu melakukannya, tak ada jalan bagimu untuk kembali."

Matanya lurus menatapku, mencari sedikit percikan cahaya cinta di mataku. Namun, aku tahu, sudah tidak ada lagi yang tersisa. "Aku tahu, tenang saja, aku tidak akan kembali." ucapku, suaraku nyaris berbisik.

"Olivia, tolonglah, bisakah kita bicarakan lagi masalah ini?" mohon Alex, tangannya mengacak-acak rambutnya, namun aku sudah mengambil keputusan.

Aku tidak ingin melanjutkan hubungan ini lagi. Aku bahkan tidak ingin berdebat lagi tentang masalah ini. Semua hal yang terjadi dalam beberapa minggu terakhir benar-benar membuat aku kehilangan harga diriku dan aku sudah tidak tahan lagi.

Agar dia tahu seberapa seriusnya, aku perlahan melepas cincin nikah di jari manisku dan meletakkannya di meja. Mata Alex terbelalak tak percaya.

Aku bisa melihat betapa terlukanya Alex, tapi aku tidak peduli, aku juga terluka parah.

"Bolehkah aku minta berkas perceraian saja?" pintaku, dan Alex hanya menjawab dengan anggukan lemah .

Mataku digenangi air mata saat kami berdua berjalan beriringan menarik anak tangga. Aku mengusap air mataku yang mulai turun membasahi pipi.

Kami berjalan memasuki kamar dan setelah membongkar laci beberapa saat, Alex menyerahkan berkas perceraian itu padaku. Aku menyambar pulpen di laci dan meletakkan berkas perceraian itu di atas meja.

Segalanya telah berubah. Hidupku juga ikut berubah. Awalnya aku sempat ragu sejenak, namun saat aku melihat tanda tangan Alexandre yang tertera di sana, maka aku segera menandatanganinya juga tanpa pikir panjang lagi di masa depan.

"Jadi, kita resmi bercerai?" tanya Alex sambil tertawa kecil saat aku menyerahkan berkas perceraian yang sudah ku tandatangani. Dia menarik pergelangan tanganku namun aku dengan halus mendorongnya.

"Aku rasa demikian," jawabku dengan suara serak karena menahan tangis.

" Olivia, jadi kamu mau tinggal di rumah ini atau apa? Maukah kamu menunggu sampai papa dan mama aku pulang dari makan siang?" pinta Alex.

1
Mariani Ajja
ini lakinya yg goblok nih
Mariani Ajja
lanjut Thor...
olyv
lanjut
Nessa
lanjut thor 💪🏻💪🏻💪🏻💪🏻
Nessa
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!