NovelToon NovelToon
Pengasuh Sang Pewaris (Dia Tahu Segalanya)

Pengasuh Sang Pewaris (Dia Tahu Segalanya)

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Identitas Tersembunyi / Ibu susu
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: FR Nursy

Dituduh menjual jasad anak kandungnya sendiri, Raznalira Utami (28 th) tidak hanya kehilangan buah hatinya tetapi juga rumah tangganya. Suaminya menceraikannya tanpa memberi kesempatan untuk menjelaskan.

Dalam keterpurukan hidupnya, Razna menerima tawaran menjadi ibu susu bagi bayi laki-laki milik seorang duda muda konglomerat, Rendra Mahardika (35th). Demi bertahan hidup, ia menekan masa lalunya dan masuk ke dunia baru yang terasa asing, dingin, dan penuh rahasia.

Namun takdir seolah belum selesai mempermainkannya.
Di rumah megah itu, Razna bertemu dengan seorang wanita misterius yang membuat darahnya seketika membeku. Wanita tua yang dulu membeli jasad anaknya.

Apa tujuan sebenarnya wanita itu membeli jasad bayi Razna?
Apa hubungan wanita tua itu dengan Rendra?

Kecurigaan Razna berubah menjadi ketakutan saat perlahan ia menyadari sesuatu yang mustahil, apakah itu?


Happy reading 💕

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FR Nursy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20 Awal Masalah

Empat bulan kemudian.

Perkembangan dan pertumbuhan Finza sangat signifikan. Bayi mungil itu sudah bisa tengkurap dan berguling-guling, sehingga pengawasannya harus lebih ketat lagi. Boks bayi yang ada pun sudah tidak bisa digunakan lagi karena tubuh Finza semakin tinggi.

"Duh anak Ibu, sudah sebesar ini. Cepat gede cepat pintar ya, Dek. Nanti bisa main sama kakak Moana..." ujar Razna sambil mengajak Finza berkomunikasi aktif.

Gerakan bibir Finza menandakan respons yang positif, begitu pula dengan gerakan tubuhnya yang sangat aktif. Dia akan menangis kalau perutnya terasa lapar dan tubuhnya mulai lelah.

Tok!

Tok!

Suara pintu diketuk dua kali.

"Sebentar ya, Dek. Ada yang ketuk pintu. Mungkin Papamu yang datang," ucap Razna.

Finza merespons dengan tawa riangnya, seolah bahagia akan bertemu Papanya.

Benar saja, saat pintu terbuka, Rendra berdiri sambil membawa sesuatu untuk Razna.

Rendra langsung masuk begitu pintu terbuka.

"Ini aku bawakan susu dan buah-buahan, minum dan makanlah! Di sini juga ada banyak cemilan. Pokoknya perutmu jangan sampai kosong," ujar Rendra dengan nada serius.

"Baik Tuan, terima kasih," jawab Razna menundukkan kepalanya.

"Gimana Finza?" tanya Rendra, menatap Finza dengan senyuman.

Rendra menggendong Finza, sesekali mengajaknya bermain cilukba dengan telapak tangannya.

"Dia sangat aktif Tuan. Dia sekarang sudah bisa guling-guling, saya khawatir kalau tidur di kasur setinggi ini, Finza bisa terjatuh,"

Rendra memandangi kasur yang dipakai Finza dan Razna untuk tidur, lalu menganggukkan kepalanya.

"Kalau gitu nanti, pindahkan kasurnya ke bawah. Pokoknya kamu tetap awasi Finza dengan hati-hati jangan sampai dia jatuh dari kasur!"

"Baik Tuan, akan saya upayakan menjaga keamanan tempat tidur dan area bermainnya,"

"Bagus. Jangan lupa jadwal Finza ke rumah sakit. Periksakan kesehatannya. Jangan sampai lengah!"

"Baik Tuan."

Rendra mendekati Finza yang sedang asik main sendiri. Kakinya bergerak aktif, tangannya berusaha menggapai bola- bola berwarna yang bergantung di langit-langit.

Rendra menggendong Finza beberapa menit, sesekali mengajaknya bermain cilukba dengan telapak tangannya.

Setelah puas bermain dengan Finza, pria itu kembali pergi ke kantor untuk menyelesaikan pekerjaannya.

"Papa pergi dulu ya, anak Papa sekarang main lagi sama Ibu Azna. Yang nurut sama Ibu ya, Sayang!"

"Hauw..." respon Finza membuat Rendra tertawa geli.

"Ya sudah, aku keluar dulu. Kalau ada apa-apa tinggal telepon aja,"

"Baik Tuan,"

Razna menutup pintu itu kembali, namun tidak rapat.

Dia mulai membereskan kamar yang terlihat acak-acakan. Barang-barang bawaan Rendra ditata di atas meja. Pakaian-pakaian yang sudah kekecilan dipisahkan karena tidak terpakai lagi, lalu menyimpannya di sebuah tas agar terlihat lebih rapi. Dia melakukannya sambil sesekali mengawasi Finza yang tengkurap di atas kasur. Walaupun merasa kuwalahan, Razna tetap merasa bahagia menjalani semua itu.

"Anak pintar, Jangan jauh-jauh ya, Dek..." ucapnya lembut.

Finza tertawa kecil sambil menggerakkan kaki mungilnya. Suaranya membuat Razna tersenyum bahagia.

Di luar kamar, Danara berdiri sambil memperhatikan interaksi keduanya dari celah pintu yang sedikit terbuka. Tatapannya dingin, kedua tangannya mengepal. Sejak awal ia memang tidak suka melihat kedekatan mereka. Apalagi kakak iparnya itu terlihat sangat peduli pada Razna.

"Kalau dibiarkan terus begini, lama-lama dia ngelunjak. Bisa-bisa wanita udik itu merebut hatinya Rendra dan.....ya ampun bisa-bisa posisi kakakku digantikan sama wanita itu. Tidak...ini tidak bisa dibiarkan. Tetap akulah yang harus menggantikan kakakku yang sudah dianggap mati itu...Kak...kak...kasihan sekali kamu. Pelan-pelan kamu akan mati sungguhan..." gumamnya sinis.

Danara terus memantau Razna dari celah pintu, dia melihat Razna pergi meninggalkan Finza sendirian. Ini kesempatan yang baik buat Danara untuk melakukan aksinya.

Danara masuk diam-diam ke kamar. Dengan cepat ia menggeser bantal penahan di tepi kasur yang bisa menjaga tubuh Finza agar tidak berguling terlalu jauh.

“Maaf ya, Finza. Tante hanya ingin seseorang pergi dari rumah ini,” bisiknya lirih sambil mengambil Finza dan meletakkannya dekat dengan ujung kasur, sehingga sekali guling Finza bisa terjatuh.

Setelah misinya berhasil, Danara dengan cepat keluar kembali. Dia berdiri di tempat semula, langsung memantau kejadian tersebut.

Satu...

Dua...

Ti.....

Bruk!

Kepala Finza bagian belakang langsung mencium lantai. Suara tangisan Finza terdengar nyaring langsung memenuhi kamar.

"Ya Allah, Finza!" teriak Razna panik.

Razna berlari saat mendengar suara Finza yang menangis dengan tiba-tiba. Dia melihat Finza sudah berada di bawah kasur dengan posisi terlentang.

Tubuh Razna langsung lemas. Tubuhnya bergetar hebat. Dengan buru-buru ia mengangkat Finza dan memeriksa kepalanya.

Razna memeluk tubuh Finza dengan rasa bersalah. Ternyata tidak bisa ditinggal sebentar, anak itu bisa langsung jatuh. Dia melihat posisi bantal yang menjadi penahan, sudah berganti posisi. Keningnya berkerut.

"Maaf...maafkan Ibu, Nak..." air mata Razna langsung tak terbendung lagi berusaha menenangkan Finza.

Tangisan Finza membuat beberapa orang berdatangan, termasuk Surti dan Danara yang pura-pura kaget melihat kejadian itu.

"Kenapa Finza nangisnya kenceng begitu? Apa yang terjadi Mbak?" tanya Surti panik,

"Finza kayaknya jatuh. Tadi dia ada di atas kasur, ditinggal sebentar Finza sudah ada di bawah...." jelas Razna dengan suara gemetar.

"Astagfirullah! Kok bisa jatuh?" seru Danara dengan wajah panik.

Suara Finza semakin kencang. Walaupun Razna sudah berusaha mendiamkannya dengan memberinya ASI namun Finza masih terus menangis. Razna merasa serba salah. Tentu ini hal pertama yang ia temui.

“Maafkan saya nona. Tadi Finza saya tinggal sebentar ke kamar mandi, karena kebelet pengen pipis. Tapi ga tahu kenapa Finza sudah ada di bawah..." suara Razna masih bergetar hebat.

Danara tertawa remeh, dalam hatinya ia tertawa puas karena sebentar lagi drama kemarahan Rendra akan dimulai.

"Sebentar? Bayi sekecil itu ditinggal sendirian, kamu kerja pake otak engga sih? Finza itu sedang aktif-aktifnya, harus ya kamu mikir, jangan main pergi aja!" Danara mulai menyudutkan, dia pura-pura marah.

Surti terlihat cemas, karena tangis Finza tak kunjung berhenti.

"Sudah, sekarang bukan waktunya saling menyalahkan. Kita bawa aja Finza ke rumah sakit," saran Surti.

Tak lama kemudian, Rendra yang mendengar kabar dari salah satu pelayan rumah langsung pulang dengan wajah tegang. Rahangnya mengeras saat mendengar Finza yang tidak berhenti menangis walaupun dalam gendongan Razna.

"Apa yang terjadi? Kenapa Finza menangis terus? Jawab!" tanyanya dingin lalu menggertak siapa pun yang ada di sana.

Razna menunduk penuh rasa bersalah, masih terus menenangkan Finza.

"Maaf Tuan...saya sudah lengah..." ujarnya dengan suara parau.

"Lengah?" Danara memotong kalimat itu.

"Kalau kamu tidak becus menjaga bayi, dari awal jangan memaksakan diri jadi ibu susu! Sok-sokan jadi Ibu susu tapi tidak amanah," kata Danara sangat menusuk jiwa.

Rendra terdiam. Dia menatap Razna yang mendekap Finza dengan rasa bersalahnya. Razna terlihat kuwalahan menenangkan Finza yang sulit didiamkan.

Danara pura-pura menangis, "Ya Allah, Finza. Kasihan sekali kamu, Nak. Kalau sampai terjadi sesuatu bagaimana?" ucapnya seolah dia sangat peduli dengan Finza.

Danara mengusap air mata buayanya. Dalam hatinya dia bersorak kegirangan. Akhirnya dia berhasil menyulut emosi Rendra yang masuk dalam perangkapnya.

"Ini baru awal....Razna..." gumamnya dalam hati.

1
Yuningsih Nining
👎mampooosh loe danara, bukti ada noh, mental mu mungkin langsung down kena tuh fakta, cardihlgan nya masih loe pk hahah serasa puas, iih dosa sebener nya ya ini sy begini tp kesel sm si danara
☘𝓡𝓳✹⃝⃝⃝s̊S𝕭𝖚𝖓𝕬𝖗𝖘𝕯☀️💞
Lahh niatan buruk mu ituhh nara
raz.. kan dia kerja.. tp kmcemburu .. dan km yg berharap sama Rendra
padahal Rendra ngk suka ma km.. dia ngangap km adik .. pahamm!
☘𝓡𝓳✹⃝⃝⃝s̊S𝕭𝖚𝖓𝕬𝖗𝖘𝕯☀️💞
nahhh kembalikan aja dia.. fiadisitu kan sebagai tantenya firza bukan ibunya
☘𝓡𝓳✹⃝⃝⃝s̊S𝕭𝖚𝖓𝕬𝖗𝖘𝕯☀️💞
Nahh .. kecerobohan yg akan mengungkapkan kebenaran...
udah jadi adek ipar masih aja ngelunjak pgen jdi istri... ngk tau diri
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Rasain 😒
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
pembohong, rasakan akibatnya 😒
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
akhirnya ada bukti akurat 👍🏻
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Tuh dengerin 😔
ˢ⍣⃟ₛ 𝐓𝐞𝐬𝐚🤎GD ❥␠⃝ ͭ🍁
mampus luuu Danara semoga Rendra bisa membuka kebusukan adik iparnya sendiri yang membuat Finza jatuh dari atas tempat tidur biar sekalian diusir keluar dari rumah bahaya kali ada Danara didekat Finza bisa bisa dia lakukan aksi lanjutan 🤔
ˢ⍣⃟ₛ 𝐓𝐞𝐬𝐚🤎GD ❥␠⃝ ͭ🍁
Rendra kau kau kan orang berada mumpung Danara ada di RS suruh orang pasang cctv di kamar Finza atau ditiap ruangan biar kau lihat sendiri kelakuan Danara 😒
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Sabar Razna kebenaran pasti akan terungkap 😔
☘𝓡𝓳✹⃝⃝⃝s̊S𝕭𝖚𝖓𝕬𝖗𝖘𝕯☀️💞
Dasar Nara.. mulut mu kudu di lskbann.... SE enak yaaa bilang kyak gtu..
Degar sendiri kan dra klakuan adek ipar mu...
Yuningsih Nining
Rendra gercep. lah pasang CCTV tersembunyi disekitaran kmr debay mu finza diam²Gak Razna bi surti aplg danara tau , biar ada kejelasan dari bertigaan itu mn yang bener, buat km jg ada tenang mungkin gas was?
ˢ⍣⃟ₛ 𝐓𝐞𝐬𝐚🤎GD ❥␠⃝ ͭ🍁
Danara ini berbahaya keknya agak sakit jiwanya Razna harus waspada karena pasti masih akan ada rencana busuk lainnya yang akan dilakukannya 🤔
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
rencanamu gagal total 😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Kamu memang tidak tau diri,udah numpang belagu kayak nyonya besar 😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
betul 😤
☘𝓡𝓳✹⃝⃝⃝s̊S𝕭𝖚𝖓𝕬𝖗𝖘𝕯☀️💞
sabarr raz .. kebenaran pasti akan terungkap.. tetap jaga hati mu..
ˢ⍣⃟ₛ 𝐓𝐞𝐬𝐚🤎GD ❥␠⃝ ͭ🍁
alangkah lebih baiknya kalo dipasang cctv dalam kamar Finza tanpa sepengetahuan siapakah biar Rendra tahu sendiri kebusukan kelicikan adik iparnya yang berusaha naik ranjang buat gantiin kakaknya 😒
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Dih ngaku" 😏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!