Maira, seorang istri yang harus membagi penghasilan nya untuk istri dari kakak ipar nya yang sudah meninggal dunia.
Sang suami dan mertua hanya memanfaatkan uang nya, demi kepentingan mereka semua.
Tidak hanya itu, Suami nya, Azam malah menjalin hubungan dengan kakak ipar nya dengan alasan mau membantu janda kakak nya tersebut.
Mereka semua kelimpungan saat Maira memutuskan untuk tidak mau membantu lagi, dan menyerahkan semua nya pada Azam, suami nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leni Anita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
03
Pagi ini masih seperti sebelum nya, Maira bangun lebih awal untuk menyiapkan sarapan untuk semua orang. Tadi malam, mereka semua pulang sudah larut malam. Maira tidur lebih awal, dia sengaja tidak menunggu suami nya pulang.
"Mai, hari ini kamu gajian kan. Jangan lupa transfer sama mbak Nia, kebutuhan nya dan Ayu banyak!" Azam berkata pada nya saat sedang sarapan.
"Iya, jangan lupa uang bulanan buat Mama. Siang nanti Mama ada arisan sama teman- teman!" Mama Wina ikut menimpali.
"Uang jajan ku jangan lupa sekalian, mbak!" Lara ikut bersuara.
"Hemmm!" Maira hanya berdehem, dia malas untuk berdebat pagi ini.
"Transfer nya jangan terlalu siang ya Mai, mbak harus beli kebutuhan nya Ayu. Udah pada habis lagi!" Nia ikut bicara seolah -olah Maira adalah pohon uang nya.
Maira tidak menjawab perkataan mereka semua, dia meneruskan sarapan nya hingga selesai. Dia tidak ingin menghancurkan mood nya, jika dia harus meladeni mereka semua.
Seperti biasa nya, mereka semua langsung pergi setelah selesai sarapan. Maira lah yang harus membereskan meja makan sebelum berangkat ke kantor.
Pagi ini, Maira lebih banyak diam, berbeda dari hari - hari sebelum nya. Entah kenapa, acara makan malam mereka tadi malam, masih terasa mengganggu di fikiran nya.
"Mai, jangan lupa uang bulanan untuk mbak Nia!" Kembali Azam mengingat kan sebelum dia turun dari dalam mobil.
Maira tidak menjawab, dia langsung pergi begitu saja. Azam keheranan melihat sikap istri nya, begitu cuek dan dingin pagi ini.
"Kenapa tuh orang, kok diam saja sejak tadi?" Azam bertanya pada diri nya sendiri.
"Apa dia sedang marah ya? Tapi kenapa?" Azam bahkan tidak menyadari kesalahan nya terhadap istri nya.
"Ah sudah lah, ngapain juga mikirin Maira. Yang penting kan semua orang bahagia!" Azam kembali fokus pada kemudi mobil nya.
Sementara itu, Maira langsung memasuki ruangan nya dengan wajah lesu. Arini yang melihat nya merasa heran, dan langsung masuk begitu saja tanpa permisi.
"Kamu kenapa Mai? Kok lesu banget?" Tanya Arini dengan heran.
"Gak papa kok, Rin!" Jawab Maira yang masih berusaha menyembunyikan semua nya.
"Suami mu dan keluarga nya berulah lagi ya?" Tanya Arini penasaran.
Maira tidak menjawab nya, dia hanya tersenyum sambil menatap mata sahabat nya. Arini yang sudah cukup lama mengenal Maira, dia bisa menebak apa yang terjadi dengan sahabat nya itu .
"Coba katakan pada ku, apa lagi yang mereka lakukan pada mu?" Tanya Arini dengan geram.
Maira menghela nafas berat, dia tidak ingin orang lain tahu aib di dalam rumah tangga nya. Tapi dua juga tidak mau terbebani dengan semua ini. dengan curhat pada Arini setidak nya dada nya akan terasa sedikit lebih lega.
"Kemarin mas Azam gak jemput aku Rin, dia juga tidak bisa di hubungi. Ternyata dia dan semua orang makan - makan di luar, mas Azam sudah gajian kemarin!" Maira menceritakan semua nya kada sahabat nya.
"Ya Ampun Mai, mereka makan di luar tanpa kamu. Padahal kamu kan istri nya Azam, benar - benar keterlaluan tuh orang!" Arini geram sekali mendengar cerita sahabat nya.
"Rin, apa aku salah dan durhaka jika sekarang aku mulai memikir kan diri ku sendiri?" Tanya Maira pada Arini.
"Mai, tidak ada salah nya kau mulai memikir kan diri mu sendiri, toh suami mu tidak pernah perduli pada mu. Dia hanya perduli pada uang mu dan semua kebutuhan keluarga nya saja, sudah terlalu lama kau terjebak di dalam hubungan yang toxic itu Mai, ini saat nya kau harus bertindak!" Arini bicara panjang lebar pada Maira.
"Tadi mas Azam meminta aku mengirim kan uang gaji ku pada mbak Nia, aku yang harus memenuhi semua kebutuhan mbak Nia dan anak nya. Sedang kan mas Azam sendiri, tidak pernah memberikan aku nafkah!" Maira berkata sambil menarik nafas berat.
"Mai, apa kau mau selama nya menjadi sapi perah bagi mereka? Apa kau mau menjadi mesin Atm bagi semua orang di keluarga suami mu?" Tanya Arini dengan nada yang berapi - api.
Maira terdiam, semua yang di katakan oleh Arini ada benar nya. Dia tidak ingin di jadikan mesin Atm oleh keluarga suami nya, sementara sang suami tidak pernah memberikan nafkah pada diri nya.
"Kamu benar Rin, sudah cukup selama 5 tahun ini aku berkorban untuk mereka. Jika memang mas Azam menyayangi mereka semua, biarkan dia berusaha sendiri untuk memenuhi semua kebutuhan keluarga nya.
"Bagus, aku suka dengan Maira yang sekarang. Ku harap kau tidak lagi menjadi budak cinta untuk suami mu dan keluarga ny!" Arini ikut bahagia melihat Maira yang sudah mulai bangkit dari jurang kebodohan itu.
"Baik lah, hari ini aku akan menghentikan semua aliran dana untuk mereka semua. Mereka bukan lah tanggung jawab ku, mereka harus muali terbiasa dengan semua ini!" Sebuah senyuman terbit di sudut bibir Maira.
Arini melompat kegirangan seperti anak kecil yang di berikan permen, dia ikut senang melibat sahabat nya mulai menggunakan logika nya, bukan lagi hati
"Sekarang pergi lah, sebentar lagi jam kerja akan di mulai!" Maira mengusir Arini dari ruangan nya.
"Baik lah, aku akan pergi. Nanti siang kita akan rayakan kembali nya akan sehat manager Maira!" Ujar Arini sambil tertawa.
"Udah pergi sana!" Maira melempar kan sebuah map pada Arini.
Arini keluar dari ruangan Maira dengan senyum bahagia, setidak nya ini adalah awal yang baik untuk sahabat nya.
Setelah Arini keluar dari ruangan nya, Maira tersenyum pada diri nya sendiri. Hari ini logika nya sebagai wanita yang tertindas sudah bekerja, dia sudah tidak mau lagi di jadikan mesin Atm oleh suami dan juga keluarga nya.
"Sudah cukup mas, mulai hari ini aku tidak akan pernah memberikan uang gaji ku untuk ipar mu. ibu dan juga adik mu. Aku bukan mesin Atm keluarga mu, keluarga mu bukan tanggungan ku!" Maira berkata pada diri nya sendiri.
Maira langsung membuka laptop nya, fikiran nya fokus pada pekerjaan nya. Maira melupakan tentang perintah merak tadi pagi, dia berhenti jadi donatur keluarga suami nya.
Marsya memeriksa M-Banking nya, dan uang gaji nya sudah masuk ke rekening nya. Dia tersenyum puas, mulai hari ini hanya diri nya sendiri yang akan menikmati uang itu.
Dreetttt, dreeett, dreettt.
Ponsel Maira berbunyi, Marsya melihat nya sambil tersenyum sinis. Nama Nia terpampang di layar ponsel nya, dia tahu Nia akan menanyakan uang bulanan yang sudah dia hentikan mulai hari ini.
"Maaf mbak, aku bekerja bukan untuk mu. Aku tidak akan memberikan uang ku lagi pada mu!" Maira berkata sambil mematikan ponsel nya.
rasa sakit itu akan menjadi dasar balas dendam mu, kau harus bangkit berdiri dan lawan semua musuh mu.. TATAKAE TATAKAE
LAKNATULLAH... AYO SEMUA NYA TERIAK LAKNATULLAH